Kopi Madu Merapi, Daya Tarik Baru Wisata Edukasi di Desa Wisata Pentingsari

Sleman – Desa Wisata Pentingsari terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata edukasi budaya yang berkembang pesat di wilayah Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Selain menghadirkan pengalaman budaya dan alam, desa ini juga menyuguhkan berbagai produk lokal unggulan yang menarik perhatian wisatawan, salah satunya adalah Kopi Madu Merapi.

Kopi Madu Merapi tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga karena ragam produk olahannya yang unik dan berkualitas. Produk-produk yang tersedia antara lain Kopi Madu Merapi, Arabica Natural Merapi, Roastbean Robusta Merapi, Kopi Lanang Merapi, Arabica Wine Merapi, Coklat Merapi, hingga Granola Coklat Merapi. Setiap produk diracik dengan memadukan keunikan rasa kopi lereng Merapi dan kekayaan hasil alam lokal.

Joglo Kopi Madu Merapi yang terletak di area desa wisata menjadi titik favorit para tamu. Suasana joglo yang asri dan tenang membuat pengunjung betah berlama-lama. Menariknya,  tamu yang datang mendapatkan free tester kopi, sehingga mereka dapat langsung mencicipi rasa khas kopi Merapi sambil menikmati suasana pedesaan yang sejuk dan alami .

Nunuk salah satu pengunjung yang siang ini datang berkunjung ke Kedai Kopi Madu Merapi sangat merasa senang dan puas dengan pelayanan yg di berikan.

Banyak wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah, telah berkunjung dan memberikan respons positif terhadap pengalaman wisata kopi ini. Selain membeli produk, mereka juga mendapatkan pengetahuan seputar proses pengolahan kopi dari hulu ke hilir, menjadikan kunjungan mereka tak hanya menyenangkan, tapi juga edukatif.

Nugroho Widyatmoko, salah satu warga dan pegiat Desa Wisata Pentingsari, menyampaikan dukungannya terhadap hadirnya produk-produk lokal seperti Kopi Madu Merapi yang kini menjadi bagian dari atraksi wisata.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan potensi desa. Produk kopi ini mampu mengangkat citra Pentingsari sebagai destinasi wisata edukatif yang berbasis masyarakat,” ujarnya.

Desa Wisata Pentingsari terus mendorong sinergi antara kreativitas warga dan potensi lokal demi menciptakan pengalaman wisata yang unik dan berkelanjutan. Dengan semangat gotong royong dan inovasi produk, desa ini menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis komunitas yang mampu bersaing dan menarik minat wisatawan dari berbagai kalangan. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Wedang Rempah, Ikon Kuliner Sehat dari Desa Wisata Pentingsari

Sleman — Desa Wisata Pentingsari, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, tak hanya dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga dengan produk kuliner sehat khas daerah, salah satunya wedang rempah dari merek Raos Jogja.

Wedang rempah Raos Jogja telah menjadi produk unggulan desa yang diminati wisatawan dan pasar luar daerah. Produk ini hadir dalam berbagai varian seperti wedang uwuh oven, wedang secang oven, sereh oven, jahe oven, wedang merah instan, kencur seger, hingga wedang seruni, yang semuanya diolah secara tradisional namun higienis.

Menurut Nugroho Widiyatmoko, pengelola Desa Wisata Pentingsari, kehadiran produk lokal seperti Raos Jogja sangat mendukung pengembangan wisata edukasi dan ekonomi kreatif desa.

“Produk wedang rempah tidak hanya menjadi oleh-oleh khas, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata. Ini memberi nilai tambah dalam setiap kunjungan ke Pentingsari,” ujarnya, Minggu (13/7/2025) saat menerima kunjungan dari keluarga besar trah Atmo Pawiro Jimat Sleman dalam kegiatan tracking wisata pangan lokal.

Kunjungan ini sendiri mengajak wisatawan menjelajahi potensi pangan dan budaya desa secara langsung.

Ketua rombongan, Slamet Riyadi, menyebut bahwa kegiatan kuliner seperti ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik utama dalam pengembangan destinasi wisata berbasis potensi lokal.

“Wisata kuliner dan edukasi pangan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membuka wawasan tentang kearifan lokal,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dan antusiasme terhadap produk lokal, Desa Wisata Pentingsari semakin mengukuhkan dirinya sebagai destinasi edukatif yang sehat dan berbasis budaya, dengan wedang rempah Raos Jogja sebagai salah satu ikon unggulannya. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Jeep Lava Tour Merapi: Menyusuri Jejak Bencana, Merajut Harapan Baru

Sleman — Udara sejuk dan langit cerah pagi itu menyelimuti kawasan lereng Gunung Merapi. Ratusan wisatawan tampak bersiap menaiki kendaraan jip untuk mengikuti Jeep Lava Tour Merapi, salah satu ikon wisata edukatif dan petualangan andalan Kabupaten Sleman.

Lebih dari sekadar wahana wisata ekstrem, Lava Tour Merapi menawarkan pengalaman menyeluruh: petualangan alam, edukasi kebencanaan, serta sentuhan budaya lokal. Wisatawan diajak menelusuri jalur lava sisa erupsi Merapi dengan mengunjungi titik-titik bersejarah seperti Batu Alien, Museum Mini Sisa Hartaku, Kali Kuning, hingga destinasi kekinian seperti Stonehenge Merapi dan World Castle.

Di Museum Mini Sisa Hartaku, pengunjung disuguhkan koleksi benda-benda yang tersisa pasca-erupsi dahsyat Merapi tahun 2010. Sepeda motor hangus, peralatan rumah tangga yang rusak, serta dokumentasi visual tragedi menjadi pengingat kuat tentang pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.

Sementara itu, Kali Kuning menawarkan ketenangan dan keindahan alam. Wisatawan bisa bermain air, berswafoto, atau sekadar menikmati suasana alam lereng Merapi. Tempat ini juga menjadi titik perhentian yang cocok untuk beristirahat sebelum melanjutkan petualangan.

Menurut Iwan, salah satu supir jip sekaligus pemandu wisata, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kekuatan utama dari Lava Tour.

“Kami bukan hanya sopir, tapi juga guide dan fotografer. Setiap wisatawan kami bantu supaya dapat pengalaman yang lengkap, dan biasanya mereka unggah ke media sosial itu jadi promosi gratis buat kami,” tuturnya, Sabtu (5/7/2025).

Lava Tour tidak hanya hidup dari keindahan dan adrenalin. Kehadiran warga sebagai pelaku utama wisata membangun hubungan yang akrab antara pengunjung dengan desa. Cerita-cerita yang dibagikan oleh warga, seperti kisah perjuangan mereka pasca-erupsi, menambah dimensi emosional dalam perjalanan.

Erupsi Merapi yang dulu membawa duka, kini menjadi awal kebangkitan. Wisata Lava Tour menjadi simbol transformasi: dari trauma menjadi kekuatan, dari abu menjadi peluang. Aktivitas ini telah membuka lapangan kerja, meningkatkan perekonomian lokal, serta memperkuat identitas Cangkringan sebagai desa tangguh bencana.

Tak hanya itu, Lava Tour juga berperan sebagai sarana edukasi mitigasi bencana. Pengunjung mendapatkan pemahaman langsung mengenai risiko Merapi sekaligus belajar bagaimana masyarakat bisa bertahan dan pulih dari bencana.

Kini, Jeep Lava Tour Merapi bukan hanya destinasi lokal, tapi sudah menjelma sebagai daya tarik wisata internasional yang membanggakan Sleman. Dari luka Merapi tumbuh harapan baru dan Cangkringan adalah saksi sekaligus pelakunya. (ESK – KIM DSN)




Serunya Wisata Petik Buah Belimbing di Seyegan

Sleman – Kabupaten Sleman kembali menghadirkan sebuah argowisata bernama Star Fruit Garden. Objek wisata yang terletak di Dusun Beteng, Kalurahan Margoagung, Seyegan tersebut memiliki luas sekitar meter, dan ditanamani 200 pohon belimbing.

Di mana, pohon belimbing itu sebagian besar dapat dipetik langsung oleh pengunjung. Menurut Sarjiya, salah satu pengelola argowisata Star Fruit Garden, kebun buah belimbing ini sudah dibuka sejak tahuun 2018 lalu.

“Keseruan dari wisata petik buah belimbing ditempat ini adalah kita sewaktu-waktu dapat memilih dengan bebas buah belimbing yang kita inginkan setiap saat, dengan suasana kebun yang bersih dan rindang,” ujar Sarjiya saat ditemui di lokasi, Rabu (18/6/2025).

“Keunggulan dari buah belimbing di tempat ini adalah rasa manis, ukuran yang besar dan sehat untuk dikonsumsi, karena menggunakan pupuk organik. Kita bisa juga bebas berfoto selain juga bertanya-tanya tentang kebun belimbing ini sepuasnya kepada pengelola,” sambungnya.

Argowisata ini juga menghadirkan berbagai olahan buah belimbing seperti sirup, dan minuman. Selain itu, buah belimbing yang diafkir (tidak memenuhi standar) diolah menjadi campuran makan ternak kambing yang dipelihara di tempat tersebut.

Pemasaran buang belimbing selain dilakukan dengan langsung di kebun, juga dilakukan melalui pesanan dengan media sosial. Sarjiya mengatakan bahwa belimbing dari Margoagung ini sudah dipasarkan hingga ke luar negeri, seperti Jepang, Singapura, dan sebagainya.

“Semoga wisata kebun buah belimbing ini bisa tetap berkembang karena di kawasan DIY yang sebagai kawasan pariwisata sangat jarang ada wisata buah belimbing seperti di Seyegan ini,” katanya. (Herlambang / KIM Tempel)




Dimas Zacky dan Diajeng Keisha Terpilih Menjadi Dimas Diajeng Sleman 2025

Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman Tahun 2025 telah dilaksanakan pada Jumat (9/5) malam, bertempat di Gedung Pertunjukan Universitas Negeri Yogyakarta. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, beserta jajaran turut hadir pada acara tersebut.

Setelah melalui tahap penjurian, Muhammad Zacky Kusnail (Dimas Zacky) dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan Keisha Farella Mirakel (Diajeng Keisha) dari Universitas Gajah Mada, terpilih menjadi Dimas Diajeng Sleman tahun 2025.

Penyematan selempang pada pemenang Dimas Diajeng Sleman Tahun 2025 dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Danang juga mengucapkan selamat kepada Dimas Zacky dan Diajeng Keisha yang terpilih menjadi Dimas Diajeng Sleman Tahun 2025.

“Kepada Dimas dan Diajeng terpilih, saya ucapkan selamat mengemban amanah. Kalian bukan hanya simbol anak muda berprestasi, namun juga wajah representatif Kabupaten Sleman, baik dalam karakter, kecerdasan, maupun kebudayaan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pemilihan Dimas Diajeng bukan ajang kontes kecantikan dan ketampanan semata. Namun merupakan salah satu sarana untuk membangun generasi muda yang berintegritas, berwawasan kebudayaan, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pariwisata, sosial, serta pembangunan daerah.

“Dimas Diajeng adalah duta Sleman yang akan menjadi ujung tombak promosi daerah, penggerak komunitas, sekaligus inspirator bagi generasi muda lainnya,” jelas Danang.

Sementara Ishadi Zayid, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, mengatakan tahapan seleksi Dimas Diajeng Sleman tahun 2025 telah melalui proses panjang mulai Desember 2024 lalu. Dikatakan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Pemkab Sleman melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dalam rangka pembinaan generasi muda yang ada di Kabupaten Sleman.

“Dimas Diajeng Kabupaten Sleman diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan generasi muda, dan tentu saja pemajuan dan pengembangan pariwisata di Kabupaten Sleman,” ucapnya.

Ia menambahkan Dimas Diajeng Sleman harus mampu menjadi role model atau teladan yang baik bagi generasi muda di Kabupaten Sleman. Sehingga keberadaan Dimas Diajeng di Kabupaten Sleman dapat memberikan pengaruh positif bagi para generasi muda.