Kebutuhan PNS Baru di Sleman Capai 1.345‬ Orang

Sleman – Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman pada tahun 2016 ini mencapai orang.‬

‪”Adanya tambahan pengangkatan 497 PNS tahun ini belum mengurangi persoalan kekurangan aparatur negara yang ada di Pemkab Sleman. Pada 2016 kebutuhan PNS baru di Sleman mencapai orang,” kata Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno, Kamis (12/5).‬

‪Menurut Iswoyo, meski demikian pada tahun 2016 ini pihaknya hanya mengajukan sebanyak formasi PNS ke Pemerintah Pusat.‬

‪”Tenaga pendidik di Sleman masih kekurangan sekitar 450 orang, tenaga medis 332 orang dan tenaga teknis 563 orang,” jelas Iswoyo.‬

‪Iswoyo menambahkan untuk kebutuhan tenaga pengajar didominasi untuk guru Sekolah Dasar (SD), sedangkan kebutuhan tenaga medis untuk mengisi pegawai di masing-masing Puskesmas dan Dinas Kesehatan.‬

“Formasi tersebut disusun berdasarkan hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja (anjab) dari seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD), serta `roadmap` kebutuhan pegawai yang dibuat sejak 2007.‬

‪”Pada 2014 lalu, BKD Kabupaten Sleman mengajukan formasi kepegawaian sebanyak orang. Dari jumlah tersebut yang dikabulkan hanya 39 orang,” kata Iswoyo.‬

‪Iswoyo mengatakan, setiap tahun BKD Kabupaten Sleman selalu mengajukan dan menyediakan anggaran penerimaan CPNS.‬

‪”Namun sampai saat ini pemerintah pusat belum membuka penerimaan CPNS baru untuk daerah,” katanya.‬

‪Tahun ini lanjut Iswoyo, sebanyak 497 orang penerima SK pengangkatan menjadi PNS dan 52 orang yang belum pernah diambil sumpah PNS.




Generasi Muda Sleman Dihimbau Lestarikan Batik

Melihat Proses Pembuatan BatikSleman – Minat terhadap batik sebagai warisan budaya pada generasi muda sudah mulai menurun. Apalagi generasi muda saat ini sudah banyak yang enggan untuk mempelajari dan menekuni batik karena mereka menganggap bahwa menggunakan batik sudah ketinggalan jaman. Demikian diungkapkan Asisten Ekonomi,dan Pembangunan Sekda DIY Ir Gatot Saptadi MM di Galeri Batik GKBI Medari Sleman, Senin (2/5) siang.

Diungkapkan Gatot  jika melihat kebelakang, pemerintah dengan susah payah mempertahankan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia hingga akhirnya UNESCO menetapkan batik sebagai Masterpices of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

“Menurunnya minat generasi muda terhadap batik akan memutus rantai regenerasi warisan budaya, karena dengan penetapan tersebut kita sebagai bangsa Indonesia mempunyai tanggungjawab yang besar dalam upaya menjaga warisan nusantara ini,” kata Gatot.

Karena itu untuk membangkitkan minat terhadap batik tersebut  perlu adanya sinergi antara modernitas dengan sisi klasik, unik dan tradisi luhur budaya Jawa. Dan Galeri batik GKBI sebagai wisata edukasi untuk memperkenalkan kembali pada generasi muda sebagai media pengembangan dan pembelajaran tentang batik.

“Mari kita serukan lagi kebangkitan batik Jogja dengan kebanggaan dan kecintaan terhadap generasi penerus agar mereka mau memakai batik Jogja sebagai bagian dari kontribusi bagi bangkitnya industri dan pasar batik di era bebas,” tutur Gatot.

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengungkapkan keprihatinanya atas menurunnya minat generasi muda terhadap batik. Menurutnya untuk menumbuhkan minat dan kecintaan generasi muda terhadap batik, pada tahun 2012 Pemkab Sleman telah mengadakan lomba desain batik.

Dari event tersebut sebanyak 7 desain motif batik Parijoto keluar sebagai juara yang akhirnya digunakan sebagai motif batik ciri khas Sleman sampai sekarang.




PNS di Sleman Terus Menyusut

Sleman – Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus menyusut seiring moratorium penerimaan PNS. Dalam lima tahun terakhir, jumlah PNS terus menyusut hingga seribu orang. 

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sleman, Drs Iswoyo Hadiwarno mengatakan, hingga kini jumlah PNS di Sleman sebanyak orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 506 orang tahun ini akan menjalani masa pensiun. Sementara, pada 2015 jumlah PNS yang pensiun mencapai 129 orang.

“Sedang pada tahun 2017 mendatang, PNS Sleman yang akan pensiun berjumlah 574 orang,” kata Iswoyo di kantornya, Jumat (11/3).

Iswoyo menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan pegawai pihaknya setiap tahun tetap mengajukan penerimaan calon PNS (CPNS) ke Pemerintah Pusat. Hal itu dilakukan meskipun pemerintah menerapkan moratorium penerimaan CPNS sejak 2011 lalu. Pengajuan tersebut dilakukan agar pemerintah pusat mengetahui kebutuhan PNS di Sleman. Apalagi setiap tahun ratusan PNS menjalani masa pensiun.

“Setiap tahun kami anggarkan penerimaan CPNS. Ada tidak ada (penerimaan CPNS) tetap dianggarkan. Itu antisipasi jika pusat menerima usulan kami,” kata Iswoyo.

Tahun 2016  ini misalnya, BKD mengajukan orang CPNS ke pusat dari orang yang dibutuhkan. Pengajuan tersebut untuk mengisi 450 orang tenaga pendidik, 332 orang tenaga medis, dan 563 tenaga teknis yang kosong. Kekosongan tenaga tersebut sebagian besar akibat ditinggal pensiun. Meski telah diajukan, hingga kini belum ada keputusan resmi dari pusat.

“Apakah disetujui atau tidak, belum ada keputusan. Yang terpenting, kami sudah ajukan sesuai kebutuhan di lapangan,” kata Iswoyo.

Diakui Iswoyo, kekurangan pegawai akibat pensiun tersebut sedikit banyak mengganggu proses pelayanan kepada masyarakat. Pasalnya, beban kerja yang seharusnya dikerjakan oleh tiga orang, di lapangan hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Hal itu berdampak pada lamanya proses pelayanan yang dilakukan.

Di kecamatan sendiri, pegawai sering pulang melebihi jam kerja karena mereka harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Secara persyaratan, Sleman memenuhi syarat untuk mengajukan CPNS lantaran Belanja Pegadai dalam APBD hanya 45,12 persen atau dibawah ketentuan pusat, 50 persen.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Sleman, Arif Haryono SH mengatakan saat ini ada sejumlah kepala sekolah yang merangkap jabatan lantaran kurangnya tenaga pendidik di Sleman. Dia menyontohkan, di SD, terdapat 16 sekolah yang tidak memiliki Kepala Sekolah (Kapsek) sendiri. SMP 7 sekolah dan SMA satu sekolah.

“Itu di SMA Prambanan, sudah 10 bulan tidak memiliki Kapsek sendiri,” kata Arif.

Untuk mengatasi kekosongan itu, Disdikpora Sleman telah menunjuk Kapsek terdekat dengan sekolah tersebut untuk merangkap menjadi Kapsek. Penunjukan tersebut melewati proses, tidak asal tunjuk.

“Kami melihat dari sisi kedekatan sekolah dan juga kemampuan Kepala sekolah tersebut untuk double tugas. Pengaruhnya ada, sang Kepala sekolah tidak bisa maksimal mengawasi satu sekolah karena harus bagi-bagi waktu. Ini jelas tidak optimal,” kata Arif.




27 Ponpes Ikuti Pospenda Sleman

Sleman – Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Daerah (Pospenda)  Kabupaten Sleman diikuti sebanyak 27 Pondok pesantren  (Ponpes) dengan jumlah peserta 944 santri. Sedangkan jumlah ponpes di Kabupaten Sleman sebanyak 120 ponpes, namun kegiatan ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan Pospenda pada tahun 2013 diikuti 13 Pondok pesantren dengan jumlah peserta 461 santri. Pembukaan Pospenda dilakukan di Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (2/3).

Penyelenggaraan Pospenda Tahun 2015 Sleman yang disampaikan Drs H Hery Sutopo MM MSc yang juga  Kepala Bagian Kesra bahwa tujuan dari diselenggarakan Pekan Olahraga dan seni pondok pesantren tingkat Daerah cabang olahraga dan seni. Untuk cabang olahraga meliputi Atletik, Tenis Meja, Bulu Tangkis, Bola Voli, Pencak Silat, Senam Santri, dan futsal dengan 44 nomor Lomba, sedangkan cabang seni meliputi, qosidah, Hadroh, Kaligrafi, Pidato 3 Bahasa, Cipta Puisi, 18 nomor lomba.

Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes menyampaikan bahwa satriwan dan sntriwati dapat memperoleh pembelajaran dalam pembentukan karakter diri, penampaan mental dan wadah untuk berkreasi. Sehingga para santri memiliki mental kompetitif yang sportif dalam menghadapi  persaingan dimasa yang akan datang, ini menjadi poin penting yang perlu ditanamkan dan diajarkan pada generasi muda sedini mungkin.

“Ajang Pospenda ini harus terus dikembanghkan  terlebih saat ini dunia olah raga kita telah giat-giatnya termotovasi oleh para atlet Indonesia yang mampu berprestasi di ajang internasional,” kata Sri Muslimatun.

Oleh karena itu dengan seringya mengikuti berbagai kejuaraan dan kompetisi maka mental para santriwan dan santriwati  akan terlatih dan tertempa, maka diharapkan pula dalam berdakwah nantinya akan lebih fokous.

Keberhasilan pembinaan atlet-atlet  tidak hanya dipengaruhi factor latihan dan sarana latihan,  namun kesempatan untuk bertanding dan berkompetisi guna menambah pengalaman dan mematangkan teknik dan strategi yang diberikan pelatih. Maka mental para atlet akan terlatih dalam menghadapi tekanan baik lawan maupun pendukung/suporter.




TPK Sleman Terima Award dari Pemkab

Pj Bupati Sleman Serahkan AwardSleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi menyerahkan award pada Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) Sleman dalam mendorong upaya penangulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman, baik pada tingkat Kecamatan, Desa dan Padukuhan. 

“Revitalisasi dan pelaksanaan pembentukan TPK Kecamatan, Desa dan Padukuhan sangat penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan agar implementasi kebijakan dapat lebih efektif dan efisien dalam mengurangi jumlah warga miskin di Kabupaten Sleman,” kata Gatot usai menyerahkan TPK Award di lapangan Pemkab Sleman, Senin (18/1).

Menurut Gatot dengan pemberian TPK Award ini dapat menambah semangat dan motivasi bagi seluruh TPK baik pada tingkat Kecamatan, Desa dan Padukuhan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Disampaikan pula oleh Gatot bahwa pada tanggal 15 Januari lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah menerima penghargaan dari Yayasan Damandiri atas dukungan Pemkab Sleman pada kegiatan pemberdayaan keluarga dalam rangka menurunkan jumlah kemiskinan, dimana dalam kesempatan tersebut Dusun Plalangan Desa Pendowoharjo Sleman terpilih sebagai POSDAYA rujukan juara 4  tingkat Nasional.

“Penghargaan yang diperoleh ini hendaknya dapat dimaknai sebagai sebuah prestasi sekaligus motivasi bagi seluruh jajaran, masyarakat dan pihak terkait untuk dapat terus berupaya dalam menanggulangi masalah kemiskinan di Kabupaten Sleman,” tutur Gatot.

Dimana lanjutnya, upaya penanggulangan kemiskinan ini tentulah tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak didalamnya. Disisi lain Gatot juga  mengharapkan agar setiap instansi mempunyai langkah strategis dalam upaya mencapai kinerja yang ditetapkan.

“Manfaatkanlah momentum tahun anggaran baru ini untuk dapat menyusun rencana dalam pelaksanaan program kegiatan selama setahun kedepan, harapannya agar setiap target dapat terealisasi secara terukur sesuai rencana, sehingga tidak terjadi penumpukan kegiatan di akhir tahun,” kata Gatot.

Ditambahkan Gatot, salah satu kunci keberhasilan dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat adalah melaksanakan kegiatan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, secara tepat waktu.

“Oleh karena itu, saya harap pada bulan Januari ini kita dapat mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan untuk mengoptimalkan output dari kinerja yang telah ditetapkan,” tutur Gatot.

Gatot juga mengajak seluruh jajaran aparat Pemkab Sleman untuk senantiasa meningkatkan  semangat pengabdian dan etos kerja memperbaiki kinerja birokrasi dalam rangka melaksanakan pembangunan serta memberikan pelayanan prima guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sleman.