Sleman – Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta membekali mahasiswa baru dengan nilai integritas, antinarkoba, dan antikekerasan melalui Sosialisasi Internal Kampus (SIKAM), 17–19 September 2026.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni STPMD “APMD”, Tri Agus Susanto Siswowiharjo mengatakan SIKAM menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan kampus, dosen, tenaga kependidikan, organisasi mahasiswa, serta membangun relasi dengan sesama mahasiswa.
Mahasiswa baru STPMD “APMD” berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatera, hingga Jawa. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari karakter kampus yang menempatkan desa sebagai perspektif utama pendidikan.
“APMD dikenal sebagai Kampus Desa. Kampus ini mencetak sarjana rakyat sehingga mereka tahu di mana harus berpihak,” ujar Tri Agus.
Menurutnya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir, kepemimpinan, kerja sama, dan kepekaan sosial melalui organisasi kemahasiswaan maupun keterlibatan di masyarakat.
Salah satu agenda utama SIKAM adalah Gelar Wicara Pendidikan Karakter bertema “Antinarkoba, Antikorupsi, dan Antikekerasan” di Gedung Ganesha, Kamis (17/9/2026). Kegiatan menghadirkan tiga dosen STPMD “APMD”, yakni Condro Dewi Puspita Sari, Hery Purnomo, dan Diasma Sandi Swandaru.
Dalam sesi antinarkoba, Hery Purnomo mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan dan tidak mudah tergiur tawaran yang dapat menjerumuskan pada penyalahgunaan narkotika.
“Waspada dan berhati-hatilah karena sekali terjerat, masa depanmu dipertaruhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Condro Dewi Puspita Sari menjelaskan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berbentuk verbal, psikologis, seksual, diskriminasi, perundungan, dan intoleransi.
Ia menyebut STPMD “APMD” telah memiliki satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan yang dapat menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk melaporkan tindakan kekerasan.
“Jika ada yang merasa mengalami pelecehan atau kekerasan, silakan mengadukannya kepada Satgas. Identitas pelapor dijamin kerahasiaannya,” katanya.
Pada sesi antikorupsi, Diasma Sandi Swandaru mengajak mahasiswa memahami bahwa status sebagai mahasiswa membawa tanggung jawab yang lebih besar, baik terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan akademik, maupun masyarakat.
Menurutnya, integritas dapat dibangun dari kebiasaan sederhana, seperti menolak titip presensi, menghindari plagiarisme dan kecurangan akademik, mengerjakan tugas secara mandiri, serta menjaga fasilitas bersama.
“Pendidikan antikorupsi harus dimulai dari kemampuan membedakan mana kepentingan publik dan mana kepentingan pribadi,” katanya.
Diasma juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menggunakan cara-cara yang tidak jujur untuk mencapai tujuan, termasuk menggunakan jasa pembuatan karya akademik. Menurutnya, integritas harus dibangun sejak bangku kuliah melalui kejujuran dan tanggung jawab.
Selain gelar wicara, rangkaian SIKAM diisi pengenalan organisasi mahasiswa, tur kampus, kunjungan stan organisasi, pentas seni, serta kegiatan kebersamaan mahasiswa baru.
Bagi STPMD “APMD”, SIKAM menjadi momentum awal untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus menanamkan nilai yang diharapkan menjadi bagian dari kehidupan mereka selama menjalani pendidikan.
Menjadi mahasiswa tidak hanya berarti memperoleh kebebasan yang lebih luas, tetapi juga memikul tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, kampus, masyarakat, dan masa depan bangsa. (Wasana/KIM Depok)