675 Guru Di Kabupaten Sleman Lolos Sertifikasi

Sleman, – Bupati Sleman Drs. Sri Purnomo menyerahkan sertifikat pendidik bagi guru yang lulus sertifikasi tahun 2013, di Gedung Serbaguna, Senin (7/4), dan mengemukakan bahwa guru pemegang sertifikat harus profesional dan memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Sri Purnomo berharap agar melalui sertifikasi ini, para guru dapat termotivasi untuk meningkatkan kinerja, disiplin, dedikasi dan loyalitas untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara.

Selain itu guru juga dituntut untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui jalur pendidikan, serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelanjaran dan model pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Arif Haryono, SH melaporkan bahwa proses sertifikasi guru Kabupatyen Sleman tahun 2013 diselenggarakan di 5 LPTK, yaitu UNY Yogyakarta, Universitas Negeri Jaakarta, Universitas  Pendidikan Indonesia, Iniversitas Negeri Malang dan Universitas Megeri Semarang.

Sebanyak 725 guru mengikuti pendidikan dan latihan Profesi Guru yang berlangsung selama 10 hari di beberapa lPTK. Dari 725 guru tersebut, 675 guru dinyatakan lulus dan berhak menerima Sertifikasi Pendidik. Jumlah guru yang menerima Sertifikasi sebanyak 675 guru yang terdiri dari Guru TK, SD, SMP, SMA  dan SMK.




Pemkab Sleman Akan Hidupkan Kembali Permainan Anak Tradisional

Sleman– Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemberdayaan Perempuan (KBPMPP), akan menghidupkan kembali permainan anak tradisional dengan penyediaan sarana dan fasilitas tempat bermain.

Permainan tradisional tersebut dihidupkan kembali untuk mendukung Kabupaten Sleman menuju kabupaten layak anak.

Kepala Badan KBPMPP Sleman Nurul Hayah pada hari Minggu (6/4) mengatakan bahwa permainan tradisional akan diangkat kembali karena memberi pelajaran gotong-royong, kebersamaan, dan tenggang rasa pada anak.

Nurul Hayah mengakui bahwa sarana taman bermain anak di Sleman masih kurang. Salah satu taman bermain anak yang telah disiapkan Pemkab Sleman berada di Lapangan Denggung.

“Taman Denggung akan dikembangkan sebagai sarana ruang publik yang terpadu, baik untuk tempat bermain anak, taman anggrek dan taman lalu lintas, sehingga anak-anak dapat bermain dan belajar sekaligus,” ujar Nurul.

Penyediaan fasilitas dan kegiatan bermain anak tersebut untuk memenuhi syarat Sleman sebagai kabupaten layak anak. Nurul mengatakan kabupaten harus mampu memenuhi hak anak pada pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan seni budaya.

Selain sarana, Pemkab Sleman juga akan membuat program kegiatan yang memicu kreativitas untuk mengisi waktu luang anak. Salah satu kegiatan tersebut dapat diwadahi dalam sanggar kesenian.

Sementara untuk mewujudkan program ini, maka Badan KBPMPP akan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Dinas Dikpora.




Belasan Siswa Difabel Ikut Ujian Nasional Di Sleman

Sleman – Ujian Nasional (UN) di Kabupaten Sleman tahun 2014 ini akan diikuti belasan siswa berkebutuhan khusus atau difabel. Di tingkat SMA sederajat terdapat tujuh siswa tuna netra, lima siswa low vision di tingkat SMP, dan tiga siswa tuna rungu di tingkat SD.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sleman Arif Haryono SH, pada hari Minggu (30/3) kemarin, mengatakan penyelenggara ujian telah menyiapkan soal dengan huruf braille bagi peserta tuna netra. Sementara bagi yang low vision, font soalnya akan dibesarkan tapi materinya tetap sama.

Arif Haryono juga mengungkapkan pada peserta UN difabel akan mendapat tambahan waktu mengerjakan soal. “Mereka akan mengikuti ujian dengan tambahan waktu 45 menit,” paparnya.

Sementara itu sekolah inklusi di Kabupaten Sleman sudah melakukan banyak persiapan menghadapi UN. Misalnya di MAN Maguwoharjo yang mengaku sudah melakukan try out sebanyak enam kali.

Dari 141 peserta UN di sekolah tersebut, tujuh di antaranya merupakan tuna netra. “Ada tujuh tuna netra, lima dari jurusan IPS dan dua dari jurusan agama,” kata Alfiyah, Wakil Madrasah Bagian Humas dan Inklusi.

Alfiyah mengaku, pihak sekolah akan memberikan pendampingan secara internal. Menurutnya, tidak setiap orang bisa mendampingi siswa berkebutuhan khusus.

“Yang tahu adalah gurunya yang bersangkutan, misalnya cara membacakan soal. Tahun kemarin ada pendamping dari luar yang salah baca soal,” tutur Alfiyah.

Para peserta UN tuna netra di MAN Maguwoharjo akan mengerjakan soal di ruang yang berbeda dengan peserta lain. Hal tersebut salah satunya agar tidak mengganggu konsentrasi peserta lain saat pendamping membacakan soal




Dinas Dikpora Sleman Alokasikan Rp2,4 Miliar Untuk Selenggarakan UN

Sleman – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Sleman telah melakukan berbagai persiapan untuk pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA sederajat, akan digelar pada 14-16 April mendatang, kata Kepala Disdikpora  Kabupaten Sleman, Arif Haryono, Rabu (26/3).

Sebagai wujud komitmen dan dukungan terhadap penyelenggaraan ujian nasional di Sleman, Dinas Dikpora Kabupaten Sleman telah mengalokasikan anggaran hingga sebesar Rp2,4 miliar.

Angka ini juga termasuk anggaran untuk latihan ujian selama tiga kali untuk setiap jenjang (SD, SMP dan SMA sederajat) baik sekolah negeri maupun swasta.

Menurut Arif Haryono, Dinas Dikpora Kabupaten Sleman akan mendistribusikan soal ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA sederajat secara serentak. Distribusi akan dilakukan satu hari sebelum pelaksanaan ujian. Selain demi keamanan dan kerahasiaan, distribusi serentak dilakukan karena armada transportasi yang tersedia juga terbatas.

Arif Haryono mengatakan bahwa distribusi soal akan dilakukan secara serentak melalui kelompok kerja (pokja). Distribusi soal UN akan dilakukan sembilan pokja untuk tingkat SMK dan SMA. Arif Haryono juga menjelaskan bahwa saat ini Dinas Dikpora Kabupaten Sleman telah selesai menyiapkan data peserta dan pengawas.

Untuk jenjang SMA, jumlah peserta ujian mencapai siswa dari 56 sekolah. Para peserta UN akan mengikuti ujian di 44 sekolah karena pelaksaan UN di 12 sekolah digabungkan. Dinas Dikpora Kabupaten Sleman menyediakan 582 orang untuk mengawasi UN SMA.

Sementara untuk ujian nasional tingkat SMK akan diikuti siswa dari 54 sekolah. Namun, penyelenggara UN hanya 48 SMK. “Ujian di enam sekolah bergabung dengan sekolah lain karena belum akreditasi,” ujar Arif, dan menambahkan, sebanyak 782 orang disiapkan menjadi pengawas ujian SMK.

Persiapan UN tingkat SD dan SMP juga sudah disiapkan Dinas Dikpora Kabupaten Sleman. Jumlah peserta UN SD Sleman mencapai siswa dari 518 SD. Sementara, jumlah peserta ujian SMP mencapai siswa dari 131 sekolah. Ujian nasional tingkat SD akan digelar 19-21 Mei 2014. Sementara, UN SMP akan digelar 5-8 Mei mendatang.

Bagi peserta yang berkebutuhan khusus seperti tuna netra, Arif mengatakan penyelenggara ujian telah menyiapkan soal dengan huruf braille. Saat ini terdata sebanyak enam siswa tingkat SMA akan mengikuti ujian dengan soal huruf braille tersebut. Mereka akan mengikuti ujian dengan tambahan waktu mengerjakan soal 45 menit.

Penyelenggaraan ujian tingkat SD tahun ini telah berubah menjadi ujian sekolah. Soal ujian tidak lagi berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Arif mengatakan Dinas Pendidikan Provinsi akan menyediakan soal ujian untuk jenjang SD. “Untuk soal Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA proporsi soal ujian 25 persen dari pemerintah pusat dan 75 persen disusun daerah,” ungkapnya.




Pelajar Malaysia Belajar Budaya Ke Sleman

Sleman – Bupati Sleman Sri Purnomo menerima kunjungan 12 siswa SMK (Sekolah Menengah Kebangsaan) Bukit Kayu Hitam dan SMK Pulau Nyior Kedah Darul Aman Malaysia, hari Selasa (25/3), di rumah dinas bupati.

Para pelajar Malaysia tersebut didampiing oleh Kepala Sekolah Hjh. Siti Aminah serta sembilan guru kelas. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan karena sebelumnya siswa SMP Muhammadiyah 3 Depok juga telah berkunjung ke Sekolah Malaysia.

Sebelumnya, para pelajar dari Malaysia ini telah diterima di SMP Muhammadiyah 3 Depok sejak tanggal 23 Maret dan menurut rencana akan tinggal sampai 28 Maret. Selama tinggal di Sleman, para pelajar Malaysia tinggal di rumah dua orang wali siswa dan empat orang guru dan karyawan.

Berbagai rangkaian kegiatan sudah mereka ikuti. Semenjak hari Senin (24/3), para pelajar dari Malaysia tersebut juga telah mengikuti pembelajaran di SMP Muhammadiyah 3 Depok. Materi pembelajaran yang disampaikan tentang budaya Jawa, kegiatan membatik dan kegiatan pengenalan budaya Indonesia.

Para pelajar dari Malaysia juga telah mengikuti perjalanan pendidikan ke sekolah-sekolah lain dan berkunjung Wisata Budaya Kraton Yogyakarta, Kebun Binatang Gembiro Loka, Masjid Besar Kauman dan menyaksikan panggung Ramayana.

Selanjutnya juga akan mengikuti acara talk show pendidikan dengan lima pembicara dari lima negara, yaitu Cina, Mesir, Ubekistan, Malaysia dan Indonesia, hasil kerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan. Selain itu, dalam acara tersebut juga akan dilakukan performance art dari masing-masing negara.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menyampaikan pentingnya diplomasi publik di era globalisasi. Menurutnya, diplomasi tradisional yang melibatkan komunikasi antar pemerintah (antar diplomat) dan antar negara memang penting, namun akan lebih efektif bila juga melibatkan peran serta warga negara.

“Kini, Indonesia termasuk negara yang sedang giat membangun diplomasi publik yang elegan yang mensinergikan antara perwakilan RI di luar negeri dengan seluruh WNI yang sedang berada di luar negeri,” katanya.

Menurutnya, salah satu bentuk diplomasi publik yang jitu dan terbukti ampuh adalah diplomasi budaya dan kuliner. “Melalui budaya dapat terjadi pertukaran ide, gagasan dan nilai sehingga informasi lebih mudah diterima,” ujarnya.

Ditambahkan, cakupan diplomasi budaya juga sangat luas meliputi bidang seni, olahraga, pendidikan dan lagi perjalanan langsung Yogyakarta – Malaysia hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam sehingga ini memudahkan jalinan kerjasama di berbagai bidang.

Dalam penerimaan kunjungan ini beberapa siswa SMP Muhammadiyah 3 Depok menampilkan kesenian tari Taledok yang menggambarkan aktivitas petani yang sedang mengayak beras.

Para pelajar Malaysia menampilkan akustik serta Lagu Pendidikan Cemerlang Kedah Gemilang dari Siswa Kedah yang dinyanyikan setiap pagi sebelum kelas dimulai untuk menaikan semangat para pelajar. Acara diakhiri dengan tukar menukar cinderamata.