Sleman Pun Diguyur Hujan Abu Akibat Gunung Kelud Meletus

211_20140214012331

Sleman – Akibat erupsi Gunung Kelud yang terjadi pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul WIB, sejumlah material dari perut gunung seperti abu dan pasir tidak hanya menutupi daerah sekitar gunung seperti Kediri, namun telah mencapai Yogyakarta dan sekitarnya.

Hujan abu terlihat masih turun dan membentuk lapisan yang cukup tebal di wilayah Kabupaten Sleman.

“Sejak semalam sekitar pukul letusan, saya kira itu anak-anak yang iseng bermain petasan. Tapi setelah saya keluar rumah, abu tebal terlihat di atas jok motor dan jalanan pun terlihat memutih,” kata Arya Trisnanto, warga Gamping, Sleman, saat dihubungi pukul WIB, Jumat (14/2).

Dilansir Mitigasi BPBD Kediri, Jumat (14/2), sebaran abu yang dikeluarkan dari perut gunung telah mencapai pantai selatan di Pulau Jawa. Kawasan di Yogyakarta, Pacitan, Blitar dan sekitarnya juga dihujani abu vulkanik.




200 Murid TK Kunjungi UPT Pemadam Kebakaran Sleman

damkar

Sleman – Sekitar 200 murid TK IT Said Bin Tsabit, Mungkid, Magelang, Selasa (11/2), mengunjungi UPT Pemadam Kebakaran BPBD Kabupaten Sleman. Rombongan anak-anak itu datang ke kantor UPT Pemadam Kebakaran  dengan didamping guru dan sejumlah orang tua.

Kunjungannya tersebut dimaksudkan untuk lebih mengenal tentang Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman.

Kegiatan yang dipandu oleh staf UPT Pemadam Kebakaran, Sugiarto, dan satu regu personil Damkar meliputi pengenalan peralatan Pemadam Kebakaran,  ketugasan Pemadam Kebakaran, dan permainan yang diramu dengan simulasi penanggulangan kebakaran.

Diharapkan  kunjungan ini akan  menumbuhkan jiwa kepedulian, kerjasama dan tolong menolong terhadap sesama sejak dini bagi anak-anak.  Disamping juga untuk sosialisasi cara antisipasi penanggulangan kebakaran bagi orang tua siswa dan guru.




Sleman Meraih Penghargaan Adipura

Adipura

Sleman, InfoPublik –  Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2013 ini kembali menerima penghargaan tingkat nasional, penghargaan Adipura dalam bidang  kota terbersih dan terteduh untuk kategori kota dengan jumlah penduduk sedang. Indikator penilaian penghargaan Adipura ini meliputi kebersihan, pengelolaan limbah dan pengelolaan sampah yang telah dilakukan di sejumlah tempat, yakni pemukiman, terminal, pasar, rumah sakit, puskesmas, jalan-jalan arteri, dan hutan kota yang berlokasi di lapangan Denggung.

Bupati Sleman Sri Purnomo menerima penghargaan Adipura langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Senin (10/6), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup. Selain menerima penghargaan Adipura, Sleman juga mendapatkan penghargaan Kabupaten Penyusun Laporan Status Lingkungan Hidup Terbaik, yang diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup Prof. Balthasar Kambuaya di Hotel Bidakara.

Penghargaan di bidang lingkungan hidup, yaitu Adiwiyata Mandiri juga diraih SD Kanisius Kadirojo atas upayanya mewujudkan sekolah yang sehat. Penghargaan ini merupakan penghargaan tertinggi untuk sekolah yang telah berhasil mewujudkan kebersihan di lingkungan sekolahnya. Di samping mewujudkan kebersihan lingkungan, SD Kanisius Kadirojo ini juga telah melakukan pembinaan kepada 10 sekolah dasar lain agar memenuhi indikator Adiwiyata tingkat Kabupaten.

Dua penghargaan lain yang jiuga diterima pada hari yang sama adalah penghargaan Pembina Lingkungan berhasil, yang diraih Yatno Hadi Atmojo atas upayanya melestarikan lingkungan di lereng Merapi dengan menjaga kebersihan di bantaran sungai, membina peternakan, pertanian holtikultura untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Bakti lingkungan juga dilakukan Tutik Sudaryanto dengan melakukan penghijauan dan pelestarian daerah bantaran sungai, mata air serta penghijauan lahan kritis di Kecamatan Mlati dan Tempel.

Bupati menegaskan, penghargaan ini bukan tujuan utama yang ingin dicapai. Karena pada dasarnya pola hidup bersih harus menjadi gaya hidup yang harus dibangun sejak dini. “Penghargaan Adipura ini hanya salah satu bentuk apresiasi atas wujud keberhasilan Pemkab Sleman bersama warga masyarakat yang telah bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

Oleh karena itu, Sri Purnomo mengajak masyarakat untuk bersama-sama mempertahankan kebersihan dan keindahan Sleman dengan membiasakan diri hidup bersih, membuang sampah pada tempatnya dan mengubah pola konsumsi dalam pemanfaatan makanan dan sumber daya alam secara bijak.




Inspektorat Kabupaten Kendal Berkunjung ke Sleman

Sleman, InfoPublik – Untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada tahun 2013, APBD Kabupaten Sleman setelah evaluasi, untuk pendapatan daerah sebesar Rp1,622 triliun, sedangkan untuk belanja daerah sebesar Rp1,689 triliun, sehingga mengalami defisit sebesar Rp66,437 miliar lebih.

Sementara itu, perolehan PAD selama tahun 2012 mencapai Rp241,003 miliar lebih atau  mencapai 103,05% dari target  total perolehan PAD. Jumlah ini disumbang oleh perolehan pajak daerah yang mencapai Rp148,350 miliar lebih. Retribusi daerah mencapai Rp22,241 miliar lebih, hasil Perusahaan Milik Daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan mencapai Rp11,713 miliar, dan pendapatan lain-lain yang sah total mencapai Rp58,698 miliar  tersebut disampaikan Bupati Sleman dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Inspektorat Kabupaten Sleman Sri Sumardiyati saat menerima kunjungan kerja Inspektorat Kabupaten Kendal di Aula lantai III DPKAD, belum lama ini.

Ikut mendampingi dalam kesempatan tersebut antara lain Sekretaris DPKAD Sri Murni Rahayu, Kepala Bagian Organisasi Setda Sleman Drs. Susmiarto. Lebih lanjut disampaikan bahwa dalam upaya peningkatan pendapatan daerah, Pemkab Sleman melakukan upaya peningkatan efektivitas dan optimalisasi sumber-sumber pendapatan. Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber penerimaan daerah dan dari sumber-sumber penerimaan lainnya yang sah terus dilakukan.

Berkaitan dengan hal itu Pemkab Sleman mengeluarkan Peraturan Bupati Sleman No. 1 tahun 2012 tentang pengelolaan barang milik daerah. Regulasi tersebut melengkapi Perbub no. 22 tahun 2011 tentang kebijakan Akuntasi keuangan daerah. Selain itu juga dilakukan dengan melakukan sensus barang, yang diawali tahun 2008, pendataan  tanah  kas  desa  yang  dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY pada tahun 2003,  dan pembenahan sistem pelaporan aset daerah dengan menerapkan Sistem Informasi Manajemen barang daerah (SIMDA). Dengan langkah-langkah tersebut Pemkab Sleman secara bertahap dapat melakukan penertiban aset.

Saat ini Pemkab Sleman sudah menggunakan LPSE dalam melakukan pengadaan barang dan jasa, sejak tahun 2010. Selain itu, dalam sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP), telah mengcover pula pengelolaan aset didalamnya. Berkenaan dengan hal tersebut Pemkab Sleman terus berupaya mengelola aset yang dimiliki secara akuntabel agar dapat dioptimalkan untuk melayani masyarakat dan melaksanakan pembangunan serta untuk meningkatkan kesejahteraan  masyarakat.

Bentuk-bentuk aset yang berada dalam kendali Pemerintah Daerah tersebut dapat berupa aset berwujud (tangible asset) maupun aset tidak berwujud (intangible asset). Kedua jenis aset tersebut terus diupayakan untuk diidentifikasi dengan baik. Saat  ini aset yang dikuasai Pemkab Sleman berjumlah Rp2,512 triliun.  Aset  tersebut antara lain  terdiri dari aset tanah senilai Rp155,2 miliar, aset peralatan yang terdiri dari alat-alat besar, alat angkutan, alat bengkel dan alat  ukur, alat-alat  kedokteran, dan alat pertanian senilai Rp282,5 miliar.

Aset gedung dan bangunan yang terdiri bangunan gedung dan monumen senilai Rp 701,1 milyar, aset jalan, irigasi dan jaringan yang terdiri dari jalan dan jembatan, banguan air/irigasi, instalasi dan jaringan senilai Rp1,32 triliun, aset tetap lainnya senilai Rp51,1 miliar dan aset konstruksi dalam pengerjaan senilai Rp3,7 miliar.

Sedangkan Kepala Inspektorat Kabupaten Kendal M. Ali Yusuf yang didampingi 40 stafnya antara lain maenyampaikan bahwa kunjungannya di Kabupaten Sleman dalam rangka belajar pada Kabupaten Sleman untuk mendapatkan WTP seperti yang dirah Kabupaten Sleman. Lebih lanjut disampaikan bahwa permasalahan dalam mendapatkan WTP ada dua, yaitu masalah aset dan persediaan,  dan Kabupaten Kendal kini masih melakukan penataan aset daerah.




Peringatan Hari Jadi Sleman Dimeriahkan Tari Greget Trengginas

Sleman, InfoPublik – Rangkaian kegiatan puncak hari jadi ke-97 Sleman dimulai dari hari Selasa (14/5) pukul dengan diawali dengan kirab broto, kemudian dilanjutkan dengan tirakatan dan penyampaian ubo rampe upacara kepada Bupati Sleman/ ketua umum hari jadi Kabupaten Sleman.

Puncak acara peringatan hari jadi Kabupaten Sleman ke-97 dilangsungkan Rabu, (15/5) mulai pukul WIB di kawasan lapangan Denggung Sleman. Pada puncak acara kegiatan hari jadi, tanggal 15 Mei 2013, akan di mulai dengan kegiatan bedhol projo pukul , dengan mengadakan pawai dari Ambarukmo-Mlati-Denggung. Pawai tersebut adalah napak tilas perpindahan pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman, dari Ambarukmo ke Tridadi Sleman, dengan peserta kirab berasal dari Abdi dalem dari Sleman, Bergodo mego ngampak, dan 3 kelompok kesenian (2 Badui dan 1 IPKJS).

Pada pukul dilaksanakan Sidang Istimewa di gedung DPRD Sleman, pukul diadakan pengambilan pusaka tombak kyai turunsih,  panji mego ngapak dan lambang daerah dari Sekda yang akan diserahkan kepada ketua umum kemudian dikirab oleh 4 bregodo, yaitu bregodo Abdi dalam Kab. Sleman, Bregodo Paguyuban Sekar Sedah, Bregodo Mbah Bergas, Bregodo Kismo Kuncoro.

Pada pukul diadakan Upacara “Tanggap Warso Dinten Hadeging Ingkang Kaping 97 Kabupaten Sleman Warso 2013” dengan dimeriahkan dengan tari Greget Trengginas. Tari greget trengginas ini menggambarkan kesucian hati, bertekad membela bumi pertiwi, dengan langkah pasti berpegang pada kekuasaan Ilahi, berani membela bangsa, rawe-rawe rantas malang-malang putung, dengan sigap semangat, memberantas angkara murka, Sleman Sembada mengumandang Jagad.

Disamping kirab budaya acara akbar kebanggaan masyarakat Sleman tersebut juga disuguhkan sebuah repertoar tari kolosal bertajuk “Greget Trengginas” yang diperagakan 94 orang penari.  Repertoar tari ‘Greget Trengginas’ menggambarkan semangat dan harapan yang tinggi untuk bangkit dan menapaki kehidupan masa depan yang lebih gemilang. Tarian tersebut merupakan penggambaran kondisi sosial ekonomi warga masyarakat Sleman khususnya di lereng Merapi yang tahun 2010 silam mengalami keterpurukan akibat erupsi Merapi.