Zakat PNS untuk Bantu Penanganan Kemiskinan

Sleman – Zakat dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Sleman yang dikumpulkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman lebih banyak diarahkan untuk penanganan masalah sosial terutama untuk penanganan kemiskinan di Kabupaten Sleman.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Baznas Sleman, dr Sunartono Mkes kepada wartawan, Senin (26/1). Dikatakan Sunartono, zakat yang dikumpulkan dari kalangan PNS itu sangat membantu dalam penganan kemiskinan. Hal tersebut dikarenakan besarnya zakat penghasilan PNS yang dapat dikumpulkan cukup besar, yakni mencapai Rp 1,6 miliar pada 2014.

Dalam penyalurannya dijelaskan Sunartono, bahwa Baznas Sleman tidak begitu saja memberikan bantuan kepada warga miskin. Namun dilakukan melalui program pengembangan ekonomi. Untuk pendidikan, dananya memang tidak disampaikan secara langsung tetapi disampaikan kepada penyelenggara pendidikan agar siswa dari keluarga miskin tetap dapat melanjutkan pendidikan. Apalagi menurut Sunartono yang juga Sekda Sleman, Pemkab Sleman memiliki kebijakan semua anak di Sleman harus lulus minimal SMK.

“Dengan lulus SMK diharapkan siap bekerja,” kata Sunartono. Seraya menambahkan Baznas telah mensuport siswa SMK kelas III sebanyak 200 an siswa pada tahun 2014,” tutur Sunartono.

Dalam penyampaian zakat tersebut, Baznas Sleman bekerja sama dengan pemerintah setempat agar tidak terjadi tumpang tindih penyaluran bantuan. Pemkab Sleman juga memiliki program penanganan kemiskinan, sehingga perlu disinkronkan dengan penyaluran zakat Baznas.




Pekan Depan Kurikulum 2006 Berlaku Lagi

Sleman – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman memberikan waktu selama sepekan bagi sekolah untuk menerapkan kembali kurikulum 2006. Masa transisi itu guna mempersiapkan sarana dan prasarana pembelajaran yang dibutuhkan pada kurikulum kini.Kepala Disdikpora Sleman, Arif Haryono SH mengatakan masa transisi tersebut diberlakukan menyusul adanya surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 233/c/kr/2015. Dengan demikian, sekolah non-piloting yang sebelumnya menerapkan kurikulum 2013 harus kembali ke kurikulum 2006.

“Persiapan ini diperlukan karena penerapan kurikulum 2006 sudah vakum selama satu semester,” papar Arif, Minggu (25/1).
Menurutnya, sejumlah persiapan yang harus dilakukan oleh sekolah antara lain seperti penyesuaian jam pelajaran. Hal ini lantaran perbedaan yang paling kentara terjadi pada jam pelajaran.

“Jam pelajaran pada kurikulum 2013 cenderung lebih banyak dibandingkan kurikulum 2006. Ini penting dilakukan agar guru bisa menyesuaikan,” katanya

Disisi lain  Arif juga meminta sekolah untuk mengatur ulang jadwal ajar guru. Hal tersebut menyusul penerapan kembali kurikulum 2006 pada pekan depan. Sejumlah persiapan yang harus dilakukan oleh sekolah antara lain seperti penyesuaian jam pelajaran.

Selain untuk mempermudah guru pada saat mengajar, penyesuaian jam pelajaran tersebut juga diperlukan untuk memenuhi jam pelajaran yang harus dipenuhi oleh guru, yaitu 24 jam pelajaran selama seminggu. Untuk itu, Arif juga meminta sekolah agar menyesuaikan struktur tugas guru.

“Sehingga jam mengajarnya akan seimbang dan memenuhi jam pelajaran yang harus diampu di sekolah masing-masing. Jika ada guru yang jam mengajarnya kurang, dapat memenuhinya di sekolah lain,” kata Aris.

Arif juga menjelaskan dengan demikian akan diketahui guru-guru yang jam mengajarnya tidak dapat terpenuhi di sekolah tempatnya bertugas. Hal tersebut kemudian akan dibahas di tingkat Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

Setelah itu, guru-guru yang belum terpenuhi jam mengajarnya tersebut akan diusulkan kepada Disdikpora untuk diberikan surat tugas mengajar di sekolah lain.

“Jadi selain mengajar di sekolah tempatnya bertugas, guru bersangkutan juga akan mengajar di sekolah lain yang sudah ditentukan. Langkah ini dilakukan agar guru dapat memenuhi syarat sertifikasi,” ungkapnya menjelaskan.




90 Anak Kurang Mampu Terima Bantuan Sepeda

BantuanSleman – Sebanyak 90 anak putus sekolah dari keluarga kurang mampu yang selama ini bekerja disektor informal menerima bantuan sepeda dalam program pengurangan pekerja anak dalam mendukung program keluarga harapan Kabupatrn Sleman. Bantuan diserahkan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Aula Nakersos Sleman, Jumat (9/1) disaksikan Wakil Ketua DPRD Sleman Sofian Setyo Darmawan, Wakapolres, Kepala Dinas Nakersos, Direktur Bank Sleman dan pejabat Sleman lainnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Nakersos), Drs Untoro Budiharjo menyampaikan kegiatan ini dimaksudkan untuk mengurangi pekerja anak dan mendukung terciptanya  keluarga harapan melalui pengembalian anak ke dunia pendidikan. Sebanyak 90 anak ini selama satu bulan mendapatkan pembinaan kemudian masuk kembali ke sekolah formal dan informal sesuai keinginan mereka. Adapun rincian sekolah yakni formal 17 anak, paket A 11 anak, paket B 50 anak, paket C 3 anak dan paket C kejuruan 9 anak.

Sri Purnomo berharap, bantuan sepeda ini dapat semakin memotivasi anak untuk meneruskan pendidikan. Namun demikian yang lebih penting adalah, bantuan ini merupakan wujud dukungan bagi anak-anak untuk menggapai cita-cita yang lebih tinggi sehingga juga diharapkan dapat membantu orangtua masing-masing di masa depan.

“Anak-anak kita ini merupakan salah satu potensi masa depan bagi kemajuan daerah dan masyarakat. Untuk itu mereka perlu didorong dan diberikan motivasi serta apresisasi agar terus berprestasi serta dapat mendorong anak-anak yang lain untuk mengikuti jejaknya,” kata Sri Purnomo.

Terlebih lagi lanjutnya tanggungjawab akan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tidak hanya dipikul oleh pemerintah saja, melainkan tanggungjawab tersebut milik seluruh stakeholder yang ada. Hal ini dikarenakan pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi sejalan dengan tuntutan masyarakat.

Pada tahun 2014, bantuan sepeda untuk keberlanjutan pendidikan bagi pekerja anak di Sleman diperuntukkan bagi 90 anak yang telah diseleksi dari 115 pekerja anak. Sedangkan untuk tahun 2015 telah didata oleh Dinas Nakersos sebanyak 147 pekerja anak yang kemudian juga akan diseleksi sebanyak 90 anak untuk menerima bantuan sepeda.

Namun demikian Pemkab Sleman melalui Dinas Nakersos mencoba untuk mengusulkan anggaran tambahan agar bantuan yang diberikan juga semakin banyak.




Gaya Berpakaian Mempengaruhi Penampilan Seseporang

2409 SLEMAN BUSANA JAWASleman – Gaya berpakaian memang bisa mempengaruhi penampilan seseorang, untuk itu PKK Kabupaten Sleman mengadakan lomba keserasian berbusana adat Jogja bagi remaja yang diikuti 16 perwakilan dari kecamatan se Kabupaten Sleman dan lomba berlangsung di Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (24/9). Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman, Dra Hj Kustini Sri Purnomo  menyampaikan bahwa lomba ini dimaksudkan untuk lebih mensosialisasikan, melestarikan dan mengembangkan budaya pakaian adat Jogja agar para remaja juga semakin mengenal kebudayaannya sendiri. 

Peserta lomba terdiri dari 16 pasangan remaja putra putri perwakilan dari Kecamatan yang berusia 14 tahun hingga 16 tahun. Dalam pelaksanaan lomba masing-masing peserta memperagakan cara berpakaian dan jalan di atas panggung yang  disaksikan dan dinilai oleh 3 orang yuri yaitu FL Nurwahyuni Idayati SH MPar dari Tarakanita College, Tari Sukarto dari Harpi Sleman dan RM Issumaji SH dari Sekar Kedaton.

Dari hasil Lomba tersebut perwakilan dari Kecamatan Ngaglik Juara I mendapatkan tropi dari Bupati Sleman dan uang pembinaan, Juara 2  dari Kecamatan Gamping, Juara III Kecamatan Moyudan dan Juara Harapan I  Kecamatan Seyegan, Juara Harapan II Kecamatan Pakem, tropi dan hadiah diserahkan langsung oleh Bupati Sleman. Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan bahwa budaya Indonesia khususnya budaya Jawa  mengenai pakaian adat serta nilai-nilai filosofi yang terkandung, etika dan cara busana menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Hal ini dikarenakan berbusana secara serasi dan sesuai dengan momennya akan mendukung upaya seseorang untuk menempatkan diri secara tepat. Gaya berpakaian sangatlah mempengaruhi penampilan seseorang, dari busana yang dikenakan, seseorang bisa kelihatan lebih menarik atau tampak biasa saja. Seseorang bisa saja tampil charming sekaligus santun dengan karakter dan budi pekertinya yang menarik, hal inilah yang menjadi nilai plus dalam penampilan seseorang.

“Untuk dapat tampil menarik kita juga tidak harus selalu mengikuti trend busana saat ini. Yang paling penting adalah pakaian yang sesuai dengan nilai-nilai ketimuran dan sesuai untuk dirikita,” kata Sri Purnomo.

Berkenaan dengan hal tersebut Sri Purnomo berpesan kepada para peseta dan anak-anak muda di Kabupaten Sleman ini untuk senantiasa bercermin kepada adat dan budaya yang penuh dengan nilai-nilai ketimuran. Untuk itu  agar melalui lomba ini juga dapat senantiasa menekankan pada pentingnya “pakem”  atau aturan berbusana adat Jawa. Hal ini merupakan bentuk edukasi sejak dini pada generasi muda agar kedepannya pakem tersebut dapat senantiasa dijaga sampai kapanpun.




563 Siswa Ibnu Abbas Diwisuda

211_20140622104442Sleman – Sebanyak 563 siswa TKIT, SDIT dan SMPIT Ibnu Abbas se-DIY diwisuda di GOR KONI Kabupaten Sleman, Sabtu (21/6). Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum prosesi wisuda terlebih dahulu menampilkan berbagai pentas seni dan kreasi dari siswa Ibnu Abbas.Ketua Panitia Suranti menjelaskan, dari jumlah wisudawan dan wisudawati itu, 491 berasal dari TKIT, 72 dari SDIT dan 10 wisudawan dari SMPIT.

Untuk hasil UN SMPIT, nilai tertinggi 38,55 dengan rata-rata 33,77. SMPIT Godean menjadi peringkat 2 se Kecamatan Godean dan urutan ke 7 se Kabupaten Sleman.
Sedangkan nilai tertinggi dari SDIT 1 Godean 29,05 dengan rata-rata 24,85. SDIT 2 Pakem juga meraih nilai tertinggi 29,05 namun rata-ratanya lebih tinggi yakni 26,36.

Dikatakan, seluruh siswa TKIT yang lulus rata-rata mampu membaca, menulis, membaca Quran, berhitung dan mampu meraih 10 target sekolah. Selain itu, sekolah di bawah Yayasan Islam Cahaya Hati tersebut kini sudah tersebar di seluruh DIY.

Saat ini ada sebanyak 47 TKIT dan 3 SDIT. “Rencana kedepan kami akan menambah TKIT di Wates, Galur dan Piyungan. Sedang SDIT juga akan dibangun di Dlingo Bantul,” tambahnya.