Paguyuban KWT Laras Sembada Ngaglik Kenalkan Batik Ecoprint ke 15 KWT

Sleman – Pelatihan pembuatan batik ecoprint digelar di Kebon Ndeso Wonorejo, Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, pada Kamis (27/11/2025). Kegiatan ini diikuti 27 peserta dari 15 KWT (Kelompok Wanita Tani) yang ada di kapanewon Ngaglik, dan KWT Laras Sembada.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala UPTD BP4 wilayah IV Sleman, Wahyuni selaku narasumber dan peserta pelatihan dari 15 KWT.

Kepala UPTD BP4 Wilayah IV, Dibyo Warasta juga memberikan dukungan untuk kegiatan ini.

“Terima kasih juga kami tujukan pada KWT Laras Sembada Ngaglik, yang telah menyelenggarakan pelatihan ini dengan biaya swadaya dari peserta pelatihan Rp per orang,” ujarnya.

Batik ecoprint merupakan batik yang ramah lingkungan karena dibuat dari bahan-bahan yang ada disekitar batik ecoprint mempunyai nilai jual yang cukup tinggi.

“Semoga keterampilan ini bisa menambah ilmu dan kete rampilan ibu-ibu KWT,dan bisa dijadikan satu usaha yang menghasilkan,” tandasnya. (Eswe/KIM Sukoharjo)




Pemkal Condongcatur Salurkan Bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) Kepada 744 KPM

Sleman – Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan bekerja sama dengan Perum BULOG Kantor Wilayah Yogyakarta menyalurkan bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) berupa beras dan minyak goreng kepada 744 masyarakat penerima manfaat atau kurang mampu bertempat. Penyaluran bantuan berlangsung di GOR Kalurahan Condongcatur, Kamis (27/11/2025).

Penyaluran dibantu oleh petugas yang terdiri dari TPSK Kalurahan, JPL (Bulog), Babinsa, Bhabinkamtibmas serta beberapa Pamong Kalurahan dan Staf. Para penerima manfaat diwajibkan membawa KTP dan KK untuk proses verifikasi data oleh petugas sebelum menerima bantuan.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam selaku penanggungjawab bidang kegiatan menyampaikan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) berjumlah 744 orang  dengan rincian bantuan sebanyak kg beras dan minyak goreng sebanyak liter.

“Penetapan KPM mengacu pada Data Tingkat Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang terus diperbarui untuk menyesuaikan kondisi warga. Setiap KPM menerima bantuan berupa 20 kilogram beras (2 karung) dan tambahan empat liter minyak goreng untuk periode penyaluran Oktober-November 2025,” ujarnya.

“Bantuan ini merupakan wujud perhatian pemerintah untuk menekan pengeluaran rumah tangga dan mendukung upaya penurunan angka kemiskinan di wilayah Sleman. Kami berharap bantuan kebutuhan pokok ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik baiknya,” sambung Al Thouvik.

Sementara itu, Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi mengatakan bahwa melalui kegiatan ini, Perum BULOG Kanwil Yogyakarta berharap program bantuan pangan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat penerima, khususnya dalam menjaga stabilitas pangan dan kesejahteraan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penyaluran Bantuan Pangan bagi Penerima Bantuan Pangan (PBP) di Wilayah DIY. Kegiatan ini menjadi bagian dari penugasan nasional dalam rangka percepatan penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada masyarakat penerima manfaat.

“Dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah Surat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 347/ tanggal 14 Oktober 2025 perihal Penugasan Penyaluran Bantuan Pangan Beras dan Minyakita Periode Bulan Oktober–November Tahun 2025,” jelasnya.

Dedi Aprilyadi menambahkan, program bantuan pangan ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Penerima Bantuan Pangan (PBP), sekaligus menjadi langkah strategis pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan, penanganan kerawanan pangan, pengendalian gejolak harga dan inflasi, serta perlindungan terhadap produsen dan konsumen

“Perum BULOG Kanwil Yogyakarta berkomitmen untuk melaksanakan penyaluran bantuan ini secara bertahap hingga seluruh alokasi tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran,” tuturnya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji pun berharap dengan adanya penyaluran bantuan pangan ini, kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi, sekaligus sebagai bentuk nyata kepedulian pemerintah dalam menjamin kesejahteraan warga masyarakat (Wasana / KIM Depok)




Pendampingan Statistik Sektoral di Margorejo Dorong Penguatan Data untuk Perencanaan Pembangunan

Sleman — Upaya meningkatkan kualitas data pembangunan di tingkat kalurahan kembali ditegaskan dalam kegiatan pendampingan dan pembinaan statistik sektoral yang digelar di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Tempel, Sleman, pada Kamis (27/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sleman yakni Irvan Jaya Saputra, Sri Tantri Sintia Indrawati, dan Iva Nur Khalimah. Acara diikuti oleh para kasi, kaur, staf kalurahan, serta pendamping sosial.

Lurah Margorejo yang diwakili oleh Carik Aryanto Wibowo menegaskan pentingnya data yang akurat untuk mendukung pembangunan berbasis kebutuhan riil masyarakat.

“Data yang valid bukan hanya angka, tetapi fondasi keputusan. Dengan pembinaan ini, kami berharap seluruh perangkat kalurahan mampu memperkuat tata kelola data sehingga setiap program dan anggaran lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Narasumber dari BPS Sleman memaparkan berbagai materi terkait pemahaman statistik sektoral, perbaikan sistem pengelolaan data, serta pentingnya konsistensi pelaporan administrasi pemerintahan desa.

Irvan Jaya Saputra dari BPS Sleman menekankan bahwa kalurahan merupakan garda terdepan penyedia data dasar.

“Statistik sektoral hanya bisa kuat apabila mulai dibangun dari level paling bawah. Kalurahan adalah produsen data yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, sehingga perbaikan kualitasnya sangat menentukan,” jelas Irvan.

Sementara itu, Sri Tantri Sintia Indrawati menekankan pentingnya verifikasi dan validasi data sebelum dirilis atau digunakan dalam perencanaan.

“Proses verval itu wajib, karena kesalahan sekecil apa pun dapat memengaruhi hasil analisis. Kita ingin Margorejo memiliki data yang bersih, mutakhir, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Narasumber ketiga, Iva Nur Khalimah, memberikan penguatan teknis terkait manajemen data serta pelaporan berbasis sistem.

“Kalurahan perlu membangun budaya data mulai dari pencatatan, penyimpanan, hingga pemanfaatannya untuk menyusun program. Dengan budaya data, pelayanan publik akan semakin efektif,” ujarnya.

Para peserta yang terdiri dari kasi, kaur, staf, dan pendamping sosial mengikuti sesi pemaparan dan diskusi dengan antusias. Mereka menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait teknis pengelolaan statistik sektoral, integrasi data kependudukan, serta pemutakhiran layanan berbasis administrasi digital.

Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong Kalurahan Margorejo untuk semakin siap dalam menghadapi tuntutan penyediaan data akurat guna mendukung penyusunan perencanaan pembangunan yang lebih presisi.

Dengan pendampingan dari BPS Sleman, Margorejo menargetkan peningkatan kualitas statistik sektoral untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, efektif, dan berbasis data. (sbd kim senyum tempel)




Kalurahan Sumberagung Gelar Jemput Bola Aminduk

Sleman – Dalam rangka mewujudkan pelayanan publik dengan cepat, efektif, tepat, akurat, dan ramah (Cetar), Pemerintah Kalurahan Sumberagung, Moyudan menggelar jemput bola administrasi kependudukan (adminduk). Kegiatan berlangsung pada Kamis (27/11/2025) di kalurahan setempat.

Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati yang turut menyertai dalam kegiatan tersebut, mengungkapkan bahwa sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kapanewon Moyudan dalam mempermudah dan mempercepat pelayanan maka digelar jemput adminduk.

“Kali ini bertempat di Kalurahan Sumberagung, dan nantinya berlanjut di kalurahan-kalurahan yang lain,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan dilakukan bekerjasama dengan Dukcapil Sleman.

“Kami datangkan petugas dari Dukcapil untuk memberikan pelayanan administrasi kependudukan, seperti akta kelahiran, KIA, akta kematian, dan administrasi lainnya yang berkaitan dengan dokumen krpendudukan,” jelas Mahmudah.

Ia juga mengemukakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar terpenuhinya dokumen kependudukan bagi warga.

“Ini merupakan strategi kami dalam memenuhi hak warga, dengan memberikan pelayanan yang cepat, efisien, efektif dan mudah,” pungkasnya. (Giek / KIM Moyudan)




Puskesmas Ngaglik 2 Tekankan Pentingnya Penanganan Pertama Luka Psikologis

Sleman – Luka psikologis akibat kekerasan fisik maupun psikis seperti KDRT, bullying, atau kejadian traumatis lainnya dapat memengaruhi kondisi fisik, emosional, dan mental seseorang. Meski demikian, pemulihan dapat berlangsung lebih baik apabila individu mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, teman, komunitas, serta tenaga profesional.

Hal tersebut disampaikan psikolog Puskesmas Ngaglik 2, Amalia dalam kegiatan bertema Penanganan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Aula Kapanewon Ngaglik, Rabu (26/11/25).

Kegiatan yang dibuka Panewu Ngaglik itu dihadiri Kapolsek, Danramil, Babinsa, Babinkamtibmas, Kamituwa, kader pendamping KDRT, serta Forum Anak se-Kapanewon Ngaglik. Kegiatan ini digelar sebagai upaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penanganan awal bagi korban kekerasan atau individu yang mengalami krisis psikologis.

Amalia menjelaskan bahwa luka psikologis muncul akibat tekanan atau kejadian luar biasa yang menimbulkan rasa tidak nyaman berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

“First aider atau penolong pertama bisa siapa saja, termasuk kita. Siapa pun yang pertama berada di dekat korban, dapat membantu memberikan dukungan awal,” ujarnya.

Dalam paparannya, terdapat beberapa tujuan utama P3LP, yaitu memberikan perhatian kepada individu yang mengalami krisis, memenuhi kebutuhan dasar berupa rasa aman, membantu korban menghadapi krisis dan mengurangi ketidaknyamanan.

P3LP juga bertujuan untuk mencegah kondisi psikologis memburuk sebelum ditangani psikolog atau psikiater serta memberikan informasi tentang pentingnya kesehatan jiwa.

“Trauma pada anak maupun orang dewasa dapat dikenali melalui enam emosi dasar: bahagia, sedih, jijik, marah, takut, dan terkejut. Penggunaan media gambar atau boneka dapat membantu seseorang, khususnya anak, mengidentifikasi emosi yang sedang dirasakan,” tandasnya.

Menurut Amalia, remaja berada pada fase peralihan sehingga perubahan pikiran, perasaan, dan perilakunya memerlukan perhatian khusus. Orang tua diimbau untuk menerapkan mendengarkan aktif, yakni mengamati pesan komunikasi dengan seluruh indera, bukan hanya telinga.

Amalia juga mengajak orang tua membangun kebiasaan komunikasi sejak dini melalui percakapan sehari-hari.

“Interaksi rutin, baik langsung maupun melalui video call, dinilai efektif mempererat hubungan emosional. Jika komunikasi sudah terbangun sejak kecil, anak remaja tidak perlu mencari tempat lain hanya untuk bercerita,” tuturnya.

(Endarwati/KIM Donoharjo)