Urip Kudu Urup, Jamaludin Nur Ridho Sulap Margoluwih Jadi Eduwisata Kampung Nanas Jumbo

Sleman — Semangat pemberdayaan masyarakat pedesaan kini menemukan bentuk barunya di Padukuhan Barak I, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan. Melalui Jamal Farm, seorang pemuda bernama Jamaludin Nur Ridho berhasil mengembangkan konsep eduwisata bertajuk Kampung Nanas Amargoluwih Jumbo. Mengusung konsep budidaya dari hulu ke hilir, kawasan ini tidak hanya menjadi area produksi pertanian, tetapi juga pusat riset dan pembelajaran yang melibatkan berbagai unsur lokal mulai dari kelompok tani, PKK, hingga Karang Taruna.

Kisah sukses ini berawal dari program dana desa yang memberikan bibit nanas gratis kepada warga dengan konsep satu rumah satu bibit. Kini, kesadaran masyarakat telah meningkat pesat hingga setiap rumah rata-rata mengelola tiga sampai lima bibit. Selain dana desa, pengembangan kawasan ini juga didukung oleh pemanfaatan dana riset dosen serta penelitian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama. Jamaludin yang juga menjabat sebagai Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian RI ini memegang teguh filosofi hidup masyarakat Jawa dalam menjalankan usahanya.

“Filosofi saya adalah urip kudu urup, artinya hidup itu harus memberi manfaat untuk orang lain. Kalau kita bertani hanya untuk memperkaya diri sendiri, itu belum cukup bagi saya. Saya ingin keberadaan Jamal Farm ini mengangkat ekonomi tetangga dan warga sekitar melalui kemitraan yang nyata,” ujar Jamaludin Nur Ridho saat ditemui di lokasi usahanya pada Minggu (1/2/2026).

Pemilihan jenis nanas jumbo Smooth Cayenne asal Filipina bukan tanpa alasan. Jamaludin menjelaskan bahwa varietas ini memiliki karakteristik yang sangat ramah untuk dikembangkan di lingkungan pemukiman. Selain budidayanya yang relatif mudah, nanas jenis ini memiliki duri yang minim sehingga aman bagi anak-anak yang berkunjung untuk belajar. Dari sisi konsumsi, buahnya tidak menimbulkan rasa gatal di mulut dan memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi sirup maupun selai.

“Jenis nanas jumbo ini budidayanya relatif mudah, durinya minim jadi ramah anak-anak, dan yang terpenting buahnya tidak gatal di mulut saat dimakan. Kandungan airnya yang melimpah sangat cocok untuk produksi sirup, sementara serat daging buahnya sangat pas diolah menjadi selai berkualitas tinggi. Kami ingin Jamal Farm menjadi ruang belajar bersama, bukan hanya untuk petani, tapi juga mahasiswa dan generasi muda yang ingin melihat pertanian sebagai peluang masa depan,” jelas Jamaludin.

Kini, Jamal Farm telah bertransformasi menjadi tujuan kunjungan akademik bagi mahasiswa dari berbagai universitas besar seperti UGM, IPB, hingga UMY untuk kegiatan riset dan magang kewirausahaan. Selain melayani eduwisata, Jamal Farm juga merambah pasar digital dengan menjual bibit nanas dan pupuk ke berbagai pelosok Indonesia, mulai dari Sumatera Barat hingga Papua. Berbagai riset lanjutan pun tengah dikembangkan, termasuk inovasi pupuk berbahan daun nanas hingga pemanfaatan serat daun nanas sebagai bahan baku kain.

Eksistensi Kampung Nanas Jumbo ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi anak muda di sektor pertanian mampu menjadi penggerak ekonomi lokal. Melalui pemasaran digital yang masif di media sosial, Jamaludin berharap visi besarnya untuk mengajak generasi muda menjadi produktif dan inovatif dapat terwujud dalam menyongsong Indonesia Emas. Kiprahnya yang juga aktif sebagai relawan ambulans menunjukkan bahwa semangat pengabdian dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan masyarakat luas. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Layanan Lava Tour Merapi Perkuat Ekonomi Pariwisata Sleman

Sleman — Sektor pariwisata di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, terus menunjukkan tajinya sebagai magnet utama wisatawan nusantara hingga awal tahun 2026. Melalui layanan wisata terpadu yang memadukan petualangan jeep dan edukasi sejarah, destinasi seperti Bunker Kaliadem terbukti efektif meningkatkan lama kunjungan wisatawan dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal. Transformasi pelayanan yang profesional menjadi kunci utama bagi Kabupaten Sleman dalam mempertahankan posisinya sebagai destinasi unggulan nasional.

Kualitas pelayanan prima tersebut tampak dalam kunjungan rombongan Politeknik Kesehatan Jember, Jawa Timur, pada Sabtu (17/1/2026). Melalui unit usaha DSN Outbound yang dikelola Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Dinamika Sinema Nusantara, para wisatawan mendapatkan paket wisata komplit mulai dari petualangan ekstrem Lava Tour Merapi hingga kegiatan penguatan tim di Kaliurang. Model pelayanan yang mengedepankan pengalaman bermakna ini menjadi standar baru yang diusung para pelaku wisata di Sleman untuk meningkatkan kepuasan pengunjung.

Sepanjang perjalanan melintasi medan berbatu dengan jeep wisata, para peserta tidak hanya disuguhi adrenalin saat menerjang aliran lahar dingin di Kali Kuning, tetapi juga dibekali pengetahuan mendalam mengenai mitigasi bencana. Gunawan, yang bertindak sebagai pemandu sekaligus pemimpin tim, memberikan narasi sejarah di setiap pemberhentian mulai dari Museum Sisa Hartaku hingga Bunker Kaliadem. Penjelasan yang komprehensif ini mengubah perjalanan wisata menjadi ruang kelas alam yang memperluas wawasan wisatawan mengenai ketangguhan masyarakat lereng Merapi.

“Kami berkomitmen memberikan pelayanan yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kualitas informasi. Pemandu di sini berperan sebagai duta edukasi yang menjelaskan kronologi erupsi dan proses pemulihan kawasan. Dengan pelayanan yang informatif dan aman, kami ingin wisatawan merasa bahwa uang yang mereka keluarkan sebanding dengan wawasan dan pengalaman yang mereka bawa pulang,” ujar Gunawan saat mendampingi peserta.

Dampak dari profesionalisme pelayanan ini dirasakan langsung oleh para pelancong. Dian, perwakilan rombongan dari Jember, menyatakan bahwa pelayanan yang mereka terima melampaui ekspektasi. Konsep wisata yang ditawarkan mampu menghadirkan sisi kemanusiaan dan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam. Efek positif dari kesan baik wisatawan ini secara otomatis menjadi sarana promosi gratis bagi Kabupaten Sleman melalui testimoni positif dan unggahan di media sosial yang akan menarik lebih banyak kunjungan dari daerah lain.

“Layanan yang diberikan sangat berkesan karena paket wisatanya tidak sekadar jalan-jalan. Kami mendapatkan tantangan fisik yang seru sekaligus tambahan wawasan tentang mitigasi bencana yang sangat bermanfaat bagi latar belakang kami di bidang kesehatan. Pelayanan dari para driver jeep dan pemandu sangat ramah serta profesional, membuat kami ingin kembali lagi ke Sleman di waktu mendatang,” ungkap Dian memberikan apresiasi.

Upaya pemberdayaan masyarakat melalui unit usaha berbasis komunitas seperti yang dilakukan KIM Dinamika Sinema Nusantara ini memberikan dampak domino bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Meningkatnya kunjungan wisatawan dari luar daerah seperti Jawa Timur secara langsung menghidupkan sektor kuliner, penginapan, dan jasa transportasi lokal di Sleman. Sinergi antara petualangan, edukasi, dan layanan prima ini memperkuat identitas pariwisata Sleman yang tangguh, inovatif, dan ramah bagi semua kalangan (ESK/KIM DSN).




Optimalkan Potensi Wisata, Gardu Pandang Kaliurang Jadi Lokasi Edukasi dan Karakter Pelajar

Sleman — Upaya mempromosikan potensi wisata daerah di Kabupaten Sleman terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif dan edukatif. Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Dinamika Sinema Nusantara melalui unit usaha outbound menggelar kegiatan penguatan kerja sama tim bersama anggota Palang Merah Remaja (PMR) SMKN 1 Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung di Gardu Pandang Kaliurang pada Sabtu (10/1/2026) ini memadukan pembentukan karakter dengan pengenalan destinasi wisata lokal.

Rangkaian aktivitas outbound tersebut dirancang secara khusus untuk membangun kekompakan, kepemimpinan, komunikasi, serta kerja sama tim di kalangan pelajar. Selain menjadi sarana pembinaan kepribadian, agenda ini terbukti menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan kembali destinasi wisata unggulan di lereng Merapi kepada generasi muda agar mereka lebih mencintai potensi daerahnya sendiri.

Salah satu instruktur dari unit usaha tersebut, Didit Paryono, menjelaskan bahwa kegiatan edukatif seperti team building merupakan strategi jitu untuk menarik minat masyarakat, khususnya pelajar, agar berkunjung ke objek wisata lokal. Menurutnya, Gardu Pandang Kaliurang bukan sekadar tempat untuk melihat pemandangan, tetapi juga laboratorium alam yang sangat mendukung kegiatan kelompok dalam jumlah besar.

“Ada banyak cara untuk memperkenalkan wisata yang ada di Kabupaten Sleman, salah satunya melalui kegiatan luar ruangan seperti ini. Gardu Pandang Kaliurang memiliki fasilitas yang sangat memadai dan pemandangan alam yang sangat menarik untuk kegiatan edukasi. Kami ingin para pelajar ini tidak hanya belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga membawa pulang kenangan indah tentang keindahan alam Sleman,” ujar Didit Paryono di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, Didit menambahkan bahwa Gardu Pandang Kaliurang merupakan alternatif wisata keluarga yang sangat terjangkau dan mudah diakses oleh kendaraan. Selain menjadi tujuan wisata alam bagi pelancong umum, lokasi ini juga telah menjadi titik kumpul strategis bagi berbagai komunitas, termasuk komunitas Jeep wisata Merapi yang menjadi ikon pariwisata di kawasan tersebut.

“Dengan harga tiket masuk yang sangat murah, tempat ini sangat cocok untuk wisatawan individu, keluarga, maupun kegiatan komunitas besar. Keindahan alamnya yang asri dengan latar belakang Gunung Merapi menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di tempat lain. Kami melihat antusiasme peserta sangat tinggi saat mengikuti permainan sambil menikmati udara sejuk di sini,” tambah Didit Paryono.

Melalui sinergi antara kegiatan komunitas dan pariwisata ini, KIM Dinamika Sinema Nusantara berharap Gardu Pandang Kaliurang semakin dikenal luas sebagai destinasi wisata yang edukatif dan rekreatif. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu mendukung percepatan pengembangan pariwisata lokal serta meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan potensi daerah di Kabupaten Sleman secara berkelanjutan. (ESK/KIM DSN)




Pesona Wisata Bukit Klangon Warnai Libur Tahun Baru 2026 di Kaki Merapi

Sleman – Momentum liburan Tahun Baru 2026 dimanfaatkan ribuan wisatawan untuk mengunjungi berbagai destinasi alam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi yang tetap menjadi primadona adalah Wisata Bukit Klangon yang terletak di Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Berada di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar hingga meter di atas permukaan laut, Bukit Klangon menawarkan panorama alam yang memukau bagi para pelancong.

Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Merapi dari jarak yang relatif dekat, dengan hamparan alam hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Saat cuaca cerah, terutama di pagi hari, siluet Merapi terlihat megah dari sejumlah gardu pandang dan titik swafoto yang tersedia. Akses menuju lokasi ini pun terbilang mudah, berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan kendaraan pribadi melalui rute ke arah utara menuju Cangkringan.

Pantauan pada Sabtu (3/1/2026) menunjukkan kawasan wisata ini masih dipadati pengunjung yang menikmati sisa suasana liburan Tahun Baru. Wisatawan datang dari berbagai daerah, baik secara rombongan keluarga, komunitas, maupun individu yang mencari ketenangan di alam terbuka. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari sekadar bersantai hingga melakukan olahraga luar ruang seperti bersepeda dan berkemah.

Salah satu wisatawan asal Piyungan, Hari, mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memilih Bukit Klangon sebagai tujuan utama untuk bersepeda bersama rekan-rekannya. Menurutnya, jalur menuju destinasi ini memberikan tantangan tersendiri sekaligus hadiah berupa pemandangan yang menyegarkan mata. Hal tersebut dinilai sangat efektif untuk mengembalikan semangat setelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat.

“Pemandangan sepanjang jalannya sangat bagus dan udaranya sejuk, sangat cocok untuk berolahraga gowes. Stres dan penat setelah bekerja bisa langsung hilang begitu sampai di sini dan melihat kemegahan Merapi secara dekat,” ujar Hari saat ditemui di sela aktivitas bersepedanya.

Hari juga menyoroti keberadaan fasilitas layanan internet nirkabel atau wifi gratis yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sleman di lokasi wisata. Layanan ini dinilai sangat membantu wisatawan untuk tetap berkomunikasi dan membagikan momen liburan di media sosial, mengingat sinyal seluler dari beberapa operator telekomunikasi sering kali sulit dijangkau di kawasan pegunungan tersebut. Ia berharap kualitas koneksi tersebut tetap stabil meski jumlah pengunjung sedang melonjak tajam.

Sebagai destinasi wisata alam, Bukit Klangon dikenal memiliki biaya masuk yang sangat terjangkau dengan fasilitas pendukung yang kian memadai. Keberadaan toilet bersih, musala, dan warung-warung lokal milik warga menambah kenyamanan pengunjung. Dengan keasrian yang tetap terjaga, Bukit Klangon kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu pilihan utama wisata alam di Yogyakarta bagi mereka yang ingin merasakan langsung atmosfer kaki Gunung Merapi. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Perkuat Tata Kelola Wisata Desa, Pokdarwis Margowiyoso Margorejo Belajar Strategi Pengelolaan di Desa Wisata Gabugan

Sleman – Sinergi antarwilayah dalam mengembangkan potensi pariwisata terus diperkuat di Kabupaten Sleman. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Margowiyoso dari Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, melakukan kunjungan studi tiru ke Desa Wisata Gabugan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, pada Sabtu (20/12/2025). Kegiatan yang dipusatkan di Joglo Joyo Pawiran ini bertujuan untuk mendalami strategi penguatan kelembagaan serta pengelolaan desa wisata yang berbasis pada partisipasi aktif masyarakat.

Kunjungan ini menunjukkan keseriusan lintas unsur dalam membangun ekonomi kreatif pedesaan. Rombongan yang hadir tidak hanya terdiri dari pengurus Pokdarwis Margowiyoso, tetapi juga melibatkan Lurah, pamong, staf Kalurahan Margorejo, hingga perwakilan Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal). Kehadiran jajaran pemerintahan dan lembaga desa ini menjadi bukti komitmen kolektif untuk mendorong sektor pariwisata sebagai pilar ekonomi berkelanjutan di Margorejo.

Ketua Desa Wisata Gabugan, Heru Damarjati, menyambut hangat kedatangan rombongan tersebut dan menekankan bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata desa sangat bergantung pada soliditas internal. Menurutnya, desa wisata tidak akan bisa bertahan lama jika hanya dikelola secara perorangan tanpa adanya keterlibatan luas dari warga sekitar. Ia menggarisbawahi pentingnya transparansi dan kemampuan pengelola dalam mengemas potensi lokal menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual.

“Desa wisata tidak bisa berjalan sendiri. Kuncinya ada pada keterlibatan masyarakat, pengelolaan yang transparan, dan kemampuan membaca potensi desa agar memberi manfaat ekonomi nyata bagi warga. Kami selalu menekankan bahwa setiap warga adalah bagian dari pemilik jasa wisata ini,” ungkap Heru Damarjati di sela-sela pemaparan materi.

Lurah Donokerto, Waluyo Jati, menambahkan bahwa Desa Wisata Gabugan merupakan hasil dari proses panjang yang mengedepankan kearifan lokal dan semangat gotong royong. Baginya, dukungan dari pemerintah kalurahan harus berjalan seiring dengan kepercayaan antarwarga. Jika masyarakat sudah merasa memiliki desa wisata tersebut, maka aspek keberlanjutan akan terjaga dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, mengakui bahwa Desa Wisata Gabugan menjadi rujukan yang sangat relevan karena keberhasilannya mengelola potensi alam dan budaya secara terstruktur. Ia berharap kunjungan ini memberikan referensi konkret bagi Pokdarwis Margowiyoso dalam menyempurnakan konsep pengembangan wisata di Margorejo. Baginya, praktik baik yang sudah berjalan di Gabugan sangat inspiratif untuk diadaptasi sesuai dengan karakter lokal yang dimiliki Margorejo.

“Kami datang untuk belajar langsung dari praktik baik yang sudah teruji di lapangan. Harapannya, setelah kegiatan ini ada langkah penyesuaian dan penguatan konsep pengembangan desa wisata di Margorejo yang lebih matang dan sesuai dengan karakter unik wilayah kami,” ujar Abdul Azis Muh Ridwan dengan penuh optimisme.

Melengkapi sesi studi tiru tersebut, Sujatmiko Tri Atmojo memberikan pemaparan mendalam mengenai teknis perencanaan program dan inovasi produk wisata. Ia menekankan bahwa Pokdarwis harus mampu berperan sebagai motor penggerak yang dinamis sekaligus menjadi jembatan antara potensi desa dengan kebutuhan pasar pariwisata saat ini. Dengan visi yang seragam dan pembagian peran yang jelas, sinergi antara pemerintah kalurahan, BPKal, dan masyarakat diharapkan dapat menciptakan desa wisata yang tangguh dan mandiri. (SBD/KIM Senyum Tempel)