Siswa SMKI Betah Berlatih Karawitan di Kalurahan Ambarketawang

Sleman — Di tengah sengitnya kompetisi bulu tangkis dalam rangka Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Ambarketawang, alunan gamelan terdengar menggema pada malam itu. Suaranya berpadu dinamis, terkadang cepat dan rampak, kemudian melambat dengan irama yang lembut dan mendayu. Sesekali, suara rebab terdengar menyayat, berpadu dengan tiupan seruling yang menghadirkan nuansa khas karawitan Jawa.
Irama tersebut seolah dimainkan oleh para seniman karawitan berpengalaman. Namun, pemandangan di Ruang Kresna, kompleks Kantor Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (20/10/2026) justru menghadirkan kejutan. Di balik perangkat gamelan, tampak sekitar 18 pemuda duduk berjajar sebagai penabuh gamelan atau wiyaga. Sementara itu, tiga pemudi duduk dengan mikrofon di tangan, bersiap melantunkan tembang sebagai sindhen atau waranggana.
Mereka merupakan siswa SMK Negeri 1 Kasihan yang lebih dikenal dengan sebutan SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Para siswa tersebut tengah menjalani praktik kerja lapangan (PKL) sekaligus berlatih untuk meningkatkan keterampilan dalam memainkan gamelan. Mereka berasal dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalurahan Ambarketawang sendiri.
Meski masih berusia belasan tahun, kemampuan mereka memainkan berbagai instrumen gamelan terlihat mengesankan. Tidak hanya piawai menabuh gamelan, sejumlah siswa juga mampu melantunkan tembang melalui gerongan untuk mengimbangi suara sindhen. Kekompakan mereka menghadirkan sajian karawitan yang harmonis.
Selama empat bulan, para siswa menjalani PKL di lingkungan Keraton. Dalam periode tersebut, mereka mendapat kesempatan tampil di hadapan masyarakat, antara lain melalui paket pertunjukan untuk menyambut tamu dan wisatawan. Setiap penampilan menjadi bagian dari proses penilaian sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyelesaian tugas akhir.
Untuk mempersiapkan penampilan, latihan dilaksanakan rata-rata dua kali dalam seminggu dengan lokasi yang berpindah-pindah. Perpindahan tempat latihan dilakukan karena jadwal penggunaan ruang di sekolah terkadang berbenturan dengan kegiatan lain.
Salah satu siswa yang turut menjadi waranggana, Afrinda, mengaku nyaman berlatih di Ruang Kresna Kalurahan Ambarketawang.
“Tempatnya nyaman sekali,” tuturnya.
Para siswa PKL tersebut terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing beranggotakan sekitar 18 orang. Mereka berlatih menggunakan perangkat gamelan berlaras pelog maupun slendro. Adapun gending yang dibawakan antara lain Kembang Gayam, Blimbing Wuluh, serta sejumlah gending khas Kota Yogyakarta dalam sajian uyon-uyon.
Suasana latihan berlangsung akrab dan penuh semangat. Setiap siswa tampak menguasai instrumen yang menjadi tanggung jawabnya. Canda dan gurau khas anak muda sesekali terdengar di sela-sela latihan, tanpa mengurangi keseriusan mereka dalam membangun kekompakan dan menyempurnakan sajian karawitan.
Pemandangan tersebut menjadi potret menarik di tengah kehidupan generasi muda saat ini. Ketika sebagian anak muda menghabiskan waktu dengan permainan daring atau membicarakan modifikasi kendaraan, para siswa SMKI ini justru tekun mendalami gending, uyon-uyon, dan seni karawitan Jawa.
Semangat mereka menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap memiliki tempat di hati generasi muda. Dukungan berupa ruang latihan yang nyaman dan perangkat gamelan yang memadai juga menjadi salah satu faktor yang membantu mereka mengembangkan keterampilan sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya Jawa. (Dwi Ony Raharjo/KIM Pararta Guna Gamping)



