Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman Gandeng Halmahera Timur Kelola Air Hujan

Sleman — Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening yang berlokasi di Tempursari, Kabupaten Sleman, menjadi pusat perhatian melalui kegiatan “Sinau Bareng” pemanfaatan air hujan pada Sabtu (24/1/2026). Peristiwa ini menarik perhatian nasional karena dihadiri oleh pemangku kepentingan dari wilayah timur Indonesia, yakni Anggota DPRD Kabupaten Halmahera Timur, Daud Muhammad Ali, serta Kepala Desa Dakaino, Ira Fajriah Hamzah. Pertemuan ini mempertegas pentingnya kolaborasi lintas daerah dalam mencari solusi alternatif penyediaan air bersih yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Pendiri SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa forum ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah ruang dialog untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap air hujan. Menurutnya, pemanfaatan air hujan sering kali dianggap remeh, padahal memiliki potensi besar untuk mengatasi kelangkaan air bersih. Melalui metode edukasi dan pendampingan, masyarakat diajak untuk memahami filosofi air hingga menguasai praktik pengolahan air hujan agar layak dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan domestik dengan aman.

“Pendekatan edukasi dan pendampingan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pemanfaatan air hujan. Teknologi sederhana yang kami kembangkan di sini hanya akan berdampak nyata apabila disertai pemahaman dan kesadaran masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap proses pengelolaannya. Kami ingin menunjukkan bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi sumber kemandirian air jika dikelola dengan ilmu yang benar,” ujar Sri Wahyuningsih di sela-sela kegiatan.

Ketertarikan perwakilan dari Halmahera Timur ini didasari oleh kondisi geografis wilayah kepulauan yang memiliki curah hujan tinggi namun sering menghadapi kendala akses air bersih yang berkualitas. Kepala Desa Dakaino, Ira Fajriah Hamzah, menyatakan bahwa pihaknya berencana menjadikan kantor desa sebagai lokasi percontohan sistem pemanenan air hujan. Ia juga melihat peluang strategis melalui jalur Posyandu untuk mengedukasi warga mengenai kaitan antara konsumsi air bersih hasil olahan air hujan dengan upaya pencegahan stunting.

“Kantor desa akan kami jadikan lokasi percontohan agar praktik pemanfaatan air hujan ini dapat dilihat dan ditiru oleh masyarakat secara lebih luas. Kami sadar bahwa praktik ini sangat sesuai dengan kondisi desa kami di Halmahera Timur. Tantangan berikutnya adalah memastikan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat mampu membangun, merawat, dan mengelola sistem penampungan air mereka secara mandiri dalam jangka panjang,” tegas Ira Fajriah Hamzah dalam diskusi tersebut.

Apresiasi senada juga datang dari legislatif Halmahera Timur. Daud Muhammad Ali menilai model edukasi berbasis komunitas yang diterapkan di Sleman sangat relevan untuk diterapkan di daerah pedesaan dan kepulauan. Ia berkomitmen untuk membawa hasil pembelajaran ini ke dalam ruang diskusi kebijakan di DPRD agar pengelolaan air hujan dapat masuk ke dalam regulasi daerah yang mendukung keberlanjutan sumber daya air di wilayahnya.

Kegiatan sinau bareng ini diharapkan menjadi embrio terbentuknya jejaring komunitas pengelola air hujan di seluruh penjuru tanah air. SAH Banyu Bening Sleman terus berupaya memperluas dampak edukasi lingkungannya agar kearifan lokal dalam memanen air hujan menjadi gerakan nasional demi mewujudkan keadilan akses air bagi seluruh rakyat Indonesia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




UPN Veteran Yogyakarta dan GAPKI Gelar Seminar Nasional Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan

Sleman — Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta bekerja sama dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyelenggarakan seminar nasional bertema “Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan” pada Kamis (22/1/2026). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta dan dilaksanakan secara hibrid, baik luring maupun daring melalui Zoom dan YouTube.

Seminar nasional diawali dengan pertunjukan Tari Tradisional Sekar Pudyastuti, yang menambah kekhasan budaya pada kegiatan akademik tersebut. Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, Budi Widayanto, Ketua Panitia Seminar, Muhamad Kundarto, Ketua Umum GAPKI, Edy Martono, para narasumber nasional, pembahas, moderator, dosen, mahasiswa, serta peserta dari masyarakat umum.

Sejumlah akademisi dan pakar dihadirkan sebagai narasumber, di antaranya Prof. Dr. Ir. Budi Mulyanto, , Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, , Prof. Dr. Ir. Yanto Santoso, , dan Prof. Dr. Ir. Zulkarnain, .

Sementara itu, pembahas seminar terdiri dari Prof. Dr. Ir. M. Nurcholis, dan Dr. Eko Murdiyanto, SP, , dengan moderator Prof. Dr. Ir. Susila Herlambang, .

Ketua panitia seminar nasional, Muhamad Kundarto, menyampaikan bahwa merupakan sebuah kehormatan bagi Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta dapat menyelenggarakan seminar nasional dengan tema strategis tersebut. Ia menjelaskan bahwa seminar ini diikuti oleh 543 peserta, dengan 160 peserta hadir secara langsung di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, sementara peserta lainnya mengikuti secara daring.

“Peserta berasal dari kalangan akademisi dosen dan mahasiswa, peneliti, pemerhati sawit, para ahli, serta masyarakat umum. Kami berharap seminar ini mampu menghasilkan langkah-langkah positif dalam pengembangan komoditas kelapa sawit di Indonesia yang memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, paparan narasumber, pembahas, serta masukan dari peserta diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk mendukung pembangunan nasional yang menyejahterakan dan berkelanjutan.

Kundarto juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan alumni, yang didominasi oleh generasi Z, atas kerja keras dalam mempersiapkan kegiatan hingga terlaksana dengan baik.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, Budi Widayanto, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para narasumber, pembahas, peneliti, dan peserta seminar di Kampus Bela Negara. Ia mengapresiasi antusiasme peserta yang tinggi dalam mengikuti seminar nasional tersebut.

Menurutnya, komoditas sawit kerap menjadi sorotan dan mendapat stigma negatif, khususnya terkait isu degradasi hutan dan bencana lingkungan. Namun di sisi lain, sawit memiliki nilai yang sangat tinggi dalam pertumbuhan ekonomi global dan tanpa disadari hampir setiap hari masyarakat bersentuhan dengan produk berbasis sawit.

“Harapannya, melalui pertemuan ini kita dapat menemukan titik temu agar sawit dapat dilihat secara utuh kemanfaatannya, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” tutupnya.

Ketua Umum GAPKI, Edy Martono, menilai seminar ini sangat menarik dan relevan, mengingat industri sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki peran penting dalam berbagai aspek. Ia menyebutkan bahwa sawit merupakan penyumbang devisa terbesar kedua bagi Indonesia setelah batu bara, menyerap sekitar lima juta tenaga kerja langsung dan melibatkan hingga 16,5 juta tenaga kerja secara keseluruhan.

“Dari aspek lingkungan, industri sawit saat ini berada dalam pusaran sorotan publik yang luar biasa, khususnya terkait isu banjir di beberapa wilayah. Ketiga aspek tersebut akan dibahas secara mendalam oleh para narasumber hari ini, dan kami berharap dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap industri sawit,” ujarnya.

Lebih lanjut, Edy Martono menegaskan bahwa industri sawit telah berkontribusi nyata dalam pembangunan wilayah, terutama daerah terpencil. Melalui kehadiran industri sawit, banyak wilayah yang sebelumnya sulit diakses kini berkembang lebih cepat karena terbukanya infrastruktur dan akses ekonomi.

“Industri sawit memiliki dampak positif dalam mempercepat pembangunan wilayah terpencil. Oleh karena itu, kampanye negatif yang terus-menerus terhadap sawit perlu disikapi secara bijak agar tidak berdampak buruk bagi keberlanjutan industri sawit Indonesia,” pungkasnya. (Kusnadi KIM Berbah)




PMA Transport Jadi Pilar Strategis Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Sleman Barat

Sleman — Keberadaan jasa pengumpul sampah mandiri memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas lingkungan dan keberlangsungan sistem pengelolaan sampah di tingkat daerah. Di wilayah Kapanewon Seyegan dan sekitarnya, PMA Transport telah mengukuhkan diri sebagai pilar penting yang melayani pengambilan sampah dari ribuan rumah tangga, toko, hingga instansi perkantoran. Eksistensi layanan ini menjadi mata rantai yang menghubungkan produsen sampah dengan sistem pembuangan akhir yang lebih teratur di wilayah Sleman Barat.

Hingga saat ini, PMA Transport melayani sekitar pelanggan yang tersebar di wilayah Kapanewon Mlati, Seyegan, hingga Depok. Usaha yang dirintis oleh Sutrisno sejak tahun 2005 ini terus berkembang di tengah tantangan menyempitnya lahan pembuangan dan meningkatnya volume residu. Sutrisno memandang bahwa bisnis pengelolaan sampah memiliki prospek jangka panjang karena ketergantungan masyarakat terhadap jasa kebersihan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pemukiman.

“Sampah, terutama sampah rumah tangga, akan selalu ada dan jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Di situlah jasa pengambilan sampah akan selalu dibutuhkan sebagai solusi bagi warga. Apalagi dengan keterbatasan umur teknis Tempat Pembuangan Akhir atau TPA, peran jasa pengelola seperti kami menjadi sangat penting dalam siklus pengelolaan sampah terpadu,” ujar Sutrisno saat ditemui di kediamannya pada Senin (19/1/2026).

Dalam menjalankan operasionalnya, Sutrisno didukung oleh dua armada truk, satu kendaraan pick up, serta enam orang karyawan. Inovasi menjadi kunci bagi Sutrisno dalam menghadapi penutupan TPA Piyungan beberapa waktu lalu. Ia membangun tungku pembakaran khusus sejak Juni 2023 untuk menangani sampah kering yang tidak memiliki nilai jual. Teknologi ini dikembangkan secara mandiri dengan mengadopsi prinsip ramah lingkungan guna meminimalkan polusi udara di sekitar lokasi pengolahan.

“Tungku pembakaran yang kami bangun menggunakan sistem kondensasi sehingga asap yang dihasilkan sangat minim dan tidak mengganggu lingkungan. Inovasi ini sangat membantu operasional kami dalam menangani residu sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang. Kami ingin membuktikan bahwa penyedia jasa mandiri pun bisa menerapkan teknologi yang bertanggung jawab terhadap alam,” jelas Sutrisno menambahkan.

Selain mengelola usahanya, Sutrisno saat ini dipercaya menjabat sebagai Ketua Paguyuban Sleman Manunggal Roso, sebuah wadah bagi sekitar 25 penyedia jasa layanan pengelola sampah di Kabupaten Sleman. Namun, ia menyayangkan hingga kini belum ada pelibatan secara resmi oleh pemerintah daerah terhadap paguyuban tersebut. Menurutnya, kelompok jasa pengumpul sampah mandiri memiliki basis data yang akurat mengenai volume sampah harian yang dapat digunakan pemerintah dalam menyusun kebijakan strategis.

“Kami ini bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu yang bersentuhan langsung dengan warga setiap hari. Kami bisa menjadi sumber data penting terkait jumlah sampah yang terkelola dalam satuan waktu. Kami berharap ke depan terjalin kemitraan dengan pemerintah, terutama dalam hal dukungan dan fasilitasi alat pengolah sampah yang sering menjadi kendala utama kami di lapangan,” tegas Sutrisno.

Di sisi lain, ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Meskipun slogan pemilahan sering didengar, implementasinya di tingkat rumah tangga masih bersifat sementara dan belum menjadi budaya. Sutrisno berharap wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pada tahun 2028 dapat terealisasi sebagai solusi permanen, sembari mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle demi menekan volume residu yang dibuang ke TPA. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




DLHK DIY Tinjau Penanaman Bibit Proklim Menuju Kategori Lestari di Padukuhan Santren

Sleman — Padukuhan Santren, Kalurahan Caturtunggal, terus berbenah dalam upaya pelestarian lingkungan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan monitoring dan evaluasi penanaman bibit sebagai langkah strategis untuk mendorong wilayah ini naik kelas menuju kategori Lestari pada Rabu (14/1/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Rumah Dukuh Santren tersebut kemudian dilanjutkan dengan peninjauan lapangan guna melihat kondisi pertumbuhan bibit di area pemukiman warga.

Perwakilan DLHK DIY dalam sambutannya menekankan bahwa pemantauan ini sangat penting untuk memastikan setiap bibit yang telah diberikan mampu tumbuh optimal dan memberikan manfaat nyata. Pihak dinas menyatakan bahwa keberhasilan ProKlim sangat bergantung pada keterlibatan aktif warga dalam merawat tanaman agar fungsi penghijauan dan ketahanan iklim dapat tercapai secara maksimal. Tujuan utama dari evaluasi ini adalah memastikan pelaksanaan di lapangan selaras dengan visi besar perlindungan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini kami maksudkan untuk memberikan dukungan penuh kepada padukuhan dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat. Kami ingin warga tidak hanya menanam, tetapi juga merawat sehingga mereka benar-benar siap dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan menjalankan program ini secara berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci agar Padukuhan Santren segera meraih predikat kategori Lestari,” tegas perwakilan DLHK DIY di hadapan para tokoh masyarakat.

Apresiasi tinggi disampaikan oleh Dukuh Santren, Yanuar Eko Hartanto, atas bantuan dan pendampingan yang diberikan oleh DLHK DIY serta Yayasan Relung Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah mendistribusikan sebanyak 54 bibit tanaman secara merata ke seluruh wilayah RW di Padukuhan Santren. Bibit-bibit tersebut telah ditanam pada lokasi strategis, mulai dari pemanfaatan pekarangan rumah warga hingga area konservasi di sepanjang tepi Sungai Pelang.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan bibit ini. Seluruh bibit sudah kami sebar dan ditanam oleh warga di berbagai titik, termasuk di pekarangan rumah serta di tepi Sungai Pelang sebagai langkah nyata penghijauan. Kami berkomitmen untuk menjaga tanaman ini agar wilayah Santren menjadi lebih asri dan mampu menjaga kelestarian air serta lingkungan bagi generasi mendatang,” ujar Yanuar Eko Hartanto memberikan penjelasan.

Dalam sesi tanya jawab, warga juga proaktif menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan peningkatan kapasitas. Perwakilan RW 01 Padukuhan Santren, Triman, mengusulkan agar DLHK DIY mengadakan bimbingan teknis atau sosialisasi khusus mengenai pengelolaan ProKlim yang lebih mendalam. Menanggapi usulan tersebut, pihak DLHK DIY menyambut positif dan berjanji akan mempertimbangkannya agar pemahaman masyarakat mengenai mitigasi perubahan iklim semakin kuat dan komprehensif.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan kunjungan langsung ke lokasi penanaman bibit di kawasan Sungai Pelang serta area pemukiman di RW 03 dan RW 04. Tim penilai melakukan pengamatan mendalam terhadap tingkat keberhasilan pertumbuhan bibit yang menjadi sampel representatif di lapangan. Melalui monitoring ini, diharapkan program lingkungan di Padukuhan Santren dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Yogyakarta dalam membangun kemandirian ekologi berbasis partisipasi masyarakat. (Oktaviana/KIM Caturtunggal)




BS Bestari Dorong Gerakan Nyata Menuju Lingkungan Bebas Sampah

Sleman – Lingkungan bebas sampah adalah impian banyak orang. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan polisi udara, air, dan tanah, serta berdampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Sebagai langkah prefentif untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, masyarakat Pucanganom, Sumberagung, Moyudan, berinisiatif membentuk kelompok pengelola sampah. Langkah tersebut mendapat respon yang baik, dari masyarakat dan Dukuh Pucanganom, Muhammad Syaifudin.

Maka pada tanggal 5 November 2018 ditetapkanlah Bank Sampah Bestari sebagai pengelola sampah, dengan Winarni sebagai ketuanya. Sejak terbentuknya Bank Sampah (BS), masyarakat setempat mulai aktif mengelola sampah dengan efektif dan ramah lingkungan melalui metode BESTARI (Bank Edukasi Sampah Terpadu Aktif Ramah lIngkungan).

Salah satu pengurus BS Bestari, Farmawati Ningsih mengungkapkan bahwa selain mengumpulkan Sampah, kelompok ini juga memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan.

“Kami berikan edukasi pemilihan sampah dari rumah tangga, sampah anorganik bisa dikumpulkan di BS. Sedangkan sampah organik dikelola sendiri dengan cara yang baik dan benar,” tutur Farmawati saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/1/2026).

Farmawati mengungkapkan bahwa BS Bestari baru bisa menerima sampah anorganik seperti botol, kertas, plastik, dan sebagainya. Pengumpulan dari 30 nasabah yang ada di padukuhannya dilaksanakan pada hari Minggu setiap bulannya.

“Karena keterbatasan tenaga, dan waktu maka kami baru bisa mengumpulkan sampah satu bulan sekali,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua BS Bestari, Winarni mengungkapkan manfaat yang diperoleh atas dibentuknya BS Bestari. Adapun manfaatnya yaitu membantu terciptanya terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat dengan mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Kedua, BS Bestari juga bermanfaat untuk menungkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dampah yang baik.

“Manfaat lainnya masyakat mendapat nilai ekonomi dari penjualan sampah anorganik tersebut,” kata Winarni.

Ia pun menambahkan bahwa visi BS Bestari ialah  mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat melalui pengelolaan sampah yang efektif dan ramah lingkungan.

“Sedangkan misi kami yaitu memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik dan ramah lingkungan,  serta menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” tandasnya.

(Giek / KIM Moyudan)