Ubah Pola Konsumsi, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sleman Serukan Gerakan Zero Waste dari Rumah

Sleman — Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman melakukan terobosan dalam memaknai ibadah Ramadan dengan mengintegrasikan nilai spiritualitas dan kelestarian lingkungan. Melalui Kajian Ramadan yang digelar di Gedung ‘Aisyiyah Centre Ngepas pada Minggu (22/2/2026), organisasi perempuan Muhammadiyah ini secara resmi mendorong gerakan Zero Waste atau nol sampah yang dimulai dari lingkup keluarga. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 300 jamaah yang merupakan perwakilan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) se-Kabupaten Sleman.

Ketua PDA Sleman, Hanik Rosyada, menegaskan bahwa kajian ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan bagi kaum perempuan di Sleman. Ia merencanakan agar pertemuan semacam ini tidak hanya berhenti di bulan suci, tetapi menjadi agenda rutin bulanan untuk menjaga kohesi antaranggota serta memastikan program dakwah berjalan konsisten. Selain itu, Hanik juga mengajak seluruh kader untuk mengoptimalkan penggunaan Gedung ‘Aisyiyah Centre sebagai pusat aktivitas dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

“Pengajian ini tidak akan berhenti di bulan Ramadan saja. Insyaallah akan kami rutinkan sebulan sekali agar ikatan jamaah tetap terjaga dan pembinaan terus berjalan. Kami juga membuka seluas-luasnya fasilitas gedung ini untuk kegiatan produktif warga ‘Aisyiyah. Kami memohon dukungan agar pembangunan lantai dua segera rampung sehingga kita memiliki ruang yang lebih representatif untuk melayani umat secara maksimal,” ujar Hanik Rosyada di hadapan ratusan jamaah.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Parmila Hardo Kiswoyo yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi nyata ‘Aisyiyah dalam mencerdaskan perempuan di Kabupaten Sleman. Ia menilai berbagai program yang dijalankan melalui majelis dan lembaga selama ini telah berhasil memperkuat peran perempuan dalam ruang publik dan domestik. Sinergi ini diharapkan terus berlanjut guna mendukung program pembangunan daerah yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat.

Materi inti mengenai kepedulian lingkungan disampaikan oleh Koordinator Divisi Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, Listiati Budi Utami. Ia mengajak para jamaah untuk menerapkan prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot) sebagai landasan hidup sehari-hari. Listiati menekankan bahwa penolakan terhadap barang yang tidak perlu dan pengurangan produk sekali pakai adalah kunci utama menekan volume sampah yang kini menjadi beban lingkungan di wilayah Sleman.

“Gerakan nol sampah tidak harus dimulai dari langkah yang besar. Mulailah dari rumah dan dari keluarga kecil ‘Aisyiyah kita masing-masing. Kebiasaan sederhana seperti membawa wadah pakai ulang dan mengomposkan sampah organik, jika dilakukan secara konsisten oleh ribuan kader, akan memberikan dampak nyata yang luar biasa bagi bumi. Kami mendorong setiap pengurus di tingkat cabang dan ranting untuk menjadikan pengelolaan sampah ini sebagai program berkelanjutan di wilayahnya,” tegas Listiati Budi Utami saat memberikan paparan.

Melalui kajian ini, PDA Sleman mempertegas komitmennya bahwa dakwah kontemporer harus menyentuh aspek laku atau perbuatan nyata, termasuk menjaga kelestarian alam. Dengan menautkan nilai keimanan dan tanggung jawab terhadap lingkungan, diharapkan lahir perubahan perilaku dari ribuan keluarga ‘Aisyiyah yang kemudian menular ke masyarakat luas. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa ruang pengajian mampu menjadi motor penggerak transformasi sosial yang ramah lingkungan di Kabupaten Sleman. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Tak Andalkan Bank Sampah, KSM Beteng Asri Kelola 80 Persen Sampah Lewat Sumur Kompos dan Tungku Mandiri

Sleman – Warga Padukuhan Beteng, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman, memilih jalur berbeda dalam pengelolaan sampah. Di tengah tren pembentukan bank sampah dan program sedekah sampah di berbagai wilayah, masyarakat Beteng justru membangun sistem mandiri melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Beteng Asri dengan sumur kompos dan tungku pembakaran sampah.

Langkah tersebut dilandasi pengalaman melihat sejumlah program pengelolaan sampah yang sempat berjalan namun tidak berkelanjutan. Di lokasi tungku pembakaran sampah di Durenan Beteng RT 3 RW 12, Rabu (18/2/2026), Ketua LPMKal Tridadi dan Penasehat KSM Beteng Asri, Tumiyarso menjelaskan alasan di balik keputusan itu.

“Kami belajar dari beberapa tempat. Di awal semangat membentuk bank sampah, tapi lama-lama pengurusnya lelah dan programnya tidak jalan. Kami ingin yang lebih sederhana dan bisa konsisten,” ujarnya.

Keputusan tersebut diwujudkan dengan membangun sedikitnya 40 sumur kompos yang tersebar di dua RW dan enam RT. Setiap sumur digunakan bersama oleh empat kepala keluarga. Sumur kompos dibuat dari buis beton sedalam sekitar 1,5 meter dengan diameter 80 sentimeter. Bantuan pengadaan dilakukan dalam dua tahap oleh Pemerintah Kalurahan Tridadi.

“Satu sumur bisa dipakai empat KK. Sampah organik langsung dimasukkan ke situ. Jadi tidak semua harus dibakar atau diangkut,” jelas Tumiyarso.

Menurutnya, keberadaan sumur kompos cukup efektif mengurangi volume sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Sementara untuk sampah lainnya, KSM Beteng Asri sebagai KSM induk membawahi KSM Jogo Resik (RT 01) dan KSM Ngudi Asri (RT 02) dalam pengelolaan operasional. Dua armada kendaraan roda tiga dikerahkan untuk mengangkut sampah dari rumah warga menuju tungku pembakaran.

Meski warga telah diimbau memilah sampah dari rumah, kenyataannya masih ditemukan sampah tercampur. Untuk mengantisipasi hal itu, disediakan sumur kompos tambahan di sekitar tungku pembakaran guna menampung sampah organik yang ikut terbawa.

Jadwal pembakaran pun diatur secara rutin agar tetap terkontrol. RT 1 dan RT 3 melaksanakan pembakaran setiap Kamis dan Minggu. Sedangkan RT 2 dan RT 4 pada Rabu dan Sabtu. Setiap proses pembakaran berlangsung sekitar tiga hingga empat jam hingga sampah habis.

“Pembakaran tidak setiap hari, supaya terkontrol. Sekali bakar bisa tiga sampai empat jam sampai habis,” katanya.

Untuk mendukung operasional, setiap kepala keluarga dikenai iuran per bulan. Dana tersebut digunakan untuk pembelian BBM, servis berkala kendaraan roda tiga, pembelian oli, pembayaran pajak kendaraan, serta jasa angkut.

“Kami hitung betul biayanya. Iuran itu murni untuk operasional, supaya armada tetap jalan,” tegasnya.

Sampah yang masih memiliki nilai jual dikelola sesuai kesepakatan wilayah. Di RT 02, hasil penjualan masuk ke kas PKK, sedangkan di RT 01 dimasukkan ke kas RT.

Dengan sistem tersebut, Tumiyarso menyebut sekitar 80 persen sampah di Padukuhan Beteng telah tertangani dengan baik dan tidak lagi menumpuk seperti sebelumnya.

“Kalau dihitung-hitung, sudah sekitar 80 persen sampah warga tertangani. Tidak lagi menumpuk seperti dulu,” ungkapnya.

Meski demikian, ia berharap adanya pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup, khususnya terkait uji emisi dan standar polusi asap dari tungku pembakaran agar pengelolaan berjalan sesuai aturan dan ramah lingkungan.

“Kami berharap ada uji emisi atau standarisasi, supaya pembakaran ini benar-benar aman dan sesuai aturan,” harapnya.

Warga juga menginginkan peningkatan fasilitas rumah pilah sampah serta sosialisasi berkelanjutan agar kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah semakin tertanam.

Bagi masyarakat Beteng, pengelolaan sampah bukan sekadar program jangka pendek, melainkan komitmen bersama. Dengan sistem yang disesuaikan kondisi lokal dan dijalankan secara gotong royong, mereka membuktikan bahwa solusi sederhana dapat berdampak besar apabila dijalankan secara konsisten. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sri Rahayu, Motor Penggerak Bank Sampah RW 58 Tlukan Dukung Pengurangan Plastik di Sleman

Sleman – Upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai di Kabupaten Sleman tidak hanya digerakkan oleh kebijakan pemerintah daerah, tetapi juga diperkuat peran aktif masyarakat.

Di Padukuhan Tlukan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sri Rahayu tampil sebagai motor penggerak pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Sebagai Ketua Bank Sampah Mandiri RW 58 Tlukan, Sri Rahayu memimpin warga dalam membangun sistem pemilahan sampah yang tertib dan bernilai ekonomi.

Ia juga aktif sebagai anggota Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya Kabupaten Sleman, sehingga mampu menjembatani informasi dan edukasi lingkungan kepada masyarakat secara lebih luas.

Di bawah koordinasinya, penguatan pengelolaan sampah anorganik terus ditingkatkan melalui pemanfaatan Rumah Pilah Sampah atau Rumpi Ah.

Fasilitas ini dirancang sebagai pusat pemilahan sampah anorganik yang memungkinkan pemisahan berbagai jenis material secara spesifik, seperti botol bening, botol warna, label, tutup botol, gelas bening, dan gelas warna.

“Sistem tersebut membuat proses pengelolaan sampah lebih tertata, efektif, dan memiliki nilai guna ekonomi,” katanya, Selasa (17/2/2026).

Sri Rahayu menegaskan bahwa kunci keberhasilan pengelolaan sampah terletak pada kedisiplinan memilah sejak dari sumbernya.

“Pemilahan harus dilakukan sejak rumah tangga. Kalau sudah terpisah dengan baik, pengelolaan berikutnya menjadi lebih mudah dan bernilai,” ujarnya.

Kehadiran Rumpi Ah adalah inovasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman dalam mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai di ruang publik.

Konsep ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga sebagai sarana edukasi perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah plastik.

Di RW 58 Tlukan, pendekatan Sri Rahayu bersifat partisipatif. Ia mendorong keterlibatan warga, mulai dari ibu rumah tangga, remaja, hingga tokoh masyarakat, untuk aktif dalam kegiatan bank sampah.

“Setiap jenis sampah yang telah dipilah memiliki nilai jual tersendiri sehingga memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi warga,” ungkap dia.

Sebagai anggota KIM Depok Raya, Sri Rahayu juga memanfaatkan jejaring komunikasi untuk menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya pengurangan sampah plastik dan praktik pemilahan yang benar. Edukasi dilakukan melalui pertemuan warga, media sosial komunitas, serta forum diskusi lingkungan.

Menurutnya, perubahan perilaku membutuhkan proses yang konsisten. “Kesadaran lingkungan tidak bisa instan. Harus terus diedukasi dan dicontohkan bersama,” katanya.

Peran Sri Rahayu mencerminkan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam mendukung kebijakan pengurangan sampah plastik di Kabupaten Sleman.

Melalui Bank Sampah Mandiri RW 58 dan optimalisasi Rumpi Ah, ia turut memperkuat ekosistem pengelolaan sampah yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Di tengah komitmen Kabupaten Sleman dalam mewujudkan lingkungan bersih dan sehat, kiprah Sri Rahayu menjadi bukti bahwa transformasi lingkungan dapat dimulai dari tingkat RW.

Dengan kepemimpinan yang konsisten dan pendekatan edukatif, ia menghadirkan praktik pengelolaan sampah yang tidak hanya berdampak pada kebersihan, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi dan kesadaran kolektif masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Ubah Limbah Dapur Jadi Cairan Pembersih, Lansia Banyuraden Pelopori Gerakan Ekonomi Sirkular

Sleman — Puluhan anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Lansia Tangguh Banyuraden menunjukkan bahwa usia senja bukan halangan untuk berkontribusi pada kelestarian lingkungan. Melalui workshop yang digelar di Dusun Somodaran pada Minggu (15/2/2026), mereka berhasil mengubah sampah organik rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang disebut biowash. Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam mentransformasi limbah dapur menjadi sumber daya yang produktif melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Program inovatif ini lahir dari kolaborasi strategis antara Yayasan Harapan Lingkungan Hidup bersama Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Sinarmas dan PT Songsong Buwono Lestari. Fokus utama kegiatan ini adalah memberikan solusi atas krisis lingkungan dan krisis pangan dengan memanfaatkan teknologi berbasis konsorsium Mikro Organisme Lokal (MOL). Dengan bimbingan teknis yang tepat, para lansia kini memiliki kemampuan untuk memproduksi cairan pembersih ramah lingkungan sendiri di rumah masing-masing.

Ketua Yayasan Harapan Lingkungan Hidup, Supradani Putri Nurina, menjelaskan bahwa biowash adalah cairan pembersih yang dihasilkan dari fermentasi limbah dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan garam atau gula, air, serta starter probiotik untuk memulai proses biodegradasi terkontrol. Hasilnya adalah cairan multiguna yang mampu menggantikan pembersih kimia sintetis yang selama ini lazim digunakan masyarakat.

“Produk ini kami kembangkan dalam konteks pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Selain memiliki nilai guna, biowash membantu mengurangi volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah organik yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menghasilkan gas metana yang berkontribusi pada perubahan iklim. Dengan metode fermentasi ini, limbah tersebut justru menjadi produk yang lebih ramah lingkungan dan bermanfaat,” ujar Supradani Putri Nurina di sela-sela workshop.

Cairan biowash ini memiliki spektrum manfaat yang luas, mulai dari pembersih lantai dan kamar mandi, pencuci piring, penghilang bau saluran air, hingga dapat berfungsi sebagai pupuk cair organik dan aktivator kompos. Keunggulan utamanya terletak pada sifatnya yang mudah terurai secara alami dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya, sehingga sangat aman bagi sistem perairan dan ekosistem di lingkungan sekitar.

Executive Director PT Songsong Buwono Lestari, Romanus Sudharma Basuki, melihat potensi besar dari sisi pemberdayaan ekonomi. Menurutnya, dalam skala komunitas, produksi biowash sangat mungkin dikembangkan menjadi unit usaha mikro karena modal yang dibutuhkan relatif kecil. Bahan baku yang berasal dari limbah membuat biaya produksi sangat rendah, namun jika dikemas dengan standar yang baik, produk ini memiliki nilai jual tinggi sebagai barang pembersih ramah lingkungan.

“Kami memandang pelatihan bagi KUB Lansia Tangguh Banyuraden ini bukan sekadar transfer keterampilan teknis, melainkan bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat. Produk ini adalah solusi konkret untuk meningkatkan nilai tambah sampah di tingkat komunitas. Kami berharap para lansia bisa tetap produktif dan mandiri secara ekonomi sembari menjaga bumi dari penumpukan sampah,” kata Romanus Sudharma Basuki menegaskan komitmen dukungannya.

Melalui workshop ini, para lansia di Banyuraden diharapkan tidak hanya menjadi pengamat masalah sampah, tetapi menjadi aktor aktif yang mampu mengubah tumpukan kulit buah menjadi pundi-pundi rupiah. Gerakan ini sekaligus mempertegas identitas wilayah Banyuraden sebagai kawasan yang peduli pada keberlanjutan lingkungan melalui aksi-aksi kecil yang berdampak besar. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Ubah Limbah Jadi Rupiah, Pemuda RESTU Depok Pelopori Pengelolaan Bank Sampah Berbasis Ekonomi

Sleman — Inisiatif kreatif muncul dari tangan para pemuda yang tergabung dalam Remaja Tlukan Bersatu (RESTU) di lingkungan RW 58, Kelurahan Tlukan, Depok. Pada Minggu (15/2/2026), mereka resmi menginisiasi program pengelolaan Bank Sampah sebagai langkah nyata mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya manajemen limbah rumah tangga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kelestarian lingkungan, tetapi juga dirancang untuk memberikan keuntungan finansial langsung bagi warga melalui sistem pemilahan sampah yang sistematis.

Dalam pelaksanaannya, warga diarahkan untuk mulai memisahkan limbah domestik mereka ke dalam kategori spesifik, seperti plastik, kertas, dan logam. Botol minum, kardus bekas, hingga kaleng mineral yang telah dipilah kemudian dibawa ke titik pengumpulan untuk ditimbang secara akurat oleh para petugas remaja. Proses ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari dapur rumah tangga guna mengurangi beban pembuangan akhir.

Hal yang paling menarik dari program ini adalah konversi berat sampah menjadi nilai ekonomis yang transparan. Setiap hasil timbangan dicatat ke dalam buku tabungan bank sampah milik warga sebagai saldo rupiah. Dana yang terkumpul dari tabungan sampah tersebut dapat diambil dalam jangka waktu tertentu, sehingga menjadi instrumen tambahan untuk memperkuat ekonomi keluarga di lingkungan RW 58.

Ketua Remaja Tlukan Bersatu, yang memimpin jalannya program ini, menegaskan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah rumah tangga. Ia ingin membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang selama ini dianggap sebagai beban bisa berubah menjadi aset yang bernilai bagi warga.

“Melalui program ini, kami ingin membuktikan bahwa sampah bukan lagi masalah yang harus dijauhi, melainkan potensi yang bisa dikelola. Selain menjaga kebersihan lingkungan RW 58, warga mendapatkan nilai tambah ekonomi melalui sistem tabungan yang transparan. Kami melihat antusiasme warga cukup tinggi untuk mulai memilah sampah mereka sendiri,” ungkap sosok ketua pemuda tersebut di sela kegiatan.

Aksi nyata kelompok pemuda ini diharapkan mampu menekan volume limbah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Kelompok RESTU berkomitmen untuk menjalankan kegiatan ini secara berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekonomi kreatif di tingkat lokal. (Sri Rahayu/KIM Depok)