Membuat Kompos Rumah Tangga dengan Metode Takakura

Ngaglik – Metode Takakura ditemukan oleh Profesor Koji Takakura, peneliti asal Jepang yang melakukan riset di Surabaya dalam rangka mencari sistem pengolahan sampah organik. Metode ini sangat sederhana dan bisa diterapkan pada skala rumah tangga baik di wilayah perkotaan yang terkendala persoalan lahan maupun di pedesaan.

Endarwati, salah seorang kader penggerak masyarakat di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman berbagi cara menerapkan metode Takakura ini. “Kebanyakan masyarakat dalam pengelolaan sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir yaitu dikumpulkan, diangkut, dan dibuang atau bagi masyarakat pedesaan dengan dibakar. Padahal untuk sampah organik bisa diolah dengan cara pengomposan menggunakan Metode Takakura,” ujar Endarwati saat ditemui di kediamannya, Jumat (29/11/2019).

Sederhananya, metode ini adalah memasukkan sampah rumah tangga ke dalam keranjang khusus selama beberapa waktu. Bahan yang digunakan adalah keranjang bisa terbuat dari plastik, bambu, atau bahan lain yang dindingnya berlubang agar sirkulasi udara. Kemudian kardus yang besarnya sesuai dengan besar keranjang. Kardus berfungsi sebagai tempat proses pengomposan dan juga untuk menjaga kelembaban. Bahan lainnya adalah sekam, dedak, dan bio starter atau bakteri pengurai.

“Bakteri pengurai bisa dibuat sendiri dengan campuran air 12 liter, tape ketela 0,5 kg , tempe 0,25 kg, susu fermentasi 1 botol, dan tetes tebu 2 gelas yang kesemuanya dimasukkan ke dalam galon air dan diperam selama 2 minggu,” ujar wanita yang akrab dipanggil Mbak Endar ini.

Selanjutnya ada juga biang bakteri padat yang dibuat dengan campuran dedak dan sekam dengan perbandingan 1:2 kemudian ditambah bakteri cair yang telah dibuat tadi serta diberi air secukupnya untuk menjaga kelembaban. Setiap hari campuran ini diaduk untuk mempercepat proses pembusukan. Setelah diperam minimal 7 hari baru bisa dipergunakan.

Cara pembuatan kompos dengan metode Takakura ternyata sederhana, dengan memasukkan kardus sesuai ukuran keranjang, setelah itu diletakkan sekam yang sudah dijahit menggunakan kain jaring sehingga menyerupai bantal. Sekam ini berfungsi menyerap air lindi agar bagian alas tidak terlalu lembab.

Kemudian masukkan sampah rumah tangga dalam kondisi tercacah. Sampah rumah tangga ini berupa sisa makanan, sisa sayur, kulit buah, sisa nasi termasuk tulang ikan dan ayam. Setelah itu keranjang ditutup menggunakan sekam yang sudah dibentuk seperti bantal kemudian ditutup dengan kain hitam agar terhindar dari lalat dan serangga serta menjaga kelembabannya. Aduk campuran biang bakteri dan sampah tersebut setiap hari untuk mempercepat pembusukan.

“Proses yang berlangsung baik ditandai dengan suhu yang hangat, tidak berbau serta pembusukan berjalan cepat,” imbuh Endar.

Umumnya keranjang penuh dalam waktu 2-4 bulan. Bila sudah penuh ambil sepertiga yang paling atas. Kompos yang sudah diambil didiamkan dahulu selama 14 hari baru bisa dipakai sebagai pupuk tanaman. Sedangkan sisanya yang tertinggal di keranjang dipakai sebagai bakteri untuk proses pengomposan berikutnya.

 “Kelebihan Takakura adalah praktis, mudah dipindahkan, dan bisa ditempatkan di mana saja. Prinsipnya asal tidak terkena sinar matahari langsung, kondisinya selalu lembab, dan memiliki sirkulasi udara yang baik,” pungkas Endar. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)

Print Friendly, PDF & Email

Related posts