Khitanan masal dan donor darah HUT PPNI Ke-43 dan Kabupaten Sleman Ke-101

Sleman – Sebanyak 45 anak mengikuti khitanan masal yang diadakan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Sleman bekerjasama dengan Pemkab Sleman di RSUD Sleman, Sabtu (8/4). Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT PPNI ke-43 dan HUT Kabupaten Sleman ke-101.Arif Pramana selaku perwakilan panitia peringatan HUT 101 Pemkab Sleman menyampaikan bahwa khitanan masal dan donor darah tersebut merupakan wujud pengabdian masyarakat yang merupakan rangkaian kegiatan pertama dalam peringatan HUT Pemkab Sleman.

“Tema peringatan HUT Pemkab Sleman ke-101 adalah mewujudkan masyarakat Kabupaten Sleman yang berdaya saing dan berbudaya. Mudah-mudahan melalui program ini bisa mewujudkan generasi sehat karena khitan merupakan syariat dan donor darah berfungsi meregenerasi sel darah”, kata Arif.

Ketua Panitia HUT PPNI Kabupaten Sleman Hary Prasetyo menyampaikan bahwa awalnya target peserta hanya 43 saja sesuai usia PPNI. Namun karena antusias masyarakat yang tinggi akhirnya panitia menambah kuota peserta khitanan masal menjadi 45 orang.

Peserta sendiri tidak hanya dari Sleman namun juga dari luar kota seperti Magelang dan Purworejo. Hary menambahkan bahwa selain khitanan masal, PPNI dan Pemkab Sleman juga melakukan bhakti sosial donor darah dihari yang sama dengan total  partisipan pendonor sebanyak 53 orang.

Sementara itu Direktur RSUD Sleman Joko Hastaryo mengatakan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tersebut merupakan sinergitas antara Pemkab dengan PPNI sebagai wujud kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan di bidang kesehatan.

Terkait ketersediaan darah di RSUD Sleman sendiri Joko menjelaskan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi dengan PMI dan rumah sakit lainnya untuk memenuhi kebutuhan darah pasien.

“Untuk kebutuhan darah kami memiliki bank darah sendiri, namun kami juga bekerjasama dengan PMI tidak hanya Sleman saja tapi juga daerah lainnya serta rumah sakit lain untuk memenuhi ketersediaan darah bagi pasien”, kata Joko.




Operasi TMMD Sengkuyung Ke-98 Dimulai

Sleman – Operasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung ke-98 Tahap I TA. 2017 dimulai. TMMD dibuka secara langsung oleh Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun di Lapangan Punthuk Wonokerto, Turi pada Rabu (5/4).

Kapten Inf. Arly Iskandar selaku Pasiter Kodim 0732/Sleman menyampaikan bahwa dalam TMMD di Desa Wonokerto tersebut pembangunan meliputi sasaran fisik seperti pembuatan jalan sepanjang 548 meter lebar 6 meter, talud jalan panjang sepanjang 100 meter tinggi 50 cm, rehab 1 buah masjid, pembuatan jembatan, dan 6 buah gorong-gorong.

Selain pembangunan fisik, pembangunan juga menyasar pada pembangunan non fisik seperti penyuluhan PPBN atau wawasan kebangsaan, Kambtimas dan narkoba, KB dan kesehatan, pertanian, serta penyuluhan mental dan rohani.

TMMD Sengkuyung ke-98 menurut Arly akan dilaksanakan selama 30 hari dimulai dari tanggal 5 April 2017 hingga 4 Mei 2017. Sumber dana TMMD sendiri berasal dari APBD DIY sebesar Rp ,-, APBD Kabupaten Sleman Rp ,-, bantuan dari Baznas Rp ,-, bantuan swadaya masyarakat berupa tenaga senilai Rp ,-, dan bantuan bibit ikan nila 25 kg dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan.

Sementara itu Sri Muslimatun mengapresiasi dan berterimakasih kepada  TNI  atas salah satu wujud Operasi Bhakti  TMMD sengkuyung merupakan program terpadu lintas sektoral TNI dengan Pemerintah Daerah yang dilaksanakan secara terintregrasi bersama masyarakat.

Menurutnya kegiatan TMMD yang berlangsung di Kabupaten Sleman telah mampu menggerakkan pembangunan infrastruktur di desa sehingga dapat membantu roda perekonomian masyarakat di Kabupaten Sleman.

Selain itu kegiatan tersebut juga merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan hubungan dan komunikasi antara jajaran TNI dengan jajaran masyarakat serta jajaran aparat Kabupatren Sleman.

Melalui program TMMD ini Muslimatun berharap dapat meningkatkan kesetiakawanan sosial guna meningkatkan ketahanan sosial masyarakat. Pencanangan TMMD juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat agar mereka mempunyai daya dan upaya untuk lepas dari masalah kemiskinan sekaligus memberdayakan diri untuk berdikari.

”Oleh karena itu saya sangat mendukung pelaksanaan program TMMD ini karena program ini dilaksanakan melalui proses perencanaan yang mengutamakan aspirasi dan kepentingan masyarakat di daerah dengan menggunakan bottom up planning system yang dilaksanakan secara komprehenif dan integral, karena melibatkan semua unsur yang terkait mulai dari tingkat Desa”, kata Muslimatun.




Pembinaan Rohani Jelang Peringatan Paskah

Sleman – Pelayanan terhadap masyarakat merupakan kewajiban Pegawai Negeri Sipil (PNS) baik pusat dan daerah. PNS dituntut untuk memberikan pelayanan yang optimal sebagai komitmen dan dedikasi pengabdian kepada masyarakat.

Bertepatan dengan Peringatan Hari Paskah pada Jumat 14 April 2017, Panitia Hari Besar Kristiani Kabupaten Sleman menggelar pembinaan rohani dalam rangka menyambut Hari Paskah 2017.

“PNS Kabupaten Sleman harus memiliki karakter yang kuat dan dapat menjadi teladan bagi masyarakat”, kata Ketua Panitia Hari Besar Kristiani Kabupaten Sleman, Ir. Jenu Santosa, di Gereja Santo Thomas, Seyegan Sleman, Jumat (7/4).

Romo Suyatno Yoseph Suyatno Hadi Atmojo, pr menyampaikan dalam hidup manusia harus selalu menjaga ibadahnya kepada Tuhan dan menjaga toleransi antar umat baik seagama maupun lintas agama. Sebagai PNS harus tertanam jiwa sosial untuk selalu melayani masyarakat baik dalam jam kerja atau ketika sudah berbaur dengan masyarakat. Toleransi antar umat beragama diaplikasikan dalam kegiatan kemasyarakatan tanpa memandang perbedaan di bidang agama.

Hal tersebut sejalan dengan sumpah pegawai pemerintah sebagai pelayan masyarakat tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Intoleransi agama hanya akan menimbulkan masalah SARA, tambahnya.

Dalam acara tersebut terkumpul kolekte Rp. ,- yang akan diserahkan ke Gereja Druju sebesar Rp ,- dan sisanya untuk bakti sosial pada Minggu (9/4) di Prambanan.




KPPD Sleman Kekurangan Pengawas Pemanfaatan Tanah‬

Sleman – Kantor Pengendalian Pertanahan Daerah (KPPD) Kabupaten Sleman masih kekurangan tenaga pengawasan pemanfaatan tanah atau lahan.‬

‪”Wilayah Sleman cukup luas, sehingga pengawasan pemanfaatan tanah harus dilakukan banyak personel,” kata Kepala KPPD Kabupaten Sleman, Drs Krido Suprayitno, Kamis (19/5).‬

‪Menurut Krido, akibat kondisi tersebut, dari 86 desa, sekarang KPPD hanya mampu melakukan pengawasan terhadap 40 desa.‬

‪”Idealnya semua dapat kami awasi. Tapi karena SDM-nya terbatas, jadi kami memutuskan untuk mengawasi sebagian desa,” kata Krido.‬

‪Krido mengatakan, sekarang pengawasan lahan hanya dilakukan terhadap daerah-daerah prioritas. Antara lain wilayah yang mengalami pertumbuhan penambahan bangunan baru sangat pesat, seperti di Kecamatan Kalasan dan Gamping.‬

‪”Wilayah lain sementara ini pengawasan tidak dilakukan secara intensif seperti di kedua daerah tersebut,” tambah Krido.‬

‪Krido mengatakan, tujuan penggawasan lahan dilakukan untuk mencegah terjadinya pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan izin. Seperti tanah kas desa yang disewakan menjadi tempat usaha.‬

‪”Termasuk untuk mengawasi proses tindak lanjut dari perolehan tanah.‬ Pasalnya saat ini banyak pemegang Izin Pemanfaatan Tanah (IPT) yang tidak melakukan proses lanjutan perolehan tanah,” tutur Krido.‬

‪Selama ini lanjut Krido,  kebanyakan kalau sudah pegang IPT, ya sudah cukup sampai di situ. Padahal kan ada proses-proses lain yang harus dilanjutkan sampai urusan perolehan tanahnya tuntas.‬

‪”Ditambah IPT hanya berlaku satu tahun, kebanyakan ya tidak diperpanjang,” katanya.‬

‪Dari seluruh pemegang IPT di Sleman, kata dia, separuhnya pasti mengalami masalah dengan IPT. Baik proses kelanjutan perolehan tanah yang tidak dituntaskan, maupun IPT yang izinnya tidak diperpanjang.‬

‪”Petugas pengawas pemanfaatan tanah di KPPD Sleman sekarang berjumlah delapan orang. Empat petugas bertugas mengawasi pemanfaatan tanah kas desa. Sedangkan sisanya mengawasi pemanfaatan lahan non-kas desa.‬‪

“Angka ideal petugas pengawas, kami memang belum menghitung kebutuhannya. Sebab untuk memperoleh jumlah petugas yang ideal diperlukan penghitungan berdasarkan beban kerja petugas,” kata Krido.




Disbudpar Sleman Siap Gelar Pentas Jathilan 24 Jam

Sleman – Dalam rangka untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke 100 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman akan menghelat Pentas “Njathil 24 Jam”, pada hari Sabtu-Minggu (21-22/5) di Halaman Parkir Sindu Kusuma Edupark Jl Jambon Sinduadi Mlati Sleman.

“Pentas Njathil 24 jam tersebut semuanya dilakukan oleh kelompok jathilan putri yang dimulai Sabtu 21 Mei 2016 pukul WIB hingga Minggu 22 Mei 2016 pukul WIB,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Selasa (17/5).

Ayu menambahkan bahwa penyelenggaraan pentas jathilan 24 jam tersebut dimaksudkan sebagai ajang eksibisi, ekspresi dan apresiasi seni kerakyatan jathilan. Ajang ini untuk memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok jathilan melakukan pementasan didepan publik secara luas.

“Harapannya mereka akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk dapat tampil dan disaksikan oleh masyarakat luas,” tutur Ayu.

Dalam kesempatan tersebut akan ditampilkan 17 kelompok jathilan secara bergantian dengan peserta masing-masing kurang lebih 35 orang seniman per kelompok.

“Dengan demikian setidaknya 600 an seniman jathilan akan menampilkan kebolehannya dihadapan masyarakat luas,” tambah Ayu.

Selain itu upaya ini juga dimaksudkan untuk melakukan regenerasi seniman dengan persyaratan diikuti oleh seniman yang berusia dibawah 35 tahun. Dengan demikian diharapkan kesenian jathilan yang merupakan asset kesenian rakyat akan dapat diuri-uri dan dilestarikan oleh generasi muda.

Adapun jadwal pementasan Jathilan 24 Jam tersebut adalah  Sabtu, 21 Mei 2016 mulai pukul  WIB akan dipentaskan 8 (delapan) kelompok jathilan, yaitu Kudo Wiromo dari Berbah, Turonggo Budaya Rukun dari Kalasan, Kridha Turonggo Budaya dari Cangkringan, Tirta Manunggal dari Seyegan, Turangga Budaya dan Panca Wisesa dari Godean, dan Laras Giri Seta dan Gamping.

Sedangkan Minggu 22 Mei 2016 mulai pukul WIB akan dipentaskan Turonggo Macho Budaya dari Prambanan, Kuda Taruna dari Ngemplak, Sadar Budaya dari Minggir, Sekar Gadung dari Turi, Beksa Putra Seta dari Moyudan, Ngesti Turangga Budaya dari Godean, Turangga Mudho Budaya dari Kecamatan Sleman, Asmara dari Ngaglik.

Sebagai pentutup rangkaian jathilan 24 jam tersebut akan dipentaskan hingga pukul  WIB dengan Kesenian Angguk.