Sleman Lakukan Konservasi Dan Revitalisasi Sumber Air

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI direncanakan akan mencanangkan Hari Air Dunia bersamaan dengan puncak peringatan Hari Air Dunia tingkat DIY yang akan dilaksanakan di embung Kaliaji Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, pada tanggal 22 Maret 2014 mendatang.

“Untuk mengawali peringatan hari air dunia ini sudah dilakukan beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat seperti bersih-bersih sungai dan irigasi,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Sapto Winarno  di Pres Room Pemkab Sleman, Rabu (19/3).

Dikatakan Sapto, peringatan hari air dunia ini juga diharapkan partisipasi masyarakat Sleman dalam melakukan konservasi air. Apalagi keberadaan Kabupaten Sleman yang berada di lereng Merapi dan menjadi daerah hulu di DIY ini sangat diharapkan konservasi airnya agar kebutuhan air di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul masih bisa dicukupi dari Kabupaten Sleman.

Menurut Sapto,  saat ini kondisi dan kualitas air di Sleman masih tergolong bagus dibanding daerah lain di DIY. Sebab, air di Sleman diambil dari sumber mata air langsung. Hanya saja, lanjutnya, yang perlu diantisipasi adalah kondisi air di tahun-tahun mendatang.

“Kalau saat ini tidak dilakukan konservasi, maka di masa mendatang tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi kualitas air, apalagi di atas kena erupsi Merapi dan hutan-hutan kering maka hal ini perlu diantisipasi,” tambah Sapto.

Sapto juga menghimbau agar hotel-hotel di Sleman menggunakan air dari PDAM sebagai salah satu upaya mendukung konservasi air di Sleman.




KPU Sleman Datangkan 4.000 Template Braille DPD

211_20140317114039

Sleman – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman telah mendatangkan template braille untuk surat suara Daerah Perwakilan Daerah (DPD). Template braille tersebut dimaksudkan agar tepat sasaran dan penggunaannya.

“Sebanyak template braille tersebut nantinya akan didistribusikan ke PPK dan PPS untuk diteruskan ke TPS,” demikian antara lain disampaikan Anggota KPU Divisi Logistik, Keuangan, Rumah Tangga dan Umum KPU Sleman, Aswino Wardhana SIP di KPU Sleman, Selasa (18/3).

Menurut Aswino, template braille itu agar tepat sasaran dan penggunaannya, maka KPU Sleman terus melakukan koordinasi untuk mengetahui TPS mana saja yang ada difabelnya.

“Semua akan didata, tidak hanya tuna netra. Tapi juga tuna rungu, daksa, wicara dan lainnya. Mereka kami berikan kesempatan yang sama untuk menggunakan hak suaranya. Semua kami beri kebebasan untuk memilih minta ditemani siapa, ketika berada di bilik suara. Apakah petugas atau saudara,” kata Aswino.

Berdasarkan data yang diperoleh KPU, di Kabupaten Sleman sendiri terdapat 119 pemilih tuna netra, 112 tuna daksa, 125 tuna grahita, 72 tuna rungu, dan penyandang disabilitas lainnya ada 46 pemilih.

“Mereka juga sebagai warga negara sehingga juga memiliki hak yang sama untuk menyalurkan suaranya pada Pemilu 9 April nanti,” tutur Aswino.




Sleman Tetapkan Tegaltirto Menjadi Desa Siaga Bencana

Sleman – Bertepatan dengan peresmian gardu siaga bencana di Dusun Kadisobo, Desa Tegal Tirto, Kecamatan Berbah pada hari Sabtu (15/3), Bupati Sleman Sri Purnomo juga menetapkan Desa Tegaltirto sebagai salah satu Desa Siaga Bencana di Kabupaten  Sleman.

Gardu siaga bencana tersebut merupakan bantuan dari Dinas Sosial Pemerintah Daerah DIY.

Dalam laporannya, Kades Tegaltirto, Susilo Nugroho, menyampaikan bahwa pembangunan gardu siaga bencana ini dilakukan selama 1 bulan secara gotong royong masyarakat dusun Kadisobo, sedangkan untuk tanah disediakan oleh Pemerintah Desa Tegaltirto.

Sebelum diresmikan, gardu siaga bencana ini telah dimanfaatkan oleh warga untuk kegiatan tumbuh kembang anak, kegiatan lansia dan juga untuk kegiatan sosialisasi antisipasi bencana.

Menurut Kepala Dinas Sosial Pemerintah DIY, Untung Sukaryadi, bantuan gedung ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga masyarakat. Ia juga berharap agar gedung ini jangan sampai mangkrak, dan juga setiap hari ada yang piket di gardu tersebut.

 Untung juga mengatakan bahwa nantinya kalau gardu sosial ini berhasil nantinya Dinas Sosial akan menambahkan dengan gardu logistik yang nantinya bantuan logistiknya akan disuplai dari Dinas Sosial DIY.

Selain itu, dengan adanya gardu logistik ini nantinya kegiatan pemberdayaan lansia di Desa Tegaltirto ini dapat terus berjalan dengan lebih baik, karena desa Tegaltirto ini merupakan desa percontohan untuk program pemberdayaan lansia.

Ia juga berharap nantinya agar di desa Tegaltirto ini dapat mewujudkan klinik lansia untuk mengantisipasi kejadian darurat, dan nantinya kalau hal ini bisa berjalan, maka Dinas Sosial DIY akan membantu mobil ambulans untuk warga.

Sementara Bupati Sleman, Sri Purnomo, menyatakan bahwa sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah Sleman, kita harus menyadari bahwa kita hidup berdampingan dengan bencana, mulai dari bencana gempa bumi, bencana gunung berapi, bencana angin puting beliung, tanah longsor dan lain-lain.

Untuk menghadapi hal tersebut sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat, harus tanggap terhadap ancaman bencana bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, tetapi juga pada pra bencana dan pasca bencana.

“Paradigma penanggulangan bencana, tidak lagi dititikberatkan pada penanganan kedaruratan, namun lebih pada upaya pengurangan risiko bencana, menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat. Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan local wisdom masyarakat Sleman,” katanya.

Oleh karena itu, pemanfaatan gardu siaga bencana ini harus dioptimalkan bukan hanya pada masa terjadinya bencana namun juga digunakan sebagai sekretariat pusat layanan bagi para petugas sosial dan bencana alam, di antaranya seperti Taruna Siaga Bencana, aparat keamanan, aktivis lingkungan, Pramuka dan masyarakat umum.

Setelah melakukan peresmian gardu siaga bencana, Bupati Sri Purnomo kemudian membuka pelatihan mitigasi bencana bagi komunitas “Jogja Rescue” dan dilanjutkan dengan penyebaran bibit ikan nila merah dan hitam sejumlah 2 kuintal di embung Candirejo Tegaltirto yang luasnya M2.




BPBD Kabupaten Sleman Siapkan Klaim Komunikasi Bencana

Sleman – Menjelang pelaksanaan Pemilu legislatif yang akan digelar 9 April 2014 mendatang, Kabupaten Sleman perlu menyiapkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Selain masalah keamanan yang harus diperhatikan, juga potensi bencana alam pun perlu diperhatikan apalagi akan memasuki musim pancaroba. Demikian antara lain disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Drs Julisetiono Dwi Wasito, di Sleman, Senin (17/3).

Dikatakan Julisetiono bahwa selain antisipasi Pemilu, Kabupaten Sleman juga perlu mewaspadai terjadinya bencana alam.

Untuk menghadapi kemungkinan munculnya informasi terkait bencana yang simpang-siur, BPBD Sleman menyiapkan klaim komunikasi.  “Klaim komunikasi yang kami siapkan berupa berupa SMS gateway,” kata Julisetiono.

Seperti pada saat terjadi letusan freatik Merapi beberapa waktu lalu. Saat itu banyak beredar SMS yang tidak jelas sumbernya menyebarkan informasi yang membuat warga panik.

“Karena itu, dengan adanya SMS gateway, nanti ada SMS resmi dari BPBD Sleman yang akan kami kirim ke komunitas, kepala dusun dan lainnya,” tutur Julisetiono.

Julisetiono menjelaskan bahwa ancaman bencana di Kabupaten Sleman saat ini ada 7, yaitu bencana Gunung Merapi, lahar dingin, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran.

Terjadinya bencana hujan abu yang terjadi akibat letusan Gunung Kelud selama ini perlu diantisipasi kedepan bagaimana cara penanganan yang tepat dan itu perlu pelatihan.

Dalam penanganan bencana komunitas relawan dituntut profesional mekipun kerjaan sosial dan sukarela. Kedepan BPBD Sleman akan selalu menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas dan akan dilakukan pendataan agar dalam penanganan bencana bisa lebih terkoordinatif dan lebih baik.

“Berbagai macam ancaman bencana memang patut diwaspadai warga Sleman. Angin kencang patut diwaspadai dalam waktu dekat ini karena sedang musim pancaroba,” ujar Julisetiono.




Logistik Pemilu Di Kabupaten Sleman Sudah Siap 90 Persen

Sleman – Ketua KPU Sleman Ahmad Shidqi SThi MHum mengatakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman terus melaksanakan tahapan Pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Dalam hal ini, beberapa kesiapan telah dilaksanakan di antaranya mulai dari penyelenggara hingga peserta.

Sampai saat ini logistik pelaksanaan Pemilu di Kabupaten Sleman sudah siap 90 persen, baik itu menyangkut kotak suara, surat suara sudah tiba, bilik, tinta dan sudah mulai melakukan pelipatan surat suara dan sortir.

“Alat  kelengkapan TPS juga sudah lengkap. Memang ada beberapa kebutuhan yang belum ada, seperti formulir, segel dan hologram,” kata Shidqi di KPU Sleman, Senin (10/3) kemarin.

Menurut Shidqi, saat ini logistik Pemilu 2014 ini disimpan di gudang kantor eks Kemenag Sleman. GOR Pangukan, dan Dekopinda Sleman juga akan digunakan sebagai penyimpan logistik Pemilu oleh KPU.

Sementara untuk menjaga keamanan logistik Pemilu tersebut, KPU Sleman telah melakukan kerja sama dengan Satpol PP dan Polres Sleman.

Secara nasional peserta Pemilu 2014 ada 12 partai politik (parpol), namun di Sleman hanya ada 11 parpol tanpa PKPI karena tidak ada calegnya.

Untuk jumlah caleg yang tercatat di KPU Sleman dari 11 parpol tersebut ada 493 caleg. Sebelumnya jumlah calegnya ada 498, namun karena ada yang mengundurkan diri dengan alasan berbeda-beda maka saat ini tinggal 493 caleg. Caleg terbanyak dari PKS sebanyak 50 orang sedang lainnya hanya 49 orang.

Sementara jumlah pemilih sesuai daftar pemilih tetap sebanyak orang dengan jumlah TPS (Tempat Pemungutan Suara) sebanyak 2390 TPS.