Ubah Limbah Jadi Rupiah, Pemuda RESTU Depok Pelopori Pengelolaan Bank Sampah Berbasis Ekonomi

Sleman — Inisiatif kreatif muncul dari tangan para pemuda yang tergabung dalam Remaja Tlukan Bersatu (RESTU) di lingkungan RW 58, Kelurahan Tlukan, Depok. Pada Minggu (15/2/2026), mereka resmi menginisiasi program pengelolaan Bank Sampah sebagai langkah nyata mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya manajemen limbah rumah tangga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kelestarian lingkungan, tetapi juga dirancang untuk memberikan keuntungan finansial langsung bagi warga melalui sistem pemilahan sampah yang sistematis.

Dalam pelaksanaannya, warga diarahkan untuk mulai memisahkan limbah domestik mereka ke dalam kategori spesifik, seperti plastik, kertas, dan logam. Botol minum, kardus bekas, hingga kaleng mineral yang telah dipilah kemudian dibawa ke titik pengumpulan untuk ditimbang secara akurat oleh para petugas remaja. Proses ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dari dapur rumah tangga guna mengurangi beban pembuangan akhir.

Hal yang paling menarik dari program ini adalah konversi berat sampah menjadi nilai ekonomis yang transparan. Setiap hasil timbangan dicatat ke dalam buku tabungan bank sampah milik warga sebagai saldo rupiah. Dana yang terkumpul dari tabungan sampah tersebut dapat diambil dalam jangka waktu tertentu, sehingga menjadi instrumen tambahan untuk memperkuat ekonomi keluarga di lingkungan RW 58.

Ketua Remaja Tlukan Bersatu, yang memimpin jalannya program ini, menegaskan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah rumah tangga. Ia ingin membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang selama ini dianggap sebagai beban bisa berubah menjadi aset yang bernilai bagi warga.

“Melalui program ini, kami ingin membuktikan bahwa sampah bukan lagi masalah yang harus dijauhi, melainkan potensi yang bisa dikelola. Selain menjaga kebersihan lingkungan RW 58, warga mendapatkan nilai tambah ekonomi melalui sistem tabungan yang transparan. Kami melihat antusiasme warga cukup tinggi untuk mulai memilah sampah mereka sendiri,” ungkap sosok ketua pemuda tersebut di sela kegiatan.

Aksi nyata kelompok pemuda ini diharapkan mampu menekan volume limbah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menjadi percontohan bagi wilayah lain dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Kelompok RESTU berkomitmen untuk menjalankan kegiatan ini secara berkelanjutan demi menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ekonomi kreatif di tingkat lokal. (Sri Rahayu/KIM Depok)




Rumpi Ah, Inovasi DLH Sleman Kurangi Botol Plastik Sekali Pakai

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat upaya pengurangan sampah plastik melalui inovasi pengelolaan sampah yang mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan Rumah Pilah Sampah atau Rumpi ah, tempat sampah khusus botol plastik yang dirancang tidak hanya sebagai sarana pengumpulan, tetapi juga media edukasi pemilahan sampah di ruang publik.

Rumpi ah dikembangkan sebagai respons atas meningkatnya timbulan sampah plastik, khususnya botol sekali pakai yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan.

Berbeda dengan tempat sampah konvensional, Rumpi ah didesain menarik menyerupai kandang burung dan dilengkapi beberapa kompartemen pemilahan.

Setiap bagian diperuntukkan secara spesifik bagi botol bening, botol berwarna, label, tutup botol, gelas bening, dan gelas berwarna, serta dilengkapi petunjuk visual yang memudahkan masyarakat melakukan pemilahan secara tepat.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, menilai inovasi Rumpi ah sebagai langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan sampah plastik dari hulu.

Menurutnya, keberadaan tempat sampah tematik ini mampu mendorong masyarakat untuk tidak sekadar membuang sampah, tetapi juga memahami pentingnya memilah sejak dari sumber.

“Rumpi ah dirancang khusus untuk mengumpulkan sekaligus memilah sampah botol plastik agar dapat diolah kembali menjadi bahan daur ulang yang lebih berguna. Pada saat yang sama, tempat ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Djoko menambahkan, pemilahan botol plastik sejak awal menjadi kunci untuk mengurangi beban lingkungan. Tanpa pemilahan, sampah plastik berpotensi tercampur dan kehilangan nilai guna. Melalui Rumpi ah, masyarakat diajak membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

“Kami ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah plastik. Dengan memilah sejak awal, botol plastik dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai,” katanya.

Salah satu unit Rumpi ah saat ini telah ditempatkan di halaman kantor Kapanewon Depok Kabupaten Sleman sebagai contoh penerapan inovasi di ruang publik.

Penempatan tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik replikasi di berbagai lokasi strategis lainnya, sekaligus memperluas dampak edukasi pemilahan sampah botol plastik di Kabupaten Sleman.

Djoko menyampaikan bahwa inovasi Rumpi ah memiliki nilai strategis dalam memperkuat literasi lingkungan di tingkat komunitas. Menurutnya, desain yang komunikatif dan fungsi edukatif Rumpi ah memudahkan pesan pemilahan sampah diterima masyarakat secara praktis.

“Inovasi Rumpi ah sangat relevan dengan pendekatan literasi lingkungan berbasis komunitas. Tempat sampah ini bukan hanya sarana teknis, tetapi juga media komunikasi publik yang mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah botol plastik secara benar dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan Rumpi ah di ruang publik memberikan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan visual dan partisipatif, masyarakat didorong untuk terlibat aktif tanpa merasa digurui.

“Ketika masyarakat melihat, memahami, dan mempraktikkan langsung pemilahan sampah melalui Rumpi ah, maka kesadaran lingkungan akan tumbuh secara alami. Inilah kekuatan inovasi yang berbasis edukasi dan keteladanan,” tambahnya.

Menurutnya, melalui inovasi Rumpi ah, Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada penanganan akhir, tetapi juga pada pembentukan kesadaran dan kebiasaan masyarakat.

Dengan menggabungkan fungsi teknis dan edukatif, Rumpi ah diharapkan mampu menumbuhkan budaya pilah sampah botol plastik sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (Athiful/KIM Depok)




DLH Tegaskan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Kunci Sleman Tuntas Sampah

Sleman – Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Dias Oktri Raka Setiadi, menegaskan bahwa visi “Sleman Tuntas Sampah” hanya dapat terwujud melalui pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga. Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan di Gedung Sasana Anglocita Tama, Rabu (11/2/2026).

Dias menyampaikan bahwa sumber sampah terbesar berasal dari aktivitas rumah tangga. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah dari hulu menjadi kunci utama penyelesaian persoalan persampahan di Kabupaten Sleman.

“Mengelola sampah memang tidak mudah. Karena itu, kami mengajak seluruh warga untuk menangani permasalahan sampah ini secara bareng-bareng. Tanpa kebersamaan, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik,” tegas Dias.

Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), antara lain TPST Tamanmartani Kalasan, TPST Sendangsari Minggir, dan TPST Donokerto Turi. Namun demikian, keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sebagai penghasil sampah terbesar.

Dias juga mengingatkan pentingnya tata kelola tempat pengelolaan sampah, khususnya di kawasan padat penduduk. Keberadaan fasilitas tersebut harus dikelola secara profesional agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun mengganggu kenyamanan warga sekitar.

“Visi Sleman Tuntas Sampah hanya bisa tercapai dengan keterlibatan semua pihak. Sampah terbesar berasal dari rumah tangga, sehingga kesadaran memilah dan mengelola sampah dari rumah menjadi sangat penting,” jelasnya.

Penguatan peran masyarakat dinilai semakin relevan bagi wilayah dengan kepadatan tinggi seperti Kapanewon Depok. Dengan jumlah penduduk yang besar dan aktivitas ekonomi yang dinamis, pengurangan dan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi langkah strategis untuk menekan beban pengolahan di hilir.

Dias mengatakan bahwa DLH Kabupaten Sleman berkomitmen terus melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan agar kesadaran kolektif masyarakat semakin meningkat. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, pengelola sampah, dan warga diharapkan mampu mempercepat pencapaian target pengurangan sampah secara signifikan.

“Dengan langkah kecil dari rumah tangga, masalah besar seperti sampah bisa lebih cepat kita atasi,” tandasnya.

Melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dan dukungan fasilitas TPST yang telah tersedia, Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk mewujudkan tata kelola persampahan yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan, termasuk di Kapanewon Depok sebagai kawasan strategis penyangga perkotaan. (Athiful/KIM Depok)




Dukung Gerakan Indonesia ASRI, Koramil Berbah Bersama Lintas Sektoral Bersihkan Pasar Tanjung

Sleman — Menindaklanjuti instruksi Presiden Republik Indonesia pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah tahun 2026, Koramil 10/Berbah Kodim 0732/Sleman menggelar aksi nyata peduli lingkungan melalui Karya Bakti pembersihan sampah pada Senin (9/2/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Pasar Tanjung, Kalitirto, Berbah, Sleman, ini menyasar penumpukan sampah di area dalam maupun lingkungan sekitar pasar guna menciptakan ruang publik yang sehat dan nyaman bagi perputaran ekonomi masyarakat.

Aksi lingkungan ini merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan sebagai gerakan nasional untuk menciptakan lingkungan bersih, tertata, dan berkelanjutan. Personel TNI bekerja sama dengan anggota Polsek Berbah, aparatur Kapanewon Berbah, Pemerintah Kalurahan Kalitirto, Linmas, serta relawan lingkungan untuk menyisir setiap sudut pasar yang menjadi titik timbulan sampah.

Wakil Danramil Berbah, Mustofa, menegaskan bahwa pembersihan fasilitas umum ini tidak akan berhenti pada satu momentum saja. Pihaknya telah merencanakan agenda rutin dengan lokasi yang berpindah-pindah di seluruh wilayah Kapanewon Berbah. Mustofa juga mengingatkan bahwa kesadaran lingkungan seharusnya dimulai dari setiap individu dan instansi, baik swasta maupun pemerintah, dengan cara menyisihkan sedikit waktu untuk menjaga kebersihan area kerja masing-masing.

“Sesuai instruksi presiden, kita harus bergerak bersama membersihkan fasilitas umum. Sebenarnya jika setiap instansi mau rutin mengerjakan pembersihan lingkungan secara mandiri selama 15 menit saja setiap hari, itu akan memberikan dampak luar biasa bagi kebersihan lingkungan kerja masing-masing. Kami ingin memulai langkah ini agar pasar sebagai jantung ekonomi warga tetap resik dan nyaman digunakan,” ujar Mustofa di sela-sela kegiatan.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, menyambut positif inisiatif dari Koramil Berbah tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor ini menjadi teladan penting bagi instansi lain di wilayah Sleman. Ia berharap gerakan ini memicu kesadaran para pedagang dan pengunjung pasar untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan, sehingga kebersihan yang sudah diupayakan bersama dapat terjaga dalam jangka panjang.

“Kami sangat mendukung ajakan dari Danramil dalam pembersihan pasar ini. Kegiatan seperti ini semoga bisa dilakukan terus menerus dan menjadi contoh nyata bagi instansi lainnya. Jika lingkungan pasar bersih, tentu kesehatan masyarakat di wilayah Berbah juga akan lebih terjamin,” kata Djaka Sumarsono.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Kalitirto, Ariadi, mengerahkan personel Linmas dan relawan desa untuk mendukung penuh aksi tersebut. Ia menilai pemilihan pasar sebagai lokasi utama pembersihan sangatlah tepat karena padatnya aktivitas masyarakat di lokasi tersebut. Ariadi berharap kenyamanan yang tercipta setelah pembersihan dapat meningkatkan semangat para pedagang dalam beraktivitas.

“Pasar merupakan fasilitas umum yang menjadi pusat perputaran ekonomi masyarakat, sehingga kebersihannya harus menjadi prioritas. Ini adalah lokasi yang tepat untuk melakukan aksi bersama demi kenyamanan para pedagang dan pembeli. Kami akan selalu mendukung kegiatan positif seperti ini di lingkungan Kalitirto,” tutur Ariadi memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sasar Generasi Muda, Siswa MI Ma’arif Sambego Jadikan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Laboratorium Alam

Sleman — Sebanyak 77 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Sambego bersama para wali siswa melakukan aksi nyata dalam mengenal pelestarian lingkungan melalui kegiatan luar kelas atau outing class. Mereka menjadikan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening di Tempursari, Kabupaten Sleman, sebagai laboratorium alam untuk mempelajari teknik pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alternatif pada Kamis (5/2/2026). Langkah ini dilakukan untuk menanamkan pemahaman bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam, melainkan anugerah yang bisa dikelola menjadi air minum sehat.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MI Ma’arif Sambego dengan lembaga internasional asal Jepang, Organization for Industrial and Cultural Advancement (OISCA). Fokus utama dari kunjungan ini adalah memberikan pengalaman kontekstual kepada siswa mengenai tantangan krisis air bersih di masa depan. Melalui metode pembelajaran langsung, para siswa diajak melihat sistem instalasi penampungan hingga proses penyaringan air hujan yang telah terstandarisasi secara medis namun tetap sederhana untuk dipelajari.

Perwakilan OISCA sekaligus pendamping kegiatan, Nur Partiningsih, menjelaskan bahwa edukasi ini sangat krusial untuk mengubah pola pikir masyarakat sejak usia dini. Menurutnya, pemanfaatan air hujan adalah solusi cerdas untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, dimulai dari lingkungan rumah tangga. Dengan melihat langsung prosesnya, para siswa diharapkan tidak lagi memiliki keraguan terhadap kualitas air hujan jika dikelola dengan teknik yang benar dan bersih.

“Pembelajaran berbasis pengalaman seperti ini mampu membentuk pola pikir siswa agar lebih peduli terhadap kelestarian sumber daya alam di sekitarnya. Kami ingin merubah cara pandang generasi muda, terutama dimulai dari lingkungan keluarga mereka, bahwa air hujan bisa dimanfaatkan sebagai air minum yang bersih, menyehatkan, dan tentu saja ramah lingkungan jika dikelola secara bijak,” ujar Nur Partiningsih di sela-sela pendampingan siswa.

Kedatangan rombongan siswa ini disambut hangat oleh pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih. Para siswa terlihat sangat antusias saat diajak berkeliling melihat instalasi pemanenan air hujan dan mencoba langsung proses filtrasinya. Baginya, antusiasme anak-anak sekolah dasar ini menjadi harapan baru bagi gerakan kemandirian air di masa depan, mengingat edukasi dini adalah fondasi terkuat dalam membangun karakter masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi terhadap isu lingkungan hidup.

“Edukasi sejak dini menjadi kunci dalam membangun generasi yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pengelolaan sumber daya air dan lingkungan hidup. Kami memberikan penjelasan yang sederhana namun interaktif agar anak-anak ini pulang membawa ilmu yang bisa diceritakan kepada orang tua mereka, bahwa air hujan yang jatuh di atap rumah mereka adalah harta karun yang tidak boleh dibuang sia-sia,” tegas Sri Wahyuningsih di hadapan para siswa.

Selain membekali siswa dengan kemampuan teknis, kegiatan ini juga menekankan nilai-nilai kedisiplinan dan tanggung jawab sosial. Pihak sekolah berharap kunjungan ini dapat menginspirasi madrasah dan sekolah lain untuk mengembangkan kurikulum kontekstual yang berorientasi pada pelestarian alam. Dengan membangun karakter peduli lingkungan sejak bangku sekolah dasar, diharapkan lahir generasi yang lebih bijak dalam memanfaatkan kearifan lokal demi keberlanjutan kehidupan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)