Lestarikan Tugu Trianggulasi Belanda T695, Warga Sleman Sulap Puncak Balecatur Jadi Destinasi Wisata Tera View

Sleman – Sebuah tugu persegi peninggalan era kolonial Belanda bertuliskan kode T695 berdiri kokoh di puncak bukit kawasan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Berawal dari tekad melestarikan benda bersejarah tersebut, Sugeng, warga Sleman menyulap lahan semak belukar seluas meter persegi menjadi destinasi kuliner dan wisata panorama bernama Tera View.
Sugeng yang lahir di Padang menceritakan, keberadaan tugu trianggulasi buatan era 1800-an tersebut pertama kali ia ketahui dari sopirnya beberapa tahun lalu. Lokasi ini kini menyajikan pemandangan lanskap gugusan Pegunungan Menoreh di sisi barat, Gunung Merapi dan Merbabu di utara, serta Pegunungan Prambanan di timur.
Berdasarkan penelusuran mandirinya, kode T695 pada tugu memiliki makna tersendiri. Angka 6 diperkirakan melambangkan huruf ‘G’ (Geodesi), angka 9 melambangkan huruf ‘S’ (Spot), dan angka 5 menandakan lempengan baja yang ditanam di dalamnya sebagai titik koordinat pemetaan.
“Saya memang bercita-cita untuk menjaga benda bersejarah seperti ini,” ujar Sugeng sembari menunjukkan area tugu yang kini telah diberi pagar pembatas dan dipugar secara khusus, Jumat (25/9/2026).
Keberadaan tugu peninggalan Belanda tersebut masih memikat perhatian para peneliti, terutama dari Eropa. Sugeng mengungkapkan, ia pernah mendapat pengarahan agar tidak memindahkan posisi tugu karena keterkaitannya dengan titik koordinat geologi, dengan ancaman denda hingga Rp1,5 miliar jika merusaknya.
Ia juga mengenang peristiwa menarik pada awal tahun 2006 saat rombongan peneliti Eropa mendatangi tugu tersebut. Setelah mengukur dengan peralatan khusus, para peneliti sempat memberi peringatan potensi gempa bumi yang kemudian terbukti dengan terjadinya gempa besar Yogyakarta pada pertengahan 2006.
Selain nilai historis era kolonial, warga setempat meyakini kawasan ini berkaitan erat dengan sosok Ki Wirasuta, abdi dalem penongsong Sri Sultan Hamengku Buwono I yang merupakan cikal bakal tradisi upacara adat Saparan Bekakak.
Mengingat usianya yang melebihi 50 tahun, bernilai bagi ilmu pengetahuan, serta posisinya yang masih asli (in situ), Sugeng berharap Tugu Trianggulasi T695 ini dapat memperoleh perhatian resmi dari pihak terkait.
“Mudah-mudahan dapat ditetapkan sebagai objek cagar budaya,” tutur Sugeng. (Ony/KIM Pararta Guna Gamping)



