Desa Wisata Tanjung Andalkan Kearifan lokal untuk Tarik Wisatawan

Sleman – Berada di kawasan pedesaan dengan kehidupan masyarakat yang masih kental dengan kultur pedesaan ditambah dengan adanya joglo berumur lebih dari 2 abad menjadikan desa wisata Tanjung , Donoharjo Ngaglik Sleman terus berkembang menjadi desa wisata dan pendidikan dengan keindahan alam, upaya pelestarian lingkungan, pertanian, pengetahuan Sosio kultural masyarakat serta  kesenian sebagai andalan.

Di desa wisata ini pengunjung diajak melakukan berbagai macam aktivitas keseharian masyarakat pedesaan sebagaimana yang dilakukan oleh wisatawan asal Australia pada saat melakukan kunjungan pada hari Rabu (15/10/2024).

Suharno kepala Dukuh yang sekaligus bertindak sebagai pemandu wisata mengatakan bahwa di desa wisata Tanjung, wisatawan diperkenalkan dengan  tata krama bertamu, mulai dengan memberi salam, cara duduk , cara berbicara dengan tuan rumah , mengambil makanan dan Minuman dan cara berpamitan.

“Kami kenalkan adat istiadat, tata cara hidup di desa, unggah ungguh bertamu bahkan ada anjuran jangan  memulai makan sebelum dipersilahkan. Kami juga mengenalkan bagaimana menyapa orang yang belum dikenal, saling menghargai, termasuk toleransi beragama sampai pada menghentikan kegiatan ketika mendengar suara adzan, ” kata Suharno.

Tidak berhenti sampai di situ, wisatawan juga dikenalkan dengan tradisi Kenduri lengkap dengan nasi tumpeng, golong, Ingkung, peyek dan segala ubarampe.

“Kenduri merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai nilai saling berbagi dengan sesama membantu orang yang membutuhkan serta meningkatkan kebersamaan dan rasa persaudaraan antar warga,” kata Suharno saat mengawali acara kenduri.

Upaya lain dalam rangka melestarikan budaya di desa wisata Tanjung diantaranya dengan mengenalkan seni merangkai janur dan menabuh gamelan.

“Kita kenalkan seni merangkai janur yang biasa dipakai untuk menghias penjor dan dekorasi sebagai simbol harapan pada prosesi upacara adat. Demikian juga dengan gamelan yang merupakan salah satu alat musik tradisional kebanggaan bangsa,” tuturnya.

Agenda wisata berlanjut dengan mengajak wisatawan melakukan permainan tradisional seperti egrang dan gobak sodor.

“Di dalam permainan gobak sodor memiliki nilai yang terkandung di dalamnya diantaranya adalah kekompakan, semangat, strategi permainan, kerjasama, kejujuran , sportivitas dan ini sangat sesuai karena  berkaitan dengan olah fisik agar lebih kuat,” kata Suharno.

Martin salah seorang wisatawan asal Australia yang dipanggil dengan nama Jawa ‘wibowo’ merasa senang dan puas dengan pengalaman yang diperoleh selama berada di desa wisata Tanjung.

“Pengalaman yang luar biasa. Banyak hal yang bisa dipelajari saat kunjungan mulai dari belajar bahasa, sopan santun, permainan, belajar gamelan dan lain lain. Tentu saja kami sangat terkesan , orang-orangnya ramah, makanan enak. Hal seperti ini yang kita cari karena tidak ada di negara saya,” kata Martin yang mulai lancar berbahasa Indonesia. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Mengenal Konsep Adat Desa Panglipuran, Salah Satu Destinasi Wisata di Pulau Dewata

Sleman – Salah satu yang membuat Desa Panglipuran di Bali terkenal hingga ke mancanegara adalah karena peran media. Adanya turis mancanegara yang memotret kegiatan budaya di atas Desa Panglipuran dan dilihat oleh orang-orang dari berbagai negara,  memberikan dampak tersendiri kepada orang yang melihatnya, sehingga mereka tidak hanya tertarik kepada keindahan Pulau Dewata namun datang juga untuk menikmati keindahan budaya di Desa Panglipuran.

Demikian disampaikan I Ngengah Moneng, Ketua Kelompok Sadar wisata Desa Panglipuran , Bangli , Bali  pada acara Peningkatan kapasitas Pamong dan perwakilan Lembaga Kalurahan tanggal 8-12 Oktoberi 2024 di Pulau Bali.

I Ngengah menjelaskan, Desa Panglipuran memiliki konsep filosofi Tri Hita Karana yang artinya tiga sebab kebahagiaan jika mampu mengimplementasikan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

“Secara garis besar, Desa Panglipuran memiliki satu jalan utama yang memanjang dari tempat yang paling tinggi lalu berangsur turun ke bawah. Tata ruang  Desa Panglipuran menganut konsep  Tri Mandala yang terdiri dari tiga zona,” terangnya.

I Ngengah menuturkan, Zona pertama adalah utama mandala, atau  zona tertinggi yang dinamakan Parahiyangan, merupakan tempat yang paling disucikan dan merupakan tempat pemujaan.

Zona kedua dinamakan madya mandala atau zona Pawongan, yaitu wilayah yang ditempati untuk tempat tinggal termasuk tempat usaha. Pada zona Pawongan juga diharuskan memiliki rumah adat lengkap dengan tempat pemujaan di mana setiap tempat tinggal harus ada Parahiyangan atau tempat pemujaan yang merupakan bangunan tertinggi.

Ketiga nista mandala merupakan zona yang terletak pada posisi  yang paling bawah, di sana ada kuburan. Kuburan dibedakan antara kuburan meninggal saat masih remaja, meninggal katena kecelakaan atau  bunuh diri dan kuburan untuk umum.

“Telah ada kesepakatan untuk menjaga warisan leluhur berupa rumah adat. Diwajibkan warga untuk merehab rumah dengan diberikan subsidi oleh desa adat dengan nilai 10 juta. Selebihnya rumah modern tapi beradaptasi dengan rumah di Bali,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, Setiap pintu terhubung dengan jalan dan tetangga. Dengan tetangga wajib karena jika tidak ada maka dianggap aneh, ada masalah apa.  Jika tidak terhubung akan menjadi urusan adat karena bisa dimanfaatkan untuk kegiatan upacara adat keagamaan.

“Setiap tahun kami masih mempertahankan ritual keagamaan diantaranya ngusaba yaitu perayaan menyambut hari raya nyepi, Panglipuran Village Festival di setiap akhir tahun dan Megabung yang bertujuan melestarikan warisan adat budaya leluhur,” tutup I Ngengah. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Belajar dari Desa Wisata Panglipuran, Desa Terbersih Se-Indonesia

“Sebagai desa wisata, maka kami berusaha sekeras tenaga bagaimana mampu mengimplementasikan sapta pesona yaitu Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan,” ungkap I Ngengsah Moneng, Ketua Kelompok Sadar wisata Panglipuran , Bangli , Bali pada acara peningkatan  kapasitas Pamong Kalurahan dan perwakilan Kelembagaan  Donoharjo di Desa Pulau Dewata yang diselenggarakan pada 8-12 Oktober 2024.

I Ngengsah menuturkan, Sapta Pesona merupakan program pemerintah untuk memaksimalkan industri pariwisata. Tujuannya  untuk memberikan pelayanan prima kepada wisatawan, terutama yang datang ke desa wisata.

“ Dengan sapta pesona, diharapkan wisatawan akan betah dan tinggal lebih lama, bahkan akan menjadi kenangan  dan berulang kali hadir kembali lagi di Panglipuran  sehingga dana masuk akan lebih tinggi,” tegas I Ngengsah.

I Ngengsah menuturkan, Desa Panglipuran memiliki Luas 112 ha, Penduduk jika jiwa dan 250 KK. Setiap warga memegang filosofi konsep tri hita karana, yaitu tiga sebab kebahagiaan jika mampu mengimplementasikan hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

Desa Wisata Panglipuran sendiri dirintis antara  tahun 1989 dan 1990, konsepnya waktu itu merupakan desa konservasi pelestarian adat dan lingkungan.

“Mendapat dana dari Pemerintah pusat, maka mulai  diatur agar pedagang berdagang di pekarangannya, diatur drainasenya dan lain-lain. Tahun 1993 dianggap layak dan ditetapkan sebagai desa wisata. Namun sampai tahun 2011 tidak ada perhatian dari desa adat,” terangnya.

“Pada tahun 2013 ditunjuk lomba dan pada  tingkat nasional mendapat juara 1 serta mendapat Citra award. Selanjutnya mengikuti lomba homestay, lomba proklim, dan setiap tahun memperoleh juara tingkat nasional, asean dan internasional serta penghargaan  ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) pada tahun 2017, dan  masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation,” tambahnya lagi.

I Ngengsah menambahkan, pihaknya menggunakan berbagai strategi untuk mengembangkan Desa Panglipuran, salah satunya membangun komitmen pada tokoh masyarakat dan semua elemen masyarakat.

“Semoga desa wisata penglipuran mampu melestarikan budaya lingkungan management berbasis masyarakat,” tutupnya. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Tim PPK ORMAWA HIMARS UTY Bersama Pokdarwis Green Kayen Lakukan Uji Coba Paket Edukasi Wisata Ramah Anak

Tim Program Penguatan Kapasitas (PPK) Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Himars Astabrata UTY bersama POKDARWIS Green Kayen menyelenggarakan uji coba paket edukasi wisata ramah anak yang bertajuk “Edukasi Wisata Alam dan Budaya Lokal Padukuhan Kayen Condongcatur Depok Sleman di kawasan Green Kayen, Jumat (4/10/2024).

Kegiatan Wisata Edukatif Ramah Anak ini diikuti oleh 61 siswa Kelas 5 SD Muhammadiyah Kayen beserta guru pendamping dari masing-masing kelas. Tim PPK Ormawa Himars Astabrata  UTY Bersama Pokdarwis Green Kayen berkalaborasi dengan pemuda dan pemudi Padukuhan Kayen turut berperan sebagai pendamping sekaligus memberikan materi edukatif dan  pemandu jelajah alam Green Kayen

Ketua Tim PPK Ormawa Himars Astabrata, David Qori’ Alfathoni menyampaikan kegiatan ini juga turut melibatkan masyarakat Padukuhan Kayen dari Kelompok Wanita Tani (KWT), Ibu-ibu PKK dan pemuda dan pemudi di Kayen sebagai upaya keberlanjutan Desa Wisata Green Kayen kedepanya

“KWT berkontribusi melalui edukasi mengenai produk unggulan mereka, seperti Telur Bahagia, yang dihasilkan dari ayam yang dirawat secara khusus sedangkan PKK yang dipandu Ibu. Suci Winarti memberikan edukasi membatik di Pendopo Green Kayen, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan budaya yang berharga bagi para peserta,” jelasnya.

Ketua Pokdawis Kayen, Dadang Hermawan mengucapkan terimakasih kepada kelompok mahasiswa UTY dan sangat mengapresiasi kegiatan ujicoba Paket Wisata Ramah Anak yang berhasil memberikan edukasi komprehensif kepada peserta tentang alam dan budaya lokal Padukuhan Kayen

“Kolaborasi antara Tim PPK Ormawa Himars Astabrata dan Pokdakwis dan masyarakat  menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menarik. Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal dan mencintai lingkungan serta warisan budaya lokal. Program ini berpotensi menjadi daya tarik wisata edukatif yang berkelanjutan di kawasan Green Kayen yang akan kita kembangkan kedepannya,” ucapnya. (Wasana/KIM Depok)




Bupati Sleman: Festival Garis Imajiner untuk Menegaskan Ciri Keistimewaan Yogyakarta

Sleman – Dalam rangka memperingati 12 Tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman menyelenggarakan Festival Garis Imajiner pada Kamis (12/9). Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo bersama dengan Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa membuka secara langsung dengan pemukulan kenong sebagai tanda dibukanya Festival Garis Imajiner 2024.

Acara tersebut dimeriahkan oleh ribuan warga perwakilan dari 17 Kapanewon se-Kabupaten Sleman dengan mengikuti kirab serta menampilkan tarian dan aksi teatrikal. Festival dimulai dari kirab bregada dari 17 Kapanewon dimulai dari Kantor Kalurahan Sariharjo Ngaglik dan berakhir di Lapangan Ngetiran.

Kustini menyampaikan festival ini adalah upaya untuk mengedukasi kembali masyarakat tentang sejarah berdirinya Keraton Ngayogyakarta yang tidak bisa lepas dari garis imajiner filosofis yang menghubungkan antara Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Pantai Selatan.

Kustini mengatakan, garis imajiner atau sumbu filosofis tersebut memiliki makna keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.

“Festival ini menjadi salah satu sarana menegaskan ciri-ciri keistimewaan Yogyakarta. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat Kabupaten Sleman terlibat secara aktif dalam melestarikan kearifan budaya lokal yang adiluhung berupa garis imajiner yang secara kasat mata tidak nampak, tetapi keberadaannya diyakini ada,” kata Kustini

Lebih lanjut, Kustini menyampaikan bahwa masyarakat DIY patut bersyukur karena UNESCO telah menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia pada tanggal 16 September 2023. Dengan demikian aset budaya tak benda yang dimiliki masyarakat Yogyakarta ini telah diakui di dunia internasional.

“Festival Garis Imajiner ini menjadi salah satu sarana untuk menggali, mengenalkan, memasyarakatkan, melestarikan, serta mengukuhkan eksistensi budaya dan kesenian tradisional Kabupaten Sleman,” pungkas Kustini

Festival Garis Imajiner tahun 2024 menampilkan aksi tarian dan teatrikal tentang Upacara Adat yang ada di 17 Kapanewon se Kabupaten Sleman. Bupati Sleman dan Wakil Bupati Sleman turut menyaksikan penampilan dari seluruh peserta. Festival Garis Imajiner Kabupaten Sleman 2024 dilaksanakan selama 2 hari yakni tanggal 12-13 September 2024 dengan menampilkan berbagai kesenian yakni Badui Tunas Mudho Gantalan, Wayang Mbeling Sleman, Komunitas Kethoprak Sleman, Jathilan Satrio Kudho Jingkrak, Jathilan KBTM Gondangpusung, dan Band Alternatif Genk Kobra. (Humas Sleman)