KIM Harus Paham Karakteristik Jurnalistik Online Sebelum Menulis Berita

Guna meningkatkan kompetensi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai corong komunikasi bagi masyarakat khususnya dalam meningkatkan keahlian teknis yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai kanal media sosial dan pembuatan konten positif, maka Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, khususnya Direktorat Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) bagi KIM dengan tema “Transformasi Menuju KIM Digital” yang diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, Kamis (17/6/2021).

Kegiatan Bimtek diikuti oleh 223 orang perwakilan KIM Kabupaten/Kota yang berasal dari 34 Provinsi di Indonesia termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh KIM Sembada Kabupaten Sleman yang telah lolos registrasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Hadir sebagai narasumber yakni Content Creator Youtuber Indonesia, Thomas Herda bersama Direktur Konten PT. Trans Digital Media (Detik Network) sekaligus mantan pembaca berita TV nasional, Alfito Deannova Gintings, dan Wicaksono Ndoro Kakung selaku Communication and Social Media Consultant.

Salah satu materi bimtek tentang penulisan jurnalistik online yang dipaparkan Alfito Deannova Gintings. Ia mengatakan sebelum menulis pegiat KIM harus mengetahui karakteristik jurnalistik online terlebih dahulu diantaranya berita selalu update dan aktual serta bisa diberitakan saat kejadian berlangsung atau beberapa detik setelah peristiwa, berita dapat disebar dan diakses kapan saja, dimana saja, 24 jam nonstop, baik berita lama maupun baru, berupa ratusan halaman terkait satu sama lain yang bisa dibuka sendiri, menyajikan gabungan teks, gambar, audio, video, dan grafis sekaligus, serta pembaca yang lebih luas selama terjangkau koneksi internet plus perangkat computer dan gadget.

“Karakteristik media dan kebiasaan membaca online membuat tulisan harus disajikan secara ringkas, lugas dan nyaman dimata pembaca, sehingga teknik penulisan untuk media online atau media digital berbeda dengan menulis untuk media konvensional. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan medium dan cara atau kebiasaan pembaca,” tegas Alfito.

Selain itu pengguna media online membaca secara cepat, utamanya karena faktor daya tahan mata atau ketahanan membaca di depan monitor terbatas, ada juga isu soal biaya yang dikeluarkan untuk beli quota.

“Membaca teks di media online juga bukan membaca dalam pengertian membaca di media cetak, tapi lebih memindai. Mata pembaca menyapa lebih dulu tampilan teks dan akan memilih yang paling menarik untuk dibaca. Saat memindai, sekitar 80% memindai dari kiri atas ke kanan, lalu gambar, grafis, dan desain. Yang 20% lagi membaca kata demi kata, judul, anak judul, kutipan, teks boks, serta huruf tebal, miring, dan huruf berwarna,” terang Alfito. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts