Pembangunan Plaza Pengunjung, Sebagian Kawasan Gardu Pandang Kaliurang Akan Ditutup Mulai Juni 2024

Sleman – Kawasan Gardu Pandang Kaliurang selama ini telah menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kaliurang, selain tentunya kawasan dan destinasi lain sepertinya Taman Nasional Gunung Merapi, Tlogoputri, Taman Kaliurang, Nawang Jagad, Tankaman Natural Park, Suraloka Zoo, Merapi Park, Allabun Garden, Omah Petroek, Agrowisata Bhumi Merapi, dan lain-lain.

Namun selama sekitar 4 (empat) bulan kedepan Kawasan Gardu Pandang Kaliurang yang berlokasi disisi bagian Barat Kaliurang akan dibangun wahana baru yang berupa Plaza Pengunjung Gardu Pandang Kaliurang. Plaza Pengunjung ini berupa ruang publik terbuka yang terbagi atas 4 (empat) zona yang nantinya akan menjadi daya tarik tambahan di Kawasan Gardu Pandang Kaliurang.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid yang didampingi oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wasita, Kamis (13/6/2024) dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat Tridadi Sleman.

Menurutnya pembangunan Plaza Pengunjung yang berasal dari program Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 2,5 milyar dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun ini membutuhkan waktu selama 120 hari.

“Selama pengerjaan Plaza Pengunjung tersebut wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Gardu Pandang Kaliurang tentu sedikit banyak terganggu dan merasa kurang nyaman,” ujar Ishadi.

Meskipun demikian pihaknya tidak akan menutup kawasan tersebut secara total selama masa pengerjaan, akan tetapi hanya menutup secara terbatas. Sehingga dalam kondisi demikian wisatawan masih bisa masuk ke kawasan serta menikmati pemandangan dan berbagai fasilitas publik yang ada.

Upaya tersebut dilakukan mengingat kawasan Gardu Pandang dinilai cukup luas dan masih memungkinkan untuk dikunjungi, khususnya di kawasan sisi selatan yang juga berupa taman-taman dengan pemandangan yang cukup bagus.

“Hanya saja sebagian kawasan  disisi utara yang selama ini untuk penyelenggaraan event dan pentas-pentas seni untuk sementara waktu ditutup,” ungkap Ishadi.

Oleh karenanya atas ketidak-nyamanan yang timbul akibat proses pengerjaan Plaza Pengunjung tersebut termasuk adanya lalu lalang kendaraan proyek, pihaknya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat umum khususnya pengunjung Gardu Pandang Kaliurang dan pihak-pihak terkait.

Ishadi menambahkan bahwa pihaknya juga telah mengadakan sosialisasi terkait dengan proyek pembangunan Plaza Pengunjung Gardu Pandang tersebut pada Kamis 13 Juni 2024 di Gardu Pandang Kaliurang yang melibatkan Tim Perencana, Pelaksana dan Pengawas, Pemerintah Kalurahan Hargobinangun, SAR Kaliurang, Pospol Kaliurang. Dukuh Kaliurang Timur, Dukuh Kaliurang Barat, Dukuh Ngipiksari, tokoh-tokoh masyarakat dan perwakilan pedagang di kawasan Gardu Pandang Kaliurang.

Ishadi berharap seusai pengerjaan Plaza Pengunjung tersebut sekitar bulan Oktober 2024 mendatang kawasan Gardu Pandang Kaliurang sudah dapat dibuka kembali secara penuh untuk dikunjungi wisatawan.

“Diharapkan dengan adanya penambahan fasilitas Plaza Pengunjung tersebut justru akan lebih ramai dan lebih banyak lagi pengunjung atau wisatawan yang berdatangan, dikarenakan akan lebih banyak lagi alternatif sarana publik yang bisa dinikmati oleh wisatawan,” tutup Ishadi.




Disapar Sleman Siapkan Dua Kado Istimewa bagi Pemkab Sleman di HUT ke-108

Sleman – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman tengah mempersiapkan kado istimewa untuk hari ulang tahun ke-108 Pemkab Sleman pada tanggal 15 Mei mendatang. Adapun hadiah yang dimaksud ialah peluncuran buku Pesona Wisata di Bumi Sembada serta launching prangko Buk Renteng.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Ishadi Zayid menyatakan, peluncuran buku dan prangko itu merupakan dua kegiatan besar Dispar Sleman dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sleman tahun 2024.

“Sejalan dengan peringatan hari jadi, ada 2 hal besar yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata. Artinya banyak kegiatan Dinas Pariwisata, tetapi dalam momentum Hari Jadi ini ada 2 kegiatan pertama adalah penyusunan buku Pesona Wisata di Bumi Sembada, kedua akan dilakukan peluncuran launching prangko Buk Renteng”, tuturnya dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Senin (6/5/2024).

Buku Pesona Wisata di Bumi Sembada merupakan katalog yang memuat beberapa potensi wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, sejarah, edukasi, spot tourism, hingga petualangan.

Katalog tersebut sebagai salah satu upaya Dinas Pariwisata dalam mempromosikan wisata yang ada di Sleman kepada khalayak luas. Pasalnya, sebesar 30% pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sleman berasal dari sektor pariwisata.

“Pariwista di Sleman itu kontribusinya terkait PAD sekitar 30%, dan 97% itu dari pajak hotel dan restoran,” jelas Ishadi.

Buku itu nantinya akan dibagikan kepada stakeholder pariwisata serta para tamu undangan yang hadir pada pelaksanaan upacara hari jadi Kabupaten Sleman tanggal 15 Mei nanti.

Ishadi menuturkan pihaknya telah mencetak sebanyak 480 eksemplar. Kemudian setiap tahunnya, pencetakan akan dilakukan kembali apabila stok buku tersebut terbatas serta adanya revisi penambahan destinasi wisata.

“Jadi harapannya buku Pesona Wisata di Bumi Sembada pada momentum hari jadi ini, gaungnya akan menjadi lebih besar, dan dapat dilihat dan diketahui oleh masyarakat. Ini menjadi sebuah literasi atau sebuah panduan bagi wisatawan maupun calon wisatawan atau stakeholder pariwisata,” jelas Ishadi.

Sementara itu pada Kamis, 16 Mei 2024 (malam hari) akan dilaksanakan launching prangko Buk Renteng, sebagai prangko penanda kota Kabupaten Sleman. Peluncuran dilangsungkan di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, dan akan dihadiri oleh Kementerian Pariwisata, Kementerian Kominfo, Kementerian Pertanian, PT. POSTEL, pejabat Pemerintah Daerah DIY, serta Bupati Trenggalek.

Ishadi menjelaskan Sleman memiliki banyak bangunan cagar budaya yang masih berfungsi dengan baik. Salah satunya ialah Selokan Vander Wicjk yang merupakan kanal atau saluran irigasi di wilayah Sleman barat, yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Di mana, ada penggal dari selokan tersebut yang lebih dikenal dengan sebutan Buk Renteng, dan menjadi ikon bangunan warisan cagar budaya di Sleman barat.

“Untuk itu kita lestarikan, kita visualisasikan menjadi sebuah prangko, sebagai penanda kota Kabupaten Sleman,” jelas Ishadi.

“Kami mengambil momentum hari jadi ini untuk peluncuran prangko, harapannya itu nanti menjadi branding Sleman barat terkait pariwisata maupun pertanian. Karena di Sleman barat ini kita berharap ada bangunan ikonik yang banyak dikenal orang sehingga nanti banyak orang datang mengunjungi Sleman barat,” sambungnya.

Lebih lanjut, prangko Buk Renteng sudah bisa dibeli oleh masyarakat atau para filatelis, pada tanggal 15 Mei, dengan harga rupiah. Oleh karena itu, diharapkan prangko Buk Renteng ini nantinya bisa mempromosikan wisata Sleman barat dengan jangkauan yang tidak hanya lokal tetapi juga internasional.

“Meskipun sekarang sudah tidak berkirim surat lewat prangko, tetapi para filatelis masih butuh koleksi prangko-prangko yang dianggap unik. Dengan begitu diharapkan prangko tersebut  bisa mempromosikan wisata di Sleman barat, karena prangko itukan jangkauannya bukan hanya lokal tetapi juga internasional,” kata Ishadi.




Ikuti MATTA Fair di Negeri Jiran, Dinpar Sleman Promosikan Wisata Kanca Internasional

Sleman – Menggembirakan, Dinas Pariwista Kabupaten Sleman bersama Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) berpartisipasi dalam pameran bertaraf internasional Malaysian Association of Tour and Travel Agents (MATTA) Fair yang digelar di Malaysia.

Pameran yang digelar pada 22-24 Maret 2024 di Malaysian International Trade & Exhibition Center (MITEC) ini menjadi momentum pengenalan potensi wisata Kabupaten Sleman ke kancah pasar manca negara.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) Agung Tris Sasongko mengungkapkan partisipasi Sleman dalam pameran di Negeri Jiran ini bertujuan memperkenalkan dan mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Sleman di kancah internasional.

Agenda ini, lanjut Agung, dapat menjadi momentum untuk melakukan pengamatan dan pendalaman potensi pasar wisata internasional.

“Promosi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bersama Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) ini tidak hanya sebatas pada promosi destinasi wisata semata, tetapi juga akomodasi yang ditawarkan meliputi hotel, restoran, pusat oleh-oleh, lembaga pendidikan dan juga desa wisata,” ungkapnya, Senin (25/3) di MITEC, Kuala Lumpur, Malaysia.

Agung mengatakan, selama tiga hari mengikuti pameran, stan Kabupaten Sleman mendapatkan tanggapan yang postif dan antusias dari pengunjung. Khususnya mitra-mitra travel yang selama ini sudah sering membawa tamu manca negara ke Sleman untuk mendapatkan informasi up to date.

Senada dengan Agung, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid berpandangan, bahwa dari aspek wilayah, Malaysia merupakan pasar yang potensial bagi pariwisata Sleman. Dia membocorkan jika wisatawan Malaysia punya kontribusi besar untuk Kabupaten Sleman dari sisi kunjungan turis asal luar negeri.

“Selama ini wisatawan Malaysia merupakan kontribusi terbesar bagi angka kunjungan wisatawan manca negara ke Sleman” ungkapnya.

Ishadi berharap, keikutsertaan Sleman di kancah promosi pariwisata internasional ini dapat membawa banyak angka kunjungan wisatawan manca negara ke Sleman pada tahun-tahun mendatang. Tak hanya membidik pasar Malaysia, pada kesempatan ini Sleman juga mengincar pasar asal negara-negara Asia lainnya seperti India, Jepang, Pakistan dan masih banyak lagi.

“Tentu kali ini sasarannya bukan hanya pasar Malaysia saja tetapi juga pasar manca negara yang tergabung dalam pameran tersebut, diantaranya meliputi Australia, India, Jepang, Maldives, Nepal, Pakistan, Taiwan dan Thailand,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)




Pengembangan Desa Wisata Membutuhkan Kerjasama Semua Pihak

Kalasan – Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menggelar Fokus Grup Discussion (FGD) Pemetaan Kebutuhan Pelatihan Kampanye Sadar Wisata 5.0, untuk pengembangan Desa Wisata Tamanmartani, Kamis (14/3/2024). FGD berlangsung di Balai Pemerintah Desa Yogyakarta, Ngajeg Tirtomartani Kalasan.

Analis Penyusun Bahan  Kegiatan, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Chatarina Asri Kusumajati saat memberikan sambutan mengatakan, bahwa interfensi program sosialisasi sadar wisata periode 2024 yang diterima oleh Tamanmartani tidak datang dengan tiba-tiba, tetapi melalui proses dan seleksi yang panjang.

“Pada periode dimaksud terdapat duapuluh tempat, mengerucut hingga sepuh dan untuk Yogyakarta adalah Tamanmartani, Kalasan dan Jagalan Bantul,” tuturnya.

Lebih lanjut Chatarina berharap agar peserta FGD memberikan dukungan terhadap kegiatan Kampanye Sadar Wisata dengan mengesampingkan ego sentrisnya. Tetapi justru diharapkan saling memberikan dukungan antar kelembagaan serta selalu menjalin komunikasi dengan pihak Kemenkraf.

“Kerjasama menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan Desa Wisata, sebab masing-masing memang berkaitan dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus dibangun ekosistim yang menjamin kebersamaan satu dengan yang lain,” pungkasnya.

Sementara itu Lurah Tamanmartani Gandang Harjanata dalam sambutan mengajak peserta FGD untuk memberikan kontribusi dalam pengembangan Desa Wisata Tamanmartani.

“Kita akan mengembangkan sesuai dengan kondisi yang ada dan tidak mengada-ada,” ujar Gandang.

Wilayah Tamanmartani, lanjut Gandang, adalah masuk dalam Kawasan Strategis Nasional. Hal itu karena Tamanmartani tak terlepas dari adanya Cagar Budaya, maka pembangunannya pun tidak sembarangan, misal  berdirinya pabrik maupun hotel yang ketinggian bangunannya tidak boleh melampai batasan.

FGD yang diikuti oleh perangkat Kalurahan, Lembaga-Lembaga tingkat Kalurahan serta Tokoh Masyarakat itu menggali berbagai permasalahan yang berkaitan dengan upaya pengembangan pariwisata. Beberapa diantaranya yang mengemuka adalah soal Kelembagaan, Manajemen, Kesiapan Masyarakat, SDM Pengelola dan Destinasi Wisata serta yang terkait dengan Sapta Pesona Pariwisata.

FGD akan ditindaklanjuti dengan pelatihan bagi tokoh masyarakat terpilih yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Berdasarkan jadwal yang diterima para peserta FGD, kelanjutan kegiatan di tahun 2024 meliputi April-Mei kegiatan Pelatihan.  Pendampingan dengan empat kali kunjungan pada bulan Mei hingga Juli. Sementara pada bulan Agustus adalah Forum Kolaborasi Pentahelix dengan Desa/Kampung Wisata dan Pengukuran Dampak Kampanye Sadar Wisata 5.0. 2024. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




Dinas Pariwisata Ajak Pengelola Desa Wisata Bersinergi untuk Majukan Wisata Sleman

Sleman –Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengajak para pengelola desa wisata Kabupaten Sleman untuk menguatkan sinergisitas dengan pihak-pihak terkait. Melalui sinergisitas yang baik maka pengelolaan desa wisata akan dapat berjalan secara optimal baik dari aspek pengelolaan, pengemasan paket wisata maupun pemasaran.

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Zayid, SH saat kunjungan pengelola desa wisata Pancoh di Desa Wisata Nglanggeran Gunungkidul, Senin (4 /3/2024).

Dalam kesempatan tersebut Ishadi menambahkan bahwa desa wisata di Kabupaten Sleman pada saat ini berjumlah 80 desa wisata dengan perincian 12 desa wisata kategori mandiri, 17 desa wisata kategori maju, 18 desa wisata kategori berkembang, dan 33 desa wisata kategori rintisan.

Menurut Ishadi, pengembangan desa wisata di Kabupaten Sleman cukup prospektif dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata yang mendasarkan pada aspek pemberdayaan masyarakat.

“Konsep desa wisata yang dikelola berdasarkan inisiasi dan keterlibatan masyarakat secara penuh memberikan manfaat ekonomi yang besar terhadap masyarakat lokal. Kemanfaatan tersebut berupa tumbuhnya pengelolaan homestay, kuliner, souvenir dan industri kreatif lainnya yang ditawarkan dalam bentuk paket-paket wisata,” jelasnya.

Ishadi menambahkan, pengelolaan desa wisata pada saat ini memang belum bisa dijadikan sebagai profesi utama bagi warga masyarakat, mengingat fluktuasi kunjungan ke desa wisata juga masih tinggi. Tren kunjungan  ke desa-desa wisata masih didominasi pada saat libur sekolah dan libur umum.

Oleh karena itu menjadi tantangan para pengelola desa wisata untuk menguatkan paket-paket wisata yang dimiliki dengan mengkolaborasikan potensi-potensi yang ada disekitar wilayah desa wisata dalam klaster-klaster yang masih dapat dijangkau.

“Oleh karenanya pengelola desa wisata harus mampu menjaga sinergitas dengan masyarakat setempat, antar pengelola desa wisata, dengan pokdarwis setempat bahkan dengan kalangan pendidikan dan para pelaku pariwisata. Demikian sehingga diharapkan kunjungan ke desa wisata dapat merata disepanjang tahun,” terang Ishadi lagi.

Ishadi menambahkan bahwa dalam mengelola desa wisata hendaknya tidak hanya mengedepankan pada aspek ekonomi semata, tetapi perlu memperhatikan pada aspek-aspek keberlanjutan dalam hal pemanfaatan potensi seni budaya, potensi alam dan lingkungan serta potensi ekonomi kreatif yang dikembangkan. Ditambahkan pula bahwa kunjungan wisatawan di Kabupaten Sleman pada tahun 2023 berjumlah wisatawan, dan 8,5% diantaranya yaitu wisatawan berkunjung ke desa wisata, yang terdiri atas wisatawan nusantara dan wisatawan manca negara.

Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan studi orientasi pengelola desa wisata Pancoh di Desa Wisata Nglanggeran adalah Mursidi dengan materi Pengelolaan Kelembagaan Desa Wisata dan Aris Budiyono dengan materi Pengelolaan Homestay.