Peringati HUT Ke-16, Bank Sampah Apel Tegaskan Komitmen Layani Warga dan Kelola Lingkungan

Sleman – Bank Sampah Apel menggelar perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-16 secara sederhana di kantor pelayanannya yang berlokasi di Jalan Cempaka Nomor 143B, Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan yang diisi dengan tumpengan dan makan bersama pengurus tersebut menjadi momentum refleksi atas konsistensi Bank Sampah Apel—akronim dari “Ayo Peduli Lingkungan”—sejak pertama kali didirikan pada 3 Oktober 2010 dengan fasilitas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY guna mengatasi keterbatasan lahan pembuangan sampah di kawasan padat penduduk.

Ketua Bank Sampah Apel, Herliyanti, menjelaskan bahwa hingga kini pihaknya fokus melayani dan menampung tabungan sampah kering warga yang telah terpilah dari rumah tangga, seperti botol plastik, kardus, dan kertas, sebelum nantinya dibeli oleh pengepul.

“Sampah yang disetor dari nasabah merupakan sampah kering yang sudah dipilah sesuai jenisnya, seperti botol, kardus, kertas, dan lainnya. Setiap nasabah memiliki buku tabungan untuk mencatat nilai rupiah dari hasil pilah sampah tersebut, yang biasanya dicairkan menjelang Hari Raya Idulfitri,” ujar Herliyanti.

Sementara itu, untuk penanganan sampah organik sisa dapur, pihak pengurus mendorong warga mengelolanya secara mandiri melalui berbagai solusi pelatihan yang telah diberikan, seperti pembuatan eco-enzyme, penggunaan komposter, ember tumpuk, losida, hingga budidaya maggot.

“Warga tinggal memilih metode pengelolaan sampah organik yang disesuaikan dengan kondisi pada setiap keluarga,” tambahnya.

Melalui perayaan usia yang ke-16 ini, Herliyanti berharap Bank Sampah Apel dapat terus konsisten menjaga kelestarian lingkungan sekaligus merangkul generasi muda untuk terlibat aktif dalam gerakan pemilahan sampah. (Kusnadi/KIM Berbah)




5 KPSM Seyegan Lolos Verifikasi SIOSESTU, Jumlah Kelompok Terverifikasi Kini Capai 46

Sleman – Sebanyak lima Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di Kapanewon Seyegan berhasil menuntaskan proses verifikasi Sistem Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (SIOSESTU) dalam pelatihan dan pendampingan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman bersama P3S Wilayah Seyegan di Joglo Kerto Darmo, Padukuhan Klaci II, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (3/10/2026).

Tambahan lima KPSM dari Kalurahan Margoluwih, Margokaton, dan Margodadi tersebut menambah jumlah kelompok pengelola sampah yang terverifikasi di Kapanewon Seyegan dari semula 41 menjadi 46 KPSM.

Pendamping Teknis P3S Kawasan Seyegan, Fairuzhuda, menjelaskan bahwa pendampingan langsung diberikan untuk menyelesaikan berbagai kendala administrasi peserta di lokasi, seperti kelengkapan Surat Keputusan (SK) kelembagaan maupun struktur kepengurusan.

“Targetnya sebanyak mungkin KPSM peserta bisa terverifikasi di SIOSESTU. Kalau belum terverifikasi kemudian dibawa pulang, biasanya tidak akan ada solusinya. Karena itu, persoalannya kita selesaikan bersama di pelatihan ini,” ujar Fairuzhuda.

Status terverifikasi dalam sistem SIOSESTU menjadi syarat krusial bagi KPSM untuk mengakses berbagai program fasilitasi dari DLH Sleman, mulai dari hibah sarana dan prasarana hingga hak partisipasi dalam penilaian Pengelolaan Sampah Kabupaten Sleman.

Melalui tertib administrasi dan pendataan berbasis digital ini, Pemkab Sleman berharap kelembagaan pengelola sampah berbasis masyarakat semakin solid sekaligus mendukung kesiapan daerah dalam meraih penghargaan Adipura. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PT Asterra Kenalkan Pengolahan Sampah Menjadi Bahan Bakar di Gamping Sleman

Sleman – PT Asterra Energi Envirotama mengenalkan rencana pengolahan sampah menjadi bahan bakar kepada masyarakat Padukuhan Pereng Kembang, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong pengurangan timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai guna sampah melalui pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Sosialisasi mengenai rencana dan proses pengolahan sampah tersebut berlangsung di Padukuhan Pereng Kembang, Senin (28/9/2026). Kegiatan melibatkan unsur Pemerintah Kalurahan Balecatur, tokoh kewilayahan, serta masyarakat setempat.

Direktur Utama PT Asterra Energi Envirotama, Uyung Pramudiyanto, mengatakan pengenalan proses pengolahan sejak tahap perencanaan penting dilakukan agar masyarakat memahami mekanisme pengelolaan sampah serta potensi pemanfaatannya sebelum program dikembangkan di wilayah tersebut.

Menurutnya, pengolahan sampah menjadi bahan bakar merupakan salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Sampah dengan karakteristik tertentu dapat diproses menjadi material yang memiliki nilai manfaat sebagai bahan bakar.

“Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat, terutama dalam pemilahan, pengumpulan, dan penanganan sampah sejak dari sumbernya,” ujar Uyung.

Ia menambahkan, sosialisasi menjadi bagian penting untuk membangun kesamaan pemahaman antara perusahaan, pemerintah kalurahan, dan masyarakat. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan rencana pengelolaan serta mendengarkan masukan warga mengenai kondisi lingkungan dan kebutuhan wilayah.

Pemegang saham PT Asterra Energi Envirotama, Valdi, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama Lurah Balecatur beserta perangkat kalurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Dukuh Pereng Kembang, Ketua RT/RW setempat, serta sekitar 20 warga Padukuhan Pereng Kembang.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dalam menyiapkan pengelolaan sampah yang memperhatikan aspek lingkungan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan.

“Perencanaan yang matang diperlukan agar proses pengolahan dapat berjalan sesuai dengan kondisi dan kapasitas wilayah,” ujar Valdi.

Melalui kegiatan tersebut, PT Asterra Energi Envirotama bersama Pemerintah Kalurahan Balecatur dan masyarakat Pereng Kembang membangun pemahaman awal mengenai peluang pemanfaatan sampah sebagai bahan yang memiliki nilai guna. Pengembangan selanjutnya diharapkan dilakukan secara terencana dan partisipatif dengan mempertimbangkan masukan masyarakat serta ketentuan pengelolaan lingkungan.

(Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Atasi Darurat Sampah, P3S Ngaglik Dorong Gerakan Pemilahan Mandiri dari Rumah

Sleman – Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S) Kapanewon Ngaglik mendorong masyarakat untuk memulai pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dari tingkat rumah tangga. Edukasi ini disampaikan dalam sosialisasi pengelolaan sampah di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (28/9/2026).

Ketua P3S Kapanewon Ngaglik, Gundari, menegaskan bahwa merujuk pada Surat Edaran Bupati Sleman, Harda Kiswaya, setiap padukuhan diimbau memiliki minimal satu Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM). Langkah ini krusial karena persoalan sampah tidak akan usai jika hanya mengandalkan petugas pengangkut.

“Mengapa kita harus memulai? Karena semakin banyak sampah. Maka mari kita kelola bersama. Pemilahan dari rumah menjadi kunci. Sampah anorganik yang porsinya sekitar 30 persen dapat disalurkan melalui bank sampah maupun sedekah sampah. Sampah organik sekitar 60 persen dapat diolah menjadi pupuk, dan sisanya 10 persen berupa residu,” ujar Gundari.

Gundari memaparkan pengolahan sampah organik dapat memanfaatkan metode komposter, biopori, losida, ember tumpuk, maupun jugangan. Selain itu, keterlibatan aktif pemerintah kalurahan melalui penerbitan Surat Keputusan (SK) kelembagaan sangat diperlukan agar kelompok masyarakat lebih mudah mengakses bantuan sarana dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman.

Perwakilan DLH Kabupaten Sleman, Tetuko, mengapresiasi inisiatif warga dan menyatakan kesiapan pemerintah untuk menyalurkan berbagai bentuk dukungan operasional maupun kelembagaan.

“Dukungan tersebut antara lain berupa sosialisasi, pelatihan, komposter, kompartemen, drum plastik, hingga timbangan. DLH juga menyediakan fasilitasi kelembagaan berupa anggaran sekitar Rp2 juta bagi kelompok yang membentuk kelembagaan pengelolaan sampah. Namun, setiap tahun hanya sepuluh kelompok yang difasilitasi, sehingga harus bergantian,” jelas Tetuko.

Melalui sinergi antara kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah, gerakan pemilahan sampah dari rumah diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Bantu Warga Terdampak Kemarau, Komunitas Guyon Maton Salurkan 25 Tangki Air Bersih ke Purwosari Gunungkidul

Sleman – Komunitas Guyon Maton (GM) asal Cungkuk, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menyalurkan bantuan air bersih tahap kedua sebanyak 25 tangki untuk warga terdampak kemarau panjang di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul pada Minggu (27/9/2026).

Penyaluran bantuan ini menyasar sejumlah wilayah RT di Padukuhan Gubar, Widoro, Temon, Sumur, Klampok, dan Gumbeng. Bantuan tersebut merupakan aksi lanjutan dari penyaluran tahap pertama pada 31 Agustus 2026 lalu sebanyak 27 tangki air bersih.

Ketua Komunitas Guyon Maton, Wahyu Herlambang, menyampaikan rasa keprihatinan mendalam atas krisis air bersih yang dialami warga setempat akibat kemarau panjang.

“Semua hasil pengumpulan donasi kami salurkan sesuai peruntukannya. Apabila ada kekurangan maupun biaya operasional lainnya, diambil dari kas atau kantong pribadi anggota. Kami berusaha agar kegiatan bakti sosial GM ini tepat sasaran dan amanah,” ujar Wahyu Herlambang di sela penyerahan bantuan secara simbolis.

Kondisi geografis Kalurahan Giripurwo yang berstruktur tanah keras dan berongga membuat wilayah ini rutin mengalami kekeringan setiap tahun. Upaya pembuat sumur bor di kawasan tersebut juga kerap menemui kendala teknis akibat patahnya mata bor.

Bantuan air bersih seharga Rp150 ribu per tangki tersebut murni terhimpun dari swadaya dan donasi para anggota komunitas yang berkolaborasi dengan relawan lokal setempat. Kedatangan armada tangki air pun disambut antusias oleh warga yang langsung memanfaatkannya untuk kebutuhan harian.

Dukuh Gumbeng, Suparmin, menyampaikan apresiasi atas kepedulian sosial yang ditunjukkan oleh komunitas asal Sleman tersebut.

“Terima kasih kepada Komunitas GM. Semoga kegiatan ini membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat di sini,” tutur Suparmin. (Herlambang/KIM Tempel)