Keluarga Jadi Faktor Pendukung Perokok Bisa Berhenti

Data tahun 2019 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyatakan bahwa ada 31% keluarga yang melakukan aktivitas merokok di dalam rumah.

Data ini disampaikan Dulzaini, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Sleman dalam kegiatan workshop kesehatan yang digelar oleh Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Cangkringan bertempat di The Cangkringan Jogja Villa and Spa, Rabu (10/03/2020).

Dulzaini juga mengatakan bahwa berkisar 20% anak sekolah sudah aktif merokok di tahun 2019. 

“Secara angka survei menunjukkan pengurangan dari tahun sebelumnya namun dirasa masih sangat perlu upaya untuk mengurangi angka tersebut dari setiap tahunnya,” bebernya.

Sementara itu, Suparmono, Camat Cangkringan memaparkan kondisi di wilayah Cangkringan yang mana Indeks Kesehatan Keluarga (IKS) tercatat masih rendah yaitu di angka 0,2-0,3 dari angka 0,8 yang harus diupayakan.

Rendahnya IKS ini menurut Suparmono disebabkan karena masih banyak keluarga yang melakukan aktivitas merokok di dalam rumah. “Masih ada angka 6.704 keluarga perokok yang belum sadar akan bahaya merokok di dalam rumah, nampaknya bisa saja si perokok tidak atau belum merasakan dampak dari rokok namun tanpa disadari ada anggota keluarga yang merasakan dampak akibat rokok, sebagai contoh anak yang terganggu kesehatan karena seorang bapak sering merokok di rumah,” beber Suparmono.

Ditambahkan oleh Suparmono, pihaknya mengimbau kepada kepala dukuh yang hadir sebagai peserta workshop untuk membuat gebrakan. “Mulai sekarang di Padukuhan harus berani membuat gebrakan yaitu dalam kegiatan jagong (menengok-red) bayi tanpa ada aktivitas merokok untuk menghindari anak dari terpapar efek buruk rokok,” tambahnya.

Farid Bambang Siswantoro narasumber dari Jogja Sehat Tanpa Tembakau menyampaikan pengaruh negatif rokok bukan hanya diderita oleh para perokok aktif dan perokok pasif tetapi banyak fakta bahwa para pekerja atau buruh yang bekerja pada pabrik pembuat rokok juga sering mengalami gangguan kesehatan yang tidak kalah mengerikan.

“Sering terjadi laporan pasien yang sakit terutama anak-anak yang memeriksakan kesehatan di rumah sakit setelah ditelusuri lebih jauh terkait siapa keluarganya, pekerjaan orangtuanya ternyata buruh atau pekerja pembuat rokok,” ungkapnya. 

Fakta lain disampaikan narasumber kedua, Eko Prasetyo dari Jogja Care House. Eko mengatakan bahwa banyak kasus pengguna NAPZA dimulai dari rokok.

“Karena pergaulan memang lebih mudah dimulai oleh para perokok, seperti contoh perokok lebih mudah mendapat teman hanya dengan modal sebatang rokok maupun korek api,” tukasnya.

Dikatakan pula oleh kedua narasumber bahwa para perokok apabila ingin berhenti merokok perlu dukungan dari lingkungan. “Terutama dari keluarga, seperti contoh apabila dinasehati oleh istri biasanya lebih cederung tidak mendengarkan dan ujung-ujungnya debat namun apabila anak yang mengambil peran memberikan nasehat atau melalukan hal frontal dengan tidak mau mendekat saat ayah tercium bau rokok pasti seiring berjalannya waktu akan tersadar untuk tidak merokok,” kelakar Farid.

Sementara Eko mengatakan terapi dan rehabilitasi memang sangat perlu dilakukan namun peran keluarga dan lingkungan merupakan faktor pendukung untuk pengguna rokok bisa sembuh. (KIM Cangkringan/Marmansyah)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts