Truk Pasir Dilarang Lewat Jalur Evakuasi

Sleman – Truk pengangkut material tambang di aliran sungai yang berhulu di Lereng Gunung Merapi Kabupaten Sleman, wajib melalui jalur tambang dan tidak boleh melalui jalur evakuasi bencana.

“Jalur tambang sudah ditetapkan tidak akan diaspal, tapi punya kekuatan untuk dilalui truk,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Sapto Winarno, Kamis (27/3) kemarin.

Menurut Sapto, antara Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan serta Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika dalam penanganan sering koordinasi bersama Kepala Desa serta dinas terkait untuk memfungsikan jalur tambang ini.

Seharusnya memang ada rambu jalur tambang dan larangan truk pasir lewat jalur evakuasi, sehingga aparat bisa menindak.

Sebenarnya lanjut Sapto jalur tambang meskipun tidak diaspal, namun cukup kuat untuk dilalui truk angkutan pasir dan material.

“Hanya saja selama ini truk sudah melebihi batas muatan enam ton atau empat meter. Kenyataannya hampir semua truk kelebihan muatan,” katanya.

Sapto mengatakan, jika berat muatan truk sesuai aturan yang berlaku sebenarnya jalur tambang kuat. Saat ini jalur tambang tersebut sudah ada sepanjang sekitar lima kilometer mulai dari Desa Argomulyo hingga Desa Kepuharjo.

“Namun, kenyataannya truk-truk angkutan pasir tidak melalui jalur tambang dan lewat jalur evakuasi. Ini yang mengakibatkan jalur evakuasi bencana rusak. Kami akan berkoordinasi lagi dengan pihak terkait agar truk-truk angkutan pasir dan batu lewat jalur tambang,” katanya.




Korpri Sleman Selenggarakan Pelatihan Pangruktilaya Bagi PNS

Sleman – Dewan Pengurus Korpri Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan pangruktilaya atau cara merawat jenazah bagi PNS atau Anggota Korpri Kabupaten Sleman, di Aula Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi selama tiga hari dari 25 – 27 Maret 2014.

Peserta pelatihan sebanyak 270 orang yang terbagi dalam tiga hari pelatihan. Untuk pelatihan pangruktilaya berdasarkan agama Islam diikuti oleh 90 peserta dari SKPD di lingkungan Pemkab Sleman dan 90 orang dari UPT Pelayanan Pendidikan Kabupaten Sleman.

Sedangkan materi pelatihan pangruktilaya berdasarkan agama Kristiani diikuti oleh 90 peserta dari SKPD di lingkungan Pemkab Sleman.

Sekretaris Dewan Pengurus Korpri Kabupaten Sleman, B. Endang Kusmawati, , mengatakan pelaksanaan pelatihan ini merupakan upaya untuk mendukung atau melengkapi Peraturan Bupati Sleman Nomor 77 tahun 2011 tentang Fasilitaasi Penyelenggaraan Pemakaman bagi jenazah Pejabat, mantan Pejabat, Istri/Suami dan PNS.

“Dengan mengikuti pelatihan pangruktilaya ini para peserta diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam merawat jenazah,” kata Endang.

Peserta juga dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilannya dalam kehidupan bermasyarakat.




Merapi Keluarkan Gas, Cangkringan Hujan Abu

Sleman – Gunung Merapi kembali mengeluarkan hembusan gas, Kamis (27/3) pukul WIB. Hembusan gas tersebut menyebabkan wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, diguyur hujan abu tipis. Namun meski diguyur hujan abu, warga masyarakat Cangkringan tidak ada yang mengungsi.

Hembusan gas yang dibarengi dengan suara gemuruh Gunung Merapi sempat membuat sejumlah warga berkumpul di titik kumpul dan siap untuk dievakuasi. Namun, warga kemudian kembali ke rumah setelah aktivitas Merapi normal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sudah menyediakan masker. Persediaan masker disiapkan di Balai Desa dan Puskesmas setempat.

Kepala BPBD Kabupaten Sleman Julisetiono Dwi Wasito mengatakan, masker sudah dibagikan ke Kecamatan Cangkringan. Petugas setempat juga diminta untuk menenangkan warga yang sempat panik saat Gunung Merapi bergemuruh.

Data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menyatakan, suara gemuruh dari puncak Gunung Merapi terdengar pada pukul WIB. Sementara dari data seismik menunjukkan peningkatan aktivitas Merapi dari pukul WIB. Aktivitas Gunung Merapi kemudian kembali normal.

Fenomena hembusan gas dan letusan freatik Merapi sulit dideteksi. Kondisi tersebut karena tidak ada aktivitas kegempaan di Merapi. Padahal, Gunung Merapi saat ini kaya gas dan tidak memiliki kubah lava sehingga gas dapat keluar begitu saja.




Merapi Bergemuruh Warga Siap Evakuasi

 

Merapi 28 Maret 2014

Sleman – Warga di sekitar lereng Gunung Merapi, Sleman DI Yogyakarta, Kamis (27/3), selama tujuh menit sekitar Pukul WIB sampai dengan pukul WIB, mendengar suara gemuruh dari puncak Gunung Merapi. Namun saat ini suara gemuruh tersebut sudah berhenti. Secara visual, Gunung Merapi saat ini tidak terlihat karena tertutup kabut tebal.

Sebelumnya dilaporkan bahwa warga di zona KRB III sudah bersiap untuk mengungsi. Warga sudah berada di pinggir-pinggir jalan jalur evakuasi sambil menanti perkembangan situasi.

Meskipun terjadi erupsi freatik, BPPTK belum menaikkan status Gunung Merapi karena masih menunggu hasil pemantauan lebih lanjut.

Sampai saat ini status Gunung Merapi masih dalam tahapan aktif normal.

Berdasarkan informasi dari Kepala Desa Glagaharjo, Cangkringan, dilaporkan adanya korban akibat terjatuh dari sepeda motor pada saat akan mengungsi. Korban saat ini dirawat di atas nama Ny,Kartowiyono (46 th) warga Rt 01 Rw 17 Dusun Kalitengah Kidul.

Saat ini Gunung Merapi kembali tenang.  BPBD Sleman menghimbau agar warga  tidak panik namun tetap waspada.




Biji Salak Pondoh Sleman Jadi Serbuk Minuman

Sleman –  Biji salak pondoh, di tangan warga Dusun Donoasih, bisa diubah menjadi minuman alternatif pengganti kopi. Bahkan minuman dari serbuk biji salak pondoh tersebut diklaim memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh, di antaranya dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat.

Pembuatan serbuk biji salak pondoh sebagai pengganti kopi bermula dari informasi yang didapatkan warga dari internet. Warga Dusun Donoasih, Supriyono (60 tahun), mengatakan warga setempat kemudian mengumpulkan biji salak pondoh yang banyak terdapat di lingkungan sekitar.

Wilayah Kecamatan Turi merupakan sentra pertanian salak pondoh. “Biasanya biji salak hanya dibuang, tapi sekarang kami manfaatkan sebagai bahan minuman,” kata Supriyono, saat ditemui di kediamannya, di Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman, Selasa (25/3).

Langkah untuk membuat serbuk tersebut dimulai dengan memotong kecil-kecil biji salak. Kemudian potongan biji salak tersebut digongseng (sangrai) selama dua jam, lalu didinginkan. Setelah dingin, biji salak ditumbuk. Hasil tumbukan biji salak kemudian disaring. Tara, serbuk biji salak pun siap dibuat untuk campuran minuman bersama gula.

Sedikitnya dibutuhkan 1 kilogram biji salak untuk membuat 1 ons serbuk. Warga Donoasih menjual serbuk biji salak dengan harga per ons dan untuk setiap kilogram.

Manfaat serbuk biji salak pondoh, diakui Supriyono, belum dibuktikan dengan penelitian laboratorium. Namun, warga mengklaim minuman biji salak pondok dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat. “Warga dusun sini yang merasakan,” ujar Supriyono.

Proses produksi serbuk biji salak masih dilakukan secara manual. Karena itu, anggota perkumpulan PKK setempat, Arlina, mengungkapkan warga hanya dapat memproduksi 5 kg serbuk biji salak dalam satu hari.

Saat ini, produk serbuk biji salak yang dihasilkan warga Dusun Donoasih juga masih dalam proses pengajuan izin dari Dinas Kesehatan. Pemasaran produk serbuk biji salak saat ini baru berdasarkan pesanan dan dilakukan dari mulut ke mulut.

“Kami belum berani jual luas karena belum memiliki izin,” ungkap Surpiyono yang telah memproduksi serbuk biji salak selama setahun terakhir bersama warga.

Selain minuman serbuk biji salak, warga Donoasih juga memproduksi makanan olahan lain dari bahan salak, seperti dodol dan wajik salak. Kedua jenis makanan olahan tersebut masih dipasarkan sesuai pesanan. Menurut anggota PKK setempat, Susi Rahmadaniar, makanan olahan tersebut dibuat dari salak pondoh yang dipanen warga sekitar.