Konservasi Burung Hantu Bantu Basmi Hama Tikus di Cancangan

Hama tikus menjadi salah satu musibah yang tak dapat terhindarkan para petani dalam mengelola pertanian. Sebagai predator alami tikus, burung hantu dapat berperan penting dalam keberhasilan hasil pertanian dengan mencegah dan menanggulangi hama tikus yang melanda.

Para petani di Dusun Cancangan, Wukisari, Cangkringan, Sleman yang bekerjasama dengan Rapor Club Infonesia (RCI) telah membuktikan keberhasilan pertanian dengan penggunaan burung hantu dalam membasmi hama tikus.

Lim Wen Sin, Wakil Ketua RCI sekaligus Koordinator Program Burung Hantu Sahabat Petani mengatakan, program yang dimulai pada 2013 ini dimaksudkan guna melindungi populasi burung hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica) yang digunakan sebagai pemburu tikus.

“Jenis Tyto alba dipilih karena dari literatur dan riset kita tahun 2009, 90 sampai 95% makanan utamanya adalah tikus. Sekenyang apapun, mereka masih menyempatkan memburu tikus,” jelasnya ditemui di Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan, Kabupaten Sleman. Jumat (11/6/2021).

Di lahan seluas 11 sampai 12 Hektare secara adminsitarasi itu, 11 pasang burung hantu tinggal di 14 sarang yang disediakan. Burung hantu yang berjumlah 11 pasang tersebut berhasil menangani hama tikus hingga seluas 47 Hektare sawah warga.

Setiap tahunnya, kata Lim, kerap masuk burung hantu yang memerlukan evakuasi. Baru-baru ini terdapat buruh hantu dari Pleret yang lemas. Dalam perawatan dan penangkaran burung hantu hingga memiliki keturunan memakan lebih dari 4 jutaan yang berasal dari dana pribadi anggota.

Lim mengaku berbagai macam kendala dihadapi dalam mengurus konservasi ini. Mulai dari perburuan, lokasi, dan penggunaan racun tikus. Pasalnya, penggunaan racun kerap turut serta meracun predator alami tikus seperti burung hantu, ular, dan musang.

“Yang jelas perburuan dari wilayah lain. Kemudian kesulitan daerah lain untuk mereplikasi karena kebiasaan masyarakat bergantung dengan subsidi pupuk dari Pemerintah. Lalu lokasi yang berundak, tapi untuk itu kita sudah mengatasinya dengan memasang sarang dengan tinggi 5m ke atas dengan jarak antar sarang lebih dekat,” ungkapnya.

Rencananya, Lim ingin menyosialisasikan burung hantu sebagai predator alami membunuh tikus sawah di daerah lain secara lebih masif. Ia menargetkan, pada tahun ini penggunaan tiang kayu untuk sarang akan diganti penuh dengan besi. Selain itu, reuse lemari pendingin juga menjadi rencananya mengganti sarang burung hantu.

Lebih lanjut, terkait adanya mitos Jawa bahwa burung hantu melambangkan keburukan dan petaka, ia lebih memilih acuh. “Kalau kita simpulkan iya membawa petaka, tapi buat siapa dulu. Sebutan burung hantu itu Gondol Nyawa, nyawa tikus apa orang. Kita lebih mencoba positif, setelah ada manfaatnya ternyata tifak ada apa-apa,” ujar Lim.

Sejalan dengan itu, Adi (85) sebagai salah satu petani dusun Cancangan pun tak sedikitpun khawatir dengan adanya mitos itu. Justru penggunaan metode burung hantu dalam membasmi tikus ini dinilai cukup efektif.

“Terkait mitos oleh para petani justru ditanggapi dengan baik. Dengan burung hantu ini dikatakan 90% berhasil membasmi tikus,” pungkasnya. (Rep Afiqa)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts