Merajut Kata, Menjaga Etika: Pelatihan Pranatacara Sleman Tegaskan Keluhuran Bahasa Jawa

Sleman — Menjadi pranatacara tidak sekadar menuntut kelancaran berbicara, tetapi juga ketepatan memilih kata, kesantunan bertutur, serta pemahaman terhadap makna yang disampaikan. Keterampilan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga etika komunikasi sekaligus melestarikan bahasa dan sastra Jawa di tengah perkembangan zaman.
Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Basa dan Sastra Adiwicara serta Pranatacara Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman pada 20–21 Oktober 2026 di Ruang Rapat Rukun, kantor dinas setempat. Dalam kegiatan tersebut, narasumber Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia DPD Dewan Pengurus Daerah PPY Paguyuban Panatacara Yogyakarta Kabupaten Sleman, Yuana Agus Dirgantara, menyampaikan pentingnya penguasaan bahasa, kepekaan terhadap situasi, dan ketepatan dalam menyampaikan pesan.
“Seorang pranatacara harus menggunakan bahasa yang komunikatif, memperhatikan unggah-ungguh, tidak mengulang-ulang kata dalam setiap penyampaian, serta memahami benar makna dari apa yang diucapkan,” jelas Yuana.
Menurutnya, seorang pranatacara tidak cukup hanya menghafal naskah. Setiap tuturan harus disampaikan secara jelas, santun, dan sesuai konteks agar mudah dipahami tanpa mengurangi penghormatan kepada hadirin.
Dalam materinya, Yuana menjelaskan beragam bentuk tuturan dalam tradisi Jawa, antara lain atur-atur sebagai pengantar pembicaraan, pocapan sebagai tuturan pengantar tanpa iringan, candra atau janturan untuk menggambarkan suatu keadaan, serta tembang yang menyampaikan narasi melalui lantunan berirama. Setiap bentuk tuturan memiliki fungsi dan penggunaannya masing-masing sehingga perlu disesuaikan dengan tujuan serta situasi acara.
Selain memahami bentuk tuturan, pranatacara perlu menguasai ragam bahasa sesuai konteks. Salah satunya Basa Krama Inggil yang mengedepankan kesantunan dan penghormatan dalam komunikasi formal.
“Bahasa krama inggil merupakan ragam bahasa formal yang mengandung etika dan unggah-ungguh. Karena orang-orang yang hadir memiliki latar belakang dan tingkatan sosial yang beragam, penggunaan bahasa ini diharapkan dapat diterima oleh semua pihak,” ungkap Yuana.
Pelatihan juga membahas Basa Rinengga, yaitu ragam bahasa yang diperkaya unsur kesusastraan, seperti bebasan, wangsalan, pepindhan, dan parikan. Penggunaan ungkapan tersebut dapat memperindah tuturan sekaligus menyampaikan pesan filosofis, khususnya dalam upacara adat.
“Bahasa yang indah bukan sekadar membuat tuturan terdengar menarik. Ungkapan sastra perlu digunakan dengan tepat agar dapat memperkuat suasana, memperjelas pesan, dan menyampaikan nilai yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.
Sementara itu, Basa Geculan dapat dimanfaatkan untuk menciptakan suasana yang lebih cair dan membangun kedekatan dengan hadirin. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan etika dan kepantasan agar humor tidak mengurangi kekhidmatan acara.
Selain keterampilan bertutur, peserta mempelajari struktur sesorah atau pidato dalam tradisi Jawa yang terdiri atas purwaka sebagai pembukaan, surasa sebagai isi, dan wasana basa sebagai penutup. Struktur tersebut membantu pembicara menyampaikan gagasan secara runtut sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.
“Pidato yang baik perlu disusun secara runtut. Pembukaan menjadi pengantar bagi pendengar, bagian isi menyampaikan pokok pikiran, sedangkan penutup mengakhiri penyampaian dengan tepat sehingga keseluruhan pesan dapat diterima secara utuh,” jelas Yuana.
Pembelajaran dilaksanakan melalui diskusi kelompok atau focus group discussion (FGD). Melalui metode tersebut, peserta memperoleh ruang untuk mendalami materi, bertukar pandangan, dan memahami penerapan keterampilan pranatacara dalam berbagai kegiatan.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan adat maupun kemasyarakatan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian bahasa dan sastra Jawa agar tetap digunakan secara tepat dan relevan di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun ruang publik. (SBD/KIM Tempel)



