Jemput Bola Tanggulangi Penyakit Degeneratif

Ngaglik – Dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat , Puskesmas Ngaglik ll melaksanakan kegiatan jemput bola dengan berkunjung ke masyarakat. Hal ini sebagai aksi nyata pelaksanaan PIS PK (Program Indonesia Sehat) Pendekatan Keluarga yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Kegiatan ini dimulai pada tahun 2017 dan untuk tahun ini intervensi ke masyarakat diawali pada 13 Januari 2020 dan akan terus dilakukan sampai akhir tahun,” kata Theodorus Indarto, nutrisionis Puskesmas Ngaglik ll atau yang lebih akrab dipanggil Theo saat melakukan kunjungan ke Padukuhan Jetis Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (30/1/2020).

Lebih lanjut dikatakan bahwa kunjungan ini meliputi kegiatan pelayanan dan pemeriksaan tekanan darah (tensi)  dan penyuluhan kesehatan. “Dari penyakit yang masuk 10 besar terbanyak, baru  hipertensi, tuberculosis, serta diabetes mellitus yang diintervensi mengingat penyakit tersebut yang relatif banyak penderitanya,” ungkap Theo.

Theo juga menerangkan hipertensi dan diabetes mellitus adalah penyakit degeneratif  yang disebabkan oleh bertambahnya usia atau penuaan sel-sel organ sehingga fungsi organ semakin menurun seiring bertambahnya usia dan tubuh menjadi rentan terhadap berbagai serangan penyakit. Hal ini menjadi perhatian serius Puskesmas Ngaglik ll karena bila sudah terjangkit penyakit degeneratif maka akan memerlukan biaya yang mahal  juga membutuhkan perawatan jangka panjang.

“Penyakit degeneratif muncul disebabkan oleh pola hidup yang kurang sehat yang sudah dijalani selama bertahun tahun, misalnya kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak seimbang,  pencemaran lingkungan dan lain-lain. Hal ini menimbulkan keprihatinan karena saat ini banyak orang dengan gaya hidup yang tidak sehat, sehingga di usia produktif banyak menderita penyakit degeneratif ini,” ungkapnya.

Penyakit degeneratif tersebut bisa dikendalikan agar keadaan tidak memburuk dengan perilaku hidup sehat dan memperbaiki pola hidup, gizi seimbang, aktifitas fisik dan istirahat cukup. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Di samping itu harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas agar gejala yang muncul dapat terdeteksi sedini mungkin sehingga relatif lebih mudah disembuhkan, dan biaya yang dibutuhkan juga bisa diminimalisir.

Sedangkan untuk tuberkulosis, upaya dilakukan Puskesmas Ngaglik II dengan memotivasi melakukan pemeriksaan maka penyakit akan terdeteksi sejak dini, sehingga pasien lebih mudah disembuhkan jika patuh mengkonsumsi obat sesuai petunjuk dokter, begitu juga penularan penyakit bisa diminimalisir.

Tubercolosis adalah penyakit paru-paru menular yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit kronik ini harus diwaspadai karena penderita harus mengalami pengobatan  yang lama dan menggunakan obat-obatan dalam jumlah banyak, hal ini tak jarang menimbulkan dampak psikologis bagi penderita. Puskesmas Ngaglik ll menaruh perhatian serius pada penyakit ini karena masih rendahnya minat masyarakat untuk periksa dahak manakala batuk lebih dari 2 minggu.

Theo mengatakan  PIS PK menekankan pada upaya  pencegahan terhadap masalah kesehatan dan mencari solusi dengan melakukan intervensi jika sudah terjangkit penyakit-penyakit tersebut. “Yang terpenting adalah jangan percaya dengan iming-iming sesuatu yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit, jadi harus berdamai dengan keadaan dan bangun pola pikir positif karena dengan itu kita akan berpikir dan bertindak lebih rasional. Selalu merasa bahagia karena bahagia itu berasal dari kita sendiri,” pungkas Theo. (Upik Wahyuni/ Ngaglik)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts