Tingginya Angka Kemiskinan Masih Jadi Tantangan DBKS DIY

Sleman – Sampai saat ini DBKS sudah dicanangkan di 337 desa dari 438  desa di DIY, namun perlu diketahui bahwa masih terdapat sekitar jiwa di Daerah Istimewa Yoghyakarta (DIY) yang masih  hidup di bawah garis kemiskinan yang harus segera dituntaskan.

Angka kemiskinan di DIY masih di atas rata-rata nasional, karena angka kemiskinan di DIY sebesar 16%, sedangkan rata-rata angka kemiskinan nasional 14%.

Tantangan lainnya adalah meningkatnya angka perceraian yang mengindikasikan adanya disharmoni keluarga. Selain itu, juga adanya fenomena pernikahan di bawah umur.

Berdasarkan data dari Kemenag DIY, angka nikah di bawah umur tahun 2013 sebesar 399 orang. Jumlah ini menurun sedikit bila dibndingkan dengan tahun 2012 sebanyak 396 orang.

Bupati Sleman Drs. H. Sri mencanangkan Desa Binaan Keluarga Sakinan Tingkat DIY di Balai Desa Madurejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman.

Tujuan gerakan keluarga sakinah ini, adalah sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia secara terpadu antara masyarakat dan pemerintah dalam mempercepat mewujudkan masyarakat madani yang bermoral tinggi, penuh keimanan, ketaqwaan dan akhlaq mulia.

Penduduk di wilayah Desa Madurejo adalah sebagian besar petani dan buruh tani. Kepala Desa Madurejo, H. melaporkan bahwa di tingkat RT, RW di tiap Padukuhan sudah ada posyandu anak-anak dan yandu lansia dan tiap RT dan RW sudah terbentuk adanya pengajian secara rutin hal ini perlu di tingkatkan.

Mindoyo berharap agar seluruh warga masyarakat di Desa Madurejo agar mendukung program DBKS ini.

Bupati Sleman memberi apresiasi yang sangat tinggi bahwa di tiga Desa yaitu Desa Madurejo Prambanan, Desa Sidorejo Kecamatan Godean dan Desa Pondokrejo Kecamatan Tempel telah dipilih sebagai Desa Binaan Keluarga Sejahtera (DBKS) tingkat DIY.

Ketua tim  Pembina DBKS DIY Drs. H. Mashuri berharap agar pencanangan DBKS ini dapat mengantisipasi dan menghindarkan munculnya permasalahan-permasalahan keluarga yang potensial menyebabkan terjadinya perselisihan. Terlebih saat ini semakin banyak permaslahan generasi muda seperti kenakalan remaja dan tawuran.

Mashuri mengharapkan dukungan seluruh kader DBKS dalam upaya membangun keharmonisan keluarga. Para kader DBKS inilah yang menjadi motivator dan penggerak kegiatan di tingkat yang paling bawah guna meningkatkan kualitas keluarga.




Kapolres Sleman Serahkan Santunan Anak Yatim Keluarga Polri

Sleman – Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin, SiK, MH. menyerahkan santunan kepada anak yatim keluarga besar Polri di aula Mapolres Sleman, Senin (17/3), dengan didampingi Waka Polres Sleman Kompol Angling Guntoro, SiK dan pengurus yayasan Brata Bhakti DIY.

Santunan yang diberikan kepada 32 anak yatim dan piatu keluarga besar Polri Polres Sleman itu, bersumber dari dana yayasan Brata Bhakti D.I. Yogyakarta dan Kapolres Sleman, sebagai salah satu wujud bentuk kepedulian dari pimpinan terhadap anak yatim dan piatu keluarga besar Polri.

Anak yatim dan piatu yang menerima santunan tersebut merupakan anak kandung anggota Polri aktif yang bertugas di jajaran Polres Sleman yang telah meninggal dunia.

Santunan ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada anak yatim keluarga besar Polri Polres Sleman dan dapat berguna dalam menunjang pendidikannya.




Pasar Kuliner Belut Godean Sleman Siap Jadi Tujuan Wisata Kuliner

Sleman – Pasar kuliner belut Godean Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, siap menjadi tujuan wisata kuliner, menyusul diresmikannya penggunaan pasar kuliner tersebut oleh Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI, Selasa (11/3).

Dalam kesempatan ini hadir Ketua DPRD Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Pasar, Camat Gamping.

Kepala Dinas Pasar Kabupaten Sleman Dra. Tri Endah Yitnani, Msi mengatakan pasar kuliner belut ini merupakan upaya penataan pedagang kripik belut di lingkungan pasar Godean yang dirasakan sudah mendesak untuk dipindah, karena lokasi dipinggir jalan yang padat lalu lintasnya sehingga rawan menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Pasar kuliner ini berdiri di atas tanah kas desa Sidoagung bekas Kantor Kecamatan Godean seluas m2 dengan luas bangunan   m2 .

Saat ini sudah ditempati 30 pedagang yang tergabung dalam paguyuban pedagang kripik belut wilayah Sleman Barat, Godean, Seyegan, Minggir dan Moyudan.  Nantinya jjuga akan dibangun sentral pasar klitikan dan sentral pasar hewan di lingkungan pasar Godean.

Bupati Sleman dalam sambutannya mengatakan Pusat Kuliner Belut Godean ini diharap memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi hasil olahan kripik belut secara nyaman dan aman., dan menjadi icon pusat oleh oleh khas Godean.

Lebih dari itu dengan tersentralnya penjualan hasil olahan keripik belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Sentralisasi penjualan hasil olahan kripik belut ini  mengembalikan fungsi areal halaman pasar Godean yang  selama ini digunakan untuk lapak para penjual kripik belut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Bahkan akan memperlancar arus lalu lintas yang sudah cukup padat di area Pasar Godean dan mengurangi kemacetan di area pasar, sehingga akan lebih menertibkan dan memberikan kenyamanan pengunjung Pasar Godean.

Kepada seluruh pedagang pasar  belut di pusat kuliner belut ini, yang menggunakan model pasar tradisional ini untuk konsisten berjualan disini  dan ikut memelihara sarana Pusat Kuliner Belut ini dengan menjaga kebersihan serta keamanannya.

Endah menyatakan keinginannya untuk menggemakan kembali tentang slogan Pasare Resik Rejekine Apik. Jika para pedagang dan pembeli sama-sama menerapkan prinsip ini. “Maka saya yakin keberadaan pasar belut ini akan memberikan keuntungan lebih bagi penggunanya,” katanya.

Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung.

Selain itu  Kepala Dinas Pasar untuk bersinergi dengan Kepala Dinas Pariwisata di dalam mempromosikan keberdaan pusat kuliner ini, sehingga pusat kuliner ini menjadi jujugan para wisatawan.

Salah satu tujuan pembangunan Pasar Kuliner Belut Godean ini dilakukan untuk menunjang penataan kawasan Kecamatan Godean. Dengan dibangunnya Sentra Kuliner Belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.

Sentralisasi pemasaran komoditas ini diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Pada kesempatan tersebut, Endah juga berharap agar inovasi dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti di antaranya dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

“Penganekaragaman pangan ini menggarisbawahi upaya kita untuk meningkatkan porsi produk olahan buatan dalam negeri,” katanya.

Pemkab Sleman terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan keberadaan pasar tradisional. Pada saat ini jumlah pasar di Kabupaten Sleman mencapai 39 pasar kabupaten tersebar di 17 kecamatan, serta 36 pasar desa.

Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para konsumen, dan menciptakan kondisi pasar yang bersih dan nyaman, Pemkab Sleman juga telah merehabilitasi dan merevitalisasi 9 pasar tradisional, pembinaan bagi pedagang pasar untuk penataan pasar desa.

Selain itu, fasilitasi pembentukan dan pembinaan pengurus paguyuban pasar, penataan tempat dagangan dan jenis mata dagangan di 7 UPT Pelayanan Pasar dan peningkatan pelayanan pedagang pasar di 40 pasar dan Taman Kuliner.

Acara peresmian ditandai dengan pemukulan gong oleh  Bupati Sleman dan pemotongan tumpeng yang diserahkan kepada perwakilan pedagang. Dan untuk memeriahkan acara dihibur dengan Grup Hadroh Gayuh Swargo serta bintang tamu Mbokde Beruk dan Dalijo.




Tim Gabungan 70 Materi Baliho Alat Peraga Kampanye

Sleman – Tim gabungan Satpol PP, DPUP, Dishubkominfo, Kantor Kesbang, KPU, Panwaslu, Polres Sleman dan Bag Humas, Rabu (12/3), kembali menyisir ruas-ruas jalan protokol di wilayah Kabupaten Sleman untuk menertibkan alat peraga kampanye (APK) yang melanggar aturan.

Hari ini adalah hari terakhir dari tiga hari operasi alat peraga kampanye. Petugas gabungan bersama-sama melakukan penertiban ratusan alat peraga kampanye di sejumlah titik di wilayah Kabupaten Sleman.

Pada operasi penertiban APK kali ini, tim dilengkapi 2 mobil skyline, 8 orang pemanjat dari DPUP, 7 orang pengatur lalu lintas dari Dishubkominfo, 4 personil Sabhara Polres Sleman, Total keseluruhan personil yang terlibat sejumlah 50 orang.

Tim gabungan dibagi menjadi dua regu. Untuk regu I Wilayah Sleman Timur di pimpin Kabid Trantib Satpol PP kabupaten Sleman menyisir perempatan Beran, Denggung, Jombor, Ringrod Utara Maguwoharjo, Jalan Solo Prambanan Amplaz, Demangan, Gejayan dan Jalan Kaliurang.

Sedangkan untuk wilayah barat atau Regu II dipimpin oleh Kasie Trantib pada Satpol PP Kabupaten Sleman menyisir: perempatan Beran, Pasar Sleman, Tempel, Denggung,Jombor kekanan Kronggahan, Demak ijo,Gamping, Jalan Wates Godean, Seyegan.

Kabid Trantib Satpol PP Kabupaten Sleman, Fatoni Budi Prabowo, mengatakan, operasi kali ini berhasil menurunkan lebih dari 70 materi Baliho di sepanjang jalan protokol, juga alat peraga kampanye lain yang pemasangannya melanggar aturan.

Dalam penertiban alat peraga kampanye tersebut sudah disosialisasikan terkait pemasangan alat peraga kampanye oleh para caleg. Dalam sosialisasi itu para caleg tidak diperbolehkan memperagakan alat peraga kampanye tersebut melalui alat peraga seperti foto calon caleg di baliho, umbul-umbul dan rontek.

“Tetapi kalau menggunakan alat peraga seperti sepanduk sesuai aturan diperbolehkan,” ujar Fatoni.




Merapi Semburkan Abu Vulkanik, Warga Dihimbau Tidak Panik

Sleman – Senin (10/3) pagi, pukul WIB, terjadi letupan kecil di Gunung Merapi yang menimbulkan asap hitam yang membawa material abu vulkanik setinggi meter dan condong ke arah barat. Namun demikian masyarakat dihimbau untuk tidak panik.

Saksi mata menyebutkan,  mulai pukul WIB terlihat Merapi mengeluarkan asap, sehingga hujan abu tipis terjadi di antaranya di Dusun Ngrangkah dan Kaliadem (Desa Kepuharjo).

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Subandrio,  mengatakan, letusan besar Gunung Merapi pada 2010 lalu, karena dikontrol oleh kandungan gas yang tinggi.  Akibat kandungan gas itu, maka fenomena pelepasan gas seperti itu kerap terjadi hingga saat ini. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau tidak panik dan bila perlu menggunakan masker.

Laporan aktivitas Gunung Merapi tanggal 28 Februari – 6 Maret 2014 yang dikeluarkan BPPTKG Yogyakarta menyatakan, aktivitas Gunung Merapi masih dalam status normal, dan kegiatan pendakian Gunung Merapi disarankan hanya sampai Pasarbubar (± m dpl) saja, untuk menghindari kejadian hembusan gas, abu vulkanik, dan letusan freatik yang bisa terjadi setiap saat.

Laporan juga menyebutkan, mengingat curah hujan cukup tinggi, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya lahar.