Jamu Seger Waras Upaya Selamatkan Generasi dari Ancaman HIV/AIDS

Ngaglik – Kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) terus mengalami peningkatan setiap tahun. Bak fenomena gunung es, jumlah yang tidak terlihat bisa jadi jauh lebih besar daripada yang dilaporkan atau yang nampak di permukaan. Sebagian besar pengidap tidak menyadari bahwa dirinya tertular HIV karena tidak menunjukkan gejala apapun di awal kemunculannya kalau pun ada sangat samar sehingga sulit dikenali. Kemungkinan yang lain, bagi penderita yang telah menyadari bahwa dirinya terkena HIV adalah perasaan malu dan takut untuk melaporkan kepada pihak terkait dalam hal ini adalah puskesmas sebagai layanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

Demikian dikatakan Cicilia Sri Purwati, Tenaga Medis di Puskesmas Ngaglik 2 saat ditemui Senin (21/10/2019).

Lebih lanjut, Cicilia mengatakan bahwa dengan bertambahnya angka penderita HIV tersebut perlu dilakukan penanganan secara serius, menyeluruh, dan berkesinambungan.

Fakta di lapangan, penderita masih banyak mengalami diskriminasi karena adanya prasangka negatif atau stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV AIDS). ODHA sering dikaitkan dengan penggunaan narkotika, perilaku seks bebas atau menyimpang. Di samping itu adanya anggapan yang salah bahwa HIV bisa ditularkan dengan kontak fisik seperti bersalaman atau berdekatan dengan ODHA.

“Karena virus HIV terdapat dalam darah, sperma, cairan vagina, serta Air Susu Ibu maka HIV bisa ditularkan melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, hubungan seks tidak aman dan berganti-ganti pasangan, dari ibu ke anak melalui kelahiran serta dari ibu ke anak melalui ASI,” ungkap Cicilia yang juga berprofesi sebagai bidan ini.

Dalam rangka menurunkan stigma negatif dan diskriminasi serta penemuan kasus baru terhadap virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan atau perlindungan tubuh tersebut maka Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencetuskan slogan JAMU SEGER WARAS (Jangkau, Temukan Segera, Waspada, dan Sadarkan HIV).

Sebagai langkah nyata, Puskesmas Ngaglik 2 selalu melakukan penyuluhan untuk meluruskan informasi terhadap stigma yang selama ini beredar di masyarakat. Selain memberikan informasi yang benar seputar HIV/AIDS, mengenali lebih awal terhadap tanda-tanda orang yang terkena HIV berikut gejalanya, pembentukan kader juga dilakukan agar selalu mengamati atau memantau apabila di lingkungannya ada yang terpapar HIV/AIDS.

Upaya lain ditempuh guna mewujudkan slogan JAMU SEGER WARAS tersebut, yakni Puskesmas Ngaglik 2 membentuk tim layanan untuk pemeriksaan HIV /AIDS secara gratis, mudah, cepat, dan rahasia pada setiap hari kerja dengan menghubungi kontak person ke bidan Cicilia di 081325783419. Kegiatan ini juga didukung oleh Puskesmas Pembantu (Pustu) yang berada di Jalan Palagan, Mudal, Sariharjo, Ngaglik setiap hari Senin minggu ke-3.

“Penyebaran informasi telah kami lakukan di berbagai media layanan publik agar orang dengan kelompok berisiko bisa melakukan deteksi dini selanjutnya bersedia datang, berkomunikasi, dan berkonsultasi kepada kami. Deteksi dini sangat penting dilakukan agar kami bisa melakukan pendampingan sekaligus pengobatan sehingga HIV/AIDS tidak menular ke area yang lebih luas,” terang Cicilia.

Selanjutnya Cicilia mengatakan bahwa pihaknya menyasar generasi muda terutama pelajar dan mahasiswa agar mengetahui tentang HIV/AIDS. Hal ini didasari fakta bahwa HIV bisa berubah menjadi AIDS dalam waktu 5-10 tahun ke depan apabila tidak ditangani secara baik. “Bayangkan apabila ada yang terkena HIV di usia 25 tahun maka sekitar usia 35 bisa terjangkit AIDS, di usia produktif ini seharusnya sedang giat bekerja tetapi terpaksa menjadi beban keluarga. Artinya dengan slogan JAMU SEGER WARAS ini berarti masyarakat diajak untuk menyelamatkan generasi dari ancaman HIV/AIDS,” pungkasnya. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts