Mavee Batik, Motif Kupu-Kupu yang Gambarkan Proses Perubahan Kehidupan

Sleman – Berawal dari kegagalan usaha buahnya, Lina menemukan apa yang menjadi passionnya, yaitu membatik. “Membatik ini sebagai proses penemuan kembali jati diri saya, proses saya bermetamorfosis,” ungkap wanita bernama lengkap Lina Marlina ini. Ia salah satu pengusaha UMKM Batik asli Sleman, dengan merk Mavee. Lina mengakui bahwa proses membatik yang ia tekuni ini telah membuka pikiran dan memberikan pencerahan bagi dirinya.

“Karena dari batik ini, saya dapat keluar dari kegagalan saya di masa lalu,” pengakuan Lina ketika ditemui di rumah sekaligus tempat usaha batiknya, yaitu Mavee Traditional Batik House yang berada di Perumahan Jatimas Permai, Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (21/11/2019)

Usaha batik yang ia buka merupakan langkah awalnya dalam membenahi kehidupannya, setelah ia mengalami kegagalan dalam menjalankan usaha sebelumnya. Tepat pada tahun 2016, ia mulai menekuni proses membatik. Lina menerangkan bahwa ia selalu berusaha tekun agar dapat terus mengasah keterampilan membatiknya. “Karena membatik itu susah, membutuhkan kesabaran, ketelitian dan konsistensi. Intinya syarat utamanya kita harus bisa mengendalikan emosi,” ujar wanita yang biasa dipanggil Uti Lina ini.

Ada beberapa pola unik yang ditawarkan dari batik hasil produksi Lina ini, di antaranya adalah pola klasik dan parijotho. Namun menurut Lina, yang menjadi andalan dari batiknya adalah batik dengan pola lolosan. Pola ini memiliki filosofi sendiri. “Jadi pola ini sebagai representasi dari perjalanan hidup saya. Dari kegagalan dulu, kondisi banyak hutang berhasil lolos dari keadaan. Seperti bermetamorfosis, makanya motifnya ada kupu-kupunya,” tukas Lina sambil memperlihatkan bahan batik motif lolosan hasil produksinya.

Untuk memproduksi satu helai bahan batik membutuhkan waktu yang beragam, tergantung dari motifnya tersendiri. “Biasanya untuk batik tulis membutuhkan waktu 1 bulan dari proses awal hingga akhir, yang sederhana bisa selesai dalam waktu 2 minggu,” aku Lina.

Proses produksinya sendiri berawal dari kain putih polos, yang kemudian dicanting untuk membentuk polanya. Setelah itu, masuk ke dalam proses pewarnaan dan kemudian dilanjutkan ke proses penyelesaian. “Tapi ada beberapa motif yang ketika setelah selesai pewarnaan harus dicanting lagi, seperti yang parijotho misalnya,” tambah Lina.

Usaha batik milik Lina ini bekerja sama dengan Kelompok Sekar Jatimas sebagai tenaga kerjanya yang berjumlah 17 orang. Ada juga pekerja freelance yang biasanya dibutuhkan ketika banyak pesanan. Untuk rata-rata produksi per bulan menyentuh angka 20 bahan kain per bulannya.

“Tapi kadang kalau lagi selesai pameran dan waktu mau lebaran, biasanya pesanan lebih banyak masuknya,” Lina menambahkan.

Harga dari batiknya sendiri beragam, dengan kisaran yang paling murah Rp 21.000 per meter dan yang paling mahal Rp 250.000 per meter. Per bulannya, Lina mengakui bahwa ia mendapatkan omzet bersih 8 juta rupiah, yang mayoritas pelanggannya berasal dari luar Yogyakarta, seperti Jakarta dan Bandung.

Selain itu, Lina juga mengungkapkan alasan pemilihan nama Mavee sebagai merek batik miliknya. Menurutnya, Mavee itu memiliki arti yang sangat dalam. Mavee dapat diartikan sebagai penamaan untuk sesuatu yang memiliki manfaat yang sangat besar, sehingga akan memperoleh kesuksesan yang didapat dengan mudah. “Mavee juga dapat bermakna keberuntungan yang menginspirasi dengan kemandiriannya yang kuat,” tutup Lina. (Rep Faridz)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts