Sleman Penyaji Terbaik dalam Seleksi Gelar Seni DIY

Ir AA Ayu Laksmidewi TP MMSleman – Kontingen Kabupaten Sleman “Punglor Ajaib” berhasil meraih sebagai penyaji terbaik pada Seleksi Gelar Seni Pertujunkan tingkat DIY Tahun 2015 yang diselenggarakan di Pendopo Dinas Kebudayaan Pemerintah Daerah DIY, Selasa (20/10). Sleman mampu menyisihkan 3 Kabupaten dan 1 Kota se DIY. Penata tari kontingen Sleman Bramantyo Fendi Prastowo dan Penata iringan kontingen Sleman Fajar Sri Sabdono.

Atas prestasi tersebut Kabupaten Sleman akan mewakili DIY dalam event Gelar Seni Budaya Yogyakarta ke 15 dalam rangka Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke 268 pada tanggal 1 November 2015 di TMII Jakarta.

Diselenggarakannya Seleksi Gelar Seni Pertunjukan tersebut merupakan ajang kompetisi bagi sebuah karya baru dengan berpijak pada seni tradisi yang ada di Jogja, baik yang bersumber pada adat istiadat, mitos, legenda dan cerita rakyat. Penyerahan kejuaraan disampaikan oleh Plh Kepala Dinas Kebudayaan, Setyawan Sahli SE MM.

Adapun urutan kejuaraan Gelar Seni Pertunjunkan tersebut adalah Penyaji terbaik I Kabupaten Sleman, Penyaji terbaik II Kabupaten Bantul, Penyaji terbaik II Kabupaten Gunung Kidul dan Harapan I Kota Yogyakarta serta Harapan II Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan Dewan Juri dalam penyelenggaraan ini yaitu Dr Kuswawarsantyo MHum, Dra Setyastuti , Dra Daruni M Hum, Sukoco dan RM Kristiadi, .

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengungkapkan bahwa Seleksi Gelar Seni Pertunjunkan ini merupakan ajang yang cukup strategis bagi upaya revitalisasi, pelestarian dan peningkatan apresiasi dikalangan pelaku seni budaya maupun bagi masyarakat secara umum, Kamis (22/10).
‪
Dalam hal ini pemerintah tidak bisa secara terpisah melakukan upaya pelestarian seni budaya tanpa adanya peran aktif dari para stakeholder dan masyarakat umum.

“Pemerintah, stake holder dan masyarakat perlu secara terpadu dan sinergis membangun peradaban melalui pelestarian seni dan budaya yang ada di masing-masing daerah,” kata Ayu.‬




Forum “Jogja Ngangeni” Blusukan ke Destinasi Wisata

Sleman – Dalam rangka untuk melihat secara langsung tentang kualitas dan kesiapan destinasi wisata di DIY, forum Jogja Ngangeni melakukan program blusukan. Kegiatan ini lebih dimaksudkan untuk mengeksplorasi destinasi wisata yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten/ Kota di DIY.Demikian disampaikan Humas Jogja Ngangeni, Wasita SS MAP saat berkunjung ke Desa Wisata Tanjung Donoharjo Ngaglik Sleman, Rabu (28/1). Dikatakan Wasita untuk pertama kalinya komunitas ini melakukan eksplorasi ke beberapa destinasi wisata di Kulonprogo “Tour de Menoreh”, yaitu Air Terjun Sidoarjo, Kopi Kang Rohmat di Samigaluh dan Goa Kiskendo di Girimulyo pada tanggal 20 Januari 2015 lalu.

“Untuk tahap selanjutnya akan diagendakan kunjungan ke Kabupaten/ Kota yang lain di wilayah DIY,” katanya.

Sementara itu Ketua Forum “Jogja Ngangeni” yang juga sebagai Ketua Himpunan Pramuwisata DPD DIY, Imam Widodo menjelaskan bahwa Forum Jogja Ngangeni merupakan sebuah komunitas informal yang beranggotakan para praktisi pariwisata di DIY, diantaranya pramuwisata, tour operator, PR travel agent, PR hotel dan restoran, PR lembaga kepariwisataan baik swasta dan pemerintah, event organizer, dan lainnya yang memiliki komitmen tinggi untuk memajukan kepariwisataan di DIY.

Menurutnya, terbentuknya forum ini diinisiasi oleh komunitas pramuwisata di DIY yang menganggap pentingnya jalinan silaturahmi yang kuat dan dinamis antara pelaku pariwisata di DIY. Forum ini diawali dengan sebuah grup online Whatsapp “Jogja Ngangeni” yang dioperasionalkan sejak awal tahun 2014. 

Forum ini juga berupaya membangun dinamika harmonis antara anggota forum sehingga bisa saling asah asih dan asuh serta mengembangkan kemampuan, ketrampilan dan semangat dalam membangun pariwisata. Yang terpenting bagi anggota komunitas adalah aksi nyata dalam membangun dan menggairahkan kepariwisataan di DIY.

Bukan NATO (No Action Talk Only) tetapi upaya praktis yang dilakukan oleh masing-masing anggota yang berasal dari berbagai macam latar belakang pekerjaan dengan core pariwisata. Kedepan diharapkan melalui forum informal ini berbagai persoalan terkait dengan kepariwisataan di DIY dapat didiskusikan antar pelaku pariwisata dengan pihak pemerintah daerah untuk selanjutnya dicarikan solusi yang terbaik.




Wisata Sleman Fokus ke Produk Lokal

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tahun 2015 ini berupaya meningkatkan lagi jumlah pengunjung wisatawan di Sleman. Adapun upaya tersebut adalah peningkatan potensi produk-produk kreatif dari desa wisata yang ada di Sleman. Kepala Bagian Humas Sleman, Dra Sri Winarti mengatakan bahwa pihak pemerintah mendukung masyarakat Sleman untuk mengembangkan produk khas desa, salah satunya adalah buah salak.

Dengan memperkenalkan produk-produk berbahan dasar salak tersebut diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk ke depannya.

“Sekarang fokusnya ke produk yang utamanya berbahan dasar salak yang menjadi khasnya Kecamatan Turi, seperti asinan, manisan, dan kopi dari biji salak,” jelas Sri Winarti, Rabu (21/1).

Diakui Sri Winarti bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Sleman pada libur akhir tahun 2014 ada penurunan disejumlah tempat wisata bila dibandingkan liburan tahun sebelumnya. Oleh karenanya, berbagai upaya terus dilakukan demi memajukan potensi wisata Kabupaten Sleman dan menarik lebih banyak pengunjung.




Wisata Kebun Koleksi Salak Nusantara Alami Penurunan Kunjungan

Sleman – Selama beberapa tahun terakhir ini angka kunjungan wisatawan Kebun Koleksi Salak Nusantara di Dusun Candi Desa Bangunkerto Kecamatan Turi Sleman mengalami penurunan. Padahal di kebun koleksi salak tersebut terdapat puluhan jenis salak dari beberapa daerah di Indonesia. 

Seperti diungkapkan Mulyono, pengelola Kebun Koleksi Salak Nusantara mengungkapkan terdapat sekitar 19 jenis tanaman salak yang jadi koleksi. Hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp , pengunjung bisa mengelilingi kebun salak seluas satu hektare.

“Pengunjung bisa melihat banyak jenis tanaman salak. Salak pondoh saja sudah ada beberapa jenis. Selain itu juga ada salak condet, kembang arum, nonduri, bali, salak hitam dan lainnya,” kata Mulyono kepada wartawan, kemarin.

Pengunjung pun dibebaskan untuk memetik dan makan salak sepuasnya. Jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, pengunjung pun bisa membeli salak segar dengan harga standar. Pada dasarnya lanjut Mulyono wisata kebun koleksi nusantara ini untuk mendukung Agrowisata. Tetapi karena di Agrowisata kurang terawat dan sepi pengunjung, diakui Mulyono wisata kebun salam nusantara ini kena imbasnya sepi kunjungan.

Meski demikian Mulyono optimis Kebun Koleksi Salak Nusantara tetap masih diminati sebagai obyek wisata edukasi. Sebab, mayoritas pengunjung adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, pengelola Agrowisata, Sugito mengakui memang banyak fasilitas yang tidak terawat bahkan rusak. Misalnya saja jembatan penghubung antar gazebo yang ada di atas embung. Jembatan yang terbuat dari kayu itu sudah rapuh bahkan ada bagian yang terputus. Beberapa wahana permainan air pun tampak terbengkalai.

Hal itu membuat kurang menarik bagi wisatawan. Sugito memaparkan, Agrowisata yang beroperasi sejak 1989 tersebut mulai dikelola investor pada tahun 2000. Awalnya,kunjungan di Agrowisata yang dilengkapi dengan wahana kolam renang dan taman anggrek tersebut sangat ramai. Namun, karena kurangnya manajemen, Agrowisata jadi tidak berkembang dan mulai ditinggalkan wisatawan.

Pengelolaan oleh investor akhirnya dihentikan pada 2007. Agrowisata kemudian diambil alih oleh Pemerintah Desa Bangunkerto. Namun, langkah pengembangan Agrowisata tetap saja terbentur biaya.




Belut Godean, Ikon Baru Kuliner Sleman

211_20140615123331Sleman – Anda suka mencoba wisata kuliner?  Kini, di Sleman ada tempat yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati kuliner. Ya, di Godean Sleman kini telah memiliki tempat khusus untuk wisata kuliner aneka masakan belut mulai dari belut goreng hingga menu masakan belut lainnya.

Ke depannya Pusat Kuliner Belut Godean, diharapkan dapat menjadi ikon wisata makanan khas baru di Kabupaten Sleman dan di DIY.

 “Pusat Kuliner Belut Godean ini diharap dapat menjadi ikon baru wisata kuliner di Sleman,” kata Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, pekan lalu.

Menurut Sri Purnomo, Pusat Kuliner Belut Godean ini memberi kemudahan, baik bagi para pedagang dan konsumen bertransaksi hasil olahan kripik belut secara nyaman dan aman. “Ini juga akan menjadi ikon pusat oleh oleh khas Godean,” katanya.

Dengan tersentralnya penjualan hasil olahan keripik belut ini tentunya memberikan nilai estetika yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Sentralisasi penjualan hasil olahan kripik belut ini mengembalikan fungsi areal halaman pasar Godean yang selama ini digunakan untuk lapak para penjual kripik belut dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Bahkan  akan memperlancar arus lalu lintas yang sudah cukup padat di area Pasar Godean dan mengurangi kemacetan di area pasar, sehingga akan lebih menertibkan dan memberikan kenyamanan pengunjung Pasar Godean.

“Kepada seluruh pedagang pasar belut di pusat kuliner belut ini, yang menggunakan model pasar tradisional ini untuk konsisten berjualan di sini dan ikut memelihara sarana Pusat Kuliner Belut ini dengan menjaga kebersihan serta keamanannya,” kata Sri Purnomo.

Untuk menjadikan pusat kuliner ini ramai pengunjung, pengelola dan para pedagang memang harus dapat bersinergi, melaksanakan beberapa kegiatan yang menarik pengunjung.  Kepala Dinas Pasar memang harus bisa  bersinergi dengan Kepala Dinas Pariwisata di dalam mempromosikan keberdaan pusat kuliner ini, sehingga pusat kuliner ini menjadi jujugan para wisatawan.

Sebab, salah satu tujuan pembangunan Pasar Kuliner Belut Godean ini untuk menunjang penataan kawasan Kecamatan Godean. Dengan dibangunnya Sentra Kuliner Belut ini tentunya semakin menguatkan citra belut sebagai komoditas unggulan Sleman yang bahkan banyak diminati para wisatawan sebagai oleh-oleh khas Sleman.

Sentralisasi pemasaran komoditas ini diharapkan dapat meningkatkan promosi aneka produk olahan belut sebagai komoditas unggulan Kecamatan Godean, yang akhirnya mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah.

Inovasi diharapkan dapat terus dilakukan untuk memberikan beragam pilihan bagi konsumen. Tidak hanya terbatas pada keripik, belut juga menarik untuk disajikan dalam bentuk lain seperti diantaranya dendeng belut, abon belut, sambel belut kemasan dan lain sebagainya.

Sementara Kepala Dinas Pasar, Dra Tri Endah Yitnani mengatakan, pusat kuliner belut tidak sekadar menata para pedagang. Lebih dari itu untuk menumbuhkan perekonomian pelaku industri kecil. Serta menunjang kawasan perkotaan Sleman agar lebih menarik bagi wisatawan.

Lokasi yang luas dan tempat parkir yang memadahi membuat wisatawan santai berbelanja oleh-oleh kripik belut.

Endah mengatakan, Pusat Kuliner Belut Godean saat ini sudah ditempati sebanyak 30 pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Keripik Belut Wilayah Sleman Barat, Godean, Seyegan, Minggir, dan Moyudan.