Mini Soccer Putri Cabang Olahraga Paling Diminati di Pordes Kepuharjo

Cangkringan – Bertempat di Lapangan Desa Kepuharjo, Kecamatan
Cangkringan, Karang Taruna Desa Kepuharjo yang bernama Arga Loka Taruna Karya
menggelar kegiatan Pekan Olahraga Desa (Pordes) dimulai dari Minggu (8/9/2019) hingga
sepekan ke depan. Adapun cabang olahraga yang dipertandingkan adalah lari 5
ribu meter, bola voli putra, dan mini soccer. 

Amino Fajar Nugroho selaku Ketua Pordes Desa Kepuharjo
menyampaikan bahwa kegiatan pordes ini adalah wujud mengolahragakan masyarakat
serta sarana mempererat tali persaudaraan seluruh warga Desa Kepuharjo.

Dalam Pordes ini, Amino mengatakan bahwa mini soccer menjadi
ajang kompetisi yang diminati sebab bukan hanya tim dengan pemain putra namun
juga tim mini soccer dengan pemain putri. Selain itu, mini soccer putri bahkan
sudah berlangsung untuk ke-3 kalinya sejak tahun 2017.

Dipilihnya mini soccer bukan tanpa alasan, menurut Amino ini
sebagai ajang menampilkan bakat pemain muda potensial di seluruh padukuhan di
Desa Kepuharjo, yakni Kaliadem, Petung, Jambu, Kopeng, Batur, Pagerjurang,
Kepuh, dan Manggong.

“Kalau hanya berlatih tanpa ditandingkan sama saja menyimpan
potensi namun tak terlihat,” ujarnya.

Ditambahkannya, mini soccer putri ini merupakan perwujudan emansipasi wanita dalam segala macam jenis cabang olahraga.

“Ada 1 orang pemain mini soccer putri yang ikut seleksi
Porda sehingga minat untuk mini soccer putri harus terus dipupuk dan diberikan
ruang agar kedepan diharapkan akan bermunculan pemain mini soccer dari
Kepuharjo,” tukas Amino. (KIM Cangkringan/Marmasnsyah)




Jelajah Wisata 2019, Suguhi Pemandangan Lereng Merapi yang Menawan

Antusiasme
warga terhadap event Jelajah Wisata 2019 terbilang tinggi. Terbukti seribu
orang dari berbagai latar belakang baik dari dalam atau luar DIY mengikuti
kegiatan ini. Event tersebut rutin diadakan setiap 2 tahun sekali.

Dinas
Pariwisata Kabupaten Sleman mengadakan Jelajah Wisata 2019 di Desa Wisata
Tunggul Arum, Minggu (25/8/2019). Tema yang diambil yaitu “Ngadem Sik”.

Kepala
Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini
dimaksudkan untuk mempromosikan Desa Wisata Tunggul Arum. “Lebih jauh lagi
diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan kecintaan
masyarakat terhadap lingkungan alam sekitar,” jelas Sudarningsih.

Ditambahkan
Sudarningsih, tujuan event ini untuk mendekatkan peserta dengan berbagai
keindahan obyek wisata di Sleman. Sebab, peserta disuguhi pemandangan lereng
Merapi yang menawan, serta kehidupan masyarakat sekitar yang menarik tentunya bagi
pengunjung yang berasal dari luar DIY.

Salah
satu peserta yang selalu ikut dalam event ini, Sudariyanti menyampaikan
bahwa dirinya selalu ingin lebih dekat dengan masyarakat. “Saya ingin lebih
dekat dengan masyarakat di setiap event jalan sehat atau semacamnya. Kalau di Sleman
saya selalu ikut, kemarin Tour De Merapi ikut, di Prambanan juga ikut,” jelas
Sudariyanti.

Peserta
melewati 5 pos, berawal dari pos 1 di Lapangan Merti Bumi, pos 2 berada di
pertigaan Ngepal, lalu pos 3 berada di Tegong Tunggulawas, pos 4 di Jembatan
Bambu, dan terakhir pos 5 di Bungker. Sebelum kembali ke Bumi Perkemahan, di pos
terakhir yakni pos 5, peserta disuguhkan penampilan dari sejumlah grup kesenian
warga sekitar Desa Tunggul Arum.

Agar
dianggap menuntaskan setiap pos ini, peserta diwajibkan meminta cap kepada
panitia. Tak lupa, panitia mengimbau peserta untuk menjaga kebersihan dari
berbagai sampah saat berjalan melewati rute tersebut. Saat sampai. (Rep Dias)




422 Siswa Ikuti Lomba Lintas Alam Gamping

Gamping – Panitia Gamping Gegayengan menyelenggarakan lomba
lintas alam bagi siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) di wilayah Kecamatan Gamping
yang dilanjutkan dengan lomba permainan tradisional, Kamis (22/8/2019).

Koordinator lomba lari lintas alam, Rudi Aris Junaidi menyampaikan bahwa jumlah peserta lomba kali ini sebanyak 422 orang. “Kami tidak mengira bahwa jumlah peserta bisa sebanyak itu. Setelah melaksanakan lomba lari, mereka melanjutkan kompetisi permainan tradisional antar siswa SD  yang ada di wilayah Kecamatan Gamping setelah mencapai garis finish,” kata Rudi Aris.

Aris menambahkan, permainan tradisional yang dilombakan
antara lain Gobak Sodor yang diikuti 18 SD dengan koordinator Samsudin guru SD
Muhammadiyah Banyuraden, kemudian Lari Egrang diikuti 72 siswa dengan
koordinator Sari Hargono guru SD Baturan II, dan yang terakhir  lomba Lari Bakiak Raksasa yang dikomandoi
oleh Rini Utaminingsih guru SD Tegalyoso.

“Tujuan panitia Gamping Gegayengan menggelar lomba permainan
tradisional ini juga untuk melestarikan permainan asli Indonesia yang sudah ada
sejak dulu dan mengenalkannya kepada generasi muda,” tutur Rudi Aris mengakhiri
pembicaraan. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan Nurtjahjo)




Agustusan Momen Populerkan Kembali Permainan Egrang

Ngaglik – Banyak cara dilakukan masyarakat untuk ikut serta memeriahkan peringatan HUT ke 74 RI dari yang formal seperti upacara bendera sampai yang bersifat hiburan seperti mengadakan berbagai macam lomba. Tak beda dengan yang lain, panitia peringatan HUT ke 74 RI di Padukuhan Suruh dan Jetis Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman menghelat serangkaian kegiatan lomba untuk anak, remaja dan dewasa dengan mengambil tempat di Embung Jetis Suruh, Minggu (18/8/2019).

Yang unik, pada acara ini digelar lomba egrang, yaitu
permainan tradisional  menggunakan 2
batang bambu dengan ketinggian sekitar 2 meter, lalu beberapa centimeter di
atas tanah dipasang pijakan terbuat dari potongan bambu dengan ukuran melebihi
panjang kaki. Lewat pijakan ini peserta berjalan atau berlari. Kunci utama
bermain egrang adalah menjaga keseimbangan badan, tanpa bisa menjaga
keseimbangan maka pemain akan sering jatuh.

Dani Prasetyo, ketua panitia mengatakan bahwa lomba egrang
sengaja dimasukkan ke dalam agenda kegiatan agar anak anak kembali mengenal
permainan tradisional yang hampir punah. “Keberadaan mainan modern seperti
playstation, game watch atau ratusan bahkan ribuan permainan yang ada di gadget
telah menguasai anak-anak jaman sekarang, bahkan di antara mereka ada yang
ketagihan, anak menjadi individualis dan hampir tidak mengenal lingkungan
sekitar,” ujar Dani.

Dengan egrang, Dani berharap anak-anak kembali mengenal
permainan tradisional yang pernah berjaya pada jaman dulu, ”Selain itu anak
akan menjalin pertemanan sehingga lebih interaktif dengan lingkungan sekitar,”
tambah Dani.

Sementara itu Mbah Sugiono (79 tahun) generasi sepuh, tokoh
masyarakat yang ikut menyaksikan jalannya pelombaan mengisahkan telah mengenal
egrang sejak kecil atau pada saat jaman penjajahan.

“Saya tidak tahu sejak kapan egrang itu ada, yang jelas
dulu harus membuat sendiri dari bambu apus atau wulung, yang banyak tumbuh di
pekarangan rumah dan di pinggir sungai. Dulu egrang biasa dimainkan saat
menggembala ternak,” kata mbah Sugi, panggilan akrabnya.

Menurut
Mbah Sugi permainan egrang mempunyai nilai filosofi yang tinggi. “Bermain
egrang dibutuhkan tekad dan rasa percaya diri yang kuat serta keberanian untuk
jatuh, ketika kita mulai menaiki pijakan untuk melangkan tidak boleh ragu-ragu
akibatnya bisa terjatuh dan ketika sudah stabil pun keseimbagan harus tetap
dijaga. Kadang berjalan maju atau mundur semata untuk menjaga agar tetap
berdiri pada pijakan,” paparnya. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




Giatkan Gaya Hidup Sehat, Pemkab Sleman Gelar Program Yoga Bersama

Sleman – Gencarkan gaya hidup dan bahagia, Pemerintah Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Anand Krishna Center – Joglosemar selenggarakan program yoga bersama di Lapangan Pemda Kabupaten Sleman pada hari Jum’at (5/7/2019).

Kegiatan yoga bersama ini setidaknya diikuti oleh 500 peserta yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman serta masyarakat umum. Dalam kesempatan tersebut juga turut hadir Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menyampaikan apresiasianya atas penyelenggaraan yoga bersama. Menurutnya dengan melakukan yoga secara teratur, tubuh akan memperoleh kondisi yang sehat serta pikiran dan perasaan yang tenang.

“Tidak mengherankan apabila yoga akhir-akhir ini menjadi salah satu olahraga yang cukup diminati masyarakat. Jika sebelumnya yoga sering dikenal olahraga meditasi, kini yoga juga dipercaya dapat membakar kalori,” katanya.

Lebih lanjut, Sri Muslimatun juga mengungkapkan bawa saat ini, kesadara masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui aktivitas berolahraga semakin meningkat. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin banyaknya masyarakat  yang aktif berolahraga, terlebih saat hari libur dan akhir pekan.

“Bangkitnya kesadaran masyarakat berolahraga, salah satunya dikarenakan pada sat ini telah terjadi perubahan pola penyakit yang menyerang masyarakat kita. Jika dulunya yang banyak menyerang masyarakat adalah penyakit infeksi yang pengobatannya dengan jangka pendek, kini berubah menjadi penyakit degeneratif yang pengobatannya membutuhkan jangka waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit,” ungkapnya.

Menurutnya, perubahan tersebut terjadi akibat pola hidup masyarakat yang kurang sehat seperti, mengkonsumsi makanan yang kurang sehat, mengandung kolestrol ataupun lemak yang tinggi. “Oleh karena itu melalui kegiatan yoga ini kita ajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat,” ujarnya.

Sementara itu, Pengawas Anand Krishna Center Joglosemar, Wayan Suriastini dalam kegiatan yoga bersama ini, dilakukan Yoga Ananda, atau Ananda’s Integral Medititive (AIM) Yoga yang diracik oleh Anand Krishna.

“Yoga dengan afirmasi ini akan mentransformasikan fisik, perasaan, pikiran dan membangunkan semangat Yogi sejati dalam diri untuk hidup berdasarkan prinsip Yoga,” jelasnya.