FKPM Harus Jadi Teladan di Masyarakat

Ngaglik – Sebagai mitra Polri, FKPM (Forum Kemitraan Polisi Masyarakat)
Donoharjo hendaknya memiliki pengetahuan tentang tugas dan fungsi di masyarakat agar saat bertugas di lapangan memiliki bekal ilmu yang cukup dalam melayani masyarakat.

Demikian dikatakan Carik Donoharjo, Anang Patri Widiantoro dalam sambutannya pada acara Pembinaan dan Sosialisasi Peran dan Fungsi FKPM dari Polres Sleman di Kantor Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (9/6/2021). “FKPM Donoharjo masih sangat muda, berumur kurang dari satu tahun, sehingga masih sangat membutuhkan ‘nutrisi’ dan salah satunya dengan pembekalan ilmu yang diberikan dari Polres Sleman,” kata Carik Donoharjo tersebut.

Lebih lanjut Anang sangat mengapresiasi kiprah FKPM yang tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu mengabdikan diri pada masyarakat untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan memberikan rasa nyaman di masyarakat. “Ke depan kiprah FKPM akan berperan sangat besar menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. Agar sesuai dengan porsinya, diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menunjang kinerjanya,” imbuh Anang.

Sementara itu Iptu Giri Sutopo dari SatBinmas Polres Sleman selaku narasumber memaparkan bahwa FKPM merupakan kepanjangan tangan dari Polri yang keberadaannya sangat dekat dengan masyarakat dan sangat mengetahui karakter warga sehingga bila terjadi suatu masalah akan cepat diselesaikan secara arif dan bijaksana dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada.

“Polri tidak bisa bekerja sendiri. Peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk menunjang tercipta ketertiban dan keamanan di masyarakat dan kini telah ada FKPM sebagai wadah untuk menjaga agar lingkungan tetap nyaman, kondusif , aman tenteram, dan damai,” ujarnya.

Menurut Iptu Giri Sutopo, peran serta FKPM bukan hanya patroli untuk memantau kegiatan di masyarakat tetapi juga menyelesaikan masalah di masyarakat yang harus mengedepankan upaya damai dengan cara musyawarah untuk mufakat. “Pertentangan atau perselisihan hendaknya bisa diselesaikan di tingkat paling bawah sebelum masuk ke ranah hukum. Masalah tipiring (tindak pidana ringan) itu yang boleh di-handle oleh FKPM, sedangkan masalah kriminal harus diselesaikan melalui jalur hukum,” terangnya.

Menjadi seorang anggota FKPM membawa konsekuensi yang tidak ringan, keberadaannya disorot masyarakat karenanya segala tindakannya harus bisa menjadi suri tauladan warga sekitar.
“Harus bersedia menjadi pioner dan berdiri di barisan paling depan untuk suatu kebaikan” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan sebagai organisasi sosial kemasyarakatan identitas FKPM sangat penting untuk menunjukkan eksistensi, salah satunya dengan pengadaan seragam dan peralatan yang dipakainya. Meskipun keberadaannya sangat dekat dengan polisi, FKPM bukanlah suatu profesi sehingga mereka tetapi tidak diperkenankan memakai atribut dan kepangkatan kepolisian. Anggota FKPM boleh membawa tongkat dan handy talky tetapi tidak diperbolehkan membawa senjata tajam apalagi senjata api.

Untuk membantu dalam bertugas di lapangan anggota FKPM harus selalu berkoordinasi dan bersinergi dengan pihak lain, sehingga sangat perlu memiliki nomor telepon penting seperti kantor polisi, PMI, Babinsa, Babinkamtibmas, pemadam kebakaran, rumah sakit, satgas Covid, dan lainnya. (Upik Wahyuni/ KIM Donoharjo)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts