P3S Margoluwih Sasar KPM PKH Klaci II untuk Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah

Sleman — Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, terus memperluas edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kali ini, sosialisasi menyasar Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Padukuhan Klaci II, Kamis (15/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di rumah Boinah, salah satu KPM PKH di RT 01 RW 11 Padukuhan Klaci II, tersebut diikuti sekitar 20 peserta. Mereka mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Sosialisasi ini memanfaatkan pertemuan rutin KPM PKH sebagai sarana edukasi untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus mendorong kebiasaan memilah, mengurangi, dan mengolah sampah dari rumah.

Dalam kegiatan tersebut, P3S Kalurahan Margoluwih, Suminah, menyampaikan materi mengenai Surat Edaran (SE) Bupati Sleman Nomor 0516 tentang pembentukan satu Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan.

Melalui sosialisasi ini, masyarakat diharapkan memahami pentingnya keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Keberadaan KPSM diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

“KPM PKH memiliki potensi untuk turut mendukung gerakan pengelolaan sampah. Pertemuan rutin yang selama ini dilaksanakan dapat dimanfaatkan sebagai ruang berbagi informasi sekaligus membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Suminah.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut disampaikan Pendamping PKH wilayah Margoluwih, Arifin, yang turut hadir dalam pertemuan. Sebagai tindak lanjut, ia telah menjadwalkan pertemuan berikutnya dengan agenda pelatihan pengelolaan sampah organik rumah tangga.

Dalam pelatihan tersebut, peserta akan diperkenalkan dengan tiga metode pengolahan sampah organik, yaitu biopori, biopot, dan losida. Ketiganya dapat menjadi alternatif pengelolaan sisa bahan makanan dan sampah dapur agar tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah yang harus diangkut ke tempat pengolahan akhir.

Biopori dapat dimanfaatkan untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah sekaligus mendukung pengolahan bahan organik. Sementara itu, biopot dan losida akan diperkenalkan sebagai alternatif pengolahan sampah organik skala rumah tangga yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga.

Pertemuan rutin KPM PKH yang dilaksanakan secara bergiliran dari rumah ke rumah juga akan dimanfaatkan sebagai sarana praktik langsung. Pada pertemuan berikutnya, peserta direncanakan mempraktikkan pembuatan satu lubang biopori di rumah yang menjadi lokasi kegiatan.

Sosialisasi kepada KPM PKH di Padukuhan Klaci II menjadi salah satu upaya memperluas edukasi lingkungan melalui kelompok masyarakat yang telah memiliki agenda pertemuan rutin. Kolaborasi antara P3S Kalurahan Margoluwih, Pendamping PKH, KPM PKH, dan Karang Taruna diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sinduharjo Wakili Sleman dalam Gerakan Tuwanggana Hijau, Perkuat Pelestarian Lingkungan DIY

Sleman – Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, dipercaya mewakili Kabupaten Sleman dalam gerakan Tuwanggana Hijau, sebuah gerakan kolaboratif untuk memperkuat penghijauan dan pemulihan lingkungan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui gerakan ini, berbagai pihak didorong untuk berkolaborasi dalam mewujudkan pelestarian lingkungan yang terencana dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan dalam rapat terbatas pengurus Pirukunan Tuwanggana DIY di Kantor Sekretariat Tuwanggana DIY, Kompleks Pemda DIY Kepatihan, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Kamis (15/10/2026).

Tuwanggana Hijau mengusung tagline “Menanam Bersama – Memelihara Bersama – Memberi Dampak Bersama”. Gerakan ini diwujudkan melalui lima kegiatan utama, yaitu Konservasi Lereng, Konservasi Air, Tuwanggana Mangrove, Lingkungan Masyarakat, serta Pemeliharaan dan Monitoring.

Sekretaris Pirukunan Tuwanggana DIY,  Ariyadi Bowoleksono menegaskan bahwa keberhasilan gerakan penghijauan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga keberlanjutan pemeliharaan dan manfaatnya bagi lingkungan serta masyarakat.

“pelaksanaan Tuwanggana Hijau dilakukan melalui tahapan terencana, mulai dari identifikasi lokasi, perencanaan, penanaman, pemeliharaan, monitoring, hingga pengembangan kawasan. Setiap tahapan melibatkan masyarakat, mitra, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun kesadaran bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Semangat tersebut sejalan dengan motto gerakan ini, “Satu pohon hari ini, kehidupan untuk esok hari.” Pohon yang ditanam diharapkan tidak sekadar menjadi simbol penghijauan, tetapi juga memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Dalam pelaksanaannya, Tuwanggana di tingkat kabupaten/kota, kapanewon/kemantren, hingga kalurahan/kelurahan berperan sebagai penggerak masyarakat, penghubung jejaring, koordinator kegiatan, serta pelaksana monitoring dan evaluasi.

Pemerintah daerah dan instansi teknis turut mendukung melalui penyediaan bibit, arahan teknis, dan pendampingan sesuai kebutuhan. Sementara itu, mitra, dunia usaha, dan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) diharapkan berkontribusi melalui dukungan pendanaan maupun kolaborasi pelaksanaan kegiatan.

Masyarakat menjadi unsur utama dalam pelaksanaan di lapangan, mulai dari penanaman dan pemeliharaan pohon hingga menjaga keberlanjutan kawasan yang telah dihijaukan.

Keterlibatan Kalurahan Sinduharjo sebagai wakil Kabupaten Sleman menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan penghijauan berbasis wilayah dan partisipasi masyarakat. Setiap wilayah diharapkan dapat berkontribusi sesuai dengan potensi dan kebutuhan lingkungannya sehingga kegiatan penghijauan berkembang menjadi gerakan bersama yang terukur dan berkelanjutan.

Untuk mendukung perencanaan dan pemantauan program, setiap lokasi diwajibkan melengkapi data berupa identitas Tuwanggana, peta lokasi penghijauan, serta informasi jumlah pohon yang akan ditanam. Kelengkapan data tersebut diperlukan agar pelaksanaan kegiatan dapat dipantau dan dievaluasi secara terarah.

Sebagai langkah awal, penanaman pohon secara simbolis direncanakan berlangsung bersamaan dengan pemberian penghargaan Sumunar Awards pada akhir November 2026. Momentum tersebut diharapkan menjadi penanda dimulainya aksi nyata lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan DIY. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Gerakan Cinta Air di Embung Jetis Suruh, Sleman Tebar 50 Kilogram Ikan Lokal

Sleman – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman menggelar Gerakan Cinta Air bertema “Setetes Kebaikan untuk Bumi” di Embung Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan konservasi sumber daya air dan kelestarian ekosistem perairan umum ini diisi dengan penebaran 50 kilogram benih ikan lokal jenis nilem dan tawes di Sungai Gayam yang merupakan area hulu Embung Jetis Suruh. Selain itu, digelar aksi pemancingan ikan invasif, kerja bakti bersih lingkungan dan sungai, bazar tematik UMKM, lomba mewarnai anak, kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), hingga pemasangan papan larangan pencemaran perairan.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Liem Astuti, menjelaskan bahwa langkah ini krusial untuk menekan risiko penurunan kualitas air, pendangkalan sungai, serta ancaman kepunahan populasi ikan lokal akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.

“Melalui Gerakan Cinta Air, kami ingin mengajak masyarakat berperan aktif menjaga kelestarian sumber daya air. Langkah sederhana yang dilakukan bersama diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Liem Astuti.

Liem menambahkan, wilayah Kabupaten Sleman memiliki posisi strategis sebagai kawasan hulu, daerah resapan air, sekaligus penyedia cadangan air baku. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan warga sangat dibutuhkan dalam menjaga kelestarian perairan.

“Melalui tema ‘Setetes Kebaikan untuk Bumi’, kami berharap setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama yang membawa manfaat bagi kelestarian sumber daya air dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman,” tegas Liem Astuti. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Workshop Pemanfaatan Air Hujan Perkuat Mitigasi Kekeringan di Sleman

Sleman – Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggelar Workshop Pemanfaatan Air Hujan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan memperluas sumber air alternatif berkelanjutan di wilayah rawan kekeringan pada Kamis (8/10/2026).

Kegiatan mitigasi ancaman kemarau panjang akibat El Niño tersebut dihadiri Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Makwan, serta Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Mirza Anfansury. Workshop diikuti jajaran perwakilan pemerintah dari enam kalurahan di Kapanewon Prambanan, yakni Kalurahan Bokoharjo, Gayamharjo, Madurejo, Sambirejo, Sumberharjo, dan Wukirharjo.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sleman, Makwan, menyampaikan bahwa workshop ini penting untuk membangun kemandirian warga dalam mengelola ketersediaan air bersih.

“Masyarakat di wilayah rawan kekeringan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber daya air secara mandiri, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada sumber air konvensional ketika pasokan mulai berkurang,” tegas Makwan.

Dalam sesi pemaparan, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengenalkan konsep 5M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri) serta teknik elektrolisa air hujan sesuai standar operasional prosedur yang telah diterapkan sejak 2012.

“Air hujan yang selama ini kerap langsung mengalir ke saluran drainase dapat ditampung sebagai cadangan air untuk dikonsumsi dan digunakan sesuai peruntukannya, dengan tetap memperhatikan kualitas dan keamanan air,” jelas Sri Wahyuningsih.

Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Mirza Anfansury, menambahkan bahwa perencanaan pengelolaan air hujan harus dilakukan secara dini sebagai langkah adaptasi perubahan iklim.

“Langkah ini membutuhkan perencanaan sejak dini, bukan hanya ketika kekeringan telah berdampak pada aktivitas warga,” ujar Mirza Anfansury.

Keikutsertaan perwakilan enam kalurahan se-Kapanewon Prambanan diharapkan dapat mempercepat penyebaran praktik pemanenan air hujan hingga tingkat rumah tangga guna menjaga ketahanan air masyarakat Kabupaten Sleman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Parartaguna Gamping)




UPN Veteran Yogyakarta Gandeng SAH Banyu Bening Sleman Tanam Beringin Jaga Sumber Air di Gunungkidul

Sleman – Fakultas Ilmu Tanah Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta bersinergi dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggelar aksi konservasi tanah dan air di Sendang Kali Lemusur, Dusun Pacar II, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (5/10/2026).

Aksi yang melibatkan Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HIMITA) UPN Veteran Yogyakarta bertajuk Rooted in Care, Growing with Hope (“Berakar dalam Kepedulian, Tumbuh dengan Harapan”) ini diisi dengan penanaman pohon beringin setinggi 1–1,5 meter untuk menjaga serta mengamankan sumber mata air setempat.

Ketua HIMITA, Bima Wirayuda Wijaya, menjelaskan bahwa penanaman yang dilakukan pada musim kemarau ini menerapkan metode khusus guna menjamin keberlangsungan hidup tanaman.

“Penanaman pohon beringin pada musim kemarau ini menggunakan sistem penyiraman infus dengan memanfaatkan air dari sendang setempat. Kegiatan penanaman lanjutan juga telah direncanakan saat musim penghujan tiba,” terang Bima Wirayuda Wijaya.

Selain penanaman vegetasi, masyarakat setempat diberikan edukasi mengenai pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif oleh Kepala Sekolah SAH Banyu Bening Sleman, Kamaludin, serta teknik konservasi lahan miring oleh Dosen Ilmu Tanah UPN Veteran Yogyakarta, Dyah Arbiwati.

Dyah Arbiwati menjelaskan bahwa tanaman dari famili Ficus, seperti beringin, sangat efektif mengikat tanah dan meningkatkan daya resap air guna mencegah ancaman erosi maupun longsor.

“Pengelolaan lahan miring yang kurang tepat, termasuk penanaman tanaman semusim tanpa tindakan konservasi memadai, dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor. Karenanya, masyarakat perlu memanfaatkan lahan yang tersedia untuk membangun kolam penampungan air hujan bagi kebutuhan perkebunan dan peternakan,” jelas Dyah Arbiwati.

Inisiatif konservasi tersebut mendapat sambutan hangat dari pihak pemerintah lokal. Kepala Dukuh Pacar II, Suparman, berharap kolaborasi ini menjadi pemicu bagi generasi muda dan warga sekitar untuk aktif merawat vegetasi penangkap air.

“Ilmu pengetahuan yang baik harus segera diimplementasikan untuk menjaga keseimbangan sumber mata air yang ada,” ujar Suparman.

Melalui sinergi berkelanjutan ini, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap pengelolaan air hujan yang higienis serta menjaga kelestarian lingkungan demi mencegah potensi bencana alam di masa mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)