Kenduri Banyu Udan, Melihat Air Hujan sebagai Berkah untuk Semesta

Sleman – Untuk menanamkan kepedulian terhadap pemanfaatan air, khususnya air hujan, Komunitas Banyu Bening menggelar kegiatan Kenduri Banyu Udan ke-6 secara virtual melalui Aplikasi Zoom Meeting dari Sekolah Air Hujan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (9/9/2021).

Founder Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya Komunitas Banyu Bening untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap air hujan, yang selama ini dianggap sebagai sumber musibah. Ia ingin mengajak masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan air hujan semaksimal mungkin.

“Menjadikan air hujan sebagai berkah yang luar biasa, sebagaimana tema kenduri kita pada tahun ini yaitu Air Hujan untuk Semesta,” imbuhnya.

Kenduri ini dilakukan sebagai bentuk kampanye Komunitas Banyu Bening tentang kepedulian terhadap air hujan. Sri Wahyuningsih menyampaikan bahwa kampanye tentang air hujan ini memiliki tantangan yang sangat besar. Masyarakat cenderung tidak memberikan respon yang diinginkan ketika melakukan kampanye kepedulian terhadap air hujan ini dengan cara yang biasa.

“Sehingga mulai tahun 2016, Komunitas Banyu Bening mengubah cara kampanye dengan salah satunya dengan mengadakan Kenduri Banyu Udan ini,” jelas Sri.

Dari proses kampanye melalui kenduri ini, Sri Wahnyuningsih mengakui bahwa Komunitas Banyu Bening dapat memperluas jaringan mereka sehingga tujuan gerakan mereka dapat diterima di seluruh lapisan masyarakat. “Semoga yang dilakukan ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan air yang kita hadapi,” kata Sri.

Apa yang diinisiasi oleh Komunitas Banyu Bening ini mendapatkan respon positif dari Sekretariat Utama Badan Nasional Penanggulangan Bancana (BNPB) Lilik Kurniawan. Ia mengatakan bahwa masyarakat selalu memiliki persepsi bahwa air hujan itu merupakan sumber bencana.

“Ini yang harus diluruskan, bagaimana lingkungan kita yang sebenarnya sudah banyak yang rusak,” ungkapnya.

Ini semua bisa diubah dengan membalikkan persepsi dari hujan sebagai sumber bencana, menjadi hujan adalah bagian dari kehidupan kita. Menurut Lilik, kita harus bisa bersyukur ketika kita masih diberikan air hujan.

“Banyak yang bisa memanfaatkan air hujan ini untuk kehidupannya masing-masing. Kita sebagai kholifah (wakil tuhan) di bumi harus menjaga alam kita, tidak boleh membuat kerusakan, termasuk mensyukuri dan memanfaatkan alam yang ada, seperti yang dilakukan Komunitas Banyu Bening,” ujar Lilik.

Lilik berharap kepedulian terhadap pemanfaatan air hujan yang diinisiasi oleh Komunitas Banyu Bening ini dapat disebarluaskan di masyarakat, sehingga dapat menjadi gerakan dalam memanfaatkan air hujan untuk kehidupan masyarakat.

Print Friendly, PDF & Email

Related posts