Sleman Kembangkan Perikanan Menjadi Sektor Pariwisata

upload124-300x196

Sleman – Pemkab Sleman terus mengupayakan berkembanganya Sleman menjadi kawasan minapolitan yang mencakup usaha perikanan, dari mulai pembibitan hingga pemasaran. Untuk itu, pada Rabu (26/2) diselenggarakan workshop pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Sleman.

Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu, ketika membuka workshop tersebut, menyatakan bahwa sektor pertanian sangat potensial untuk dikembangkan di Sleman.

Pengembangan sektor pertanian termasuk sektor minapolitan juga mampu meningkatkan pendapatan petani yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani.

Pengembangan minapolitan, khususnya budidaya ikan, diharapkan tidak hanya dilakukan di Kecamatan Ngemplak dan Kecamatan Berbah, namun juga dikembangkan wilayah lain.

Selain itu, Wabup juga mengharapkan agar para petani ikan turut menjaga keberlangsungan pertanian dan pelestarian konservasi lahan dengan meminimalisir penggunaan obat-obatan kimiawi dan lebih memanfaatkan produk-produk organik.

Dalam kesempatan ini, Camat Ngemplak Mustain Aminun, SH, mewakili Pokja MInapolitan Kecamatan Ngemplak, mempresentasikan tentang kegiatan minapolitan di Kecamatan Ngemplak.

Dengan luas kolam 823,264 ha dan 44 kelompok pokdakan, rata-rata produksi perikanan di Kecamatan Ngemplak naik 2% per tahun. Bahkan pembibitan Kabupaten Sleman 70% di antaranya disumbang dari Kecamatan Ngemplak.

Rencana jangka panjang ke depan kawasan minapolitan di Ngemplak difokuskan pada penerapan pembelajaran advokasi kelompok perikanan dan pembangunan wisata minapolitan, yang di dalamnya akan dilakukan pengembangan budidaya industri pengolahan ikan hingga ke upaya pemasaran produk.

Sedangkan Camat Berbah, mewakili Pokja Minapolitan Kecamatan Berbah, menyampaikan tentang perkembangan minapolitan di Berbah diarahkan untuk mendukung Kecamatan Berbah menjadi Bumi Jelita (Budaya, Mina dan Jelajah Wisata) yang nantinya diharapkan mampu mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Berbah.

Disampaikan juga bahwa pengembangan budidaya ikan dilakukan oleh 31 kelompok dengan 717 anggota pada lahan seluas 4,9 ha, dan sekitar 30% dari anggota kelompok tersebut adalah keluaarga miskin dan 10% merupakan anggota berusia remaja.

Dari kegiatan minapolitan, saat ini telah tumbuh kelompok KWT yang mampu mengolah ikan menjadi tepung ikan yang saat ini tengah dalam proses pengajuan HAKI..

Ke depan Kecamatan Berbah mengembangkan aktivitas minapolitan hingga mampu menjadi usaha perikanan dari hulu ke hilir yang nantinya mampu menjadikan usaha perikanan menjadi potensi wisata di Kecamatan Berbah.

Permasalahan yang dihadapi di kedua kecamatan ini adalah keterbatasan kapasitas petani dalam alih teknologi sehingga memerlukan penguatan kelembagaan dan kelengkapan kebutuhan pembangunan infrastruktur.

Sebagai pemecahan masalah tersebut, Asisten II Sekda BIdang Pembangunan menyampaikan bahwa pengembangan perikanan  juga harus didukung dengan komitmen dari seluruh SKPD dari berbagai sektor.

Dengan demikian diharap setelah workshop ini dapat dilakukan finalisasi hasil dan diformulasikan ke dalam program kerja 2015 sesuai kewenangan masing-masing SKPD.

Ir. Susilo Budi Priyono, , , praktisi dari Fakultas Pertanian UGM, juga menyampaikan paparannya bahwa perikanan merupakan basis dari seluruh kegiatan pertanian di Sleman bahkan Kabupaten Sleman secara nasional  telah dikenal oleh masyarakat luar memiliki modal pengembangan SDM yang handal.

Bahkan pada tahun 2014 ini Kementerian Pertanian, Sleman telah dijadikan Kawasan Percontohan untuk Komoditas Ikan Nila. Ia juga mengharapkan agar pembuatan rencana pengembangan wilayah minapollitan dapat memperhatikan indikator-indikator yang jelas dan terukur.




Sleman Galakkan Kembali Gerobak Sapi Untuk Transportasi Tradisional

FGS

Sleman, InfoPublik – Pemeritah Kabupaten Sleman menggalakkan kembali gerobak sapi sebagai sarana transportasi tradisional, dalam suatu festival Gerobak Sapi sekaligus sebagi kirab budaya dalam festival kesenian Sleman, yang digelar di kawasan Stadion Maguwoharjo Depok Sleman, Minggu (16/6). Event fenomenal yang telah dirancang sejak akhir tahun 2012 silam tersebut telah menyedot banyak wisatawan baik lokal maupun manca negara. Mengingat lokasi penyelenggaraannya yang sangat strategis, yakni di kawasan Stadion Maguwoharjo Depok Sleman.

Festival tersebut diikuti oleh 170 peserta, dan dihadiri Sri Sultan HB X beserta Kanjeng Ratu Hemas, Kapolda DIY, Bupati Sleman dll. Sultan dijemput dengan gerobak dari depan stadion menuju lokasi start, dan Sultan berkenan mengibarkan bendera star tanda dimulainya festival gerobak dan dimeriahkan oleh Jathilan Gangnam style Kodim 0743 Yogya, krishna Encik & Fantoro serta hiburan lainnya, minggu (16/6)

Allan, seorang Desainer Visualisasi dari Australia, mengaku sangat terkesan dengan penyelenggaraan Festival Gerobak Sapi tersebut. Mengenai spesifik tentang tradisional gerobaknya dinilai sangat detail, sehingga dia mengaku mendapat inspirasi dengan melihat festival gerobak sapi tersebut. Dia mengatakan bahwa detil seni yang terdapat dalam gerobak sapi tersebut memberikan dia inspirasi dan ide-ide yang luar biasa.

Kasie Dokinfo Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Wasita menerangkan, antusiasme wisatawan asing mengikuti acara tersebut terlihat nyata. Di antaranya ada yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir termasuk sehari sebelumnya dan pada malam harinya. Wasita menambahkan, Festival Gerobak Sapi ini merupakan kirab budaya dalam festival kesenian Sleman, yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Malangrejo Wedomartani Ngemplak bekerja sama dengan Pemkab Sleman dan di dukung oleh berbagai sponsor.

Sebagai upaya untuk merevitalisasi keberadaan dan keberfungsian gerobak sapi dalam rangka menggalakkan kembali sebagai tranportasi tradisional kebanggaan kaum tani masa lampau, kini dan mendatang.




Festival Kesenian Sleman Angkat Budaya Lokal

FKS

Sleman, InfoPublik – Festival Kesenian Sleman (FKS) tampak meriah dengan digelarnya display potensi seni dan budaya, yang ditampilkan oleh 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman. FKS digelar selama 2 hari, dibuka Sabtu (15/6) di seputaran Lapangan Denggung oleh Sekda Sleman dr. Sunartono, dan ditutup Minggu (16/6) di Desa Pulesari Wonokerto Turi. Dalam pembukaan tersebut sebelumnya juga disajikan kesenian jathilan dari Sanggar Wijaya Kusuma, Karawitan dari Sanggar Notoraharjan, music calung dan Tari Selamat Datang dari Sanggar Pradnyawidya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman Ir. Ayu Laksmi, FKS ini dimaksudkan sebagai media pelestarian, pembinaan dan pengembangan seni di Kabupaten Sleman, dan mendorong kecintaan masyarakat terhadap seni tradisi adiluhung, yang mengarah pada pembentukan jatidiri bangsa, khususnya generasi muda yang saat ini dirasa semakin luntur.

Sementara itu display dari 17 kecamatan yang ditampilkan, yakni Bergada Kismo Kuncoro Kwagon Sidorejo Godean, Trengganon Al Fatah Minggir, Angguk Kipas Manggala Pakem, Thek-tek Gejog Lesung Moyudan, Bergodo Kuntul Saramba Ketingan Tirtoadi Mlati, Badui Sabilul Muslimin Tempel. Sanggar Puri Prambanan menampilkan kisah Rama Sinta, Kobra Siswa Putra Mudha Turi, Bregodo Wonolelo, Ngemplak, Klana Topeng Ponco Tunggal Kalasan, Reog Singo Barong Gamping, Kobrasiswa Depok, Bregada Tirta Tri Roso Guno Sleman, Reog Mataraman Berbah, Wayang orang Ngesti Madyo Laras Cangkrignan, Sastra Tutur Ngaglik dan terakhir Bregogo Kalijaga Seyegan.

Dalam sambutannya, Bupati Sleman mengharapkan kepada para seniman di Sleman untuk terus berkarya, berkreasi, dan berinovasi agar seni budaya yang menjadi jati diri masyarakat Sleman, dapat terus eksis di tengah masyarakat. Seni budaya ini juga diharapkan dapat migunani bagi masyarakat, baik sebagai tontonan yang bersifat menghibur ataupun tuntunan yang memberi inspirasi dan pencerahan hidup dan kehidupan masyarakat Sleman.

Setelah FKS dibuka pada malam harinya ditampilkan Langen Carito dari SD Kanisius Kalasan dan pagelaran ketoprak dari Komunitas Kethoprak Sleman. Untuk hari Minggu digelar Extravaganza, aneka tari, Peksimoi dan Dayakan. Sementara di Desa Wisata Pulesari Wonokerto Turi digelar kesenian Jathilan, Klentingan, Karawitan dan pergelaran Wayang Kulit dengan Dhalang Ki Edy Suwondo.




Festival Angkringan Grebeg Gadjah Wong & Gelar Budaya Di Sleman

Sleman, InfoPublik– Kecamatan Depok berkolaborasi dengan Dinas Pasar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, menyelenggarakan Festival Angkringan Grebeg Gadjah Wong & Gelar Budaya. Festival dalam rangka hari jadi Kabupaten Sleman ke-97 tersebut, akan diselenggarakan di Taman Kuliner Condong Catur, pada 11 Mei 2013.
Festival ini digelar dalam rangka memberdayakan potensi angkringan di Kecamatan Depok sekaligus memperkenalkan angkringan sebagai salah satu ikon kuliner khas Yogyakarta. Festival ini selain diikuti oleh 40 pedagang angkringan dari Kecamatan Depok, juga diisi dengan pagelaran budaya-budaya yang berasal dari Makassar, Papua, dan Jawa Barat.
Pengunjung nantinya akan bisa menikmati hidangan angkringan secara gratis bersama dengan Bupati Sleman. Sebagai penghujung acara, akan diadakan pementasan wayang kulit yang akan berlangsung semalam suntuk. Diharapkan festival ini dapat mendukung promosi Taman Kuliner Condong Catur.