Berlari Sembari Menikmati Indahnya 7 Candi di Sleman

Sleman – Kapan lagi olahraga bisa dijadikan satu dengan wisata? Hal ini yang ditawarkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dengan menggelar Sleman Temple Run 2017 pada 16 Juli 2017.  Dengan rute awal di Tebing Breksi kemudian melewati 7 candi yang ada di Sleman, acara ini merupakan bentuk kerja sama Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dengan Trail Runners Yogyakarta.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Sudarningsih, , mengaku bahwa Kabupaten Sleman tengah memberikan perhatian khusus terhadap sport tourismyang diketahui sedang berkembang pesat dan banyak diminati oleh kalangan wisatawan muda saat ditemui di Bagian Humas Kabupaten Sleman, Jumat (2/6).

Bahkan, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menempatkan sport tourism sebagai salah satu produk wisata yang akan terus dikembangkan secara serius, sehingga nantinya Sleman melalui brand Sleman, the living culture, the part of Jogja dapat menjadi salah satu destinasi sport tourism khususnya olaraga lari di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sudarningsih menuturkan bahwa Sleman memiliki potensi besar dalam mengembangkan sport tourism, utamanya untuk olahraga lari, seperti marathon, fun run, jalan sehat, ataupun trail run (jelajah alam).

Didukung dengan banyaknya spot indah yang ditawarkan, contohnya saja candi, peninggalan sejarah dan budaya, pun suasasana pedesaaan, tentu acara yang mengusung konsep sport tourism ini akan menarik antusiasme banyak peserta. Ini terbukti dari gelaran Mandiri Jogja Marathon pada 23 April 2017 lalu yang diikuti oleh lebih dari 6 ribu peserta.

Sleman Temple Run 2017 memiliki tiga kategori yang akan diperlombakan.

“Sleman Temple Run ini terbagi dalam tiga kategori, umum 13 km dengan biaya pendaftaran 250 ribu, kemudian yang umum 25 km biaya pendaftarannya 350 ribu, sedangkan khusus untuk TNI dan Polri di 25 km, biaya pendaftarannya juga 350 ribu,” jelas Sudarningsih.

Dengan tiga kategori tersebut, Sleman Temple Run 2017 menargetkan 500 peserta dari berbagai kalangan dan usia untuk memperebutkan total hadiah senilai 75 juta rupiah.

“Dari target 500 peserta, yang sudah fix ada 300an peserta,” lanjut Sudarningsih.

Meski demikian, Sudarningsih mengaku optimis target tersebut akan terlewati mengingat di pelaksanaannya tahun lalu yang menargetkan 500 peserta tercapai hingga 600 peserta.

Adapun 7 candi yang akan dilewati dalam rute adalah Candi Miri, Candi Ijo, Candi Banyunibo, Candi Keraton Ratu Boko, Candi Sojiwan, Candi Dawangsari, dan Candi Barong. Sementara, total elevasi yang akan dilalui mencapai 1000 meter untuk kategori 25 km dan 650 meter untuk kategori 13 km.

“Rute yang disajikan nanti bervariasi, melintasi bukit, terus bebatuan yang ada di sekitar candi. Peserta juga akan disuguhi dengan view yang bagus yang memang tidak mereka temukan di kota-kota lainnya,” imbuh Zaki Wardhana dari Trail Runners Yogyakarta.

Permukaan tanah dan batuan yang tidak rata nantinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta untuk bisa mencapai garis finish. Peserta yang mampu mencapai garis finish dengan waktu yang sudah ditentukan pun berhak mendapatkan medali yang sudah dipersiapkan oleh panitia.

Sampai saat ini, Zaki mengemukaan sudah ada sejumlah pelari mancanegara yang mendaftarkan diri untuk ikut dalam lomba lari maraton ini. Bagi masyarakat yang ingin ikut berpartisipasi, pendaftaran masih dapat dilakukan hingga 10 Juni 2017 melalui website .




Jum’at Besok, Labuhan Merapi Digelar

Sleman – Jum’at besok mulai pukul WIB akan dilaksanakan rangkaian puncak acara dalam rangka hajad  Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dalam bentuk upacara adat Labuhan Merapi dalam rangka memperingati kenaikan tahta Sultan HB X.

Rangkaian acara labuhan tersebut diawali pada Kamis 27 April 2017 pukul WIB berupa penyerahan uba rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat kepada Camat Depok di Pendopo Kecamatan Depok.

“Uba rampe selanjutnya oleh para abdi dalem dan Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan. Pada jam WIB Camat Depok menyerahkan uba rampe tersebut kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan”, kata Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY Aji Wulantara, SH, , (Rabu 26/4)

Aji menambahkan bahwa Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo atau yang akrab dipanggil dengan Pak Asih untuk dibawa ke Joglo Kinahrejo. Sesampainya di Joglo Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan) sekitar pukul WIB akan diadakan upacara seremonial dan diselingi fragmen labuhan Merapi.

Pada malam harinya pukul WIB di Pendopo Kinahrejo dilakukan penampilan panembromo dan sekar mocopat, dilanjutkan dengan acara kenduri wilujengan. Pada pukul WIB dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon “Dumadining Gunung Merapi” oleh dalang Ki Sigit Manggala Saputra.

Jum’at 28 April 2017 mulai pukul WIB rangkaian uba rampe akan diarak dalam perjalanan sekitar dua jam menuju ke Bangsal Sri Manganti untuk dilakukan upacara resmi puncak Labuhan Merapi.

Uba rampe yang dilabuh berupa sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, destar doromuluk satu lembar. Selain itu turut disertakan juga kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.

Aji mengatakan bahwa event labuhan Merapi sudah menjadi agenda rutin tahunan sebagai hajat Dalem Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Event ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi warga masyarakat khususnya di Kabupaten Sleman terhadap potensi budaya lokal yang adiluhung yang tentunya akan mendukung dan memperkuat keistimewaan Yogyakarta.




Kontingen Sleman Sabet 4 Kejuaraan dalam Parade Busana Daerah Tingkat Nasional

Sleman – Kontingen Kabupaten Sleman berhasil menyabet 4 kejuaraan dalam Festival Busana Daerah Tingkat Nasional dalam rangka HUT TMII ke 42. Hal ini sungguh menggembirakan mengingat kali ini baru pertama kalinya bagi kontingen Kabupaten Sleman mengikuti ajang yang sudah dilaksanakan kesembilan kalinya. Demikian dinyatakan oleh Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY Aji Wulantara, SH,MHum, dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat Beran Tridadi Sleman Yogyakarta,  Selasa (25/4).

Kontingen Kabupaten Sleman yang dikompetisikan dalam ajang Parade Busana Daerah dalam rangka HUT TMII ke-42 adalah desain “Paes Ageng Kanigaran Modifikasi” oleh Retno Mursilah, dan desain “Gurdha Narendra” oleh Afif Ghurub Bestari, . Dewan juri yang terdiri atas Nuki Kusuma Astuti, Samuel Watimena, Taruna Kusmayadi, Muh Rais, Umi Sri Ningsih memberikan 4 kejuaraan kepada kontingen Kabupaten Sleman.

Keempat kejuaraan tersebut meliputi, peraga busana putra unggulan kategori bahan dasar khas tradisi atas nama Bayu Hariesta Jambak, penyaji adibusana unggulan kategori bahan dasar daur ulang atas nama Afif Ghurub Bestari, , perancang busana unggulan kategori bahan dasar daur ulang atas mama Afif Ghurub Bestari, , dan penata rias unggulan kategori bahan dasar daur ulang atas nama Kusminarko Warno, MPd. Atas perolehan kejuaraan tersebut, para pemenang mendapatkan trophy dari Direktur Utama TMII dan piagam penghargaan.

Aji mengharapkan pengiriman kontingen Kabupaten Sleman ke berbagai ajang bertaraf nasional akan dapat meningkatkan citra Kabupaten Sleman diluar daerah, terlebih lagi apabila mampu menunjukkan prestasidan menyandang kejuaraan.

Disisi lain ajang tersebut akan dapat meningkatkan kemampuan para pelaku seni budaya Kabupaten Sleman dalam berkompetisi secara nasional serta meningkatkan apresiasi bagi masyarakat khususnya masyarakat luar daerah.***




Turnamen Lempar Piasu Bentuk Watak dan Akhlak Generasi Muda

Sleman – Turnamen lempar pisau terbilang merupakan cabang olahraga yang langka, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengingat olah raga ini baru sejak 6 tahun lalu mulai dipertandingkan di Indonesia. Untuk pertama kalinya, turnamen tersebut akan diadakan dengan tema “1 Jogja Knife Throwing Tournament” di Taman Rekreasi & Camping Ground Kaliurang pada 21-23 April 2017.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi Dan Pembangunan Dra.  Rini Murni Lestari, Akt, MM berharap turmanen tersebut dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan hobinya. Namun yang perlu diingat dengan olah raga tersebut jangan dimanfaatkan untuk kegiatan dan tindakan yang negatif, Kamis (16/4).

“Dengan olah raga tersebut agar dapat dimanfaatkan untuk membentuk watak dan akhlak yang lebih mulia bagi generasi muda”, tambah Rini.

Sedangkan tujuan turnamen tersebut untuk mengembangkan dan membina kegiatan lempar pisau di Yogyakarta. Serta memperkenalkan olah raga lempar pisau kepada masyarakat Yogyakarta yang merupakan salah satu cabang olah raga resmi.

Akan hadir dalam turnamen tersebut antara lain cabang dari Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, Cilegon, Semarang, Yogyakarta, dll. Kelas yang akan dipertandingkan ada 13 kategori antara lain Fill Spin Profesional dan amatir, No Spin, Half Spin, dll.




Mengenal Sejarah Stasiun Maguwo

Sleman – Stasiun Maguwo Lama merupakan satu dari sedikit stasiun kayu yang tersisa di Indonesia. Bangunan kayu tersebut diresmikan pada tahun 1909 dan sejak itu menjadi saksi dari kejayaan 18 pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta. Bukan itu saja, Stasiun Maguwo Lama juga menyimpan banyak kisah-kisah pilu Yogyakarta di masa Agresi Militer II.

Stasiun Maguwo Lama mulai beroperasi seiring beroperasinya jalan rel rute Klaten – Lempuyangan (30 km) oleh perusahaan kereta api swasta NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg maatschappij). Jalan rel tersebut merupakan bagian dari jalur kereta api rute Solo – Yogyakarta yang dibangun oleh NIS.

Bangunan stasiun Maguwo Lama yang didirikan pertama kali itu selanjutnya dibongkar pada tahun 1930, kemudian dibangunlah bangunan baru yang dapat dilihat sampai sekarang. Meski saat ini sepi dan tidak ada aktivitas perkeretaapian lagi, namun ternyata stasiun ini menyimpan banyak cerita bersejarah.

“Stasiun Maguwo lama merupakan stasiun unik karena menjadi satu dari sedikit stasiun yang masih memakai kayu sebagai bahan utama,” kata Seksi Bidang Bangunan Komunitas Roemah Toea, Hari Kurniawan saat Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage di Stasiun Maguwo Lama, Minggu (2/4). Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis dan Jelajah Heritage ini sendiri adalah upaya yang digagas untuk mempromosikan nilai-nilai budaya Jogja. Diikuti oleh mahasiswa, blogger, dan pecinta fotografi, acara berlangsung ramai dan unik karena peserta mengenakan pakaian rakyat Jawa tempo dulu dan pakaian pejuang di era revolusi.

Bergaya arsitektur Eropa, Stasiun Maguwo Lama berbentuk persegi panjang, memiliki empat ruang, yaitu ruang PPKA (pimpinan perjalanan kereta api), ruang kepala stasiun yang tergabung dengan loket tiket, ruang dapur dan ruang tunggu penumpang.

Ketika masih aktif, stasiun ini melayani bongkar muat pupuk Sriwijaya ke gudang pupuk dan melayani angkutan ketel untuk memasok Avtur ke Bandara Adisucipto. Seiring dengan diaktifkannya Stasiun Maguwo baru pada tahun 2008 yang terintegrasi dengan bandara Adisucipto maka stasiun Maguwo lama ini dinonaktifkan. Karena memiliki nilai sejarah, maka bangunan stasiun Maguwo lama kemudian masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya.

Pada tahun 2010, Pusat Pelestarian Benda dan Bangunan – PT Kereta Api Indonesia (persero) melakukan perawatan dengan cara memperbaharui warna cat sehingga tampak lebih bersih dan rapi. Bangunan yang sudah lama tidak berfungsi ini direncanakan akan dihidupkan kembali agar bermanfaat bagi masyarakat luas. Saat ini bangunan antik tersebut banyak dimanfaatkan oleh para pecinta bangunan heritage, komunitas fotografi, dan blogger.