SLB Wiyata Dharma I Margorejo Tempel Sleman, Tempat Anak-Anak Tunarunggu dan Tunagrahita Mengejar Cita-Cita

Sleman – Sebanyak 60 orang anak didik dari berbagai tingkatan dan daerah berlatih dan menimba ilmu di Sekolah Luar Biasa Wiyata Dharma I yang terletak di jalan Magelang km 16,4, tepat di sebelah barat Kantor Kelurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Mereka diasuh oleh 15 orang tenaga pendidk untuk mendapat ilmu pengetahuan seperti layaknya sekolah umum lainnya, dan ditambah keterampilan khusus untuk dapat mandiri.

Edy Surata, Kepala SLB Wiyata Dharma pada Senin (31/7/2023) mengajak KIM Tempel untuk berkeliling melihat kompleks sekolah seluas 4600 m persegi yang disewa menggunakan Kas Kalurahan Margorejo. Selain ruangan kelas, komplek SLB ini dilengkapi juga ruang artikulasi, ruang musik, ruang pengenalan musik, dan ruang serbaguna yang dilengkapi kaca yang lebar.

Dalam komplek ini juga ada bangunan asrama, untuk menampung anak didik dari luar daerah, karena penghuni SLB ini berasal dari berbagai daerah. Selain dari Yogyakarta, ada yang berasal dari Kalimantan dan Bengkulu. Dalam kompleks yang sama, ada bangunan Panti Asuhan yang administrasinya dikelola secara terpisah.

“Tidak ada orang tua yang menginginkan putra-putrinya memiliki kekurangan, seperti tuna rungu, yang menyebabkan juga tuna wicara. Namun, Allah menggariskan takdir mereka demikian, menjadi kewajiban para orang tua memberikan bekal semaksimal mungkin agar mereka kelak dapat hidup mandiri,” ujar Edy Surata.

Selain memberikan pengetahuan umum sesuai dengan kurikulum, SLB Wiyata Dharma I, Margorejo dibawah naungan Yayasan Lembaga Kesejahteraan Sosial juga membekali para siswa keterampilan dasar bagi penderita tunarungu, seperti isyarat abjad dan isyarat sesuai dengan Kamus System Isyarat.

Sekalipun mereka tidak bisa mendengar, mereka juga dilatih menenal musik, utamanya mengerti hitungan irama musik. Beberapa peralatan band nampak di ruang khusus. Mereka juga dilatih artikulasi,

“Sesungguhnya mereka tidak bisu, namun karena tidak pernah mendengar mereka tidak mampu mengucapkannya, dengan melatih artikulasi diharakan setidaknya mereka bisa membaca gerakan bibir,” jelas Edy.

Untuk pelajaran umum, proses kegiatan belajar mengajar memerlukan tambahan alat peraga agar mereka dapat menangkap maksud yang benar dari tiap pelajaran.  Agar lebih efektif dalam pengajaran, maksimum murid dalam satu kelas hanya 5 orang.

Sekolah ini juga menerima titipan anak-anak yang menderita tunagrahita ringan, yang diharapkan dengan pelatihan di sini mereka mampu mengurus dirinya sendiri.  (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




Margorejo Kuatkan Fungsi Jaga Warga untuk Minimalisir Konflik Sosial

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margorejo menggelar Sosialisasi Peraturan Gubernur DIY Nomor 9 Tahun 2015 tentang Jaga Warga dan pembentukan kelompok jaga warga di Kantor Kalurahan Margorejo, Tempel, Sleman, Kamis (27/7/2023). Sosialisasi ini mendatangkan pemateri yang berasal dari Satpol PP Kabupaten Sleman dan didampingi oleh Satpol PP Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 14 Padukuhan yang ada di Kalurahan Margorejo.

Dalam sosialisasi tersebut, Kabid Trantib Satpol PP Kabupaten Sleman, Akhmad Edi Santoso menilai, Jaga Warga merupakan usaha keamanan, ketenteraman, ketertiban dan kesejahteraan. Selain itu, sosialisasi menumbuhkan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat.

Sehingga sosialisasi dilaksanakan dengan mengoptimalkan pranata sosial yang ada. Karena, tidak jarang penyelesaian masalah di masyarakat lebih mengedepankan emosi dan tanpa pikir panjang.

“Jaga Warga berfungsi menangani dan menyelesaikan gangguan sosial serta menciptakan keselarasan dan pencapaian trantib di masyarakat yang dapat diselesaikan tingkat padukuhan sesuai kesepakatan bersama yang tidak bertentangan hukum,” kata Edi.

Adapun kewenangan Jaga Warga, lanjut Edi, adalah membuat tata tertib kehidupan sosial yang telah disepakati masyarakat dan melakukan upaya penegakan tata tertib yang telah disepakati.

“Selain itu, ada kewenangan melakukan mediasi dan fasilitasi pemecahan masalah,” imbuhnya.

Salah satu perwakilan padukuhan, Kepala Dukuh Lojajar, Sulisno Santoso menyambut positif pembentukan Jaga Warga. Ia merasa program ini dapat memotivasi warga untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan mengakomodir warga dalam meminimalisir konflik perselisihan dalam tingkat padukuhan.

“Dengan adanya Jaga Warga, penyelesaian masalah di tingkat padukuhan dapat diselesaikan bersama dengan menerapan peraturan atau tata tertib yang telah disepakati warga,” ujar Sulisno Santoso. (SBD/KIM Tempel)




Reaksi Warga Semawung Terhadap Pembangunan Jembatan Kali Krasak

Sleman – Pembangunan jembatan baru yang melintasi Kali Krasak memudahkan akses masyarakat dari Cemara Tempel menuju Pakunden, Ngluwar, Magelang. Hal tersebut disambut positif bagi masyarakat Semawung, Kalurahan Sumberrejo, Kapanewon Tempel.

Dukuh Semawung, Muryana menuturkan, pembangunan jembatan tersebut membuat lalu lintas di desanya menjadi semakin remain. Untuk itu, dirinya bersama masyarakat yang lain berinisiatif membangun sebuah lokasi wisata berupa taman bermain dan resto/kafe yang dinamai Kopi Sormindi.

“Nama Sormindi diambil dari singkatan Ngisor Mindi, atau di bawah Pohon Mindi yang telah tumbuh di sana. Pohon Mindi atau Melia azedarach dikenal oleh penduduk setempat sebagai bahan pembuat insektisida alami,” terang Muryana saat ditemui Jumat (28/7/2023).

Selain pohon Mindi, lokasi Kopi Sormindi juga dihiasi dengan tanaman pohon Bungur yang menghasilkan bunga berwarna putih. Selain itu, di sana terlihat pula gapura menuju jembatan yang berbentuk limas terpotong.

“Semua pemandangan ini akan bisa dinikmati kelak, sambil duduk ngopi di kafe Sormindi,” pungkas Muryana. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




Berdayakan Masyarakat, Pokja 2 PKK Margorejo Gelar Pelatihan Program Sekolah Keterampilan

Sleman – Pokja 2 PKK Kalurahan Margorejo menggelar Pelatihan Program Sekolah Keterampilan Kalurahan, di Kantor Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Jumat (28/7/2023). Enjang Dwi Retno dari Pokja 2 PKK Margorejo menuturkan, pelatihan ini diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, sikap dan menumbuhkan pola pikir atau sikap mental wirausaha dalam mengelola potensi diri dan lingkungan yang dapat dijadikan bekal untuk berwirausaha sesuai dengan kebutuhan dunia usaha/dunia industri dan pasar.

“Selain itu kepada peserta pelatihan diberikan motivasi untuk dapat menciptakan rintisan usaha baru serta mendapatkan pendampingan untuk dapat berkembang dan mampu bermitra dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)/dunia usaha, permodalan, dan pemasaran serta instansi terkait,” jelas Enjang.

Enjang menambahkan, kegiatan pelatihan program Sekolah Keterampilan ini dilakukan dengan memberikan pelatihan untuk membuat nata de aloe vera atau nata dari lidah buaya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh masyarakat Margorejo yang antusias untuk belajar hal-hal baru dan bermanfaat.

“Kami berharap semoga dengan pelatihan ini bisa menjadi peluang bisnis dalam rumah tangga khususnya bagi warga Margorejo dan ke depan mereka menjadi warga masyarakat yang terampil sesuai dengan kebutuhan serta bermitra dengan usaha mikro kecil dan menengah,” pungkas Enjang. (WH/KIM Tempel)




Kalurahan Pondokrejo Manfaatkan Danais Lewat Budidaya Mentimun Baby

Sleman – Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel menggelar Panen Mentimun Baby pada Kamis (27/7/2023). Panen hasil bantuan Dana Keistimewaaan DIY ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo serta Kepala Subbidang Pertanahan DIY, Pangky Arbindarta Kusuma.

Lurah Pondokrejo, R Widyatama menuturkan, kegiatan ini merupakan hasil pemanfaatan Danais DIY untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Panen ini melalui Program Pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD) Kalurahan yang tersebar di beberapa titik, dan dimanfaatkan untuk warga miskin atau rentan miskin melalui Danais Tahun Anggaran 2023 yang diusulkan pemerintah Kalurahan, didukung oleh kapanewon serta dikuatkan dari pemerintah Kabupaten Sleman, sehingga program optimalisasi tanah desa dapat didanai melalui danais,” tuturnya.

Sementara itu, Pangky yang datang mewakili Paniradya Pati DIY menyebutkan bahwa program optimalisasi Danais ini akan dilaksanakan selama 3 tahun.

“Tahun 2023 ini, danais untuk program ini turun sebesar Rp 122 juta dan akan terus berjalan selama tiga tahun yaitu 2023, 2024 dan 2025 mungkin bisa ada peningkatan sekitar 10%, jadi diperlukan sebuah kolaborasi antar pemangku kepentingan,” kata Pangky.

Sementara itu Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyambut baik pemanfaatan Danais untuk kesejahteraan masyarakat, seperti budidaya mentimun baby di Kalurahan Pondokrejo ini.

“Hasil dari tahun ini bisa digunakan untuk menyukupi kebutuhan anak sekolah, tahun depan dapat untuk beli motor, dan tahun selanjutnya bisa untuk kebutuhan yang lebih baik lagi, bisa bangun rumah mungkin,” ujar Kustini.

Untuk itu, dirinya berharap bahwa kenaikan dananya tidak hanya 10 % sehingga diharapkan setelah tiga tahun para petani sudah bisa mandiri.

“Mengingat juga kebutuhan akan pasokan Mentimun Baby ini masih kurang dimana dari kebutuhan 5 ton baru dapat disediakan 20%,” ungkap Kustini. (SBD/KIM Tempel)