Kaistimewan Adheganing Amerta, Peringatan 11 Tahun Keistimewaan DIY di Kapanewon Tempel

Sleman – Dalam rangka memperingati 11 tahun Keistimewaan DIY, serta HUT RI ke-78, Kapanewon Tempel menggelar berbagai kegiatan selama 2 hari, Sabtu (12/8/2023) dan Minggu (13/8/2023) yang berpusat di Kompleks Lapangan Lumbungrejo, Kapanewon Temple, Sleman. Kegiatan sendiri terdiri dari Gelar Bazar UMKM se-Kapanewon Tempel, Lomba Senam Sleman Bangkit, Senam massal serta penampilan Gelar Budaya dari perwakilan kesenian budaya yang berkembang di Kapanewon Tempel.

Penewu Anom, Dyah Purwanti, menyampaikan bahwa dengan adanya Bazaar UMKM ini memberikan ruang untuk lebih berkembang nya UMKM di Tempel.

“Sebanyak 8 (delapan ) kalurahan menampilkan produk-produk unggulannya masing-masing untuk memeriahkan kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini,” ujar Dyah.

Setelah pembukaan Bazaar UMKM dilanjutkan dengan gelar budaya dengan mementaskan 4 (empat) kesenian tradisional dari 4 kalurahan. Pada hari pertama digelar pertunjukan dari Kesenian Kubro Siswo Tunas Muda Banyurejo, Kesenian Kubro Siswo Laras Mudho Tambakrejo, Kesenian Badui Manunggal Sumberrejo, serta Jathilan Turangga Muda Pondokrejo

Selanjutnya puncak acara peringatan 11 tahun keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan Minggu, 13 Agustus 2023. Acara puncak ini dihadiri juga Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, Perwakilan Paniradya Keistimewan Ariyanti Luhur, perwakilan dari PERWOSI Sleman, turut juga hadir Penewu Tempel, berserta seluruh jajarannya Kapolsek Tempel, Danramil Tempel, serta perwakilan dari organisasi budaya di Kapanewon Tempel, DPC PPY Tempel sebagai pembawa acara Gelar Budaya tahun ini.

Diawali dengan pelaksanaan Senam Massal bersama Bupati Sleman dilanjutkan dengan Sambutan dan Pembukaan acara secara resmi oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo yang menyampaikanbahwa kegiatan seperti ini harus dilakukan secara rutin.

“Kaistimewan Adheganing Amerta, memiliki makna yang luas untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya dan tradisi Jawa serta harus digunakan juga untuk meningkatkan pembangunan secara menyeluruh. Untuk itu perlu dikedepankan sinergi dan kolaborasi yang sesuai dengan tujuan keistimewaan DIY itu sendiri,” ujarnya.

Acara berlanjut dengan Lomba Senam Sleman Bangkit yang diikuti 18 tim dari berbagai unsur yang ada di Kapanewon Tempel serta pementasan gelar budaya 4 (empat) kalurahan dari total 8 kalurahan yang ada, yaitu Kesenian Kubro Siswo Putro Mudho Mororejo, Kesenian Topeng Ireng Arka Kawedar Margorejo, Kesenian Gedruk Rampak Buto Dhemit Krasak Lumbungrejo dan Jathilan Putri Satriyo Manunggal Merdikorejo. (SBD/KIM Tempel)




Tanggulangi Kemiskinan Lewat Program Kampung Berkah

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, meluncurkan program Kampung Berkah yang diinisiasi oleh Baznas Sleman di Kalurahan Pondokrejo Kapanewon Tempel pada hari Jumat (4/8/2023). Dalam kesempatan tersebut juga sekaligus diluncurkan program Santunan Lansia Seumur Hidup.

Ketua Baznas Sleman, Kriswanto, menjelaskan dalam program Kampung Berkah ini disalurkan bantuan melalui sejumlah program unggulan Baznas. Adapun rinciannya yakni program Sleman Sehat untuk bantuan kesehatan stunting kepada Siti Rohmah Budiati sebesar 1 juta rupiah. Program Sleman sehat untuk bantuan kesehatan gagal ginjal kepada Masfufatul Jannah sebesar 3 juta rupiah. Program Sleman Peduli untuk bantuan Konsumtif Biaya Hidup kepada Cholifatun sebesar 1 juta rupiah. Program Sleman Taqwa untuk bantuan renovasi masjid Baitul Muslimin sebesar 2 juta rupiah. Dan program Sleman Produktif untuk bantuan modal usaha Kelompok Sumber Rezeki sebesar 10 juta rupiah.

“Program ini sebelumnya juga telah dilakukan di Kalurahan Wukirharjo Kapanewon Prambanan,” jelasnya.

Sedangkan program Santunan Lansia Seumur Hidup diberikan kepada 40 orang se-Kabupaten Sleman. Santunan yang diberikan berupa tunai sejumlah 300 ribu rupiah per orang dan Santunan paket logistik sembako. Bantuan ini diberikan setiap 3 bulan sekali.

Dalam sambutannya, Danang mengucapkan terima kasih kepada Baznas Sleman yang telah membantu Pemkab Sleman dalam upaya menangani kemiskinan di Kabupaten Sleman. Diharapkan bantuan ini dapat memberdayakan masyarakat kurang mampu dan lansia, sehingga masyarakat dapat mandiri secara ekonomi.

“Saya juga berterimakasih kepada Baznas Sleman, dalam program Kampung Berkah ini juga diberikan bantuan untuk penanggulangan stunting,” ujarnya. (SBD/KIM Tempel)




Samakan Persepsi Terkait KUHP, Kemenkumham Gelar Peyuluhan Hukum Serentak

Sleman – Menyemarakkan Hari Dharma Karya Dhika ke-78, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Kanwil DIY bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tentrem Yogyakarta menggelar Penyuluhan Hukum Serentak di berbagai daerah, salah satunya di Kalurahan Margorejo Tempel, Sleman, Rabu (2/8/2023).

Sri Sulistyowati dari Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kemenkumham DIY menuturkan kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menyamakan persepsi terkait Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023.

“Penyelenggaraan sosialisasi yang dilaksanakan hari ini dalam rangka menyamakan persepsi terkait sosialisasi tentang Undang-Undang nomer 1 tahun 2023 tentang seluruh Indonesia,” ujar Sri Sulistyowati.

Dirinya berharap dengan adanya penyuluhan hukum tersebut masyarakat dapat mengenali dan memahami Undang-Undang yang mengatur tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ) supaya tujuan mewujudkan kesadaran hukum dapat tercapai.

“Sehingga masyarakat dapat mengetahui tentang perkembangan hukum saat ini,” sambungnya.

Selanjutnya pemateri yang kedua, Endika Setiawan dari LBH Tentrem Daerah Istimewa Yogyakarta menerangkan tentang apa saja bentuk bantuan hukum yang dapat diberikan, tentang kasus dan kejadian apapun.

“Dan ketika segala unsur nya terpenuhi LBH Tentrem siap memberikan bantuan secara hukum,” ungkap Endika. (SBD/KIM Tempel)




Kuatkan Organisasi, FORKOM UMKM Tempel Gelar Pertemuan Rutin

Sleman – Forum Komunikasi (FORKOM) UMKM Kapanewon Tempel menggelar pertemuan rutin di Pendopo Embung Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman pada Selasa (1/8/2023). Kegiatan dihadiri oleh semua pengurus FORKOM UMKM Kapanewon Tempel dan Pengurus UMKM dari masing-masing Kelurahan se Kapanewon Tempel.

Petemuan dipimpin oleh Ketua FORKOM UMKM Tempel, Widiyarsih. Rapat membahas potensi dan permasalahan usaha kecil dan menengah dari masing-masing Kelurahan sekaligus solusi penanggulangannya.

Lebih lanjut dibahas persiapan UMKM untuk berpartisipasi pada agenda acara yaitu Gelar Budaya yang rencanannya akan diadakan pada 12-13 Agustus 2023 di Lapangan Lumbungrejo Tempel, serta Festival UMKM yang diadakan oleh Pemkab Sleman.

Untuk menyukseskan agenda tersebut, Widiyarsih meminta agar FORKOM UMKM Tempel dapat terus kompak dengan menjalin silaturahmi antar anggota.

“Bisa saling memberi masukan maupun inovasi inovasi untuk kemajuan UMKM se Kapanewon Tempel,” pungkasnya. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




Melihat Jembatan Warna-Warni di Kapanewon Tempel

Sleman – Sekitar 3 km dari jembatan kembar kali Krasak jalan Magelang ke arah hilir, terdapat sebuah jembatan kecil yang melintas kali yang sama. Jembatan ini menyambungkan dukuh Banaran, Ngluwar Magelang Jawa Tengah ,dengan dukuh Jlapan Pondokrejo, Tempel, Sleman, DI Yogyakarta.

Jembatan ini sendiri dimaksudkan untuk para pejalan kaki atau kendaraan roda 2, namun ada juga kendaraan roda 4 yang lewat.

Konstruksi jembatan ini cukup unik, mempunyai deretan 13 pilar penyangga yang rapat. Karena ketingggian tiang-tiang jembatan berada di bawah permukaan jalan, maka bentuk jembatan menjadi melengkung kebawah, di bagian tengah titik paling rendah. Selain itu, ada pula tiang beton yang dicat berbagai warna di sepanjang jembatan tersebut.

Menurut penuturan Wawan Hs , penduduk setempat yang juga saksi mata saat pembangunannya, jembatan ini dibangun pada tahun 2000 – 2001.

“Pembangunan jembatan ini didanai oleh APBN dan mengerahkan penduduk kedua desa yang berseberangan,” terang Wawan pada Selasa (1/8/2023).

Ia menuturkan, campuran beton yang dipakai adalah 1:1 menjadikannya jembatan ini sangat kuat. Seluruh jembatan itu seolah-olah menjadi sebuah konstruksi beton yang kokoh, panjang dan masif (wutuh) yang sebagian tertanam ke dalam tanah.

“Penduduk sangat berterima kasih atas dibangunnya jembatan itu dan pada waktu jembatan itu selesai dibangun mereka mengadakan selamatan syukuran,” kenang Wawan.

Ketahan jembatan itu terbukti ketika pada tahun 2010 lahar menerjang lubang-lubang di bawahnya dan menyumbatnya dengan pokok-pokok kayu, sehingga lahar meluap dan melewati atas jembatan, tapi jembatan itu tetap bertahan.  (Sadhono Hadi/KIM Tempel)