Dorong Literasi Digital Sejak Dini, SMP Mugadeta Gelar Workshop Coding untuk Guru dan Siswa SD/MI

Sleman – SMP Muhammadiyah 3 Depok (SMP Mugadeta) Yogyakarta menggelar Workshop Coding di kompleks sekolah setempat pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang diikuti 62 peserta dari unsur guru dan siswa SD/MI se-Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian gelaran ROBOGIM 2026 (Robotic & Gema Islami Mugadeta).

Workshop ini diselenggarakan untuk mendorong literasi digital dan mengasah kemampuan berpikir komputasional (computational thinking) generasi muda sejak dini, sekaligus menjadi wujud program Bakti Pendidikan SMP Mugadeta sebagai sekolah berbasis digital.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Program Digital SMP Mugadeta, Ary Gunawan, menegaskan pentingnya membekali peserta didik agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan mampu menjadi pencipta karya berbasis digital.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin belajar dan bertumbuh bersama. SMP Mugadeta sebagai sekolah digital berupaya mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam literasi digital dan coding,” kata Ary Gunawan.

Sesi bimbingan teknis menghadirkan Direktur CORE Academy, Eko Priyantoro, yang memandu para peserta mulai dari pemahaman konsep coding tingkat dasar hingga praktik langsung menyusun logika pemrograman untuk menghasilkan proyek sederhana.

Karya berbasis teknologi yang dihasilkan oleh para peserta dalam workshop ini nantinya dapat dikembangkan lebih lanjut untuk diikutsertakan dalam ajang perlombaan dan apresiasi ROBOGIM 2026. Melalui program ini, SMP Mugadeta berkomitmen memperkuat ekosistem pembelajaran digital berbasis karakter Islami guna menyiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. (Athiful/KIM Depok)




Belajar Sambil Bereksplorasi, Outing Class PAUD-TK Pencarsari Tumbuhkan Kemandirian Anak

Sleman — Sebanyak 36 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Pencarsari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengikuti kegiatan outing class di Suraloka Zoo, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang didampingi sembilan guru tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas dengan mengutamakan pengalaman langsung bagi anak usia dini.

Suraloka Zoo dipilih karena lokasinya relatif dekat, memiliki beragam satwa, termasuk satwa langka, serta menawarkan fasilitas yang dinilai aman dan nyaman dengan harga tiket terjangkau. Selama kegiatan, anak-anak juga mendapatkan pendampingan dari pengelola sehingga proses belajar berlangsung menyenangkan dan terarah.

Kepala PAUD-TK Pencarsari, Suharini mengatakan outing class penting bagi anak usia dini karena mereka berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan pengalaman konkret.

“Outing class itu penting karena saat ini usia emas, jadi mereka harus mengerti secara langsung. Mereka bisa berinteraksi secara nyata, tidak hanya melihat dalam video atau gambar,” ujar Suharini.

Menurutnya, pembelajaran secara langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, mengenali, dan memahami lingkungan di sekitarnya. Kunjungan ke kebun binatang, misalnya, dapat mengenalkan berbagai jenis satwa sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap alam.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi guru untuk menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan pengalaman nyata. Anak tidak hanya menerima informasi secara lisan, tetapi dapat melihat dan mengamati langsung objek yang dipelajari sesuai dengan tahap perkembangannya.

Suharini menjelaskan, outing class berbeda dengan kegiatan wisata bersama keluarga. Meskipun sama-sama dilakukan di luar sekolah, outing class merupakan bagian dari proses pembelajaran dengan tujuan yang telah ditentukan.

“Kalau outing class itu termasuk kegiatan belajar mengajar, secara waktu terbatas, dan ada tujuan yang ingin dicapai. Kalau wisata itu bersama orang tuanya,” jelasnya.

Selain memperoleh pengetahuan baru, anak juga dilatih untuk belajar mandiri selama mengikuti kegiatan. Mereka belajar mengikuti arahan guru, menjaga ketertiban, berinteraksi dengan teman, serta beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa selalu bergantung kepada orang tua.

“Manfaat jangka panjangnya mereka menjadi lebih percaya diri, berani di luar, berani tanpa orang tuanya,” tambah Suharini.

Menurut Suharini, pelaksanaan outing class perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Guru perlu menyiapkan tujuan pembelajaran, menentukan lokasi yang aman dan nyaman, memperhatikan jumlah pendamping serta durasi kegiatan, dan memastikan anak memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Dengan perencanaan dan pendampingan yang tepat, pembelajaran di luar kelas tidak hanya menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal lingkungan, menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih kemandirian, serta membangun kepercayaan diri.

Kegiatan outing class PAUD-TK Pencarsari di Suraloka Zoo menunjukkan bahwa pembelajaran anak usia dini dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Mahasiswi UNY Bekali Siswa SMK Muhammadiyah 2 Moyudan Praktik Bertelepon Hadapi Dunia Kerja

Sleman – Kemampuan berkomunikasi secara efektif menjadi salah satu keterampilan penting bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai bekal memasuki dunia kerja. Hal tersebut diterapkan dalam pembelajaran praktik bertelepon yang diikuti siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Moyudan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selama menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMK Muhammadiyah 2 Moyudan. Salah satu mahasiswa yang terlibat, Darwika Dyah, menyampaikan hal tersebut pada Kamis (17/9/2026).

Dalam praktik tersebut, siswa berlatih berkomunikasi melalui telepon dalam situasi yang disimulasikan menyerupai lingkungan kerja. Siswa berpasangan dan mempraktikkan tahapan komunikasi, mulai dari membuka percakapan, menyampaikan informasi, menerima dan mencatat pesan, hingga mengakhiri pembicaraan dengan bahasa yang sopan dan profesional.

Simulasi tersebut dirancang untuk memberikan gambaran kepada siswa mengenai pentingnya etika, ketepatan penyampaian informasi, serta sikap dalam berkomunikasi melalui telepon. Mahasiswa turut memberikan arahan dan melakukan penilaian terhadap praktik siswa, dengan pendampingan dari guru pengampu.

Melalui pembelajaran berbasis praktik, siswa dapat memperoleh pengalaman secara langsung sekaligus mengetahui aspek komunikasi yang telah dikuasai maupun yang masih perlu diperbaiki. Setelah praktik, siswa mengikuti refleksi untuk mengulas kembali materi dan pengalaman yang diperoleh.

Refleksi tersebut menekankan bahwa komunikasi melalui telepon tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga mencakup kemampuan mendengarkan, mencatat informasi, memilih kata yang tepat, serta mengakhiri percakapan secara santun.

Hasil penilaian menunjukkan siswa dapat mengikuti praktik dengan baik. Guru MPLB SMK Muhammadiyah 2 Moyudan, Ikhsan, memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut karena dinilai memberikan pengalaman yang relevan sebagai bekal siswa sebelum mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL).

“Menurut saya, kegiatan ini bagus untuk siswa. Mereka bisa langsung belajar dan mempraktikkan cara berkomunikasi melalui telepon sebagai bekal untuk terjun ke praktik kerja lapangan,” ujar Ikhsan.

Kegiatan tersebut sekaligus mendukung pembelajaran yang aktif dan kontekstual dengan mendorong siswa menerapkan materi secara langsung serta membangun kepercayaan diri dalam situasi komunikasi formal.

Pembelajaran ini sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas dan Tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Melalui praktik tersebut, siswa diharapkan mampu menerapkan keterampilan dan etika berkomunikasi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika menjalani PKL dan memasuki dunia kerja. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Dari Penjuru Nusantara ke Kampus Desa, SIKAM APMD Bekali Mahasiswa Baru dengan Nilai Integritas

Sleman – Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta membekali mahasiswa baru dengan nilai integritas, antinarkoba, dan antikekerasan melalui Sosialisasi Internal Kampus (SIKAM), 17–19 September 2026.

Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STPMD “APMD”, Tri Agus Susanto Siswowiharjo mengatakan SIKAM menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan kampus, dosen, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, serta membangun relasi dengan sesama mahasiswa.

Mahasiswa baru STPMD “APMD” berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatera, hingga Jawa. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari karakter kampus yang menempatkan desa sebagai perspektif utama pendidikan.

“APMD dikenal sebagai Kampus Desa. Kampus ini mencetak sarjana rakyat sehingga mereka tahu di mana harus berpihak,” ujar Tri Agus.

Menurutnya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir, kepemimpinan, kerja sama, dan kepekaan sosial melalui organisasi kemahasiswaan maupun keterlibatan di masyarakat.

Salah satu agenda utama SIKAM adalah Gelar Wicara Pendidikan Karakter bertema “Antinarkoba, Antikorupsi, dan Antikekerasan” di Gedung Ganesha, Kamis (17/9/2026). Kegiatan menghadirkan tiga dosen STPMD “APMD”, yakni Condro Dewi Puspita Sari, Hery Purnomo, dan Diasma Sandi Swandaru.

Dalam sesi antinarkoba, Hery Purnomo mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan dan tidak mudah tergiur tawaran yang dapat menjerumuskan pada penyalahgunaan narkotika.

“Waspada dan berhati-hatilah karena sekali terjerat, masa depanmu dipertaruhkan,” ujarnya.

Sementara itu, Condro Dewi Puspita Sari menjelaskan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berbentuk verbal, psikologis, seksual, diskriminasi, perundungan, dan intoleransi.

Ia menyebut STPMD “APMD” telah memiliki satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan yang dapat menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk melaporkan tindakan kekerasan.

“Jika ada yang merasa mengalami pelecehan atau kekerasan, silakan mengadukannya kepada Satgas. Identitas pelapor dijamin kerahasiaannya,” katanya.

Pada sesi antikorupsi, Diasma Sandi Swandaru mengajak mahasiswa memahami bahwa status sebagai mahasiswa membawa tanggung jawab yang lebih besar, baik terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan akademik, maupun masyarakat.

Menurutnya, integritas dapat dibangun dari kebiasaan sederhana, seperti menolak titip presensi, menghindari plagiarisme dan kecurangan akademik, mengerjakan tugas secara mandiri, serta menjaga fasilitas bersama.

“Pendidikan antikorupsi harus dimulai dari kemampuan membedakan mana kepentingan publik dan mana kepentingan pribadi,” katanya.

Diasma juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk mencapai tujuan, termasuk menggunakan jasa pembuatan karya akademik. Menurutnya, integritas harus dibangun sejak bangku kuliah melalui kejujuran dan tanggung jawab.

Selain gelar wicara, rangkaian SIKAM diisi pengenalan organisasi mahasiswa, tur kampus, kunjungan stan organisasi, pentas seni, serta kegiatan kebersamaan mahasiswa baru.

Bagi STPMD “APMD”, SIKAM menjadi momentum awal untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus menanamkan nilai yang diharapkan menjadi bagian dari kehidupan mereka selama menjalani pendidikan.

Menjadi mahasiswa tidak hanya berarti memperoleh kebebasan yang lebih luas, tetapi juga memikul tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, kampus, masyarakat, dan masa depan bangsa. (Wasana/KIM Depok)




SD Negeri Perumnas 3 Perkuat Pendampingan Anak Era Digital

Sleman – SD Negeri Perumnas 3 memperkuat peran orang tua dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah perkembangan teknologi digital.

Pesan tersebut disampaikan Dosen PGSD UAD, Suyitno saat menjadi pemateri kegiatan Parenting SD Negeri Perumnas 3, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan yang diikuti sebanyak 42 peserta yang terdiri atas guru dan wali murid ini bertema “Orang Tua Bijaksana, Anak Tumbuh Istimewa di Era Digital yang Berwarna”.

Dalam pemaparannya, Suyitno mengajak orang tua hadir secara aktif dalam proses pendidikan anak.

“Peran tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga mendampingi belajar, memberikan motivasi, membangun komunikasi, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menurutnya, pendampingan belajar perlu dibangun secara bersama antara sekolah dan keluarga. Pembelajaran yang dilakukan guru di sekolah perlu mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah agar proses pendidikan berlangsung secara berkelanjutan.

“Orang tua perlu hadir dalam proses pendidikan anak. Pendampingan, komunikasi, motivasi, dan keteladanan menjadi bagian penting dalam membantu anak tumbuh dan belajar secara optimal,” jelasnya.

Perkembangan penggunaan gawai juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Suyitno mendorong orang tua mendampingi anak menggunakan teknologi secara bijak. Pendekatan tidak semata-mata melalui larangan, tetapi melalui komunikasi, pengawasan, dan pemahaman mengenai penggunaan teknologi sesuai kebutuhan anak.

Kepala SD Negeri Perumnas 3, Maksum Widodo mengajak guru dan wali murid membangun kebersamaan dalam mendampingi proses belajar. Menurutnya, sekolah dan keluarga memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung perkembangan anak.

Kegiatan parenting tersebut menjadi momentum memperkuat komunikasi antara guru dan wali murid. Keselarasan pendampingan di sekolah dan rumah diharapkan membentuk lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan akademik sekaligus karakter anak.

Pendidikan anak, lanjutnya, tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendampingan juga diperlukan agar anak tumbuh menjadi pribadi berilmu, berkarakter, berprestasi, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. (Athiful/KIM Depok)