Perkamuda MA DIY 2026 Resmi Ditutup, Perkuat Karakter dan Kepemimpinan Generasi Madrasah

Sleman — Perkemahan Murid Madrasah (Perkamuda) Madrasah Aliyah (MA) DIY Tahun 2026 resmi berakhir pada Rabu (23/9/2026). Sebanyak 456 murid MA se-DIY mengikuti rangkaian kegiatan yang tidak hanya mengasah keterampilan dan jiwa kompetitif, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, serta karakter kepemimpinan.

Penutupan Perkamuda ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Sidik Pramono. Dalam sambutannya, Sidik menegaskan bahwa kegiatan kepramukaan di madrasah memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkarakter dan mandiri.

Selama perkemahan, peserta mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan dan perlombaan. Mereka juga terlibat dalam aktivitas kelompok yang menuntut kedisiplinan, kerja sama, kemandirian, dan tanggung jawab. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang diharapkan dapat membekali peserta dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurut Sidik, Perkamuda tidak sekadar menjadi ajang berkumpul dan berkompetisi, tetapi juga merupakan bagian dari proses pendidikan karakter di lingkungan madrasah.

Ia menyampaikan empat pesan utama kepada para peserta. Pertama, menjaga integritas iman dan nasionalisme. Kedua, membangun keterampilan dan kemandirian. Ketiga, menumbuhkan semangat moderasi beragama dan kepedulian sosial. Keempat, membangun karakter melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

“Dalam pelaksanaannya, kegiatan perkemahan madrasah tetap melaksanakan kewajiban salat dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta rasa nasionalisme,” ungkapnya.

Terkait Kurikulum Berbasis Cinta, Sidik menekankan pentingnya menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, ilmu pengetahuan, diri sendiri, sesama, serta alam.

“Terbangunnya karakter yang berdasar Kurikulum Berbasis Cinta agar senantiasa disebarluaskan sehingga terbangun di lingkungan sekitar akan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya makin meningkat, kecintaan terhadap ilmu, diri sendiri dan sesama, dan kecintaan terhadap alam,” jelas Sidik.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama Perkamuda tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Para peserta diharapkan mampu menjadi duta pramuka yang membawa dan membagikan praktik baik di madrasah maupun lingkungan sekitar, khususnya dalam membangun toleransi, moderasi beragama, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan.

“Pramuka madrasah harus mampu melahirkan generasi muda yang berkarakter, mandiri, kreatif, inovatif, berdedikasi, memiliki akhlak dan budi pekerti luhur, tanggung jawab, kepedulian sosial, moderasi beragama serta cinta lingkungan,” pesan Sidik.

Pada penutupan Perkamuda MA DIY 2026 turut diumumkan para juara dari berbagai cabang lomba dan kontingen terbaik. Dari 14 cabang lomba yang dipertandingkan, Kontingen MA Kabupaten Sleman menduduki peringkat pertama, disusul Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Kulon Progo.

Menutup sambutannya, Sidik mengingatkan bahwa semangat berprestasi tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses dan usaha yang dilakukan.

“Prestasi bukan hanya tentang siapa yang berada di urutan pertama, tetapi tentang siapa yang terus berusaha memberikan yang terbaik. Terus berkarya, terus berprestasi dan terus menginspirasi. Pramuka Madrasah Istimewa, berkarakter tangguh berbasis cinta,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara)




Market Day TK Ibnul Qayyim Kenalkan Wirausaha Sejak Dini

Sleman — Taman Kanak-Kanak (TK) Ibnul Qayyim Gandu, Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, mengenalkan dunia kewirausahaan kepada siswa melalui kegiatan Market Day. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis (23–24/9/2026), di halaman TK Ibnul Qayyim Gandu.

Kepala TK Ibnul Qayyim, Ryska Erliansyah mengatakan Market Day merupakan salah satu program pembelajaran yang dirancang untuk mengenalkan siswa pada aktivitas jual beli secara sederhana. Dalam kegiatan tersebut, siswa berperan sebagai penjual dan pembeli secara bergantian.

“Dengan kegiatan Market Day, anak dibiasakan untuk bertransaksi, berinteraksi, serta mengenal bidang kewirausahaan sejak dini,” ujar Ryska.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal pecahan uang serta melakukan transaksi secara sehat dan bertanggung jawab. Melalui proses jual beli, siswa sekaligus belajar berhitung, khususnya penjumlahan dan pengurangan, serta mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kemandirian.

Ryska menjelaskan, Market Day dilaksanakan khusus antarsiswa untuk melatih kemandirian. Siswa yang bertugas sebagai penjual dan pembeli dilakukan secara bergantian dengan pendampingan guru.

Orang tua tidak diperkenankan terlibat langsung dalam transaksi jual beli. Namun, orang tua tetap dapat membantu menyiapkan barang dagangan, tempat berjualan, serta menghias area jualan agar lebih menarik bagi siswa.

Salah satu guru TK Ibnul Qayyim, Dwi Janah mengatakan kegiatan Market Day dibagi dalam dua hari dengan pembagian kelas yang berbeda. Pada Rabu, siswa kelas B2, B3, dan B4 bertugas sebagai penjual. Sementara pada Kamis, giliran siswa kelas A1, A2, dan B1 yang menjadi penjual.

Siswa yang bertugas sebagai penjual menyiapkan lima makanan sehat untuk dijual dengan harga per buah. Sementara siswa yang bertugas sebagai pembeli membawa lima lembar uang pecahan untuk digunakan dalam transaksi.

“Harapannya, kegiatan Market Day akan menjadi pengalaman dan kenangan yang berkesan bagi anak-anak di masa kecilnya,” ungkap Dwi.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam mengenal aktivitas ekonomi sederhana. Selain mengenalkan konsep jual beli, Market Day juga mendorong siswa untuk belajar berkomunikasi, berhitung, bekerja sama, dan bertanggung jawab sejak dini. (Kusnadi KIM Berbah)




KHP UNY Perkuat Keprotokolan Insan Pendidikan

Sleman – Kantor Humas dan Protokol (KHP) Universitas Negeri Yogyakarta memperkuat pemahaman keprotokolan bagi insan pendidikan melalui kegiatan berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai pengelolaan kegiatan resmi, pelayanan, serta peran protokol dalam membangun citra lembaga di SMP Negeri 4 Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (23/9/2026).

Kepala KHP UNY, Basikin, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari peran KHP UNY dalam berbagi pengalaman praktis mengenai kehumasan dan keprotokolan kepada lingkungan pendidikan.

Menurutnya, pemahaman keprotokolan perlu dibangun melalui pengalaman nyata agar peserta dapat menerapkannya dalam penyelenggaraan kegiatan kelembagaan.

“Kami hadir bukan sebagai dosen, tetapi sebagai tim dari Kantor Humas dan Protokol UNY yang berbagi pengalaman praktik kehumasan dan keprotokolan,” jelasnya.

Menurutnya, keprotokolan tidak hanya berkaitan dengan tata pelaksanaan acara resmi, tetapi juga menjadi bagian dari cara lembaga memberikan pelayanan dan menampilkan profesionalitasnya. Pengelolaan kegiatan yang tertib, mulai dari penerimaan tamu hingga pelaksanaan acara, turut membentuk persepsi masyarakat terhadap sebuah institusi.

Kepala SMP Negeri 4 Depok, Slamet Riyadi, mengatakan bahwa keprotokolan memiliki hubungan erat dengan pelayanan lembaga pendidikan kepada masyarakat. Menurutnya, pelayanan yang baik perlu didukung dengan pengelolaan kegiatan yang terencana dan sesuai tata kelola.

“Kepala sekolah sangat concern dengan pelayanan. Bagaimana sekolah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, itu akan terwadahi dalam sebuah yang namanya protokol,” ujarnya.

Riyadi menjelaskan, keprotokolan menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung kelancaran kegiatan kelembagaan. Tata penerimaan tamu, pengaturan acara, hingga penghormatan dalam kegiatan resmi perlu dikelola dengan baik agar mencerminkan profesionalitas lembaga.

Dalam kegiatan tersebut, KHP UNY memberikan penguatan mengenai penerapan keprotokolan dalam berbagai kegiatan resmi, termasuk tata pelaksanaan upacara, pengaturan tempat, alur acara, serta pentingnya koordinasi antarunsur yang terlibat.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai bagaimana protokol dapat menjadi bagian dari upaya menjaga citra dan marwah lembaga melalui pelayanan yang tertib, tegas, namun tetap humanis.

Kegiatan yang diikuti perwakilan guru dan tenaga kependidikan dari sejumlah sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi, evaluasi, dan penyusunan tindak lanjut.

Melalui kegiatan tersebut, KHP UNY berharap insan pendidikan semakin memahami peran strategis keprotokolan sebagai bagian dari pelayanan publik dan representasi lembaga, sehingga setiap kegiatan resmi dapat berlangsung lebih tertib, profesional, dan berkesan bagi masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Ciptakan Campaign Board, Mahasiswa UNY Gaungkan Kesadaran Hidup Sehat di MAN 4 Sleman

Sleman — Pembelajaran Bahasa Inggris di MAN 4 Sleman dikemas secara kreatif melalui tema “Healthy Life, Healthy Future”. Siswa kelas XI A diajak mengembangkan kemampuan menulis descriptive text sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut dipandu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nur’aini Kholisa Sa’idah, di bawah bimbingan guru pamong MAN 4 Sleman, Edy Suparyanto, Selasa (22/9/2026).

“Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan menulis, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran pola hidup sehat sejak usia remaja,” ujar Nur’aini Kholisa Sa’idah.

Menurutnya, pembelajaran tersebut juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang kehidupan sehat dan kesejahteraan (Good Health and Well-being) serta SDG 4 tentang pendidikan berkualitas (Quality Education).

Pembelajaran menggunakan Genre-Based Approach (GBA), yakni pendekatan yang membimbing siswa memahami, menyusun, hingga menghasilkan teks secara bertahap. Setelah mempelajari karakteristik dan unsur kebahasaan descriptive text, siswa mengaplikasikan pemahamannya melalui topik makanan dan minuman sehat.

Pada tahap Joint Construction of the Text (JCOT), sebanyak 35 siswa dibagi menjadi 12 kelompok untuk berkolaborasi menyusun teks deskriptif. Nur’aini berperan sebagai fasilitator yang mendampingi siswa dalam mengembangkan ide, memperbaiki tata bahasa, hingga mengolah hasil tulisan menjadi karya visual.

Hasil karya tersebut kemudian dirangkai menjadi Campaign Board bertajuk “Healthy Life, Healthy Future”. Media visual ini memuat berbagai deskripsi mengenai makanan dan minuman sehat karya siswa. Kegiatan tersebut sekaligus mengintegrasikan literasi bahasa dengan literasi kesehatan dalam proses pembelajaran.

Salah satu siswa kelas XI A, Khaula, mengaku antusias mengikuti pembelajaran kolaboratif tersebut.

“Belajar Bahasa Inggris kali ini terasa lebih seru dan berbeda karena kami bisa berdiskusi membuat Campaign Board bersama teman-teman. Selain melatih kemampuan menulis descriptive text, kami juga makin paham pentingnya memilih makanan dan minuman sehat untuk kegiatan sehari-hari,” ungkapnya.

Guru pamong MAN 4 Sleman, Edy Suparyanto mengapresiasi inovasi pembelajaran yang diterapkan tersebut. Menurutnya, siswa menjadi lebih antusias karena materi Bahasa Inggris tidak hanya dipelajari secara teoritis, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata dan memberikan manfaat. Apalagi disampaikan oleh mahasiswa yang usianya tidak terpaut jauh dengan siswa, sehingga komunikasi dan penyampaian materi menjadi lebih dekat,” jelas Edy.

Nur’aini berharap Campaign Board yang dihasilkan siswa tidak berhenti sebagai tugas pembelajaran di kelas, tetapi dapat menjadi media edukasi bagi warga sekolah.

“Kehadiran Campaign Board ini membuat hasil pembelajaran tidak berhenti sebagai tugas kelas saja, tetapi menjadi media edukasi untuk menyampaikan pesan pilihan hidup sehat kepada seluruh lingkungan sekolah,” tuturnya.

Nur’aini melaksanakan PK di MAN 4 Sleman selama 10 minggu atau sekitar 2,5 bulan dan mengajar di empat kelas. Selain melaksanakan praktik mengajar, ia juga terlibat dalam berbagai tugas lain dalam pengelolaan madrasah sebagaimana yang dilakukan oleh guru.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PK UNY menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan kompetensi akademik dengan kebutuhan nyata siswa. Pembelajaran yang kontekstual dan kolaboratif diharapkan dapat mendukung pendidikan berkualitas sekaligus mendorong terbentuknya generasi muda yang memiliki kesadaran terhadap pola hidup sehat.

(Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Perkamuda DIY Jenjang Aliyah 2026 Semai Karakter dan Kemandirian Murid Madrasah

Sleman — Sebanyak 456 murid dari 34 Madrasah Aliyah (MA) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Perkemahan Pramuka Murid Madrasah Daerah Istimewa Yogyakarta (Perkamuda DIY) Jenjang Aliyah Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari, Depok, Sleman, pada (21–24/9/2026).

Perkamuda diselenggarakan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kementerian Agama DIY bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY. Kegiatan ini menjadi ruang bagi murid madrasah untuk mengembangkan kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap sesama melalui pengalaman di alam terbuka.

“Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman kepramukaan, tetapi juga melatih kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, saat membuka kegiatan, Senin (21/9/2026).

Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong, pelepasan merpati, serta penyematan tanda peserta kepada perwakilan peserta putra dan putri. Ahmad Bahiej didampingi Kabid Pendidikan Madrasah Sidik Pramono serta Kabid Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Anita Isdarmini.

Perkamuda 2026 diikuti 57 sangga yang terdiri atas 28 sangga putra dengan 224 peserta dan 29 sangga putri dengan 232 peserta. Kegiatan mengusung tema “Perkamuda DIY Jenjang Aliyah Istimewa dengan KBC”. Istimewa merupakan akronim dari Berintegritas, Sportif, Tangguh, Inovatif, Mandiri, Empati, dan berWawasan, sedangkan KBC merujuk pada Kurikulum Berbasis Cinta.

Selama perkemahan, peserta mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan menantang yang mendorong pengembangan potensi diri sekaligus penerapan nilai-nilai kepramukaan. Selain itu, kegiatan menjadi sarana mempererat persaudaraan antarmadrasah melalui interaksi, kerja kelompok, pertukaran pengalaman, dan pembelajaran menghargai perbedaan.

Melalui Perkamuda DIY 2026, nilai-nilai yang diperoleh selama perkemahan diharapkan dapat diterapkan peserta dalam kehidupan sehari-hari, baik di madrasah maupun di lingkungan masyarakat.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)