Memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pencegah Konflik

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika telah lama menjadi pengikat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah, bagaimana menanamkan makna Bhinneka Tunggal Ika agar dapat diterapkan di tengah masyarakat, terutama di generasi muda.

Hal tersebut yang ditekankan oleh Subagya, Plt. Panewu Kapanewon Turi pada acara Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika yang mengambil tema ‘Menegakkan Bhinneka Tunggal Ika, Mengikis Konflik Sara’ pada Rabu (24/3/2021) di Kapanewon Turi, Sleman.

“Sosialisasi ini penting bagi generasi muda agar dapat memahami dan menanamkan dalam hati tentang Bhinneka Tunggal Ika, dan mempunyai rasa memiliki atau Handarbeni dan rasa nasionalisme,” terang Subagya di depan para peserta sosialisasi yang terdiri dari ASN Kapanewon Turi, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Karang Taruna, FKUB, FKDM, PKK, OSIS, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat.

Hal ini juga didukung oleh Harits Noordin, seorang Akademisi yang juga bertindak sebagai narasumber di acara sosialisasi tersebut. Harits menggarisbawahi mengenai pentingnya memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai kunci pencegahan konflik yang rawan terjadi di masyarakat multi etnis, seperti Indonesia ini. “Benih konflik yang sering muncul di DIY karena perbedaan Suku, Agama, dan antar golongan. Ibu pertiwi menangis karena konflik SARA ini,” ungkap Harits.

Selain itu, konflik juga rawan muncul akibat beredarnya hoaks yang dibumbui oleh isu SARA ini. Sehingga, menurut Harits, kita sebagai bangsa yang memiliki keberagaman, harus dapat menghilangkan ego dan rasa ingin menang sendiri, dengan memahami Bhinneka Tunggal Ika sebagai kunci untuk mencegah konflik.

“Kita harus anggap ke-Bhinnekaan itu adalah anugerah tuhan, Jika mengingkari dan apalagi melawan ke-Bhinekaan, berarti mengingkari atau melawan kehendak Tuhan,” ujar Harits. (Suharno/KIM Kertomandiri Turi)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts