Isi Piringku, Konsep Baru Pengganti 4 Sehat 5 Sempurna

Ngaglik – Dalam rangka mendukung GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Kementerian Kesehatan RI menggencarkan kampanye Isi Piringku sebagai pengganti konsep 4 sehat 5 sempurna yang selama ini dikenal masyarakat.

“Konsep empat sehat lima sempurna yang sangat familiar di masyarakat saat ini sudah tidak relevan lagi, karena pedoman makan yang diberikan tersebut bisa jadi tidak sehat apabila porsi dan gizinya tidak seimbang. Sebagai contoh penyajian makan sudah sesuai dengan 4 sehat 5 sempurna yaitu terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur, buah tetapi porsi nasi jauh lebih banyak dari komponen yang lain justru akan menimbulkan masalah kesehatan,” papar Theodorus Indarto yang akrab dipanggil Theo, seorang nutrisionis di Puskesmas Ngaglik 2, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (12/09/2019).

Lebih jauh Theo mengatakan bahwa makan tidak asal kenyang namun harus memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, sehingga porsi dan jenis makanan harus disesuaikan dengan usia dan aktifitasnya.

Isi Piringku merupakan panduan makan sehat yang dapat menjadi acuan sajian sekali makan. Isi Piringku juga dipergunakan untuk mendorong masyarakat  menyajikan makanan dengan gizi yang seimbang dengan cara yang mudah dikenali, dimengerti dan dipahami oleh khalayak luas.

Program Isi Piringku ini didasari oleh fakta bahwa dari isi piring yang dimakan, bias jadi akan menjadi  penambah semangat, lebih berprestasi sehingga membentuk generasi yang unggul. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan dari isi piring itu pula akan berdampak pada timbulnya berbagai macam penyakit seperti hipertensi, diabetes, stroke, jantung koroner atau bahkan obesitas.

Konsep konsumsi susu pun sebagai penyempurna gizipun disebut Theo  juga tidak relevan lagi sebab untuk mendapatkan kecukupan gizi masyarakat tidak harus minum susu, karena susu hanya bagian dari sumber protein.

Aturan pembagian dalam Isi Piringku menggambarkan porsi makan yang dikonsumsi dalam satu kali makan yang terdiri dari 50 persen makanan pokok sebagai sumber karbohidrat dan lauk pauk sebagai sumber protein. Dari separuh isi piring tersebut dibagi menjadi dua pertiga bagian terdiri dari makanan pokok dan sepertiga sisanya adalah lauk pauk. Sedangkan yang 50 persen lagi sebagai sumber serat pangan, vitamin, dan mineral yang terdiri dari sayuran dan buah buahan, “pembagiannya adalah dua pertiga sayuran dan sepertiganya lagi buah buahan,” saran Theo.

Menurut Theo, keragaman bahan makanan dalam satu sajian harus dilakukan karena tak ada satu jenis makanan pun yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan. Dengan demikian zat gizi yang berupa protein, lemak karbohidrat, vitamin, serta mineral harus disajikan secara seimbang.

“Sebagai contoh makanan pokok sumber karbohidrat adalah nasi, kentang, roti, singkong, umbi-umbian, jagung, gandum, mi, bihun. Lauk pauk sebagai sumber protein hewani bisa berasal dari  ikan  air tawar, daging ayam, daging sapi, ikan laut, telur, sedangkan protein nabati bisa berupa tahu, tempe atau bahan yang berasal dari kacang-kacangan. Sumber protein yang lain adalah susu dan produk olahannya,” kata Theo.

Sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral yang berasal dari buah-buahan misalnya pisang, semangka, pepaya, melon, jeruk, blimbing, mangga, duku, apel, rambutan, jambu, sedangkan yang berasal dari sayur misalnya sawi, bayam, terong, buncis, kacang panjang, labu siam, pare, brokoli, kembang kol, kobis, wortel, tomat, ketimun, daun singkong. Sayuran dapat dikonsumsi dengan dimasak, direbus, dikukus, ditumis atau bisa disajikan mentah sebagai lalapan.

Porsi dan jenis makanan pun juga disesuaikan dengan usia dan aktifitasnya. Theo memberi gambaran konsumsi untuk orang dewasa misalnya  makanan pokok berupa nasi 150 gr, sayuran 150 gr (1 mangkok sedang), 150 gr pepaya (2 potong sedang), lauk hewani 1 butir telur ayam besar atau 2 potong sedang daging ayam tanpa kulit (80 gr), lauk nabati 100 gr tahu atau 2 potong sedang tempe (50gr). Porsi untuk remaja, ibu hamil atau pekerja nanti lain lagi hitungannya.

Kampanye Isi Piringku juga menekan dan membatasi konsumsi gula, garam dan lemak. “Paling banyak konsumsi gula adalah 4 sendok makan perhari, garam 1 sendok teh perhari, lemak atau minyak goreng 5 sendok makan per hari,” jelas Theo.

Isi Piringku menjadi salah satu panduan hidup sehat selain beberapa hal yang tidak kalah penting dilakukan seperti cuci tangan pakai sabun, minum air 8 gelas sehari dan aktifitas fisik 30 menit per hari. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts