Melestarikan Budaya Jawa dengan Latih MC Bahasa Jawa

Depok – Guna melestarikan budaya dan bahasa Jawa, Paguyuban Panatacara Sleman (PPS) Kapanewon Depok menggelar sarasehan Dasar-dasar Public Speaking dan Pamedharsabda (orang yang berbicara di depan publik) di Gedung Wacana Loka, Kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (25/05/2021).

Praktisi MC (master of ceremony) Teguh Subroto dan Rio Wahyusandy menjadi narasumber dalam acara yang dihadiri para anggota paguyuban MC dari 3 kalurahan yang ada di Kapanewon Depok ini.

Aris Cahyadi, Ketua PPS Kapanewon Depok menerangkan bahwa paguyuban yang didirikan tahun 2019 ini memiliki tujuan melestarikan budaya Jawa dan sebagai ujung tombak wadah budaya. “Tahun 2021 ini kita sudah menyusun program kerja antara lain memberikan pemahaman tata cara upacara adat seperti kelahiran, upacara tradisional, pernikahan, ngunduh mantu, dan latihan tembang,” tutur Aris.

Untuk mewujudkan hal ini pengurus dan anggota rajin berkoordinasi dengan kelompok kesenian dan kebudayaan seperti paguyuban kethoprak dan paguyuban macapat. “Untuk itu kami mohon dukungan pemerintah Kapanewon Depok dan 3 kalurahan,” imbuhnya.

Panewu Depok Abu Bakar membuka acara sarasehan ini mengatakan dalam sambutannya bahwa PPS diharapkan bisa merangkul generasi muda. “PPS ini dibentuk tahun 2019 di Kantor Kapanewon Depok, saya harap tahun ini bisa berkembang, bisa diikuti generasi muda,” tutur Abu.

Rio Wahyusandy yang menjadi narasumber pertama menyampaikan materi tentang dasar-dasar public speaking. Menurutnya, materi ini penting agar bisa meningkatkan kepercayaan diri para pembawa acara ketika bertugas. ‘Selain itu agar fasih berbicara dengan baik dan benar, dan banyak yang merasakan keuntungan ketika menguasai publik speaking,” jelas Aris.

Teknik 4W yakni wicara (artikulasi), wirama (intonasi), wiraga (sikap), dan wirasa (penjiwaan) menjadi salah satu teknik ketika berbicara di depan publik dengan Bahasa Jawa.

Sementara itu, Teguh Subroto, narasumber lainnya menambahkan bahwa public speaker setidaknya punya bekal gendhung, yaitu berani dan percaya diri. Selanjutnya gandhang, yaitu berhati-hati ketika berbicara, terlihat oleh pendengar, dan jelas tutur katanya.

“Selain itu juga perlu gendheng, antara lain tidak menyinggung perasaan orang lain sehingga bisa menyakiti perasaan orang lain dan tidak mengemukakan kekurangan orang lain maupun yang punya acara,” jelasnya. Selain itu juga perlu memiliki kemampuan dalam hal gendhing, yakni antara lain sesuai dengan tata bahasa dan sastra, bisa melagukan tembang, dan mengerti gendhing Jawa.(Andri Afriyanto/KIM Depok)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts