Kreasi Topeng dari Kardus, Kenangan Bersama Kakek dan Inspirasi Seto Jadi Seniman

Sleman — Suasana Joglo Taman Budaya Lohjinawi, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, tampak berbeda dari biasanya, Sabtu (24/10/2026). Puluhan anak tampak antusias mengikuti Workshop Recycle bertajuk “Kreasi Topeng dari Kardus dan Koran Bekas” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Saraswati Kalurahan Sinduharjo.

Meski tangan mereka dipenuhi lem dan potongan kertas koran, wajah anak-anak tersebut tampak riang menikmati pengalaman baru membuat kerajinan tangan di bawah bimbingan langsung seniman dari Sanggar Wayang Dongeng, Bagong Soebarjo.

“Yah, kami bebaskan berekspresi sesuai keinginannya, minatnya. Kita hanya mengajarkan cara membuatnya,” ujar Bagong di sela-sela memandu peserta.

Dalam pelatihan ini, anak-anak diajarkan teknik dasar pembuatan topeng. Mulai dari merangkak kardus tebal yang direkatkan menggunakan solasi kertas, melapisi dengan koran tipis untuk membentuk kontur wajah, hingga melumurinya dengan lem kayu agar kuat dan siap diwarnai dengan cat air.

Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing beranggotakan lima anak untuk melatih kerja sama tim.

“Biar saling bekerjasama,” ucap Bagong. Para peserta tampak kompak membagi tugas, mulai dari menggaris, memegang kertas, hingga memotong pola bersama-sama.

Di antara riuhnya tawa anak-anak yang saling melihat hasil karya masing-masing, terdapat sebuah topeng berukuran sederhana dengan warna hitam legam dan hidung sedikit miring karya seorang anak bernama Seto. Bocah asal Dusun Ledok Wareng, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, itu malu-malu menunjukkan hasil karyanya.

“Ini topeng Pentul Tembem,” kata Seto.

Ia mengaku memilih karakter tersebut karena terinspirasi dari kenangan bersama kakeknya yang gemar memakai topeng serupa dan menari saat pementasan jathilan di kampungnya. Bahkan, ia sempat ikut mementaskan satu babak tarian tradisional tersebut bersama sang kakek.

Melalui kegiatan ini, Seto tidak hanya menyalurkan kreativitas seninya, tetapi juga merawat kenangan indah dari sang kakek, sekaligus memupuk mimpinya untuk terus belajar membuat karya topeng yang lebih baik di masa depan. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Bedah Buku Antologi Cerkak “Taru” Pasbuja Kawi Merapi: Ruang Estetika dan Kritik Sastra

Sleman — Buku antologi Cerita Cekak (Cerkak) bertema Taru atau tumbuhan karya 23 anggota Paguyuban Budaya dan Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi dibedah dalam acara yang digelar di Rumah Makan Sego Welut Jowah, Sidoagung, Godean, Sleman, pada Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan bedah buku yang bekerja sama dengan Lingkarantarnusa ini menghadirkan para narasumber kompeten, yakni Ratun Untoro, Budi Sarjono, dan Wiyana, serta dipandu oleh moderator Wiwien Widyawati Rahayu. Acara tersebut merupakan rangkaian program pelatihan penulisan sastra budaya “Alamkara” yang difasilitasi oleh Bupati Sleman guna mendukung pemajuan kebudayaan daerah serta mewujudkan visi misi pembangunan Kabupaten Sleman.

Dalam pengantarnya, Wiwien Widyawati Rahayu yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa istilah Alamkara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hiasan atau keindahan. Dalam tradisi sastra, konsep ini berkaitan dengan estetika pengungkapan bahasa. Ia menekankan bahwa pelatihan menulis ini bertujuan membekali peserta agar mampu mengolah gagasan menjadi karya yang indah dan bernilai.

“Batch ini memang sengaja dipilih untuk mengakomodasi agenda perjalanan aktivitas menulis bersama Pasbuja,” ungkap Wiwien.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratun Untoro, menyoroti posisi seorang pengarang ketika karyanya telah diterbitkan. Menurutnya, setelah naskah selesai, penulis tidak lagi memiliki hak untuk menyanggah atau membela diri atas karya tersebut, karena pembaca yang akan menilai secara mandiri.

“Pembaca mempunyai hak untuk menafsirkan makna tulisan tersebut tergantung pola pemikiran dan kemampuan masing-masing,” jelas Ratun.

Di sisi lain, sastrawan senior Budi Sarjono—yang akrab disapa Budsar—menyampaikan kritik membangun terhadap karya-karya dalam antologi tersebut. Ia menilai para penulis masih bermain di permukaan dan belum mengeksplorasi tema Taru secara mendalam, padahal cakupan tumbuhan sangat luas, mulai dari tanaman keras, tanaman obat, hingga filosofi yang menyertainya.

“Pada akhirnya semua hanya permukaan saja, kurang berani mengupas secara mendalam tentang makna dan filosofinya,” sesal Budsar.

Pembahas terakhir, Wiyana, membagikan pandangannya bahwa sumber inspirasi penulisan cerita dapat ditemukan di mana saja, baik dari pengalaman masa kecil, kisah percintaan, pengamatan sosial, maupun peristiwa di sekitar kehidupan sehari-hari.

“Pada dasarnya ide cerita bisa didapatkan kapan pun atau di mana pun,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Warna-Warni Kultur Jalanan, Dusun Bronggang Suruh Disulap Jadi Arena Kontes Grafiti dan Mural

Sleman — Suasana Dusun Bronggang Suruh, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, mendadak riuh dan dipenuhi warna-warni cerah. Dusun yang biasanya sejuk dan tenang tersebut mendadak semarak dengan dentuman musik hip-hop serta kehadiran anak-anak muda pencinta street culture yang berkumpul di sepanjang jalan utama pada Sabtu (24/10/2026).

Kawasan tersebut menjadi tuan rumah ajang kreativitas bertajuk Kontes Graffiti, Mural, & Hip-Hop Performance. Berlangsung dari pukul hingga WIB, acara ini memadukan aksi langsung seni visual grafiti dan mural dengan pertunjukan musik hip-hop secara terbuka dan gratis untuk umum.

Keunikan kegiatan ini terletak pada pemilihan lokasi yang membawa seni lukis dinding—yang biasanya jamak ditemui di gedung perkotaan—langsung masuk ke tengah perkampungan warga. Sebanyak 20 titik dinding rumah warga, lapangan voli, hingga bangunan gudang disulap menjadi media lukis oleh para peserta.

“Ada 20 titik rumah warga yang menjadi media lomba mural ini,” ujar Guntur, salah satu panitia penyelenggara. Warga setempat menyambut positif kegiatan ini dengan merelakan dinding rumah mereka dicoret indah menggunakan cat semprot.

Guntur menambahkan, para peserta bebas berekspresi dengan batasan tema utama, yakni “Merapi” dan “Sleman”. Perlombaan melukis dinding tersebut dijadwalkan berlangsung hingga pukul WIB untuk memperebutkan gelar Juara 1, 2, dan 3.

Kegiatan yang melibatkan hampir seluruh pemuda Bronggang Suruh ini merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman. Kerja sama ini terjalin berkat prestasi putra daerah setempat, Megi Matori, yang sukses meraih penghargaan sebagai Motivator Pemuda Terbaik.

“Ya, idenya ini dari Mas Megi,” ungkap Guntur.

Rangkaian acara ini dibuka secara resmi oleh Lurah Argomulyo, Danga Hendri Bintoro, di panggung terbuka yang berlatar pemandangan Kali Gendol. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari unsur pemerintah, karang taruna, warga masyarakat, hingga para peserta yang menyemarakkan kegiatan positif tersebut.

Kehadiran para seniman mural ini berhasil memikat perhatian warga sekitar. Di berbagai titik lokasi pengerjaan, warga tampak antusias menyaksikan dari dekat proses penyemprotan cat yang perlahan membentuk karya seni visual berpadu warna-warna tegas dan mencolok, menjadikan Bronggang Suruh tampil penuh warna. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)




Rampung Diaspal, Jalan Anggajaya 2 Condongcatur Kini Mulus

Sleman — Penantian panjang masyarakat Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, terhadap perbaikan infrastruktur akhirnya terjawab. Ruas Jalan Anggajaya 2 yang menjadi akses penghubung kawasan Gejayan–Sanggrahan–Manukan rampung diaspal pada Jumat (23/10/2026) pukul WIB dan kembali dibuka untuk umum mulai pukul WIB.

Peningkatan jalan sepanjang meter dengan lebar 4,5 hingga 5 meter ini merupakan bagian dari program pembangunan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman. Proyek Paket 12 Ruas Sanggrahan–Manukan Tahun Anggaran 2026 ini memiliki nilai kontrak sekitar Rp2,47 miliar, yang dikerjakan oleh CV Atmo Putro dengan Hariyanto sebagai pelaksana lapangan.

Pekerjaan fisik tersebut didahului oleh serangkaian tahapan yang dimulai sejak beberapa bulan sebelumnya, meliputi normalisasi saluran drainase sepanjang 300 meter dan pengecoran bahu jalan guna memperkuat struktur tepi serta mencegah genangan air. Tahap pengaspalan badan jalan sendiri dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Kamis–Jumat (22–23/10/2026).

Menariknya, sehari setelah pengaspalan rampung, kawasan Yogyakarta disambut oleh gerimis dan hujan ringan pada Sabtu (24/10/2026) pagi. Turunya hujan ini mengakhiri periode kemarau panjang, sekaligus menjadi momentum penting untuk menguji kesiapan sistem drainase baru di sekitar ruas jalan tersebut.

Perbaikan Jalan Anggajaya 2 bukan sekadar proyek fisik, melainkan realisasi aspirasi warga yang telah diperjuangkan selama kurang lebih tiga tahun. Aspirasi tersebut kembali mengemuka dalam kegiatan Sambung Rasa bersama pimpinan DPRD DIY dan DPRD Kabupaten Sleman di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur pada Sabtu (14/03/2026).

Plt. Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyampaikan apresiasi atas terealisasinya pembangunan infrastruktur ini dan mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas publik tersebut agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Rampung pada Jumat malam dan disambut gerimis pada Sabtu pagi, Jalan Anggajaya 2 menjadi simbol terwujudnya harapan masyarakat akan infrastruktur yang lebih baik. Jalan yang mulus bukan sekadar menghadirkan kenyamanan berkendara, tetapi juga membuka akses yang lebih lancar bagi aktivitas sosial, pelayanan publik, dan perekonomian warga,” ujar Budi. (Wasana/KIM Depok)




Alamkara, Sarana Memperdalam dan Memperindah Majas dalam Karya Sastra

Sleman — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Paguyuban Budaya dan Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menggelar program literasi karya tulis bertajuk Alamkara.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman pada Sabtu (24/10/2026) di Rumah Makan Sego Welut Godean, Sleman. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, and Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman, Dwi Joko Haryadi, serta Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Disbud Sleman, Ita Kurniawati. Acara ini diikuti oleh 23 penulis baru serta sejumlah anggota Pasbuja Kawi Merapi.

Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan fasilitasi dari Bupati Sleman melalui Dinas Kebudayaan Sleman yang dilaksanakan oleh Pasbuja. Ia menyebutkan, organisasi yang dipimpinnya berdiri pada 30 November 2018 dengan 13 anggota awal dan kini telah berkembang menjadi 138 anggota.

“Pada bulan depan kita akan memasuki usia yang ke delapan tahun,” tutur Sutopo, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Disbud Sleman atas kepercayaan yang diberikan dalam penyelenggaraan program Alamkara. “Semoga kolaborasi ini menjadi semangat kita dalam membangun gotong royong,” ungkapnya.

Sementara itu, bidang Litbang Pasbuja Kawi Merapi yang juga dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wiwien Widyawati Rahayu, menjelaskan filosofi di balik pemilihan tajuk kegiatan tersebut. Istilah Alamkara berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti hiasan, ornamen, dekorasi, atau keindahan.

Wiwien memaparkan, dalam konteks sastra, alamkara merujuk pada gaya bahasa atau majas yang berfungsi untuk memperindah dan memberikan nilai estetika pada suatu karya tulis.

“Melalui kegiatan ini kami berharap peserta mampu mengekspresikan karya tulis yang indah,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keindahan bahasa merupakan modal utama bagi seorang penulis untuk memikat pembaca.

“Karya tulis yang indah yang didukung kaidah penulisan yang benar merupakan awal kesempurnaan sebuah karya tulis yang enak dinikmati oleh pembacanya,” pungkas Wiwien. (Giek/KIM Moyudan)