Tim Riset MAN 4 Sleman Go Internasional di WICE 2026, Hadirkan Inovasi Limbah Ampas Kopi

Sleman — Tim Riset MAN 4 Sleman menunjukkan kiprahnya di ajang internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026. Enam siswa mempresentasikan hasil penelitian secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (10/9/2026), dari Ruang Podcast MAN 4 Sleman.
Penelitian berjudul “Development and Characterization of Sustainable Chitosan Adsorbents Incorporating Spent Coffee Grounds for Dye Removal” tersebut mengangkat pemanfaatan limbah ampas kopi sebagai bahan modifikasi kitosan untuk menyerap zat warna Methylene Blue dari air.
Tim yang terdiri atas Nawra Zeeleka Humayra, Rizky Akbar Maulana, Rezyka Nur Safitri, Faqih Achmad Pramudyanta, Braviasa Pranata, dan Chaissar Faith Anwar, dibimbing Puspa Nindro Mahayuwati.
Penelitian ini berangkat dari persoalan pencemaran air akibat limbah zat warna industri tekstil. Tim mengembangkan kitosan yang dimodifikasi dengan ampas kopi sebagai adsorben yang lebih ramah lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan sampel dengan penambahan 9 gram ampas kopi (S3) memiliki kemampuan adsorpsi terbaik. Pada konsentrasi Methylene Blue 1 mg/L, sampel tersebut mampu mencapai tingkat adsorpsi sebesar 88,5 persen.
Analisis isoterm Langmuir juga menunjukkan peningkatan kapasitas adsorpsi maksimum dari 145,2 mg/g pada kitosan murni menjadi 363,1 mg/g pada kitosan yang dimodifikasi dengan 9 gram ampas kopi, dengan nilai R² sebesar 0,999.
Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf mengapresiasi kiprah Tim Riset tersebut. Menurutnya, penelitian dan inovasi siswa menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan di masyarakat.
“Teknologi itu untuk membantu dan menyejahterakan manusia. Karena itu, kami sangat mengapresiasi anak-anak yang mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Keikutsertaan dalam WICE 2026 menjadi pengalaman bagi Tim Riset MAN 4 Sleman untuk membawa karya penelitian madrasah ke forum internasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan riset, presentasi, dan komunikasi ilmiah.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah sederhana seperti ampas kopi dapat dikembangkan menjadi material bernilai guna untuk mendukung upaya pengurangan pencemaran lingkungan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)



