APJI Sleman Siap Perkuat Sektor Pariwisata

Sleman  – Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI) Cabang Sleman menyatakan kesiapannya untuk secara total mendukung dan memperkuat pengembangan sektor pariwisata di DIY, khususnya Sleman.

Untuk itu, pihaknya siap untuk bersinergi dengan pihak-pihak terkait, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman.  APJI mengharapkan adanya dukungan fasilitasi dari pemerintah daerah, sehingga dalam perjalanannya dapat seiring sejalan untuk secara bersama-sama memajukan sektor pariwisata.

Hal ini disampaikan Ketua APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 Sri Wahyuni Dewi bersama dengan 15 jajaran pengurusnya saat beraudiensi dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Rabu (23/4) lalu.

Sri Wahyu Dewi menambahkan, jajaran kepengurusan APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 adalah Pelindung Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Dewan Penasehat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Perindagkop, Kepala Dinas Perijinan, dan Kepala Dinas Tenaga Kerja.

Kemudian Ketua Sri Wahyuni Dewi, Sekretaris Herwatie, Wakil Sekretaris Iwan Susanto dan Sri Rudatiningsih, Bendahara Wahyu Purwaningsih, Wakil Bendahara Intan Kusuma dan Dewi Ratnawati.

Untuk operasional organisasi dilengkapi dengan bidang-bidang, di antaranya bidang humas, bidang organisasi, bidang pembinaan daerah, bidang pelayananindustri dan peningkatan kualitas usaha, bidang peningkatan kualitas SDM, bidang insidentil, bidang ekonomi dan kemitraan dan bidang pendidikan dan sosial. Saat ini APJI Cabang Sleman memiliki anggota sebanyak 44 anggota.

Menurut Sri Wahyuni Dewi, pengemasan kuliner yang dilakukan secara profesional diharapkan dapat mendukung keberadaan sektor pariwisata, justru memberikan warna dan kenangan tersendiri bagi wisatawan.

Saat ini, katanya, prospek pengembangan kuliner cukup bagus sehingga melalui sinergitas dengan sektor pariwisata akan dapat berikembang dengan lebih baik lagi yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, mengingat pengurus APJI Cabang Sleman periode 2014 – 2019 belum diresmikan, maka pihaknya sekaligus meminta agar dapat diagendakan pengukuhan dan pelantikan oleh jajaran pemerintah daerah.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM yang didampingi oleh Sekretaris Dinas Dra Sri Winarti, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dra Shavitri Nurmala Dewi MA, Kepala Seksi Dokinfo Pariwisata Wasita SS MAP dan jajaran lainnya, mengungkapkan bahwa jasa boga dan pariwisata merupakan komponen yang saling memperkuat satu sama lain.

Peluang pengembangan jasa boga dan kuliner sangat terbuka luas terlebih lagi apabila dikaitkan dengan sektor pariwisata. Oleh karenanya diharapkan komunitas jasa boga yang tergabung komunitas APJI agar dapat meningkatkan kreatifitas dalam pengembangannya.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan potensi bahan-bahan lokal yang dikemas dengan menarik dan berkualitas tinggi. Sleman memiliki potensi makanan tradisional yang cukup besar sehingga apabila dikemas secara profesional tentu akan memiliki nilai jual yang tinggi, memiliki kenangan dan menjadikan daya dukung terhadap sektor pariwisata.




KUB Sleman Sajikan Wisata Kuliner Kopi Merapi

Sleman – Kelompok Usaha Bersama “Kebun Makmur” di Dusun Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, merintis usaha wisata kuliner yang menyajikan kopi khas lereng Gunung Merapi.

“Kedai kopi ini mulai beroperasi sejak Februari 2012, dan buka dari pukul hingga pukul WIB untuk hari-hari biasa, sedangkan pada malam Minggu bisa buka hingga pukul WIB,” kata Ketua KUB `Kebun Makmur` Samijo., belum lama ini.

Ia mengatakan, menu yang ditawarkan bervariasi, mulai kopi tubruk, kopi jahe, hingga kopi susu segar.

“Untuk kebutuhan susu sapi segar, KUB `Kebun Makmur` bekerja sama dengan Koperasi Susu `Sarono Makmur` Pakem. Tidak hanya memproduksi dan membuka kedai, kami juga membuka wisata kuliner dan pengolahan kopi tradisional,” katanya.

Menurut dia, meskipun dilanda erupsi Gunung Merapi pada 2010, namun simpanan kopi yang berada di Kebun Sawungan sebanyak dua ton masih utuh, hanya kopi yang berada di Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, dan peralatannya yang terbakar.

“Simpanan kopi dua ton ini yang sekarang diolah menjadi kopi bubuk, karena kopi yang masih segar harus mengalami masa penyimpanan selama dua hingga tiga tahun untuk menghilangkan rasa `langu`,” katanya.

Samijo juga mengatakan saat ini luas kebun kopi di Kabupaten Sleman 200 hektar, dan yang dapat dipanen baru 115 hektare, karena tanaman yang lain masih muda, dan belum berproduksi. Sedangkan rata-rata produksi 3,4 kwintal wose kering per
hektar.

Produksi kopi bubuk yang dihasilkan KUB `Kebun Makmur` mencapai satu kwintal per bulan. Kopi bubuk ini sebagian merupakan pesanan kafe-kafe yang ada di Jogja dan Bantul, sedangkan sisanya adalah untuk toko oleh-oleh.

Samijo yang memperoleh pengetahuan pengolahan kopi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember ini berencana memasarkan kedai kopinya melalui biro-biro wisata.

“Kami berharap usaha kopi ini terus berkembang dengan adanya produksi pabrikan, sehingga kesejahteraan petani kopi di Sleman semakin meningkat,” katanya.




Desa Wisata Gabugan Tawarkan Wisata Alam Pedesaan

Sleman – Desa Wisata Gabugan adalah sebuah wisata pedesaan yang terletak di Kecamatan Turi Sleman di bawah kaki Gunung Merapi dengan nuansa kehidupan masyarakat desa yang masih kental menjunjung nilai tradisi masyarakat Jawa.

Desa wisata Gabugan memberikan suasana rekreasi yang berbeda dari wisata pada umumnya, sehingga pengunjung benar-benar merasakan kehidupan di alam pedesaan yang nyaman, sejuk, panorama alam pegunungan dan berbaur dengan kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Desa wisata Gabugan terletak di antara obyek wisata Borobudur dan Prambanan, dari pusat Kota Jogja sekitar 17 km ke arah utara atau ke arah agro wisata Salak Turi. Dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota,” kata Sujatmiko Tri Atmojo, Ketua Pengurus Desa Wisata Gabugan Turi Sleman, Rabu (23/4).

Menurut Sujatmiko, ada beberapa fasilitas di Desa Wisata Gabugan di antaranya, Pendopo, yaitu bangunan dengan arsitektur Jawa berbentuk Joglo Sinom, memiliki daya tampung 150 orang. Bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, dapat juga digunakan sebagai tempat meeting, pertemuan keluarga, gathering perusahaan, hajatan maupun acara-acara yang lain.

Tersedia pula sekitar 60 rumah/homestay (penginapan) sebagai alternatif akomodasi saat liburan, dengan daya tampung 250 hingga 300 orang.  Di sini wisatawan dapat berbaur dengan masyarakat.

Ada pula perkebunan salak, yang merupakan wahana belajar bagi pengunjung untuk lebih mengenal berbagai jenis salak dan cara budidayanya. Salak Gading Ayu merupakan salak varietas lokal asli Desa Wisata Gabugan yang pada masa lalu digunakan sebagai buah pisowanan bagi raja.

Potensi lainnya di Desa Wisata Gabugan adalah pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya. Bidang pertanian, kegiatan ini sangat cocok sebagai wisata studi, dimana pengunjung akan berkenalan langsung dengan alam untuk mempelajari cara bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan, pemanfaatan lahan sampai dengan pemetikan hasil pertanian.

“Untuk perikanan, sangat pas bagi Anda yang jenuh dengan aktifitas sehari-hari. Memancing, menangkap ikan, menikmati hasil tangkapan adalah paket yang kami tawarkan,” kata Sujatmiko.

Di Desa Wisata Gabungan ada peternakan, dengan mengenalkan jiwa wirausaha beternak puyuh.  Di sini diperkenalkan mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan pemanfaat limbah ternak.

Berbagai kesenian dan ketrampilan yang masih dilestarikan masyarakat desa, yaitu karawitan, jathilan, dolanan anak, membatik, janur dan handy craft (miniatur pohon salak). Pengunjung dapat berinteraksi langsung untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut.

Kegiatan tracking atau lintas desa bisa untuk menikmati suasana alam pedesaan dengan dipandu oleh pemandu lokal menelusuri perkampungan, areal persawahan dan kebun, sungai dengan durasi 1 sampai 1,5 jam.

Kuliner (makanan dan ninuman tradisional), menyuguhkan berbagai macam makanan tradisional thiwul, slondok, mangut lele, sego megono dan berbagai olahan salak diantaranya dodol salak, keripik salak, manisan salak, dan wedang salak.

Masyarakat Gabugan masih menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan. Merti bumi (dua tahun sekali), Kenduri (hari-hari besar), Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Mitoni (tujuh bulan kehamilan pertama), Selapanan (bayi usia 35 hari), Midodaren (malam pernikahan), dan Tahlil.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tersedia taman bacaan masyarakat (perpustakaan), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan posyandu bagi balita setiap bulan.




Desa Wisata Gabugan Tawarkan Wisata Alam Pedesaan

Sleman – Desa Wisata Gabugan adalah sebuah wisata pedesaan yang terletak di Kecamatan Turi Sleman di bawah kaki Gunung Merapi dengan nuansa kehidupan masyarakat desa yang masih kental menjunjung nilai tradisi masyarakat Jawa.

Desa wisata Gabugan memberikan suasana rekreasi yang berbeda dari wisata pada umumnya, sehingga pengunjung benar-benar merasakan kehidupan di alam pedesaan yang nyaman, sejuk, panorama alam pegunungan dan berbaur dengan kegiatan masyarakat sehari-hari.

“Desa wisata Gabugan terletak di antara obyek wisata Borobudur dan Prambanan, dari pusat Kota Jogja sekitar 17 km ke arah utara atau ke arah agro wisata Salak Turi. Dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 40 menit perjalanan dari pusat kota,” kata Sujatmiko Tri Atmojo, Ketua Pengurus Desa Wisata Gabugan Turi Sleman, Rabu (23/4).

Menurut Sujatmiko, ada beberapa fasilitas di Desa Wisata Gabugan di antaranya, Pendopo, yaitu bangunan dengan arsitektur Jawa berbentuk Joglo Sinom, memiliki daya tampung 150 orang. Bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat, dapat juga digunakan sebagai tempat meeting, pertemuan keluarga, gathering perusahaan, hajatan maupun acara-acara yang lain.

Tersedia pula sekitar 60 rumah/homestay (penginapan) sebagai alternatif akomodasi saat liburan, dengan daya tampung 250 hingga 300 orang.  Di sini wisatawan dapat berbaur dengan masyarakat.

Ada pula perkebunan salak, yang merupakan wahana belajar bagi pengunjung untuk lebih mengenal berbagai jenis salak dan cara budidayanya. Salak Gading Ayu merupakan salak varietas lokal asli Desa Wisata Gabugan yang pada masa lalu digunakan sebagai buah pisowanan bagi raja.

Potensi lainnya di Desa Wisata Gabugan adalah pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya. Bidang pertanian, kegiatan ini sangat cocok sebagai wisata studi, dimana pengunjung akan berkenalan langsung dengan alam untuk mempelajari cara bercocok tanam mulai dari pengolahan lahan, pemanfaatan lahan sampai dengan pemetikan hasil pertanian.

“Untuk perikanan, sangat pas bagi Anda yang jenuh dengan aktifitas sehari-hari. Memancing, menangkap ikan, menikmati hasil tangkapan adalah paket yang kami tawarkan,” kata Sujatmiko.

Di Desa Wisata Gabungan ada peternakan, dengan mengenalkan jiwa wirausaha beternak puyuh.  Di sini diperkenalkan mulai dari pembibitan, pemeliharaan, pemasaran dan pemanfaat limbah ternak.

Berbagai kesenian dan ketrampilan yang masih dilestarikan masyarakat desa, yaitu karawitan, jathilan, dolanan anak, membatik, janur dan handy craft (miniatur pohon salak). Pengunjung dapat berinteraksi langsung untuk mempelajari berbagai kegiatan tersebut.

Kegiatan tracking atau lintas desa bisa untuk menikmati suasana alam pedesaan dengan dipandu oleh pemandu lokal menelusuri perkampungan, areal persawahan dan kebun, sungai dengan durasi 1 sampai 1,5 jam.

Kuliner (makanan dan ninuman tradisional), menyuguhkan berbagai macam makanan tradisional thiwul, slondok, mangut lele, sego megono dan berbagai olahan salak diantaranya dodol salak, keripik salak, manisan salak, dan wedang salak.

Masyarakat Gabugan masih menjunjung tinggi adat tradisi para leluhurnya dengan berbagai kegiatan yang masih tetap dilestarikan. Merti bumi (dua tahun sekali), Kenduri (hari-hari besar), Nyadran (bulan ruwah), Wiwit (memulai panen), Mitoni (tujuh bulan kehamilan pertama), Selapanan (bayi usia 35 hari), Midodaren (malam pernikahan), dan Tahlil.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tersedia taman bacaan masyarakat (perpustakaan), pendidikan anak usia dini (PAUD) dan posyandu bagi balita setiap bulan.




Sleman Kembali Gelar Pameran Potensi Daerah Dan Gelar Budaya 2014

Sleman – Badan Promosi Pariwisata Kabupaten Sleman, bekerjasama dengan Pemkab Sleman, akan menyelenggarakan Pameran Potensi Daerah dan Gelar Ragam  Budaya Kabupaten Sleman tahun 2014 pada  tanggal 25 April sampai dengan 4 Mei 2014.

Pameran Potensi Daerah dan Gelar  Ragam Budaya  secara rutin diselenggarakan di kompleks lapangan Denggung, untuk  memperingati Hari jadi Kabupaten Sleman pada tanggal 15 Mei mendatang, dan juga Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei.

Ketua BPPS Jono Lesmana SE, Sabtu (5/4) kemarin mengatakan bahwa, Pameran Potensi Daerah dan Gelar Ragam Budaya Kabupaten Sleman, yang dari tahun ke tahun  jumlah pengunjungnya terus meningkat, akan dikemas sebagai salah satu event  wisata keluarga.

“Tidak sekedar untuk sarana promosi potensi daerah dan sarana informasi dan komunikasi hasil pembangunan daerah kabupaten Sleman. Terlebih waktu  pelaksanaan pameran dan gelar budaya tersebut bersamaan dengan penyelenggaraan MTQ tingkat DIY  yang akan dipusatkan di Masjid Agung,” katanya,

Disisi lain, event tersebut diharapkan sebagai ruang bagi masyarakat Kabupaten Sleman untuk berkompetisi  menyiapkan diri menghadapi pasar bebas ASEAN pada tahun 2015 nanti.

Berkenaan dengan hal tersebut, PPD dan Gelar Ragam Budaya Kabupaten Sleman th 2014 akan mengambil tema,  memanfaatkan produk lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Stand yang disiapkan ada sekitar 300 stand yang diperuntukkan bagi  instansi pemerintah di lingkungan Pemkab Sleman dan binaanya, BUMD, Instansi Mitra Pemkab Sleman, lembaga pendidikan SD sampai dengan Perguruan tinggi, pengelola wisata, UKM, produk pertanian dan kuliner. Selain itu juga  diberikan ruang untuk permainan anak dan sektor informal.

Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 7 April sampai tanggal 21 April. Tempat pendaftaran di Sekretarian Panitia PPD dan Gelar Ragam Budaya Kabupaten Sleman 2014 di Bagian Humas sekretariat  daerah Kabupaten Sleman.

Lebih lanjut Jono Lesmana mengemukakan bahwa untuk gelar ragam  budaya akan dilaksanakan setiap malam selama pameran berlangsung dengan pementasan potensi seni dari 17 kecamatan yang ada di kabupaten Sleman.

Pada tahun ini akan dilakukan penataan stand dan alur pengunjung yang lebih baik dan lebih nyaman. Alur pengunjung akan melewati semua stand. Bahkan Panitia juga akan memberikan hadiah bagi penunjung yang akan diundi setiap akhir Gelar Ragam Budaya.