Diksar BSMR Bentuk Relawan Cerdas dan Siap Pakai

Gamping – Minggu (18/11/2018), Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Daerah Istimewa Yogyakarta secara resmi menutup kegiatan Pendidikan Dasar (Diksar) bagi relawan medis dan non medis Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR) di Rumah Siaga Cokrowijayan Sleman (RSCS) Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 35 orang peserta dari BSMR Ibnu Abas Klaten, mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Aisyiyah, Politeknik Kesehatan dengan latar belakang pendidikan medis dan non medis serta relawan Tim Rescue Banyuraden.

Diksar dengan durasi tiga hari ini menghadirkan narasumber yang sudah berpengalaman di bidangnya, antara lain Muhamad Rudi dari BSMI Pusat dan Enaryaka dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman.

Di sesi kelas dr. Siswanto menyampaikan materi tentang pengenalan lambang BSMI, dr. Bambang Edi Susyanto memaparkan materi berkaitan dengan pengetahuan kerelawanan. Sedangkan materi Teknik Basic Life Support (BLS) disampaikan oleh dr. Pramudyo Harwandono dan dr. Kharisma Nur Prabowo, serta Teknik Psychological First Aid (PFA) dipaparkan oleh Khamzah Beriasta. Pemaparan materi terakhir disampaikan oleh Liza Uswatun Husna Lubis mengenai kajian isi mars dan hymne BSMI.

Kegiatan yang mengambil tema ‘Siapkan Diri Relawan Cerdas, Relawan Siap Pakai’ bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang BSMI, menciptakan generasi pengurus organisasi yang terampil dan mampu melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai relawan, meningkatkan sikap dan jiwa kepemimpinan serta mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari pun ketika ada bencana.

Dalam paparannya dr. Pramudyo menyampaikan bahwa Pemahaman dan praktik Basic Life Support ternyata tidak mudah, terutama ketika kita diharapkan bisa memberi pertolongan pada seseorang yang sedang mengalami cedera atau kecelakaan di tempat umum. Kemungkinan terburuknya, kondisi korban akan bertambah parah atau malah meninggal dunia.

“Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) merupakan pendekatan sistematis dalam penanggulangan penderita gawat darurat (GD) di tempat kejadian perkara (TKP) dan membawanya ke tempat pelayanan definitif (rumah sakit-red) Penanggulangan di TKP meliputi cara meminta bantuan, mengontrol pendarahan, memasang balut atau bidai, hingga korban dibawa ke rumah sakit dengan transportasi yang memadai dan aman,” ungkap dr. Pramudyo. (Adnan Nurtjahjo)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts