Literasi Tak Hanya Membaca Buku, Tapi Juga Berkarya

Ngemplak – Anggapan masyarakat selama ini adalah literasi hanya berkutat pada kegiatan membaca buku. Faktanya  ternyata bukan sebatas itu saja karena literasi juga berarti mempraktekkan isi buku yang telah dipahaminya menjadi suatu karya yang mempunyai manfaat dan bernilai ekonomi.

Demikian cita-cita yang terus diwujudkan oleh Nuradi Indra Wijaya melalui Rumah Pintar Mata Aksara yang ia dirikan bersama sang istri Heni Wardatur Rohmah di Jalan Kaliurang Km 14 Dusun Tegal Manding, Desa Umbul Martani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Dengan sesanti “Dari Buku Menjadi Karya”, Rumpin Mata Aksara menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber ilmu dan keterampilan bagi masyarakat.

Nuradi mengisahkan Mata Aksara  pada awalnya adalah perpustakaan keluarga yang bertujuan mendorong anak dan keluarga agar gemar membaca. Seiring berjalannya waktu dan peminat yang semakin banyak, taman bacaan masyarakat tersebut kemudian berkembang dan dipercaya menjadi rumah pintar di tahun 2014.

“Untuk menunjang kegiatan literasi, Mata Aksara telah banyak melakukan kegiatan dan acara yang kesemuanya adalah untuk mendukung masyarakat dalam mendapatkan informasi yang benar dan bermanfaat kemudian diaplikasikan untuk kegiatan bermanfaat, syukur-syukur bernilai ekonomi. Seperti di Mata Aksara, selain terdapat perpustakaan juga ada unit pengembangan produksi,” kata Nuradi saat ditemui, Rabu (6/11/2019).

Kegiatan Mata Aksara dibagi ke dalam beberapa sentra di antaranya sentra buku dimana masyarakat bisa pinjam dan baca buku. Untuk lebih dekat menjangkau masyarakat, perpustakaan keliling dengan motor pintarnya siap berkunjung ke dusun, pedesaan, sekolah, hingga area publik seperti saat ada car free day.

Lalu ada kelas parenting yang melibatkan orang tua untuk membangun budaya baca di lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah pun tak luput dari sentuhan Mata Aksara dengan  melakukan pendampingan penyelenggaraan Gerakan Literasi Sekolah.

Selain itu Mata Aksara juga melaksanakan pendampingan pada taman bacaan masyarakat serta perpustakaan desa. “Telah banyak perpustakaan desa yang didampingi berhasil menjadi  pemenang lomba perpustakaan tingkat nasional,” aku Nuradi yang juga ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Sleman ini.

Sarana kegiatan yang lain adalah adanya sentra permainan bagi anak agar suasana belajar menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Pada sentra permainan ini anak diajak mengenal dan memainkan kembali permainan tradisional agar tetap lestari keberadaannya. Termasuk juga disini adalah kelas catur yang diselenggarakan sekali seminggu.

Kemudian masih ada sentra panggung untuk menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri anak tampil dan berbicara di depan umum.  Kegiatan belajarnya meliputi menari, membaca dengan suara nyaring, dolanan anak serta kelas bercerita atau mendongeng.

Ada pula sentra komputer sebagai wadah kegiatan yang berhubungan dengan teknologi informasi yang berbasis internet sehat. Pembelajaran yang sudah dilaksanakan seperti desain grafis termasuk editing foto dan pembuatan vlog. “Internet sehat dimaksudkan agar masyarakat mampu menyaring informasi yang masuk dengan bijak yang dilandasi dengan buku di perpustakaan sebagai referensinya. Ini sekaligus sebagai penangkal informasi yang tidak benar (hoaks),” tukas Nuradi.

Nuradi menambahkan di era serba digital ini, buku bukanlah satu satunya sumber pengetahuan, namun bisa juga diperoleh melalu media internet. Keduanya merupakan sumber informasi handal dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di abad 21 ini. Dari sinilah akan muncul kreativitas di semua jenjang masyarakat, sehingga mendorong munculnya ekonomi kreatif.

Selanjutnya ada sentra menulis merupakan kegiatan yang memberikan keterampilan dalam kepenulisan. Kegiatannya biasa dilaksanakan bersama  sekolah, masyarakat, perpustakaan desa, dan komunitas ibu-ibu. “Target menulisnya adalah membuat sebuah buku, sehingga peserta menjadi bersemangat dan bangga dengan hasil karyanya,” tutur bapak dua anak yang juga pegiat anti korupsi ini.

Berbagai pelatihan ketrampilan pun dilaksanakan di Mata Aksara dalam sentra kriya dengan praktek rajut, shibori, menjahit, memasak, membatik dan lainnya. Selain itu ada sentra lingkungan yang memfasilitasi kegiatan di bidang pertanian seperti pembuatan pupuk cair, hidroponik dan Aqua phonik.

Ke depan Nuradi berharap akan semakin banyak pihak  yang tertarik dan bersedia bekerjasama memajukan literasi, bukan saja yang berada di lingkungan formal seperti sekolah atau lembaga pendidikan tetapi juga pemerintah, pelaku usaha, karang taruna, PKK atau kelompok yang fokus di bidang informasi seperti Kelompok Informasi Masyarakat. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts