BUMKal Margomulyo Belajar Social Enterpreneur Pada Kaliklangsi Eco Edupark

Sleman – Lurah Margomulyo berinisiatif untuk meningkatkan kapasitas pengurus Bumkal dengan mengadakan diskusi dengan pelaku desa wisata Kaliklangsi Eco Edupark, sebuah wisata kuliner dan area outbond yang dikelola oleh warga sekitar dan lokasinya masih di wilayah Kalurahan Margomulyo tepatnya di Padukuhan Jamblangan.
Kegiatan yang diadakan pada hari Minggu (3/9/2023) di Kaliklangsi tersebut dihadiri oleh pamong Kalurahan, anggota BPKal, pendamping desa, pengurus Bumkal dan pengawas Bumkal tersebut menghadirkan pula pengelola Kaliklangsi eco edupark.
Eko Puji Mulyanto, Lurah Margomulyo dalam pembukaannya menyampaikan bahwa Rapat koordinasi ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kinerja Bumkal Usaha Mulia Kalurahan Margomulyo yang belum menjalankan unit usahanya meskipun sudah dibentuk pada tahun 2018 yang lalu.
“Kaliklangsi yang merupakan rintisan desa wisata di Margomulyo dijadikan rujukan pengelolaan manajemen yang baik yang dikelola oleh masyarakat,” ujar Eko.
Di samping itu, Eko juga berharap ada peluang kemitraan yang dilakukan oleh Bumkal Usaha Mulia dengan Kaliklangsi.
Sarjono, Ketua BPKal Margomulyo yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa Bumkal usaha mulia untuk segera eksis dengan unit usaha yang sudah disepakati, sehingga peningkatan perekonomian masyarakat segera bisa dirasakan dan berimbas pada kesejahteraan masyarakat kecil.
Sarjono berharap ada langkah kongrit dengan usaha yang kecil dahulu dan fokus pada satu kegiatan saja.
Parjio, pendamping desa dalam kesempatan itu juga mengingatkan kepada Bumkal untuk mencermati AD/ART bila akan melakukan kemitraan dengan pihak lain. Baru kemudian menyusun program kerja.
Manajemen Kaliklangsi eco edupark yang diketuai oleh Hartono, dihadapan peserta diskusi yang hadir membeberkan manajemen tata kelola sebuah desa wisata yang berbasis kuliner seperti di Kaliklangsi yang baru beroperasional kurang lebih 5 bulan tersebut.
“Memulai adalah tantangan terberat yang dirasakan dalam membuka usaha. Dipilih wisata desa dengan konsep kuliner karena dirasa itulah cara yang mudah untuk memajukan wilayah/Kalurahan, begitu Hartono memulai paparannya. Dengan konsep wisata desa tersebut menjadi cara yang mudah memasarkan produk karena mendatangkan pembeli,” terang Hartono.
Hartono juga menyatakan bahwa Margomulyo mempunyai potensi yang besar, Kaliklangsi termasuk didalamnya dan menjadi embrio wisata desa di Margomulyo.
Lebih lanjut , Hartono juga menyampaikan bahwa Kaliklangsi menggunakan pendekatan social enterpreneur artinya bisnis yang berjalan dan dikelola oleh masyarakat. Pendekatan ini yang perlu dicontoh oleh Bumkal yang notabenenya adalah mesin uang bagi Kalurahan artinya Bumkal tidak boleh merugi, sehingga pilihan unit usaha harus tepat.
“Pendeknya Bumkal dan Kalurahan harus saling memperkuat sehingga dalam menjalankan bisnisnya bisa total meskipun Bumkal juga harus mempunyai nilai sosial yang tinggi,” tukas Hartono.
Direktur Bumkal Usaha Mulia, Agung menanggapi paparan dari manajemen Kaliklangsi menyatakan bahwa selama ini telah banyak kegiatan survey yang berkaitan dengan unit usaha sudah dijalankan namun belum mendapat dukungan penuh baik dalam segi pendanaan maupun kepercayaan dari pihak terkait, sehingga Bumkal belum bisa bekerja.
Harapan Agung bentuk kerjasama yang ditawarkan oleh Kaliklangsi dapat direspon dengan baik dan pada prinsipnya Bumkal siap untuk menjadi patner. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



