Bhabinkamtibmas Edukasi Siswa SMPN 3 Gamping, Dorong Budaya Tertib Berlalu Lintas

Sleman – Kesadaran tertib berlalu lintas perlu ditanamkan sejak usia sekolah untuk mencegah kecelakaan yang melibatkan pelajar. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengingatkan siswa agar tidak mengendarai sepeda motor sebelum memenuhi persyaratan berkendara, termasuk batas usia dan kepemilikan surat izin mengemudi (SIM).

Imbauan tersebut disampaikan Bhabinkamtibmas Nogotirto, Aiptu Eko Yulianto, kepada siswa SMP Negeri 3 Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (15/10/2026). Kegiatan tersebut didampingi Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Gamping, Murniyati, sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran keselamatan berlalu lintas di kalangan pelajar.

Eko menegaskan bahwa mengendarai sepeda motor tidak hanya membutuhkan keterampilan mengoperasikan kendaraan, tetapi juga kedewasaan, pemahaman terhadap aturan lalu lintas, serta pemenuhan persyaratan hukum.

“Karena itu, siswa yang belum memenuhi ketentuan tidak seharusnya membawa sepeda motor sendiri ke sekolah,” tegasnya.

Menurutnya, kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas merupakan langkah mendasar untuk melindungi keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya. Oleh karena itu, pelajar perlu memahami pentingnya memenuhi persyaratan berkendara dan menghindari perilaku yang dapat membahayakan keselamatan di jalan raya.

Ia juga mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam memastikan keselamatan anak selama perjalanan menuju dan pulang dari sekolah. Orang tua diharapkan dapat mengantar dan menjemput anak atau memastikan tersedianya sarana transportasi yang aman dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keterlibatan orang tua dinilai penting karena keselamatan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan kepolisian. Pengawasan, keteladanan dalam berlalu lintas, serta komunikasi mengenai risiko berkendara tanpa memenuhi persyaratan menjadi bagian dari upaya membentuk perilaku yang bertanggung jawab di jalan raya.

Selain itu, Eko juga mengingatkan siswa yang menggunakan sepeda kayuh untuk selalu berhati-hati selama perjalanan. Siswa perlu memperhatikan kondisi jalan, mewaspadai kendaraan lain, dan menjaga konsentrasi agar terhindar dari potensi kecelakaan.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Gamping, Murniyati berharap edukasi tersebut dapat meningkatkan pemahaman siswa SMP Negeri 3 Gamping mengenai pentingnya keselamatan berlalu lintas. Ia juga berharap siswa semakin disiplin dalam mematuhi aturan dan tidak mengendarai sepeda motor sebelum memenuhi persyaratan yang berlaku.

Sinergi antara kepolisian, sekolah, dan orang tua diharapkan dapat menciptakan perjalanan sekolah yang lebih aman sekaligus menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas sejak dini. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




15 Mahasiswi UNIDA Gontor Praktik Kependidikan di MAN 4 Sleman, Asah Kompetensi Mengajar

Sleman – Sebanyak 15 mahasiswi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor), Jawa Timur, melaksanakan praktik kependidikan di MAN 4 Sleman selama dua minggu. Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi para mahasiswi untuk memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja sekolah atau madrasah sekaligus sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Selama praktik berlangsung, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut melaksanakan praktik mengajar Bahasa Inggris di kelas. Selain itu, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung kependidikan, seperti piket, pengelolaan perpustakaan, pelayanan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), administrasi tata usaha, serta kegiatan kependidikan lainnya.

Dosen pembimbing, Eka Indah Nuraini, mengatakan praktik kependidikan tersebut memberikan kesempatan kepada para mahasiswi untuk mengenal berbagai tugas dan tanggung jawab di lingkungan madrasah.

“Selama dua minggu penuh, para mahasiswi melaksanakan praktik kependidikan di madrasah. Mereka praktik mengajar Bahasa Inggris sekaligus menjalankan tugas-tugas lain, seperti piket, pengelolaan perpustakaan, UKS, bidang tata usaha, dan kegiatan kependidikan lainnya,” ujar Eka saat observasi kelas, Kamis (15/10/2026), di depan ruang kelas XI E.

Tidak hanya melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas, para mahasiswi juga turut meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris para santri di Asrama Putri MAN 4 Sleman. Salah satu kegiatan yang dilakukan berupa latihan percakapan atau conversation dalam Bahasa Inggris, termasuk praktik menjadi pembawa acara atau Master of Ceremony (MC).

Pengasuh Asrama Putri MAN 4 Sleman, Dzulhaq Nurhadi, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran para mahasiswi memberikan kesempatan bagi para santri untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris melalui praktik secara langsung.

“Alhamdulillah, ini kesempatan bagus bagi para santri kami untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, seperti belajar menjadi Master of Ceremony bersama para mahasiswi,” ungkap Dzulhaq.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu para santri dan murid meningkatkan kepercayaan diri dalam menggunakan Bahasa Inggris, baik saat menjadi MC, berpidato, maupun melakukan percakapan.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, juga menyambut baik pelaksanaan praktik kependidikan tersebut. Ia berharap kehadiran para mahasiswi UNIDA Gontor tidak hanya memberikan pengalaman bagi para praktikan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi murid MAN 4 Sleman.

“Semoga kegiatan ini bisa menginspirasi para murid agar semakin termotivasi. Wawasan mereka tentang studi juga bertambah dengan kedatangan para mahasiswi UNIDA ini,” ujar Arif.

Dalam pelaksanaan praktik kependidikan tersebut, 15 mahasiswi didampingi dua guru pamong dengan koordinator Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik, Safitri Ida Kusumastuti.

Melalui kegiatan tersebut, praktik kependidikan diharapkan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Para mahasiswi memperoleh pengalaman nyata dalam menjalankan tugas kependidikan, sedangkan murid dan santri mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris sekaligus membangun kepercayaan diri. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Peneliti UGM: Bhinneka Tunggal Ika Harus Dihidupkan melalui Keteladanan Sejak Dini

Sleman – Penanaman nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda perlu dilakukan melalui keteladanan nyata sejak usia dini, tidak sekadar melalui hafalan semboyan negara atau pembelajaran di sekolah. Keluarga, masyarakat, dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter yang toleran dan menghargai keberagaman.  

Hal tersebut disampaikan peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Diasma Sandi Swandaru, saat menjadi narasumber dalam kegiatan penguatan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Ruang Wacana Loka, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (13/10/2026).

Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta tersebut, Diasma membawakan materi bertajuk Bhinneka Tunggal Ika: Pengikat Kedamaian dalam Keberagaman Bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa anak-anak lebih mudah memahami nilai toleransi melalui sikap dan perilaku yang mereka saksikan sehari-hari.

“Toleransi tidak boleh berhenti sebagai ucapan, slogan, atau simbol seremonial. Toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menghormati keyakinan orang lain, tidak melakukan diskriminasi, bersedia bekerja sama, membantu sesama, dan memberikan kesempatan yang setara kepada setiap orang,” ujarnya.

Menurut Diasma, keluarga merupakan lingkungan pertama pembentukan karakter anak. Keteladanan orang tua dalam menghormati tetangga, membantu sesama, dan menerima perbedaan akan membentuk pandangan anak terhadap keberagaman.

Sementara itu, masyarakat menjadi ruang praktik toleransi melalui kegiatan gotong royong, kerja bakti, dan musyawarah. Adapun sekolah berperan memperkuat pemahaman kebinekaan melalui pendidikan, interaksi antarsiswa, serta pembiasaan menyelesaikan perbedaan secara damai.

Diasma juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa tantangan berupa penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, dan konten provokatif. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, bijak bermedia digital, serta kesadaran untuk tidak menyebarkan informasi yang memicu perpecahan.

Ia menegaskan, semangat Bhinneka Tunggal Ika yang bersumber dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14 tetap relevan sebagai landasan persatuan bangsa di tengah keberagaman.

“Persatuan tidak dibangun dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan membiasakan diri hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja sama di tengah perbedaan,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia mengajak masyarakat untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga kerukunan, serta menghindari berita bohong dan sikap intoleran yang dapat merusak persaudaraan.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya keteladanan dalam menanamkan nilai kebinekaan. Dengan sinergi keluarga, masyarakat, dan sekolah, Bhinneka Tunggal Ika diharapkan tidak sekadar menjadi semboyan, tetapi tumbuh menjadi karakter generasi penerus bangsa dalam mewujudkan kehidupan yang rukun, damai, dan harmonis. (Wasana/KIM Depok)




Dies Natalis ke-32, AMIKOM Yogyakarta Perkuat Inovasi Berdampak, Pemkal Condongcatur Dorong Kolaborasi

Sleman – Universitas AMIKOM Yogyakarta berkomitmen memperkuat peran perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi, teknologi digital, dan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut mengemuka dalam Sidang Terbuka Senat Dies Natalis ke-32 Universitas AMIKOM Yogyakarta di Kampus AMIKOM, Condongcatur, Depok, Sleman, Senin (12/10/2026).

Mengusung tema “Creativity for Society”, peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat transformasi pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menghasilkan solusi bagi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta, M. Suyanto, dalam sambutannya menekankan pentingnya pengembangan konsep open innovation university yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, kewirausahaan, dan industri kreatif. Melalui pendekatan tersebut, AMIKOM berupaya membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan perguruan tinggi dengan pemerintah, industri, komunitas, dan mitra internasional.

Salah satu capaian yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah posisi AMIKOM pada peringkat ke-67 dunia dalam World University Rankings for Innovation (WURI) 2026. AMIKOM juga meraih sejumlah peringkat dalam kategori inovasi, antara lain peringkat ke-4 dunia untuk manajemen efektif dari sisi biaya dan peringkat ke-7 untuk kepemimpinan visioner.

Dalam pengembangan industri kreatif, AMIKOM turut mengembangkan animasi, teknologi digital, dan perusahaan rintisan. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah film animasi Ajisaka, yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses pascaproduksi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas kontribusi AMIKOM selama 32 tahun dalam pengembangan pendidikan tinggi, teknologi informasi, dan industri kreatif.

Menurutnya, keberadaan AMIKOM di wilayah Condongcatur merupakan potensi strategis yang dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, transformasi digital, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Kalurahan Condongcatur, kami mengucapkan selamat Dies Natalis ke-32 Universitas AMIKOM Yogyakarta. Semoga AMIKOM semakin maju, inovatif, dan mampu melahirkan generasi unggul yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan,” ungkapnya.

Budi berharap hubungan antara AMIKOM dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur semakin erat melalui kolaborasi dalam berbagai bidang, seperti digitalisasi pelayanan publik, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peningkatan literasi digital, serta pengembangan potensi generasi muda.

“Kami berharap perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi dan solusi nyata bagi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat,” tandasnya.

Ketua Pengurus Yayasan Amikom Yogyakarta, Heri Sismoro, menyampaikan bahwa usia 32 tahun menjadi momentum bagi institusi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menegaskan, AMIKOM harus mampu memberikan kontribusi lebih luas bagi pembangunan bangsa melalui inovasi dan pengembangan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta menekankan pentingnya inovasi perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan Kepala LLDIKTI Wilayah V yang dibacakan Ketua Tim Kerja Kelembagaan, Zanuar Fahrusi.

“Inovasi terbaik bukan sekadar canggih, melainkan relevan, dapat dimanfaatkan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan.

Dalam rangkaian acara, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas AMIKOM Yogyakarta, Hanif Al Fatta, menyampaikan orasi ilmiah tentang ekosistem inovasi komputasi berdampak. Ia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari jumlah penelitian atau prototipe yang dihasilkan, tetapi juga dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Sidang Terbuka Senat Dies Natalis ke-32 juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada empat dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral serta pengumuman dukungan beasiswa dari sejumlah mitra dengan total . Rangkaian kegiatan turut mencakup peluncuran Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2027/2028 dan program Amikom Berbagi.

Melalui momentum ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur berharap semangat “Creativity for Society” dapat menjadi landasan penguatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong pembangunan lokal yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. (Wasana/KIM Depok)




FASI XIII Sleman Diikuti 720 Santri, Perkuat Karakter Generasi Qur’ani

Sleman – Badan Koordinasi Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (Badko TKA-TPA) Kabupaten Sleman menggelar Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Kabupaten Sleman Tahun 2026 di SMA Negeri 1 Prambanan, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (11/10/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh 720 santriwan dan santriwati dari 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman. Didampingi sekitar anggota kafilah, ajang ini diselenggarakan sebagai wadah untuk mengembangkan potensi, meningkatkan prestasi, serta memperkuat karakter generasi Qur’ani sejak dini.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mendukung pembinaan karakter dan pendidikan agama anak di tengah tantangan zaman modern.

“Pemerintah Kabupaten Sleman tentu sangat mendukung kegiatan ini. Saya melihat manfaatnya besar, dan pemerintah harus hadir karena kegiatannya positif. Semakin sering kegiatan seperti ini dilaksanakan, semakin besar pula manfaatnya bagi anak-anak ke depan. Saat ini tidak mudah mendidik anak-anak, kita membutuhkan regenerasi yang memiliki akhlak baik. Untuk pendidikan anak-anak, saya siap berjuang,” tegas Harda Kiswaya.

Sementara itu, Ketua Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman, Mujiyono, menyampaikan bahwa FASI XIII mengusung tema “Santri Hebat: Hebat Prestasi, Hebat Mengaji, Berakhlakul Karimah”.

“Melalui festival ini, diharapkan para santri dapat mengembangkan kemampuan, menumbuhkan kepercayaan diri, serta memperkuat semangat belajar dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Mujiyono.

Para pemenang dari ajang FASI XIII ini selanjutnya akan mewakili Kabupaten Sleman pada FASI tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 8 November 2026.