Muspika Cangkringan Kunjungi Bukit Klangon

Cangkringan – Musyawarah Kecamatan Cangkringan (Muspika) Kecamatan Cangkringan berkunjung ke wisata alam Bukit Klangon yang berada di Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Jumat (31/5/2019). Rombongan terdiri dari pemerintah kecamatan, Polsek Cangkringan, Satpol PP, Pemerintah Desa Glagaharjo, Babinkamtibnas dan Babinsa Desa Glagaharjo.

Camat Cangkringan, Suparmono menyampaikan kepada pengelola
wisata untuk selalu menjaga kenyamanan dan keamanan untuk semua pengunjung. “Baik
itu keamanan untuk parkir,  dan juga
warung-warung yang menjajakan makanan.  Petugas
jaga untuk selalu bersikap ramah bagi semua pengunjung,” pesan Suparmono.

Bukit Klangon adalah salah satu tujuan wisata yang berada di wilayah Cangkringan yang saat libur Lebaran selalu ramai. Disini pengunjung disuguhkan dengan pemandangan yang indah dengan gagahnya Gunung Merapi, serta udara yang sangat sejuk. Di arah selatan bukit, wisatawan bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta.(KIM Cangkringan/Sumarno)




BUMDes Tridadi Makmur Mulai Hasilkan Laba

Sleman – BUMDes Tridadi Makmur yang salah satu unit usahanya
adalah wahana wisata Puri Mataram di tahun 2019 ini telah mampu memberikan laba
keuntungan (dividen) kepada Pemerintah Desa Tridadi sebesar Rp140 juta. BUMDes
ini juga mampu memberikan dividen sebesar Rp320 ribu kepada warga yang menanam
saham sebasar Rp4 juta. Puri Mataram sendiri merupakan tempat wisata baru yang
berdiri tahun 2017.

Keuntungan BUMDes ini dipaparkan oleh Kepala Desa Tridadi, Kabul
Mudji Basuki di depan juri lomba perkembangan desa dan kelurahan (Epdeskel)
tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Bappeda DIY, Kota Yogyakarta,
Selasa (29/5/2019). Kabul Mudji Basuki memaparkan tentang penyelenggaraan pemerintah
Desa Tridadi yang terletak di Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman dan segala
inovasinya.

Pemaparan ini merupakan lanjutan dari rangkaian kegiatan
setelah sebelumnya Desa Tridadi sudah diverifikasi lapangan oleh tim juri dari DIY
pada Kamis, 23 Mei lalu. Verifikasi ini mencakup administrasi pemerintahan dan
mencocokannya dengan kenyataan di lapangan, dengan titik sampel di Padukuhan
Jaban dan wahana wisata Puri Mataram yang merupakan Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes) milik Pemerintah Desa Tridadi.

Andalan Desa Tridadi dalam Lomba Epdeskel tahun 2019 ini
adalah adanya inovasi rekayasa lingkungan 
yang diwujudkan dalam bentuk BUMDes Tridadi Makmur. “BUMDes ini sekarang
memiliki dua unit usaha,  yaitu
pembibitan dan rental tanaman hias, khususnya Aglonema dan satu unit wisata
yakni Puri Mataram,” imbuh Kepala Desa Tridadi, Kabul Mudji Basuki.

Selain itu Desa Tridadi juga memaparkan adanya rintisan
dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan umum dengan memanfaatkan aplikasi
berbasis android.

Pemaparan
dinilai berdasarkan penguasaan materi kepala desa 60%, ketepatan waktu
pemaparan yg dibatasi maksimal 15 menit dengan bobot 15% dan kemampuan dalam
menanggapi tanya jawab dewan juri sebesar 25%. (KIM Manggolo Purnomo/Sri
Hartati)




5 Tahun Kembangkan Pariwisata Halal, Indonesia Akhirnya Raih Peringkat Pertama Wisata Halal Dunia 2019

Jakarta – Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.

Prestasi ini merupakan kabar gembira
yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian
yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh
bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal,
Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal
terbaik dunia.

Prestasi baru ini telah disampaikan secara
langsung oleh CEO CrescentRating dan juga , Fazal Bahardeen,
bertempat di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (09/04) dan dihadiri langsung oleh
Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Arief Yahya, dan didampingi
oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri
Adnyani, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Rizki Handayani, Staf Ahli
Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata sekaligus selaku Ketua Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Anang Sutono, dan Pengarah Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Riyanto Sofyan.

Fazal menyampaikan jika tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. “Setelah bergabung dalam GMTI, tahun ini, Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78”, ungkap Fazal, Senin (15/4/2019).

Selain Indonesia dan Malaysia, urutan
ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor
75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi
kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia
lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman
(skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).

Senada dengan Fazal, Menpar yang hadir
dalam acara tersebut tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya dan secara
khusus mengucapkan terima kasih pada seluruh jajaran Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal yang telah bekerja keras sehingga prestasi baru
ini berhasil diraih untuk Indonesia.

“Saya ucapkan selamat bagi seluruh Tim
Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi
Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, tahun ini. Saya
harapkan prestasi ini akan memacu destinasi wisata lain di Indonesia untuk
segera mengembangkan wisata halal di masing-masing daerahnya, karena kita
mampu, Indonesia mampu dan layak untuk dikenal dunia” imbuh Menpar.

Pengembangan pariwisata halal
Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang
sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030,
jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di
seluruh dunia. Selain itu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di
tahun 2018 mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara
yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta
dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Mengacu pada target capaian 20
juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019,
Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman
adalah wisatawan muslim.  

Peluang
inilah yang ditangkap oleh Kementerian Pariwisata, dan ditindaklanjuti dengan
pengembangan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu
standar GMTI, antara lain: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok,
dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Tahun ini, penguatan destinasi
pariwisata halal dilakukan dengan menambah keikutsertaan 6 Kabupaten dan Kota
yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu
Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten
Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur.

Untuk
meriah prestasi baru ini, Indonesia melalui Kementerian Parwisata juga telah
rutin melakukan bimbingan teknis (bimtek) serta workshop di 10 destinasi
pariwisata halal unggulan. Guna mendorong percepatan pengembangan destinasi
pariwisata halal nasional berstandar global, Kementerian Pariwisata
menyelenggarakan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada tahun 2018 dan 2019.
Penilaian IMTI dilakukan langsung oleh CrescentRating-Mastercard yang
bekerjasama dengan Indonesia dengan menggunakan empat indikator utama yang telah ditetapkan oleh GMTI
yakni: accessibility (aksesibilitas),
communication (komunikasi), environment (lingkungan) dan service (layanan). Hasil penilaian dari
empat aspek utama tersebut secara otomatis akan menentukan top 5 destinasi
wisata halal prioritas Indonesia.

CrescentRating-Mastercard
juga telah mengumumkan bahwa top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia
2019 secara berturut-turut diraih oleh Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan skor
70, Aceh dengan skor 66, Riau dan Kepulauan Riau dengan skor 63, DKI Jakarta
dengan skor 59, serta Sumatera Barat dengan skor 59. Penganugerahan bagi lima
destinasi wisata halal prioritas serta 11 destinasi wisata halal lainnya telah
dilaksanakan oleh Menpar minggu lalu bertempat di Bidakara Hotel, Selasa
(09/04) dan dihadiri langsung oleh perwakilan dari masing-masing
Provinsi/Kota/Kabupaten destinasi wisata halal tersebut. Selain acara
penganugerahan, Kemenpar juga melakukan penandatanganan kesepahaman (Memorandum
of Understanding) antara Kemenpar yang diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan
Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri Adnyani bersama perwakilan CEO Provinsi/Kota/Kabupaten
dari 16 destinasi wisata halal prioritas, sebagai bukti komitmen Kepala Daerah
dalam mengembangan pariwisata halal di masing-masing daerahnya.




Menikmati Wisata Petik Buah di Sobo Kebon Agro

Ngaglik
– Berada di tengah bentang area persawahan antara Dusun Turen di sebelah utara
dan Dusun Kringinan Sardonoharjo di selatan, Sobo Kebon Agro (SKA) menjadi
lokasi yang tepat bagi wisatawan yang merindukan suasana damai, tenang, sunyi,
jauh dari keramaian, dan hiruk pikuk suara deru mesin.

Memasuki
area gerbang, di sebelah kanan disambut dengan gemericik suara air dari 2 kolam
pemancingan besar yang berisi aneka macam ikan.

Di
sebelah kiri kolam berdiri bangunan berbentuk limasan terbuka tanpa dinding
dengan konstruksi bambu dihiasi furniture kayu utuh dan hiasan caping petani di
setiap tiang penyangga memberi kesan suasana tradisional pedesaan yang sangat
kental. Limasan dengan ukuran 20mx20m sangat cocok untuk acara rapat, workshop,
reuni, atau hanya sekadar santai bersama keluarga.

Itulah
Sobo Kebon Agro, destinasi wisata yang menawarkan wisata kebon buah, koleksi
tanaman langka, dan pemancingan.

Menurut
Joelang Arwanto sang pemilik saat ditemui Minggu (14/4/2019), Sobo Kebon Agro
secara administratif berada di Dusun Jetis Baran, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman
berdiri tahun 2017 menempati lahan seluas 8000m2 dan merupakan
perluasan dari Endless Garden yang berlokasi di Dusun Mindi, Sukoharjo,
Ngaglik, Sleman.

“Endless
Garden sejak berdiri tahun 2005 menyediakan bibit tanaman buah karena
keterbatasan lahan maka untuk tanaman yang siap berbuah di pindah di lokasi ini,”
paparnya.

Sobo
Kebon Agro mempunyai koleksi ratusan batang pohon buah, di antaranya blimbing taiwan,
srikaya, dan berbagai jenis tanaman manga. Sedangkan tanaman yang sudah berbuah
dan siap petik di antaranya klengkeng king long, jambu madu deli, sawo
mentimun, jambu kristal, dan blimbing taiwan. Pengunjung bisa petik buah yang
sudah matang langsung dari pohon.

“Dengan
teknik tertentu buah-buahan yang berada di Sobo Kebon Agro tidak mengenal musim
seperti pohon buah pada umumnya jadi pengunjung bisa mendapatkan buah yang
diinginkan sepanjang waktu,” lanjut Joelang yang sering diundang sebagai
narasumber di berbagai pelatihan budidaya tanaman buah.

Lebih
lanjut Joelang menjelaskan bahwa Sobo Kebon Agro mempunyai koleksi tanaman
langka yang berasal dari berbagai belahan dunia seperti mame sapote atau sawo
raksasa dari Amerika yang memiliki 2 jenis yaitu Havana dan magana, plum aussie
dari Australia, Kenitu ungu atau sawo bludru ungu, grumichana atau cheri
Brazil, delima Spanyol, anggur pohon dari Brazil, black sapote dan putosan atau
rambutan hitam dari Malaysia.

Di
tempat ini tedapat koleksi tanaman lokal yang sekarang jarang dijumpai seperti
duwet, kepel, sawo kecik, dan lain sebagainya. Selain kebun buah di Sobo Kebon
Agro terdapat 2 kolam pancing besar yang berisi ikan nila, bawal tombro, dan
patin.

“Pengunjung
bisa memancing ikan sepuasnya karena dibayar per kilogram  tergantung jenis ikan yang diperoleh. Alat
pancing disediakan di sini sekaligus menyediakan jasa masak langsung,”
ungkap Joelang.

Bambang,
pengunjung asal Godean Sleman mengatakan alasannya mengunjungi ke Sobo Kebon Agro.
“Sengaja saya datang ke sini bersama keluarga mencari suasana lain mengisi
liburan yang biasanya ke pantai, gunung atau ke mall di tempat ini bisa santai,
mancing ikan, petik buah langsung dan yang penting anak saya yang masih SD bisa
mengenal tanaman langka yang sekarang jarang dijumpai,” ujarnya. (Up W)




RIF 2019 Tawarkan Peluang Investasi Ekonomi Digital dan Pariwisata

Jakarta – Untuk mewujudkan visi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia menyelenggarakan Regional Investment Forum (RIF) sebagai ajang promosi investasi tahunan pada 11 Maret 2019. Kegiatan yang berlangsung di Nusantara Hall 1 – ICE BSD City, Banten ini mengundang pelaku ekonomi digital di antaranya, pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, serta pelaku usaha terkait, baik dari dalam maupun luar negeri.

Tahun ini, tema RIF yang
diusung adalah “Indonesia’s Digital
Drive: Utilizing Digital Technology in Developing Regional and Tourism
Investment Opportunities”.
Tema ini sesuai dengan perkembangan industri
digital yang cukup signifikan beberapa tahun terakhir. Hingga Februari 2019,
jumlah startup di Indonesia mencapai startup dengan
pertumbuhan tertinggi di tiga sektor yaitu ­on-demand services, financial
technology (fintech)
dan e-commerce. 
Tingginya angka pertumbuhan startup ini mendorong BKPM untuk
mengubah konsep RIF tahun ini menjadi berbeda, yaitu mengundang para perusahaan
rintisan (startup). Setidaknya, ada 250 startup yang hadir dalam
perhelatan ini.

“Perkembangan industri startup yang cukup cepat ini harus segera direspon oleh pemerintah, terutama BKPM sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi pelayanan dan pelaksanaan penanaman modal. Oleh karena itu ,RIF tahun ini memang diharapkan menjadi meeting point bagi para investor, pelaku bisnis startup, pemerintah daerah dan stakeholders terkait lainnya, sehingga perkembangan industri ini memiliki dampak yang maksimal bagi investasi Indonesia,” ungkap Thomas Trikasih Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Senin (11/3/2019).

Dari data APJII, pengguna
internet di Indonesia mencapai 143 juta atau 54% dari total populasi dengan
jumlah pemilik smartphone dan mobile internet mencapai 90 juta (statista).
Riset Google dan Temasek juga menyebutkan market size ekonomi digital Indonesia
juga mencapai USD 27 miliar dan berpotensi menjadi USD 100 miliar pada tahun
2025. Dari aliran investasi asing per tahun di level USD 20-25 miliar,
diperkirakan 10% disumbang dari sektor ekonomi digital.

Dalam acara ini, digelar
beberapa sesi antara lain seminar, digital startup pitching, one-on-one
meeting
antara calon investor dengan startup, pemerintah daerah
dengan calon investor dan startup dengan calon investor, serta business
clinc
atau klinik konsultasi usaha oleh BKPM, BI Fintech Office, Otoritas
Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Pariwisata, Kementerian Komunikasi dan
Informatika, serta perbankan dan law firm. Untuk one-on-one meeting, BKPM
mengatur148 pertemuan yang melibatkan 64 perusahaan startup
serta 45 perusahaan/investor. Sedangkan, untuk kegiatan seminar dihadiri oleh
sekitar 800 peserta, yang terdiri dari perwakilan pemerintah pusat, pemerintah
daerah, kedutaan asing, asosiasi dunia usaha, maupun calon investor.

“Tujuan pelaksanaan
kegiatan RIF adalah untuk mempromosikan peluang investasi Indonesia khususnya
bidang ekonomi digital dan pariwisata. Jadi kami fokus membuka jalur komunikasi
antara pemerintah daerah, calon investor, dan startup di bidang
tersebut. Harapannya, investasi di bidang ekonomi digital dan pariwisata juga
bisa naik secara signifikan,” ungkap Farah Ratnadewi Indriani, Deputi Bidang
Promosi Penanaman Modal.

BKPM juga mengundang
beberapa pembicara dalam event ini, di antaranya Menteri Komunikasi dan Informatika, Staf Khusus Bidang
Teknologi Informasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Deputi Gubernur Bank
Indonesia, Wakil Gubernur Jawa Timur, serta Vice President Media and Digital
Telkom. Di samping itu, hadir sebagai narasumber dari pelaku bisnis dan
investor antara lain Co-Founder Nalagenetics, Founding Partner of Kejora
Ventures, serta Founder Sale Stock (Sorabel). Dalam sesi digital startup pitching, BKPM menghadirkan panelist yang terdiri dari NextICorn, Kejora Ventures, MDI
Ventures, dan East Ventures.