Jakarta – Indonesia kembali menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating – Mastercard.
Prestasi ini merupakan kabar gembira
yang tidak hanya dirasakan oleh Kementerian Pariwisata saja selaku Kementerian
yang menangani pengembangan wisata halal di Indonesia, namun juga bagi seluruh
bangsa Indonesia. Setelah lima tahun fokus pada pengembangan pariwisata halal,
Indonesia akhirnya mampu menunjukkan potensinya sebagai destinasi wisata halal
terbaik dunia.
Prestasi baru ini telah disampaikan secara
langsung oleh CEO CrescentRating dan juga , Fazal Bahardeen,
bertempat di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (09/04) dan dihadiri langsung oleh
Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia, Arief Yahya, dan didampingi
oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri
Adnyani, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Rizki Handayani, Staf Ahli
Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata sekaligus selaku Ketua Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Anang Sutono, dan Pengarah Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal, Riyanto Sofyan.
Fazal menyampaikan jika tahun 2019 akhirnya Indonesia menduduki peringkat pertama wisata halal dunia versi GMTI 2019, bersanding dengan Malaysia. “Setelah bergabung dalam GMTI, tahun ini, Indonesia patut berbangga karena akhirnya mampu menduduki peringkat pertama wisata halal dunia, bersanding dengan Malaysia, dengan total skor 78”, ungkap Fazal, Senin (15/4/2019).
Selain Indonesia dan Malaysia, urutan
ranking wisata halal dunia versi GMTI diraih oleh Turki di posisi ketiga (skor
75), Arab Saudi di posisi keempat (skor 72), serta Uni Emirat Arab di posisi
kelima (skor 71). Negara lain yang masuk dalam top 10 wisata halal dunia
lainnya antara lain Qatar (skor 68), Maroko (skor 67), Bahrain (skor 66), Oman
(skor 66), dan Brunei Darussalam (skor 65).
Senada dengan Fazal, Menpar yang hadir
dalam acara tersebut tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya dan secara
khusus mengucapkan terima kasih pada seluruh jajaran Tim Percepatan
Pengembangan Pariwisata Halal yang telah bekerja keras sehingga prestasi baru
ini berhasil diraih untuk Indonesia.
“Saya ucapkan selamat bagi seluruh Tim
Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal yang akhirnya berhasil mewujudkan mimpi
Indonesia sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia, tahun ini. Saya
harapkan prestasi ini akan memacu destinasi wisata lain di Indonesia untuk
segera mengembangkan wisata halal di masing-masing daerahnya, karena kita
mampu, Indonesia mampu dan layak untuk dikenal dunia” imbuh Menpar.
Pengembangan pariwisata halal
Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pariwisata yang
sudah dikerjakan sejak lima tahun yang lalu. Data GMTI 2019 menunjukkan bahwa hingga tahun 2030,
jumlah wisatawan muslim (wislim) diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di
seluruh dunia. Selain itu, pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di
tahun 2018 mencapai 18%, dengan jumlah wisatawan muslim (wislim) mancanegara
yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta
dengan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun. Mengacu pada target capaian 20
juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019,
Kementerian Pariwisata menargetkan 25% atau setara 5 juta dari 20 juta wisman
adalah wisatawan muslim.
Peluang
inilah yang ditangkap oleh Kementerian Pariwisata, dan ditindaklanjuti dengan
pengembangan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu
standar GMTI, antara lain: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok,
dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Tahun ini, penguatan destinasi
pariwisata halal dilakukan dengan menambah keikutsertaan 6 Kabupaten dan Kota
yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu
Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten
Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur.
Untuk
meriah prestasi baru ini, Indonesia melalui Kementerian Parwisata juga telah
rutin melakukan bimbingan teknis (bimtek) serta workshop di 10 destinasi
pariwisata halal unggulan. Guna mendorong percepatan pengembangan destinasi
pariwisata halal nasional berstandar global, Kementerian Pariwisata
menyelenggarakan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) pada tahun 2018 dan 2019.
Penilaian IMTI dilakukan langsung oleh CrescentRating-Mastercard yang
bekerjasama dengan Indonesia dengan menggunakan empat indikator utama yang telah ditetapkan oleh GMTI
yakni: accessibility (aksesibilitas),
communication (komunikasi), environment (lingkungan) dan service (layanan). Hasil penilaian dari
empat aspek utama tersebut secara otomatis akan menentukan top 5 destinasi
wisata halal prioritas Indonesia.
CrescentRating-Mastercard
juga telah mengumumkan bahwa top 5 destinasi wisata halal prioritas Indonesia
2019 secara berturut-turut diraih oleh Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan skor
70, Aceh dengan skor 66, Riau dan Kepulauan Riau dengan skor 63, DKI Jakarta
dengan skor 59, serta Sumatera Barat dengan skor 59. Penganugerahan bagi lima
destinasi wisata halal prioritas serta 11 destinasi wisata halal lainnya telah
dilaksanakan oleh Menpar minggu lalu bertempat di Bidakara Hotel, Selasa
(09/04) dan dihadiri langsung oleh perwakilan dari masing-masing
Provinsi/Kota/Kabupaten destinasi wisata halal tersebut. Selain acara
penganugerahan, Kemenpar juga melakukan penandatanganan kesepahaman (Memorandum
of Understanding) antara Kemenpar yang diwakili oleh Deputi Bidang Pengembangan
Industri dan Kelembagaan, Ni Wayan Giri Adnyani bersama perwakilan CEO Provinsi/Kota/Kabupaten
dari 16 destinasi wisata halal prioritas, sebagai bukti komitmen Kepala Daerah
dalam mengembangan pariwisata halal di masing-masing daerahnya.