UNY Borong Tujuh Penghargaan dalam Ajang Abdidaya Ormawa 2026 di Makassar

Sleman — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menorehkan prestasi gemilang dengan memboyong tujuh penghargaan sekaligus pada ajang Abdidaya Ormawa 2026 yang diselenggarakan di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu hingga Minggu (21–25/10/2026). Capaian tersebut mencakup kategori perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, tim pelaksana, hingga dosen pendamping.

Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNY, Komarudin, mengatakan bahwa keberhasilan ini mencerminkan komitmen serta keterlibatan aktif sivitas akademika dalam menjalankan program pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Prestasi ini patut disyukuri dan menjadi motivasi bagi mahasiswa UNY untuk terus mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kepedulian sosial. Program pemberdayaan masyarakat tidak hanya berorientasi pada capaian penghargaan, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Komarudin.

Pada tingkat institusi, UNY sukses menempati peringkat Terbaik 3 kategori Perguruan Tinggi Paling Aktif. Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai fakultas turut menyumbangkan penghargaan bergengsi lainnya.

Dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), UKMF MDC meraih dua penghargaan sekaligus sebagai Terbaik 3 untuk kategori Dosen Pendamping dengan Pemahaman Pemberdayaan Masyarakat Terbaik serta Tim dengan Luaran Paling Komprehensif. Sementara itu, UKMF KSI-Mist FMIPA meraih Terbaik 2 kategori Tim dengan Pemahaman Pemberdayaan Masyarakat Terbaik.

Prestasi berikutnya disumbangkan oleh UKMF Penelitian Reality Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang meraih Terbaik 2 kategori Poster Paling Informatif. Di kategori Ormawa dengan Rekam Jejak Pemberdayaan Masyarakat Terbaik, BEM KM Fakultas Psikologi sukses merebut posisi Terbaik 4, disusul Himpunan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) yang menempati peringkat Terbaik 4 kategori Tim Paling Inspiratif.

Komarudin berharap capaian ini dapat memantik semangat organisasi kemahasiswaan lainnya untuk memperkuat kolaborasi bersama masyarakat, sehingga ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dapat menjadi solusi konkret atas berbagai persoalan sosial di lapangan. (Athiful/KIM Depok)




Fun Walk Wira Muda Banyuraden Ajak Warga Biasakan Hidup Sehat dan Pererat Kebersamaan

Sleman — Karang Taruna Wira Muda Banyuraden mengajak masyarakat membiasakan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik sederhana. Ajakan tersebut diwujudkan lewat kegiatan fun walk yang diikuti ratusan warga di Lapangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (25/10/2026).

Kegiatan yang menjadi rangkaian puncak Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Banyuraden 2026 ini berlangsung meriah. Antusiasme tinggi dari berbagai kalangan usia menunjukkan bahwa olahraga ringan seperti berjalan kaki dapat diakses oleh siapa saja serta efektif untuk menjaga kebugaran tubuh.

Lurah Banyuraden, Sudarisman, mengatakan bahwa kegiatan ini digelar guna mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga. Menurutnya, jalan sehat tidak hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga memperkuat komunikasi dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang kuat secara fisik, melainkan masyarakat yang rukun, guyub, dan saling mendukung,” ujar Sudarisman.

Pelepasan peserta dilakukan oleh Sudarisman dengan mengibarkan bendera start, disaksikan oleh Panewu Anom Gamping, Kurnia Astuti, serta Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Puspoputri.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Wira Muda Banyuraden, Dias Dwi Nugroho, menambahkan bahwa fun walk ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya aktivitas fisik yang konsisten untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

“Melalui kegiatan bersama, hubungan antarwarga dapat semakin erat, sementara semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan sosial dapat terus tumbuh,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, Karang Taruna Wira Muda Banyuraden berharap dapat terus menjadi pelopor dalam menggerakkan masyarakat menuju gaya hidup yang lebih bugar, aktif, dan harmonis. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Karang Taruna Kapanewon Mlati Sukses Gelar Fun Run “Karang Taruna Berkarya”

Sleman — Karang Taruna Kapanewon Mlati sukses menyelenggarakan kegiatan fun run bertajuk “Karang Taruna Berkarya” di Lapangan Sanggrahan, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, pada Minggu (25/10/2026). Ajang olahraga gembira ini berhasil menarik antusiasme tinggi dengan diikuti oleh 300 peserta yang memadati lokasi sejak pagi hari.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Panewu Mlati, Dyah Purwanti, yang hadir langsung untuk melepas para peserta. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar agenda ini menjadi wujud nyata kontribusi aktif Karang Taruna dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran masyarakat di wilayah Kapanewon Mlati.

“Semoga acara ini dapat menjadi wujud nyata kepedulian dan kontribusi aktif Karang Taruna terhadap kesehatan masyarakat,” ujar Dyah.

Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat forum komunikasi pimpinan kapanewon, di antaranya Kapolsek Mlati, Danramil Mlati, serta para lurah se-Kapanewon Mlati. Berkat sinergi yang solid antara jajaran kepolisian, linmas, jagawarga, puskesmas setempat, relawan, serta partisipasi aktif masyarakat, seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif.

Selain fokus pada bidang kesehatan, fun run ini juga menjadi wadah kebangkitan ekonomi lokal. Para peserta dan pengunjung yang hadir disuguhkan dengan berbagai produk unggulan serta aneka olahan makanan khas dari Forum UMKM Kalurahan Tirtoadi yang turut memeriahkan suasana di sekitar lapangan. (Novendra/KIM Mlati)




Peran Mulia Pramurukti, Menjaga Manula Tetap Ceria dan Memperjuangkan Hak Pekerja

Sleman — Serikat Pekerja Pramurukti Yogyakarta (SPPY) Wilayah Sleman menggelar pertemuan rutin untuk memperkuat solidaritas serta konsolidasi organisasi di Pemancingan Moro Seneng pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini menjadi wadah bagi para tenaga perawat lansia untuk menyatukan visi dalam menjalankan profesi yang sarat pengabdian.

Indra, salah satu pengurus SPPY Sleman sekaligus inisiator kegiatan, menyampaikan bahwa profesi pramurukti menuntut keterampilan khusus serta ketulusan hati dalam merawat para manula. Pertemuan ini tidak hanya berfungsi memperkuat roda organisasi, tetapi juga mengasah rasa kesetiakawanan antaranggota.

“Pada pertemuan tersebut diharapkan mendapatkan pemahaman yang utuh dalam wadah SPPY,” ujar Indra.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat sosial Nono Karsono hadir sebagai narasumber untuk membedah dinamika dan tantangan yang dihadapi para pramurukti. Menurutnya, pramurukti memegang peran penting, namun masih dihadapkan pada berbagai persoalan pelik, mulai dari rendahnya posisi tawar pekerja, belum adanya standarisasi upah, ketiadaan perlindungan hukum, sosial, dan kesehatan, hingga bayang-bayang praktik penyaluran tenaga kerja yang tidak sehat.

Selain itu, profesi ini kerap disamakan dengan pekerja rumah tangga biasa sehingga rentan mengalami ketidakpastian jam kerja, pemutusan hubungan kerja sepihak menjelang hari raya untuk menghindari Tunjangan Hari Raya (THR), serta minimnya pengakuan sosial.

“SPPY hadir menjadi potret ikhtiar wadah profesi untuk berjuang untuk adanya pengakuan hukum dan sosial yang berkeselarasan dan berkeadilan,” tegas Nono.

Senada dengan hal tersebut, pengurus SPPY DIY, Helmiyati, menegaskan bahwa pramurukti merupakan profesi yang mulia dan bukan sekadar pembantu. Mereka hadir sebagai mitra bagi keluarga untuk mendampingi individu yang membutuhkan perawatan khusus, baik karena faktor usia lanjut maupun kondisi kesehatan tertentu.

“Dalam upaya menjadikan SPPY berdaya, bermartabat, dan sejahtera, para petugas SPPY itu harus santun, smart, dan semangat,” pesan Helmiyati.

Melalui pertemuan ini, SPPY Sleman berharap pemerintah, lembaga penyalur, serikat buruh, dan masyarakat luas dapat lebih mengenal serta memberikan perlindungan yang adil bagi profesi pramurukti, sehingga kesejahteraan dan martabat para pekerja dapat terus meningkat. (Kusnadi/KIM Berbah)




Empat Tahun PPY Tempel: Merawat Bahasa Jawa dan Menjaga Budi Pekerti di Tengah Perubahan Zaman

Sleman — Pelestarian bahasa daerah tidak akan cukup hanya dengan diajarkan di sekolah atau ditampilkan dalam upacara adat, melainkan harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran tersebut mengemuka dalam peringatan HUT ke-4 Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY) DPC Kapanewon Tempel yang digelar di Warung Kopi Sormindi, Nglengkong Kidul, Sumberrejo, Tempel, Sleman, pada Minggu (25/10/2026).

Peringatan empat tahun perjalanan PPY DPC Tempel ini menyoroti tiga isu utama, yakni ancaman pudarnya penggunaan bahasa Jawa, pentingnya menghidupkan kembali budi pekerti, serta kemandirian organisasi kebudayaan dalam menjalankan program kerja.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, mengingatkan bahwa tantangan pelestarian bahasa Jawa kini tidak hanya dihadapi oleh masyarakat perantauan, melainkan juga terjadi di lingkungan keluarga dan pergaulan anak-anak di tanah Jawa sendiri.

“Yang menjadi kekhawatiran kita bukan hanya anak-anak yang lahir dan besar di luar Jawa. Anak-anak yang lahir, tinggal, dan tumbuh di tanah Jawa pun sekarang banyak yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia mendorong masyarakat untuk memberikan ruang belajar bagi generasi muda tanpa harus takut melakukan kesalahan dalam berbahasa, khususnya penggunaan bahasa krama.

“Kalau belum bisa menggunakan bahasa Jawa dengan baik, setidaknya kita mulai dari memahami dan berani berbicara. Jangan sampai karena takut salah, akhirnya tidak ada lagi yang berani menggunakan bahasa Jawa,” pesannya.

Sementara itu, Penasihat PPY DPC Kapanewon Tempel, Abdullah Shodiq, menekankan bahwa budaya memiliki cakupan yang luas dan tidak sebatas pada kesenian seremonial semata. Nilai luhur tersebut harus tercermin dalam perilaku dan tata krama sehari-hari, seperti sikap santun menghormati orang yang lebih tua.

“Budaya itu luas sekali. Jangan sampai kita memahami budaya hanya sebatas kesenian. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia juga merupakan bagian dari budaya,” tutur Abdullah.

Di sisi lain, Ketua PPY DPC Kapanewon Tempel, Sih Budi Daryanto, mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir organisasinya mampu bertahan dan berkegiatan secara mandiri melalui swadaya anggota di tengah keterbatasan anggaran. Kendati demikian, pihaknya tetap mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah.

“Kami memahami bahwa saat ini pemerintah sedang mencanangkan efisiensi anggaran. Namun, kami berharap dukungan kepada organisasi kebudayaan tetap diberikan, bukan hanya dukungan moril, tetapi juga materiil agar program kerja dapat berjalan dengan baik dan lancar,” pungkas Sih Budi. (SBD/KIM Tempel)